Gadis Kuil

Gadis Kuil
35. Gin...


__ADS_3

Dibandingkan matahari, pria itu entah bagaimana lebih menyukai bulan. Ia tidak terlalu menyukai matahari karena sinarnya terkadang kerap menyakiti, terasa panas hingga membuat dirinya sebal. Pria itu menatap kembali langit-langit malam tepat disamping jendela peraduan Chiharu, meresapi keindahan bulan dengan sinar kedamaian dan terasa lembut.


Batuk dari seorang gadis membuat lamunan pria itu tersadar, menoleh sejenak dan dengan gerakan gesit mendekati gadis itu. Menunggu reda hingga kini bola mata itu terasa lebih jernih dari sebelumnya, menatap Gin dengan pandangan yang telah biasa dilemparkan gadis itu. Penuh curiga, seolah dalam hidupnya ia tidak bisa berbuat baik.


"Sedang apa kau?" tanya Chiharu tegas, rambutnya berantakan akibat tidur panjang yang telah dilakukan. Tatapannya tajam karena menyadari bahwa ia tidak sendirian berada didalam peraduannya, sejak kapan siluman itu berada disini?


Gin mengangkat bahunya, tersenyum mengejek karena sikap Chiharu yang tidak bersahabat. Padahal, gadis itu melakukan segala hal untuknya. Sungguh pemalu, "Merawatmu mungkin."


Gadis itu kembali mendelik mendengar pertanyaan Gin, "Apa maksudmu dengan mungkin." sahutnya merasa sebal, menyingkap selimutnya lalu beranjak berdiri.


"Hendak kemana?" jemari Gin terulur, menahan lengan-lengan kecil Chiharu yang sepertinya hendak meninggalkan peraduan. "Aku yang akan memenuhi kebutuhanmu, kembalilah berbaring."


Tidak terdengar perintah melainkan sebuah bujukan lembut, seolah takut bahwa Chiharu terluka barang sedikitpun. "Aku haus." membuat gadis itu bingung dalam bersikap, lebih sulit menghadapi Gin yang jinak seperti ini dibanding ketika pria itu berkoar-koar ingin dibebaskan–setidaknya hal itu terasa lebih normal bagi Chiharu.


Gin pun mengikuti Chiharu untuk berdiri, memegang pundak bahu gadis itu. Sedikit terpana karena betapa kecil tubuh Chiharu berada ditelapak tangannya, "Berbaringlah," menekan pundak itu agar kembali ketempat semula, tubuh Chiharu yang tak memiliki tenaga lebih tak bisa melawan saat itu.


Menuruti Gin meski pandangan yang sama tak menyurut dari wajahnya, gadis itu curiga. Rencana buruk berseliweran manis diantara kepala Chiharu, hingga ketika Gin kembali pun gadis itu terus menatap pria itu tanpa ditutupi. Pria itu membawa dua mangkuk diatas nampan dengan segelas air putih, menyiapkan meja berkaki rendah untuk menaruh benda itu.


Menjulurkan jemari-jemari panjangnya untuk merasakan suhu tubuh Chiharu, mendesah lega karena tubuh gadis itu perlahan mulai membaik. Memang bukan ide yang bagus untuk manusia biasa membiarkan tubuhnya terguyur air terjun ketika cuaca sedang tidak menentu, asap mengepul dari salah satu mangkuk itu.


Dengan telaten Gin mengambil mangkuk tersebut, meniupnya agar suhu panas pergi dan dapat segera dikonsumsi oleh gadis dihadapannya. Chiharu yang melihat itu merasa malu, merenggut mangkuk itu. Mengatakan dengan tersirat bahwa ia bisa melakukannya sendiri, memangnya pria itu pikir berapa umurnya.


"Meski aku sudah melihat semua masa lalumu, aku ingin bertanya beberapa hal."


Chiharu menyuap untuk pertama kalinya, bubur itu terasa lebih enak dari dugannya. Memenuhi rongga mulutnya hingga ia tak tahan untuk menyuap lagi dan lagi, "Apa alasanmu dibuang hanya karena kau sakit keras?" dan semburan bubur enak itu lolos dari mulut Chiharu ketika dari segala pertanyaan Gin memilih pertanyaan itu.


