
Pada malam setelah Chiharu berangkat, situasi kuil itu begitu lenggang sepi dan sangat tentram. Bocah itu kini tengah berada disamping Ibunya, menatap wanita renta dengan keriput memenuhi wajahnya. Rambutnya memutih menyedihkan dengan kedua mata terpejam, bocah itu hanya menatap tanpa melakukan apapun.
Karena malam begitu sepi, suasana entah mengapa terasa begitu menegangkan. Atmosfer terasa begitu berat meski bocah itu tak tahu mengapa, namun ia dipaksa untuk waspada. Sentuhan lembut pada pundaknya membuat bocah itu tersentak dengan berlebihan, ia menoleh dengan cepat dan bola mata keemasan itu menatapnya dengan tajam.
Mencoba menenangkan hatinya, bocah itu memasang wajah tidak bersalah khas anak kecil. Berkata bahwa dirinya tidak mengetahui apapun, lalu meringis ketika genggaman pada bahunya semakin mengerat. Seolah ingin menghancurkan tulang-tulang kecilnya, memekik kecil memohon ampunan.
"Tuan—akhh—sakit sekali. Kumohon, hentikan!" bocah itu terus menggerakan tubuhnya, berusaha dan berharap bahwa cengkraman itu dapat terlepas dari dirinya.
Lama Gin menatap bocah itu, seringai muncul dalam wajahnya. Kuku-kuku memanjang dari jemari-jemari panjangnya, taring-taring dikeluarkan olehnya. Ekor yang menjuntai besar sengaja Gin tunjukkan untuk menunjukan kekuasaanya, tatapannya berkilat penuh amarah. Bergemeretak menahan kekuatan untuk tidak langsung menghancurkan eksistensi kecil itu.
"Kau mungkin bisa menipu gadis bodoh itu, tetapi aku tidak." suaranya diseret berat, mengintimdasi siapapun dan membuat suasana disana semakin menyeramkan. Layaknya dewa kematian tengah menunggu detik-detik nyawa itu terlepas.
Ekspresi bocah itu berubah sepenuhnya, ia ketakutan bukan main. Darahnya tersedot dari wajahnya, hingga wajah itu memutih. Tubuhnya gemetar dengan hebat melihat mahluk dihadapannya, mahluk itu bukanlah manusia. Rasa ingin lari segera muncul dalam benaknya, berusaha melepaskan diri. Namun semakin ia berusaha, cengkraman dipundaknya semakin mengerat.
Jeritan bocah itu mengeras ketika kuku-kuku milik Gin meresap kedalam kulitnya, "aku mohon aku mohon lepaskan aku—aku tidak bermaksud melakukannya," racau bocah disana ketika maut mulai menghampirinya.
Gin yang sudah tak peduli pada apapun, mengulurkan lengannya. Jemari panjang milik siluman itu meraih leher kecil rapuh dan mudah dipatahkan itu, menggenggamnya erat hingga suara Jing tertelan. Dan jiwa bocah itu terlepas dari tubuhnya, meninggalkan dirinya disertai dengan tarikan napas terakhir milik bocah itu.
Bocah itu tewas dengan mengenaskan.
***
__ADS_1
Pukulan telak pada tengkuk Chiharu membuat napasnya terhenti dan pingsan, gadis itu tidak sadarkan diri ketika seseorang memukul dirinya. Membawa gadis itu pada suatu tempat yang sama sekali Chiharu tidak ia ketahui, mengikatnya dengan rantai-rantai berkarat dan meninggalkan dirinya dalam ruangan gelap itu.
Chiharu mengerjapkan kedua bola matanya, terkejut ketika gelap menyeret netranya. Tak mampu melihat cahaya barang sedikitpun, pusing menyergap kepalanya hingga ia meringis. Lalu tersadar bahwa gadis itu tak bisa bergerak, ketika rantai-rantai menggenggam dirinya.
Gadis itu mencoba mengumpulkan kepingan-kepingan memori pada tubuhnya, berceceran hingga dirinya dilanda kebingungan. Chiharu merasa sangat tak nyaman berada ditempat itu, ia dapat mendengar cicitan hewan-hewan kecil. Lantai dengan kelembapan tinggi itu pun, membuat gadis itu berpikir macam-macam tentang mahluk hidup menjijikan apa saja yang berada disana.
Tenggorokannya terasa kering, entah sudah berapa lama ia terkurung disini Chiharu tak bisa memastikan karena tak ada cahaya apapun disini, begitu tertutup dan sepertinya kedap suara. Gadis itu pun tidak menyangka bahwa dirinya akan langsung tertangkap ketika menjalankan rencana bodoh ini, seolah-olah memang telah direncanakan oleh seseorang.
Chiharu menghela napas menyadari fakta bahwa dirinya telah dijebak, kemungkinan besar pelakunya adalah bocah lelaki itu. Menyadari semuanya dari awal bahwa gadis itu telah melakukan hal-hal bodoh yang tak masuk akal, namun itu semua tak masalah jika gadis itu berhasil menghancurkan perdagangan manusia ini hingga akar-akarnya. Menjadi bodoh namun menyelamatkan orang banyak, Chiharu rela.
Lamunannya terintrupsi ketika pria bersurai putih mendekati Chiharu, bola mata keemasanya nampak bersinar ditengah kegelapan yang menelan Chiharu. Begitu indah, hingga gadis itu tidak mengedipkan matanya karena terpesona. Baru kali ini, ia begitu senang dengan kedatangan siluman yang terus mencoba melakukan pembunuhan padanya.
