
Gelap. Satu kata yang mampu mewakilkan segalanya saat itu, Chiharu berada dalam kegelapan yang menelannya tanpa ia tahu kemana harus pergi. Tak ada apapun dan Chiharu tak dapat menggapai apapun, gadis itu mulai berlari untuk mencari sesuatu. Cahaya atau apapun yang mampu menjunjung dirinya dan melepaskan diri dari kegelapan.
Larinya semakin ia percepat ketika sebuah lubang terlihat dikedua netra hitamnya, bersyukur dalam hati ketika pada akhirnya ia dapat menemukan cahaya. Gadis itu menjulurkan tangannya, meraih cahaya itu dan berhasil keluar dari kegelapan itu. Bola matanya mencoba menyesuaikan suasana karena tempat gelap telah menjadikan bola matanya sensitif, mengerjap beberapa saat hingga binaran kagum terpancar dari wajah Chiharu.
Padang bunga dengan warna-warna cantik membaluri indra penglihat Chiharu, memanjakan mata. Hewan-hewan indah mengepakan sayapnya diatas danau-danau yang begitu cemerlang, gunung-gunung sejauh mata memandang akan terlihat berwarna warni seolah meminta untuk dikunjungi.
Namun, kekagumannya terhenti sedetik ketika melihat sosok familiar dikejauhan sana. Tersenyum kepada Chiharu dengan senyuman paling indah, mengatakan beberapa kata dan mulai menjauh kembali. Gadis itu tentu tidak akan melepaskannya dengan mudah, ia kembali memacu kakinya hanya saja terasa lamban. Kedua tangannya terulur untuk menggapai sosok itu, mulai menitikan air mata karena usahanya yang terasa sia-sia.
"Tidak! Tidak! Tunggu!" Gadis itu berteriak, namun suaranya tak terdengar. Mengejar namun tak terkejar. Dan mencoba menggapai meski sosok itu semakin jauh tak tergapai.
Lalu cahaya matahari mulai merasuk pada bola matanya, memaksanya untuk membuka kelopak mata dan menyaksikan langit-langit kayu kuil tempat biasa ia tinggal. Air mata menetes pada pelupuk matanya, sesak didadanya tak kunjung hilang meski beberapa waktu telah terlewati. Lagi-lagi Tuan Qi mendatangi mimpinya, mengobrak-abrik hati dan jiwanya hingga rasanya Chiharu akan menyerah detik ini juga.
Dan memberikan jiwanya untuk menyusul Tuan Qi.
***
Fu dan Su memasuki peraduan Chiharu ketika menyadari gadis itu sudah sadar, mereka membantu Chiharu duduk dengan ditopang oleh bantal-bantal empuk. Wajah Chiharu pucat layaknya mayat hidup, bibirnya terasa kering. Entah sudah berapa lama dirinya berbaring dan tidak menyentuh nutrisi.
Chiharu meringis ketika ia bergerak, perban melilit tubuhnya dengan erat. "Aku masih hidup ya." sahut gadis itu jenaka dan terdengar lemah.
Fu dan Su kembali menatap Chiharu dengan khawatir, keduanya sangat tidak tahan dengan keadaan Chiharu yang selalu babak belur. Baru saja gadis itu sembuh dari serangan sang Dewa Perang, kini lukanya bahkan dua kali lipat lebih parah daripada sebelumnya. Lengannya terluka dan sobek menuai luka mengerikan, lalu yang paling parah adalah perutnya. Perut itu berlubang oleh tancapan kuku mahluk yang melawan Chiharu.
Gadis itu mengambil makanan encer dari tangan Fu, memakannya secara perlahan-lahan lalu menatap keduanya dengan senyuman lemah. Mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa, "Sudahlah aku ini seorang Dewa, pasti cepat sembuh." hibur Chiharu berharap bahwa wajah-wajah cemas itu segera menghilang.
"Anda seharusnya tidak melawan mahluk berbahaya itu sendirian, bersyukur anda masih selamat berkat Tuan Zhi mengirimkan tabib yang handal.
Bagaimana jika anda meregang nyawa? Jangan lupa bahwa anda seorang manusia nona. Anda memiliki batasan, lalu mahluk itu sangat kuat." Fu seperti biasa menceramahi dirinya dengan lancar, mengomeli Chiharu bahwa apa yang ia lakukan sangat berbahaya.
