Gadis Kuil

Gadis Kuil
Bab 37. Kenangan Tidak Menyenangkan


__ADS_3

Wajah wanita dihadapan Chiharu begitu menenangkan, terasa damai, dan rasanya begitu familiar. Hingga Chiharu merasa bahwa dirinya seolah tengah bercermin, tubuhnya terasa mendingin ketika tangan-tangan wanita itu terulur untuk menyentuhnya. Memeluknya ke dalam pelukan yang selalu didamba Chiharu dibalik sosoknya yang mencoba tidak peduli, mengetuk hatinya yang tertutup oleh luka dan pengkhianatan.


Bahkan ketika wanita itu bicara pun, suaranya terdengar seperti riak air danau yang tenang. Begitu menenangkan hingga rasanya tenggelam, "Maafkan aku, karena telah menelantarkanmu." kata-kata yang selalu ingin Chiharu dengar. Ia seketika menjadi lemah, sangat lemah.


Terkulai dan menerima semua pelukan yang sepertinya memang gadis itu butuhkan, ayolah dirinya baru hidup selama lima belas tahun. Ia belum cukup dewasa untuk menolak kasih sayang seperti ini, benar ia masihlah kanak-kanak.


"Mengapa–" suara Chiharu nampak tersendat, ia seolah mengambang dan tak dapat menapak dengan benar. Merasa linglung sejenak, hingga pada akhirnya Chiharu merasakan nyeri yang luar biasa pada dirinya.


Terlepas dari pelukan itu dan terlempar menjauh dari wanita disana, betapa terkejut gadis itu ketika wanita yang baru saja memeluknya tidak memiliki wajah. Tersenyum menyeringai dengan darah mengalir dari tangannya, tidak heran ketika dirinya merasa sakit.


Mengesalkan rasanya ketika ia berkoar-koar ingin menjadi kuat, namun ketika diberikan pelukan langsung menyambutnya. Menyebalkan ketika menyadari bahwa alam sadarnya memang membutuhkan hal itu, selalu mendambakannya hingga ketika kasih sayang semacam itu benar-benar ada didalam penglihatannya. Mungkin Chiharu akan tewas.


Dingin kini seolah terasa dibalik tubuh Chiharu, gadis itu meringis nyeri pada tubuhnya yang terasa sakit keseluruhan.Berbeda dengan peristiwa yang baru saja ia alami, kini Chiharu berhasil menapak dengan benar. Sebenarnya apa yang Gin inginkan hingga membuat dirinya mengalami semua ini, sungguh semua ini sama sekali bukanlah kenangan yang indah untuk di ingat.


Pemandangan ini entah mengapa rasanya tidak begitu asing, terasa aneh karena salju ikut turun didalam mimpinya. Dan suara bising berhasil menarik perhatian gadis itu, begitu bising–mungkin sebuah pertengkaran– menyisir pandangan dan mulai mencari sumber suara itu.


Ingatannya semakin lama semakin jelas ketika Chiharu membuka kayu yang menjadi sekat antara suara dan dirinya, menahan napasnya ketika dua orang disana tertangkap oleh netra hitam milik gadis itu.


Itu kedua orang tuanya.


Dan pertengkaran itu sebuah ingatan yang menjadi akhir dari segalanya, akhir dari kehidupannya, dan menjadi pemutus antara dirinya dengan kedua orang yang telah membawa Chiharu untuk melihat dunia. Buku-buku tangannya memutih ketika membayangkan wajah-wajah mereka yang mulai lenyap lekang dari ingatan, mulai terasa kembali.


"Anak itu juga tidak akan bertahan, tinggalkan saja dan kuburkan ditempat yang jauh. Lagipula tak ada yang mengenali identitasnya." benar, dirinya adalah gadis pesakitan dengan umur pendek. Sekarat diantara lingkungan kejam, dan semakin lemah dari waktu ke waktu.


Pembicaraan yang tak sempat Chiharu mengerti kini seolah menjadi cambuk dalam hatinya, melukai kembali dan membuat luka itu semakin membusuk didalam. "Aku yakin anak kita yang selanjutnya akan lahir dengan sehat."


Benarkah ini mimpi? Atau ini adalah sebuah kenyataan yang terekam dalam memorinya? Bagaimana bisa ia melupakan hal ini? Atau karena tubuhnya yang sekarat ia tak mampu memahaminya, benarkah ibunya tengah mengandung dan memiliki anak?

__ADS_1


Gadis itu tertawa pedih, jadi begitu. Alasannya dirinya terbuang, terlantarkan, dan ditinggalkan. Tawanya semakin keras, menghancurkan dunia yang tengah tercipta dan berjalan disana.


"Bagaimana? Masih merindukan sosok seorang Ibu?" suara damai itu kembali mengusik Chiharu, gadis itu mendongak hanya untuk menatap wajah itu kembali.


"Apa yang harus kulakukan untuk dapat melihat energi spritual?!" Chiharu sudah tak peduli lagi apapun, ia hanya merasa marah pada semuanya.


Tawa wanita itu bergema, melengking hingga memekakan telinga. Tatapannya sayu dan tenang, mendekati Chiharu. Menjulurkan jemarinya, menangkup dagu Chiharu, menyeringai senang "Bukankah sangat memuakkan?"


Menatap wajah kebencian Chiharu, wanita itu seolah tampak semakin bahagia. "Benar, ekspresi seperti itulah yang menandakan bahwa dirimu masih manusia.