Gin menatap gadis didepannya, bola mata keemasan nya mengejek Chiharu seolah mengatakan 'lihat ini kebodohan yang kau lakukan.' Pria itu menunduk, menyejajarkan wajahnya dengan gadis yang kini berpenampilan begitu buruk. Lebih buruk saat Chiharu pamit untuk melakukan kebodohannya, bertanya-tanya mengapa gadis itu begitu gencar untuk melakukan hal-hal mustahil ini.
Chiharu terkekeh pelan, merasa lucu ketika mendengar pria itu yang mengatakannya—pria yang sangat ingin nyawanya hilang, pria yang sama yang terus melakukan percobaan pembunuhan padanya. "Terdengar lucu ketika mahluk yang paling ingin membunuhku mengatakannya."
Lalu percakapan mereka berdua terintrupsi ketika sinar terlihat diujung sana, terbuka lebar dan menampilkan sosok-sosok besar disebrang gadis itu. Mendekatinya lalu menatap dirinya seolah ia bukanlah manusia, Gin? Entahlah dengan cepat mahluk itu sudah tak berada disana. Menghilang, meninggalkan Chiharu yang menyedihkan.
Seseorang diantara tubuh-tubuh besar itu muncul, menyeringai lebar dengan gigi-gigi kekuningan menjijikan. Wajah serta rambutnya berminyak, dan bau tembakau menguar dari dirinya. Ia menatap Chiharu, berpikir sejenak dan berkata dengan napas busuk yang menguar. "Gadis ini akan mahal, tanya Kaisar apakah ia ingin mengambilnya. Jika menolak, biarkan ia dijual melalui perdagangan manusia esok hari."
Tatapan Chiharu terarah pada pria-pria disana, bibirnya yang terasa kering begitu sulit untuk digunakan. "Apa hubungannya dengan Kaisar?" tanya gadis itu lemah, menanti jawaban agar mendapatkan titik terang.
__ADS_1
Sontak seluruh perhatian tertuju padanya, pria itu tertawa. Seolah pertanyaan Chiharu begitu lucu, "Kau tau pun tak akan ada yang berubah pada nasibmu? Tapi baiklah, karena perasaanku sedang bagus akan kuberi tahu.
Rahasia gelap negara ini, bahwa perdagangan manusia yang marak belakangan ini adalah ulah Kaisar sendiri. Dialah dibelakang semua ini, jadi siapa yang dapat menghentikan bisnis ini."
Para pria itu pergi dengan perasaan bahagia, meninggalkan Chiharu yang terdiam dengan segala pikiran berkecamuk dikepalanya. Merasa kegelapan ikut menyeret perasaanya, menumpulkan indra berpikirnya dan menghantamnya pada sebuah lubang keputus asaan. Ia tak memikirkan kemungkinan itu, kemungkinan bahwa sang Kaisar sendiri yang berada dibalik kejahatan besar seperti perdagangan manusia.
"Memang seperti itulah kerja dunia, kau tidak akan bisa memusnahkannya sekuat apapun dirimu." Gin kembali menunjukan dirinya, menyeret Chiharu pada kenyataan kembali.
Tatapan Chiharu begitu terlihat putus asa, "kau pasti tidak sabar menunggu diriku terjual, menjalani hidup menyedihkan hingga mungkin saja terbunuh. Dan pada akhirnya kau bebas, benar kan?" meracau dengan kata-kata paling gelap yang pernah disahutkan oleh Chiharu.
Siluman itu merasa begitu marah ketika mendengar kata-kata gadis itu, mencengkram jemari-jemarinya hingga memutih. "Tidak taukah dirimu, bahwa bocah yang kau bawa kemarin adalah pelaku bagaimana dirimu terjebak disini sekarang?!
Tidak taukah dirimu bahwa para gelandangan itu bersekongkol untuk menjebak mu,berhentilah menjadi kikuk seperti ini. Bodoh!" baru kali ini rasanya siluman itu terlihat begitu marah, meski biasanya ia selalu menunjukan taring dan kukunya pada Chiharu—baru kali ini rasanya mahluk itu terdengar mengkhawtirkannya?
"Aku tau!" gadis itu menaikan suaranya, tidak memedulikan betapa terbakar tenggorokannya saat itu. "Aku tau, tapi aku berhasil sampai sini. Aku berhasil menemukan markas para penculik itu."
Kekehan terdengar dari lawan bicara Chiharu, mengejeknya. Lalu tinggi tubuh Gin yang menjulang seolah menghardik Chiharu, membuat gadis itu semakin terasa kecil, tak berdaya, dan putus asa. "Kau pun tak bisa melakukan apapun sekarang."
Dan pria itu pergi, meninggalkan Chiharu dalam kesendirian yang semakin menelannya. Gadis itu tak dapat mengatakan apapun lagi, ia benar-benar terjebak—bahkan menggerakan satu jemaripun begitu sulit. Bertanya-tanya apakah ia akan kembali menyia-nyiakan nyawa yang telah diberikan Tuan Qi olehnya, padahal Chiharu hanya ingin menyelamatkan orang-orang dengan nasib yang sama seperti korban penculikan saat Chiharu ke desa waktu itu.
Terasa dihadapkan dengan jurang yang menjorok kedalam tanpa menemukan solusi, bagaimana ia mampu melawan seorang Kaisar? seseorang yang begitu berkuasa ketika Chiharu masih memiliki begitu banyak kekurangan, rentan dengan kematian. Gin benar, seharusnya ia tak melakukan hal yang sia-sia seperti ini. Pria itu pasti kini tengah berpesta menunggu kematiannya, menyadari sesuatu yang menyedihkan bahwa disaat kematian Chiharu ia sendirian.
__ADS_1
Benar-benar sendirian, satu tetes air mata berhasil turun di pipi Chiharu. "Tuan Qi, aku merindukanmu." gumamnya pelan dalam kubangan kegelapan yang semakin menenggelamkannya...
To Be Continued