Chiharu sendiri ia tidak menyangka bahwa berasil mengalahkan mahluk itu, meski gadis itu tidak yakin membuat mahluk itu pingsan bisa disebut mengalahkan atau tidak. Dan keadaan gadis itu jauh dari kata baik, tentu terlihat dari perutnya yang berlubang.
"Aku hanya membuatnya pingsan, tidak mengalahkannya." keluh Chiharu menyuap bubur nya, merasa bahwa dirinya begitu lemah dan tidak berdaya. "Dimana siluman itu sekarang?"
__ADS_1
Su membungkuk sebelum menjawab pertanyaan Chiharu, "Ada diruang belakang nona, terikat dan diberi segel tiga lapis oleh Tuan Zhi. Melihatnya sekarang pun bukan masalah besar, namun lebih baik menunggu Tuan Zhi. Beliau sedang ada urusan."
Mengabaikan rasa sakitnya, Chiharu bangkit dari duduknya yang terasa nyaman. Menyingkap selimutnya dan ringisan meluncur ketika lukanya bergerak, ia merasa sangat lemah dan tidak berani bertanya berapa hari Chiharu tertidur karena rasanya energi miliknya telah disedot hingga kering.
"Ayo melihatnya!" sahut Chiharu bersemangat, melarangnya pun sekarang sudah tidak ada gunanya karena gadis itu tidak bisa diberi tau.
***
Pintu belakang itu terbuka begitu lebar, hingga cahaya matahari yang terik mendapat ruang untuk menyinari kedalam ruangan itu. Fu dan Su memampah Chiharu agar gadis itu tidak terjatuh, berjalan lebih kedalam ruangan itu untuk melihat mahluk yang telah Chiharu lawan tempo lalu.
Sedikit was-was ketika rantai-rantai menjuntai diatas kaki Chiharu, mengernyit ngeri ketika membayangkan betapa menyeramkannya sosok itu. Perlahan-lahan namun pasti, Chiharu terus melangkahkan kakinya. Dentuman didadanya sungguh tak bisa diajak berkompromi, jujur saja gadis itu pun takut dan masih tak percaya ia berani menghadapinya malam itu.
Lalu bola matanya membulat hampir keluar ketika bukan mahluk menyeramkan yang terikat disana, menganga karena tidak percaya dengan sosok terikat disana. Menatap Fu dan Su secara bergantian untuk meminta penjelasan.
"Mana mahluk itu? Dan siapa ini?" tanya Chiharu masih merasa tidak percaya, gadis itu yakin mahluk yang ia lawan adalah mahluk menyeramkan dengan gigi-gigi runcing serta kuku-kuku beracun. Memiliki tawa ganas yang mampu merobek sang malam, membakar desa-desa tanpa kasihan.
Fu dan Su serentak menjawab, "Ialah mahluk ini nona."
"Fu dimana mahluk yang aku lawan?"
"Su dimana mahluk yang aku lawan?"
Su membungkuk, "Mahluk itulah yang anda lawan, nona."
Kepala gadis itu kembali pening, "Mengapa bentuknya seperti ini? Aku melawan mahluk haus darah dengan kuki dan gigi yang tajam. Tapi mahluk ini?" tanya Chiharu entah pada siapa, pertanyaan yang sungguh tidak memerlukan jawaban.
Pria disana tertidur dengan lelap tanpa terganggu perdebatan mereka bertiga, terlihat merasa begitu lelah namun tidak terlihat luka apapun yang tertuai diatas tubuhnya. Membuat Chiharu bertanya-tanya, bukankah kondisinya yang paling parah mengapa dirinya dahulu yang bangun? Lalu yang paling menganggu,
Pria itu begitu tampan.
Tidak terlihat seperti siluman, namun lebih mirip pria tampan dari langit. Bukan hanya itu, pria itu memiliki kelemahan Chiharu. Benar, rambut keperakan dengan sinar lembut menjuntai halus layaknya benang-benang sutra. Terasa indah dan begitu memanjakan mata, membuat Chiharu merasa tidak adil pada dunia.
__ADS_1
Lama gadis itu memperhatikan hingga bola mata itu mengerjap perlahan-lahan, mengerang kesakitan seolah energi dalam tubuhnya bocor dan disedot dari ubun-ubun. Jemarinya ikut bergerak untuk menyeimbangkan kesadarannya, hingga akhirnya kelopak mata itu terbuka.