Wajahnya segera diusap oleh kain, cukup lembut hingga Chiharu merasa tidak terganggu. "Begitulah, sepertinya orang tuaku sadar bahwa hidupku tidak lama lagi." gadis itu kembali memakan makanannya, meminum segelas air. Lalu menatap Gin dengan pandangan yang sama, penuh curiga dan merasakan bahwa pria itu memiliki niat lain dalam dirinya.

__ADS_1


"Tanyakan semua yang ingin kau ketahui, lalu jawab pertanyaanku juga. Dengan begitu akan adil, bukan?" Chiharu mempertanyakan pikirannya yang terasa rumit akhir-akhir ini, ditambah dengan kenyataan Gin. Sepertinya memang harus ditanyakan dengan jelas.


Gin tersenyum, ia terkekeh sejenak mendengarkan dengan seksama negoisasi Chiharu. "Tentu, aku bukanlah siluman yang pelit."


"Baiklah giliranku bertanya, bagaimana bisa Tetua tidak mengetahui ketika kau telah melenyapkan salah satu Dewi Pemeliharaan?" sedikit menunduk ketika gadis itu menyuarakan pertanyaanya, hal yang paling membuatnya penasaran adalah bagaimana Gin mendapatkan keabadiannya.


Pria itu berpikir sejenak, menatap Chiharu. "Karena Dewi itu mencintaiku, ia menyerahkan keabadiannya padaku. Lalu setelah lenyap, Sang Dewi diciptakan kembali dengan ingatan yang hilang.


"Dewi itu tidak bisa mengingatku, kenangan tentangku atau apapun yang berhubungan denganku." Gin tersenyum pedih, "lalu alam semesta menghukumku, dalam setahun aku tidak akan bisa mengontrol kekuatanku. Menjadi gila dan tidak beradab, dan aku akan selalu menanggung hukuman Dewi Pemeliharaan karena telah mencintaiku. Mencintai mahluk yang tidak seharusnya dicintai oleh kalangan Dewi sepertinya."


Mendengarkan penuh Chiharu merasa sakit di sana, dadanya terasa nyeri ketika membayangkan Gin berada disana. Menangis tersedu-sedu ketika ia seperti binatang buas, "waktu kau menolongku apa ada perasaan menyesal ketika berhasil membunuh semua manusia disana?"


Senyum itu semakin lebar, namun tidak terpancarkan kebahagiaan. "Tidak, aku tidak pernah menyesal membunuh mereka semua. Karena mereka memang pantas mendapatkannya, orang-orang itu bahkan lebih buruk dari kalangan Dunia Bawah sepertiku.


"Jika memang–" Gin terhenti sejenak, "jika memang dirimu takut akan diriku yang seperti itu. Aku tidak akan pernah melakukannya lagi, selama itu tidak terlalu membahayakan nyawamu."


"Mengapa perlakuanmu terhadapku berbeda akhir-akhir ini? Sejujurnya cukup sulit beradaptasi dengan sikapmu yang satu itu."


Tatapan pria itu kini lurus ke arah Chiharu, begitu dalam dan begitu tidak terlepaskan. Suasana yang tercipta tiba-tiba saja berubah, menjadi lebih berat, manis, dan sedikit menggetarkan. "Apa aku boleh menjalin Segel Dewa lagi denganmu?"


"Ap–"


"Yang kali ini dari hatiku." Gin merengkuh wajah Chiharu, tangan besarnya menyelip masuk kedalam rambut-rambut hitam Chiharu yang berkilauan ditimpa sinar bulan.


Bibirnya menempel diatas bibir gadis itu, ********** pelan hingga gadis itu merasa terkejut bukan main. Dari kedua bola mata hitamnya ia dapat melihat sosok Gin yang tengah terpejam menikmati suasana yang terjalin diantara mereka, Chiharu tak bisa menahan dirinya ketika ******* itu semakin dalam.


