
Pada pagi hari itu Chiharu sedikit terperangah, namun karena harga diri yang tinggi ia berusaha menyembunyikan ekspresi tersebut ketika surai putih itu bergerak ringan mengikuti hembusan angin. Bola mata sekuning matahari itu bergulir menatap Chiharu yang basah kuyup akibat ritual paginya, seolah tak merasa terganggu gadis itu berdehem untuk mencairkan suasana.
"Kau kembali." sahut Chiharu memasuki kuil, air kerap menetes dari rambut, wajah, serta seluruh tubuhnya.
Hari belum juga terang, matahari pun masih merunduk malu-malu dan embun pagi disertai kabut masih tebal kala itu. Dan rona merah menjulur hingga sampai pada telinga Chiharu, rasa bersalah terselip didalamnya karena menyadari sikapnya yang keterlaluan tempo lalu. Seharusnya gadis itu sadar, bahwa mahluk seperti siluman rubah gila yang kini ikut masuk ke kuil bersamanya tidak mungkin mengkhawatirkan dirinya. Chiharu akan bertanya setelah ia berganti pakaian.
Pria itu tak bersuara dan menunggu Chiharu dengan tenang–tidak seperti biasanya ketika ia selalu marah dan menggeram tidak suka–hingga saat gadis itu kembali ia tersenyum tipis karena Gin pun sepertinya hendak mengatakan sesuatu padanya. Surai hitam Chiharu masih basah, namun itu bukan hal besar baginya hingga ia kini ikut duduk berhadapan dengan Gin pria itu.
Gin memejamkan netra emasnya sejenak, ia menarik napas seolah telah menyiapkan sesuatu. "Pembicaraan kita akan menjadi serius selama beberapa waktu ke depan." suaranya terdengar begitu serius.
"Raja Iblis dikabarkan menghilang dari peraduannya."
Keduanya menahan napas ketika informasi itu terhantarkan, Chiharu menunggu. Detik waktu sangat terasa lambat sekali pada pagi suram tanpa matahari itu, entah karena efek rambutnya yang basah dingin terasa menyengat dari punggungnya. Segel dewa berbentuk corak aneh itu terasa nyeri, seolah ikut bereaksi akan kabar menyeramkan yang baru saja datang.
"Dan Raja Iblis itu dahulunya adalah sekutuku, sampai saat ini dimana aku menjadi pelayan Dewa. Mungkin menghilangnya adalah untuk mencariku." rahang pria itu mengetat menahan emosi yang mulai bergejolak, entah itu keputus asaan atau sesuatu yang lain.
Gadis itu sepertinya telah mengerti arah pembicaraan ini, bola mata hitamnya bergulir tak kenal takut. Menatap mahluk paling berbahaya yang mungkin bisa saja membunuh dirinya kapanpun ketika ia sedang lengah, terasa lucu ketika pria itu kini memperingati akan bahaya yang tengah mencekam. "Aku mengerti, dan sepertinya dugaan terbesar adalah lelaki itu benar?"
Gin mengangguk, membuat gadis itu dilanda kebingungan yang besar. "Aku akan kembali ke kuil yang lama, sepertinya sudah cukup kita berada disini.
"Lagipula urusanku sudah selesai, aku tidak akan pernah mengusik kegelapan dunia ini. Aku hanya akan menjalankan tugasku menjadi seorang Dewa Bumi, menjawab doa orang-orang dan mewujudkannya."
Pria itu tak membalas ia hanya terdiam, sedetik hingga detik berikutnya hingga akhirnya bola keemasan itu berkilat. "Tidakah kau berpikir bahwa aku mampu menghabisi Raja Iblis itu?" itu bukan pertanyaan, melainkan lebih menuju pernyataan; bahwa Gin mengatakan bahwa dirinya lebih kuat dari mahluk manapun.
Matahari perlahan-lahan semakin naik, berusaha mencairkan suasana yang membeku disana. Cahayanya menembus sulur-sulur jendela yang terbuka, bahkan Chiharu pun rasanya enggan bertanya bahwa darimana Gin mendapat sumber informasi itu. Gadis itu entah mengapa hanya ingin terhindar dari masalah setelah dirinya menyadari bahwa ia tak sekuat yang di pikirkan, ia lemah dan ia tak ingin mati sebelum Dewa Bumi yang baru dilahirkan.