Pandangan pertamanya yaitu gadis kecil berambut hitam dan bola mata yang selaras dengan surainya, menatap dirinya dengan pandangan yang sulit diartikan dalam maksud negatif. Hantaman memori menyangkut secara perlahan dalam kepala mahluk itu, membuat dirinya tersadar penuh dan menatap Chiharu dengan kebencian.
Mahluk itu menggeram dan memundurkan tubuhnya, taring dikedua mulutnya membuat Chiharu tersadar bahwa mahluk itu memang pria dihadapannya. "Lepaskan aku manusia, aku akan segera mencabikmu." teriaknya murka penuh amarah, ia menggoncangkan tubuhnya dengan berlebihan berharap dapat melepaskan diri.
Namun semakin ia berusaha, tubuhnya terasa begitu lelah dan semakin tidak bertenaga. "Kemenanganmu hanya kebetulan ketika aku sedang lengah, lepaskan aku dan biarkan aku mencabikmu." kata-kata yang dikeluarkan mahluk itu pun sangat terbatas dan diucapkan berulang-ulang 'mencabikmu.' contohnya.
Chiharu menghela napas sedih, surai putih pria itu terasa mubazir karena kelakuannya begitu mirip siluman—padahal sebenarnya ia memang siluman. Bola mata keemasan itu berkilat marah, taringnya terasa semakin tajam ketika menatap Chiharu. Siap ia torehkan pada tubuh gadis itu.
"Mengapa Tuan Zhi tidak membunuhnya?" tanya Chiharu mengabaikan teriakan mahluk yang begitu berisik dihadapannya.
Fu dan Su sedikit gemetar karena mereka hanyalah seekor musang, naluri sebagai hewan kecil tak dapat mereka tahan ketika menemukan predator yang lebih kuat dari mereka. Namun, keduanya mencoba tetap tenang dan profesional. "Mahluk itu tak bisa dibunuh nona." sahut Fu menahan kengerian.
Bertanya-tanya Chiharu menatap Fu menginginkan penjelasan lebih tentang 'mahluk itu tak bisa dibunuh'. "Hamba kurang mengerti juga nona, namun mahluk ini memang tak bisa dibunuh. Hanya bisa disegel."
Mendengar kata segel Chiharu tersenyum dan menyeringai dengan jahil, "Apakah mahluk seperti ini akan terpengaruh oleh segel pelayan yang melayani Dewa?"
Menyadari pertanyaanya Su menggeleng dengan panik, "Hamba tidak tahu nona, namun lebih baik jangan mencobanya. Bermain-main dengan segel dewa adalah hal yang tak boleh dilakukan, hamba takut bahwa hal itu akan melukai anda."
Gadis itu semakin menyeringai penasaran, menatap mahluk yang kini berbalik melihat Chiharu dengan tatapan ketakutan. Yakin bahwa gadis ini tengah merencanakan sesuatu, dan itu pasti tidak baik. "Berhenti kau manusia! Apapun yang kau lakukan aku pasti akan membunuhmu." terasa gelisah dan panik pria itu memundurkan tubuhnya saat Chiharu mendekat dengan seringai jahatnya.
Terkekeh geli ketika mahluk haus darah semalam meringkuk ketakutan hanya karena ingin dijadikan pelayan olehnya, betapa menyenangkan jika Chiharu mempunyai pelayan kuat seperti ini. Segalanya akan begitu praktis, lagipula siapa yang menyangka bahwa mahluk ini begitu tampan.
Chiharu menarik kerah pakaian mahluk itu, mendekatkan wajahnya lalu mulai memajukan bibirnya. Siap untuk memberikan segel dewa dan menjadikan mahluk ini sebagai pelayannya, entah karena luka Chiharu yang nyeri atau karena pria ini tidak bisa diam. Gadis itu kehilangan keseimbangannya, membuat ia meringis kesakitan dan tubuhnya limbung ke depan.
Dua benda itu menyatu, terasa hangat ketika saling bersentuhan.
Chiharu mencium mahluk itu tepat dibibirnya, rasa hangat membanjiri keduanya hingga benang-benang berwarna kuning terjalin pada jari keduanya. Lalu pada detik itu, mahluk bersurai putih itu telah sah menjadi pelayan Chiharu yang mau ataupun tidak mau harus melayani Chiharu dengan patuh.
Dan yang pasti adalah sebuah neraka bagi pria itu.
__ADS_1
To Be Continued...