Gadis itu ikut memejamkan matanya, perutnya terasa meledak. Sebuah ledakan yang menyenangkan, darah seolah terhenti mengalir ke arah kepalanya sehingga terasa kosong. Ketika ******* itu terlepas tatapan keduanya tercipta disuasana malam yang menghantarkan hawa dingin itu, "itulah alasanku mengapa aku bertingkah baik padamu. Kuharap itu cukup menjawab semuanya." setelah ucapan itu, Gin kembali memagut gadis dihadapannya. Merasa terpuaskan akan rasa frustasi yang selama ini menganggunya, mengatainya orang gila karena tak bisa menahan hasrat yang ia rasakan terhadap Chiharu.

__ADS_1



***


Gadis itu kini menunduk dalam ketika ia memakan makanan enak diatas meja berkaki rendah, rona merah kerap tak menghilang dari wajahnya. Bayangan akan kejadian tadi malam sungguh luar biasa menganggunya, pernyataan Gin semalam membuatnya tak bisa lagi memejamkan mata sehingga pagi ini ia adalah manusia yang paling awal beraktivitas meski hari ini Chiharu tidak melakukan kegiatan ritualnya untuk dimandikan air terjun.


Udara sedang dingin-dinginnya meski baru memasuki awal musim gugur, dan pria itu makan dengan tenang tanpa terlihat terganggu. Seolah pernyataan semalam hanyalah sebuah bunga tidur, berbanding terbalik dengan Chiharu yang semalaman terus termenung memikirkan apa maksud pria itu.


Apa Gin benar-benar menyukainya? Sejak kapan pria itu menyukainya? Bagaimana bisa?


Begitulah pertanyaan-pertanyaan itu terus menganggu Chiharu malam itu bahkan hingga saat kini, apa Chiharu juga menyukai pria itu? Gadis itu tidak tahu, dadanya berbedar cukup keras ketika hanya memikirkan nama Gin. Perutnya terasa aneh, dan seluruh rongga mulutnya terasa manis. Apakah ia benar-benar menyukai siluman rubah itu?


"Apa dirimu masih demam? Aku yakin semalam suhunya sudah lebih baik." pria itu mencoba menjulurkan jemarinya untuk memeriksa suhu Chiharu, hanya saja gadis itu reflek memundurkan tubuhnya.


Menghindari sentuhan Gin yang terasa sangat membahayakan baginya sekarang ini, "Ak-aku tidak apa-apa, cuaca saat ini sangat dingin. Aku hanya akan beristirahat hari ini, sampai jumpa." beranjak pergi Chiharu segera menutup rapat pintu peraduannya.


Gin terdiam disana, merasa tertohok akan sikap penolakan Chiharu yang terasa jelas menghindarinya. Apakah gadis itu menolak dirinya secara tidak langsung? "Apa anda melakukan kesalahan lagi, Tuanku?" dan pertanyaan dari kedua pelayan itu pun mampu membuat Gin tidak bisa berkata apa-apa.


"Wajah nona sangat memerah, bahkan ia tidak melihat anda. Pasti anda telah melakukan kesalahan, ia bahkan enggan melihat anda Tuanku." sungguh mau berapa parah lagi mahluk setengah kelinci ini menginjak harga diri prianya, apa mungkin Gin terlalu terburu-buru dalam menunjukan perasaanya?


"Aku pun tidak akan bisa bertahan hidup jika dirimu pun tidak menginginkanku."


Suara wanita berdenging dikepala pria bersurai putih disana, sangat nyaring sehingga bola matanya memburam tak dapat memfokuskan penglihatannya. Benar, Gin dapat mengingat dengan baik kutukan alam semesta untuknya.


Wanita manapun yang akan kau cintai, kau akan selalu dihantui oleh perasaan Dewi pemeliharaan yang tidak berbalas.


Kira-kira begitulah bunyi kutukan yang dilemparkan padanya, sungguh menyenangkan menjadi Dewi Pemeliharaan karena hanya ingatan yang diambil darinya, namun Gin sepertinya tidak terlalu terpengaruh akan kutukan itu sehingga ia memutuskan untuk tidak terlalu mempedulikannya. Hantui ia sepuasnya, Gin tidak akan berhenti untuk menyukai gadis itu.

__ADS_1


To Be Continued...


__ADS_2