__ADS_1
Pada akhirnya gadis itu menggeleng enggan, "tidak perlu. Aku merasa itu tak ada gunanya, setelah menghancurkan Raja Iblis lalu apa? Menjadi Raja Iblis berikutnya?
"Sudahlah aku enggan ikut campur lagi urusan orang lain, aku akan hidup dengan tenang dan menunggu sampai Dewa Bumi berikutnya dilahirkan. Dan pada saat itu juga, dirimu akan bebas dari pelayanku."
Lalu percakapan itu selesai, Chiharu pun kali ini menuruti perintah pria itu untuk tidak ikut campur dan kembali ke kuil lama miliknya dan Tuan Qi dahulu kala. Rasanya keberadaan Gin entah bagaimana membuat suasana kembali terasa seperti dahulu, ketika Tuan Qi masih berada disampingnya.
***
Pada hari itu sepertinya Chiharu dan Gin akan berangkat saat itu juga untuk kembali, mereka berdua sibuk mengemasi barang-barang yang tidak seberapa. Memasukannya pada kuda putih kokoh yang tengah merumput, tidak butuh waktu lama bahkan ketika matahari belum berada di puncaknya pun Chiharu telah selesai berkemas dan bersiap untuk pergi.
Hanya saja bukan masalah namanya jika tidak menghampiri meski telah dihindari sekalipun, Zhen terlihat dari tangga kuil berjalan santai dan menghampiri Chiharu yang telah siap berada diatas kudanya untuk pergi. Wajah bertanya-tanya tercetak jelas pada air muka Zhen, menatap Chiharu memohon penjelasan.
Gadis itu mau tak mau merasa tidak enak pada ulu hatinya secara berlebihan, ia tersenyum kikuk untuk menutupi rasa tak enak itu dan mencoba menjelaskan. "Maafkan aku Zhen, sepertinya aku tak bisa menerima tawaranmu untuk mengurus kuil Istana. Aku memiliki tugas yang belum aku selesaikan." kilah gadis itu, mencoba memilah kata yang enak didengar.
"Begitu ya, sayang sekali. Tetapi mengapa pergi mendadak sekali? Kita baru bertemu sebagai teman lama, namun kau sudah ingin pergi." wajah itu dibuat begitu sedih, mungkin jika Chiharu tak tau kenyataan bahwa pria ini mungkin saja Raja Iblis ia akan ikut bersedih.
Chiharu turun dari kuda bersurai putih itu, pedang sudah tersampir dari balik jubahnya. Memasang sikap siaga jika Zhen benar-benar ingin menyerangnya, "maafkan aku, aku akan mengirim surat untukmu." tentu saja ia tak akan mungkin melakukannya.
Meski sudah berbicara begitu sekalipun wajah sedih itu tidak menghilang, surai hitamnya ikut bergerak terhembus angin musim yang sudah mulai berganti. Tak heran udara menjadi begitu dingin akhir-akhir ini, musim gugur sebentar lagi akan tiba. "Padahal aku ingin menunjukan Istana yang sangat besaaaar padamu!" bahkan merajuknya pun seperti anak kecil.
Dan pembicaraan itu terintrupsi ketika Gin lagi-lagi muncul diantara mereka seperti tamu tak di undang, dengan kurang ajar ia menarik lengan Chiharu–menyeretnya dan membawanya pergi untuk menaiki Shiro sang kuda putih yang gagah. Pria itu hanya ingin segera menjauh dari pria aneh disana, kuil tempatnya disegel lebih baik daripada berdekatan dengan mahluk aneh itu.
Lalu suara itu berhembus mengikuti angin yang amat kencang, tanpa peringatan namun terdengar oleh mahluk manapun. Suara itu begitu dingin, tajam, dan sarat akan bahaya. Burung pun enggan berkicau dipagi hari yang mendung itu, hewan-hewan menyembunyikan dirinya dibalik ketakutan.
Dan suara itu berisikan, "padahal kau dahulu berada dipihaku, kita lihat saja apakah kau mampu menjaga gadis kecilmu itu."