"Lagipula bukankah kau sudah melihat semuanya?"


***


Chiharu bangkit dari tidur panjang yang baru saja ia alami, keringat mengucur deras dari tubuhnya. Detak jantungnya berdebar seolah hendak meledak, wajahnya memucat seiring dengan salju yang mengguyur bumi dengan deras. Menimbulkan geradak jendela yang tengah tertutup rapat, napas kerap berhembus dengan kencang.


Jemari panjang terulur pada gadis itu, merengkuhnya dalam dan mencoba berbisik lembut bahwa dirinya baik-baik saja. Mengusap surai hitam milik Chiharu dan menenggelamkan wajahnya kedalam pelukan menenangkan, "Kau baik-baik saja." gumamnya lembut hingga tegangan yang sempat menaungi ruangan itu perlahan menyurut.


"Hanya sebuah kenangan masa lalu."


Chiharu menghela Gin untuk menyingkirkan pelukannya, menatap pria itu membuat gadis itu merasa aman. "Jadi kejadian apapun yang barusan kualami benar-benar sebuah kebenarannya?"


Pria itu mengangguk, "Lalu apa kau telah berhasil melihat energi spritual seseorang?"


Mendengar pertanyaan itu mau tak mau Chiharu menatap kedua bola mata kekuningan dihadapannya, begitu terfokus hingga kobaran berwarna kuning menyelimuti tubuh pria itu. Begitu besar hingga Chiharu tidak dapat melepaskannya barang sedikitpun, energi itu begitu besar menutupi ruangan ini hingga terasa sesak.


"Ah maaf, aku akan mengaturnya agar tidak keluar." setelah perkataan itu, sesak yang sempat dirasakan Chiharu benar-benar berkurang hingga akhirnya gadis itu dapat bernapas lebih baik.

__ADS_1


Gin tersenyum, mengelus pucuk kepala Chiharu dengan rasa bangga. "Kau berhasil rupanya." tatapannya menerawang ke arah Chiharu yang sedikit lebih pendiam dari biasanya. Tidak heran ketika apa yang baru saja dialaminya, manusia adalah mahluk yang berkelompok. Tidak mengherankan ketika manusia merasa begitu putus asa ketika terbuang dari bagian kelompoknya.


"Sekarang cobalah untuk melihat energi spritual yang berada disekelilingmu."


Menakjubkan rasanya ketika gadis itu dapat melihat titik-titik kebiruan memenuhi ruangannya, mengingatkannya pada Tuan Qi. Namun, titik-titik kebiruan yang bergerak itu tidak terasa hangat. "Energi yang berterbangan itu bisa kau serap dan jika kau mampu mengendalikan sirkulasinya, kau bisa melakukan apapun yang kau mau."


"Bagaimana cara menyerapnya?"


Tawa ringan keluar dari pria itu, ia mengeluarkan sesuatu dari saku pakaiannya. "Ini akan membantumu untuk mengendalikannya." sebuah kalung dengan liontin kristal berwarna putih. Begitu indah ketika liontin itu terpantul oleh matahari bersalju.


Gadis itu memekik kaget ketika sinar-sinar biru yang berterbangan diudara memasuki kristal itu, terasa hangat ketika disentuh. Membuat Chiharu merasa nyaman mengenggamnya, "selama kau belum bisa menyerapnya, benda ini akan membantumu menyerap dan mengeluarkan energi spritual dari tubuhmu.


"Benda itu menyatu denganmu, kau tentu sudah bisa menyalurkannya bukan?" mengingat bahwa Chiharu dapat membuat pedangnya bersinar biru menunjukkan bahwa gadis itu dapat menyalurkan energi spritual dengan baik.


Chiharu mengangguk, "Bagus! Salurkanlah energi kemanapun yang kau suka. Contohnya seperti ini,"


Gelas berisi air itu tiba tiba saja diselimuti cahaya kekuningan, air didalamnya terpisah tanpa tumpah dan berterbangan. Mengelilingi Chiharu layaknya mahluk hidup, begitu indah dan ketika menyentuhnya air itu akan tumpah dan membasahi jemarinya.


"Terimakasih." terasa menenangkan ketika mengucapkan kata itu, kebencian yang sempat memasuki hatinya seolah sirna menguap dan tergantikan oleh perasaan menyenangkan.


Chiharu mungkin akan menyesalinya, ia merasa begitu egois ketika melakukannya. Namun, hanya sekali saja. Chiharu ingin mengatakannya, ingin melakukannya. Karena ia tidak pernah mengeluarkan perasaanya, ia selalu menahannya. Menerimanya dan menjalani hidup yang dilemparkan seperti kotoran padanya.


Chiharu tidak ingin lagi mengalaminya, jadi biarkan kali ini saja ia melakukan apa yang berada didalam hatinya.


Tangan-tangan mungil Chiharu terulur lembut, merengkuh tubuh pria itu. Menenggelamkan wajahnya, menyembunyikannya disana dan merasakan kehangatan melingkupi dirinya.


Chiharu mengusap wajahnya pada tengkuk pria itu, berbisik lembut. "Tolong, jangan tinggalkan aku. Aku hanya berharap seperti ini padamu."

__ADS_1


Manusia benar-benar mahluk yang spontan...


To Be Continued..


__ADS_2