__ADS_1
Chiharu tak bisa berhenti bergidik ngeri ketika angin kencang beserta suara didalamnya berhembus pada tubuhnya, dan setelah waktu mencekam itu Zhen sama sekali tak terlihat disana. Menghilang bahkan tanpa menyisakan hawa keberadaan sama sekali, keduanya saling bertatapan sejenak. Tak mampu menahan hawa mengerikan yang sempat datang.
***
Keduanya terhenti untuk beristiraha, Chiharu mengeluarkan bekal makanannya. Hari sebentar lagi akan gelap, mereka harus keluar dari hutan ini sebelum itu karena bermalam didalam hutan sama saja menyerahkan dirimu pada kematian. Disiang hari hutan memang tampak begitu bersahabat, namun tidak di malam hari. Malam hari adalah saat predator memburu mangsanya, memberikan cakar pada pohon untuk menandai kekuasaanya.
Lalu tak ayal jika para siluman dan monster-monster pun ikut keluar pada malam hari. Dan hutan adalah medan perang, maka dari itu keduanya begitu bergegas memacu Shiro untuk segera mengeluarkan mereka dari dalam hutan. Bersyukur mereka berdua tepat waktu karena telah menemukan desa terdekat dari sana, berencana menginap semalam karena Chiharu sungguh membenci tidur diatas tanah.
Cukup mudah bagi Chiharu untuk mendapat tempat tinggal, ia mengatakan pada kepala desa bahwa dirinya seorang gadis kuil pemberi berkat. Hingga kepala desa segera memberi mereka berdua tempat tinggal untuk bermalam, menunjukan sedikit keajaiban sudah cukup untuk sang kepala desa.
"Penipu!" ejek Gin disela-sela pekerjaan Chiharu memberi berkat pada rumah sang kepala desa, mau tak mau gadis itu mendelik kesal.
Menyikut perut Gin yang kini berjalan mengikuti dirinya, pria itu terbatuk pelan karena tenaga gadis itu disertai energi spritual membuatnya sedikit nyeri. "Aku sedang berusaha untuk tempat tinggal kita, tapi apa balasanmu." gadis itu merengut kesal hingga ketika mereka diantarkan menuju kamar, wajah Chiharu tetap tidak begitu baik.
Apalagi setelah mengetahui bahwa kamar mereka berdua tidaklah terpisah, Chiharu semakin merasa kesal. Meminta pada tuan rumah pun akan dianggap tidak sopan dan tidak tau berterimakasih sehingga Chiharu tidak berkomentar apapun, dengan wajah kesal ia menarik tempat tidurnya untuk menjauh dari Gin sejauh mungkin.
"Jangan bunuh aku untuk malam ini saja." mohon Chiharu dengan nada menyebalkan dan mengejek, pria itu pun tak mau mengalah hingga ia menarik kasurnya ke sisi yang paling berjauhan hingga terbentang jarak lebar diantara mereka berdua.
Gin pun memalingkan wajahnya, ikut sebal karena tingkah Chiharu yang marah tanpa alasan yang jelas. "Aku sedang tidak berselera membunuhmu, andai saja kau ini sedikit cantik mungkin aku akan tertarik untuk membunuhmu."
Gadis itu semakin sebal sehingga ia lebih memilih bergelung didalam selimutnya, tidak menghiraukan ucapan Gin yang secara tidak langsung mengatainya jelek. Sialan, pria itu bahkan tidak lebih tampan dari Tuan Qi beraninya mengejek Chiharu. Tidak sadarkah dirinya bahwa Chiharu hanya tertarik pada rambut putih miliknya saja, karena tentu saja hal itu mengingatkan dirinya akan Tuan Qi.
Lama ia melamun akan Tuan Qi dan segala kehebatannya, hingga sebuah suara kembali menyadarkan dirinya akan kenyataan kejam yang tengah mengikuti disegala sisi kehidupan. Membawanya akan penderitaan yang entah tengah menanti atau malahan tengah ia jalani–Chiharu tidak yakin. "Setidaknya aku bisa mengalahkan Raja Iblis itu jika ia melukaimu, dan juga–" jeda lama setelah itu. Hingga rasa kantuk mendatangi Chiharu, membawanya ke dalam dunia mimpi menghantarkan tidur pada tubuh manusianya.
"Terimakasih." begitu pelan suara itu terdengar, sebuah gumaman yang hilang tertelan oleh malam.
__ADS_1
To Be Continued..