Gadis Kuil

Gadis Kuil
Bab 14 Pertahanan Diri


__ADS_3

Suasana pada pagi hari itu mendung, masih menyisakan sisa-sisa hujan badai semalam. Enggan pergi dan masi meninggalkan bekas, sepertinya suasana suram itu ikut meliputi kuil disana.


Kuil terasa begitu sepi tanpa tawa Chiharu dan celotehnya dipagi hari, gadis itu terdiam dan tak membuka mulutnya semenjak ia kembali dari air terjun untuk membasuh tubuh dan melakukan rutinitas seperti biasa. Fu dan Su tentu saja merasa sangat khawatir, ia akan memberitau Tuan Zhi tentang perkembangan Chiharu yang kini memburuk.


Chiharu memang tidak menolak ketika luka-lukanya diobati, namun ia tidak juga menerima dengan senang hati. Layaknya mayat hidup, Chiharu hanya melakukan apa yang biasa ia lakukan sebagai rutinitas namun tidak menyertakan jiwa didalamnya. Sehingga ketika pintu langit terbuka, Chiharu masuk ke sana dengan ekspresi kosong dan hampa.


Tujuannya pertama kali setelah sampai didunia langit tentu saja kediaman Tuan Zhi, dan Dewa Kebijaksanaan itu tidak bisa merasa khawatir ketika melihat penampilan Chiharu yang jauh dari kata baik. Tubuhnya penuh dengan perban pun dengan wajah cantiknya, tatapanya kosong tanpa cahaya. Saat melihat Tuan Zhi gadis itu tersenyum tipis, lalu berkata bahwa ia baik-baik saja.


"Ada apa dengan Chiharu?" tanya dirinya pada kedua pelayan yang sengaja di utus untuk menjaga Chiharu.


Kedua musang putih itu bersujud khidmat tidak berani mengangkat kepalanya barang sedikitpun, "ampuni kami berdua karena telah lalai menjaga nona Chiharu, kami berdua pantas dihukum." seru Fu penuh rasa bersalah.


"Kami terlalu lemah tuanku, hingga tak dapat melakukan apapun untuk melindungi nona Chiharu. Silahkan hukum kami." balas Su kembali meminta hukuman.


Dewa Kebijaksanaan ikut bingung akan situasi yang tengah dihadapinya, "katakan saja ada apa!" tegas sosok itu tanpa ingin dibantah.


Sujud mereka semakin dalam ketika mendengar suara Dewa Kebijaksanaan sedikit naik, "Ampun tuan, Dewa Perang Lukos mengatakan bahwa Nona Chiharu lah penyebab kematian sang Dewa Bumi, Qi.


Nona marah, dan menyerang Dewa Lukos. Namun karena kami yang begitu lemah, tak dapat melindungi Nona. Akhirnya ia terluka, ampuni kami Tuanku."


Benang-benang kusut mulai terjalin dalam benak Dewa Kebijaksanaan, merasa iba sekaligus merasa bersalah. "Seharusnya aku memang menolak Lukos untuk menyampaikan pesan, aku akan menemui gadis itu." sahut sang Dewa Kebijaksanaan bangkit dari duduknya.


***


Chiharu terduduk didepan tanaman-tanaman yang ia rawat ketika tinggal dikediaman Tuan Zhi, merasa hampa dan kosong. Serta memori kejam terus menghantam otaknya hingga terasa pening, menyalahkan dirinya dalam kubangan keputus asaan.


Seharusnya Tuan Qi cukup menguburkannya saja, tidak perlu memberinya jiwa. Seharusnya Tuan Qi memberikan peristirahatan terbaik bagi dirinya, bukan malah membangkitkan dirinya. Chiharu merasa bahwa dirinya hanyalah wadah kosong yang di isi oleh sesuatu hingga ia dapat bergerak, layaknya boneka yang digerakan oleh benang.

__ADS_1


"Tuan Qi pasti memiliki alasannya sendiri mengapa dirinya menyerahkan jiwa beserta energi spritualnya padamu." suara Tuan Zhi mau tak mau mengintrupsi lamunan Chiharu, membuat gadis itu entah mengapa semakin merasa bersalah.


Gadis itu menoleh, memaksakan diri untuk tersenyum. Memaksakan dirinya untuk terlihat baik-baik saja, "tapi tetap saja, Tuan Qi lenyap karena diriku. Seharusnya saat aku dibuang dan mati, ia cukup menguburkanku."


Chiharu menatap kedua tangan kecilnya, sesak didadanya kembali datang. Sesaknya sama ketika Tuan Qi tiba-tiba menghilang dihadapannya, "Aku yakin Tuan Qi tidak akan tega melihatmu mati begitu saja." dengan kelembutan Tuan Zhi duduk disamping Chiharu, mengelus pucuk kepalanya dan mencoba menenangkan gadis itu.


Perlakuan Tuan Zhi mampu membuat air mata Chiharu luruh tak kuasa, "Apa yang harus kulakukan, guru? Aku tidak bisa hidup ketika membayangkan bahwa nyawaku ditukar dengan Tuan Qi.


Harusnya Tuan Qi yang berada disini, seharusnya aku sudahlah mati. Dan tidak memiliki eksistensi didunia ini, tapi ini semua terasa salah."


"Apa yang kau rasa salah belum tentu salah dimata takdir dan alam semesta. Apa yang kau kira baik belum tentu baik untukmu, dan sebaliknya. Cobalah lebih kuat, nak. Kau diberikan ujian ini pasti agar membuatmu menjadi lebih kuat lagi.


Siapa yang bisa mengalahkan Chiharu?" kini gadis itu mengerti mengapa Tuan Zhi disebut kebijaksanaan.


Setiap tutur kata yang keluar dari sela bibirnya, membuat hati siapapun menjadi lebih tenang. "Apa aku berhak?" namun sepertinya masih belum cukup untuk mengeluarkan Chiharu dari lubang keputusasaan.


Lalu percakapan itu, diakhiri dengan isak tangis Chiharu. Tidak peduli apapun, Chiharu menumpahkan semuanya pada waktu itu. Menjadi begitu lemah dan terlihat seperti gadis biasa pada umumnya, bukan seorang dewa bukan juga seorang manusia. Hanya seorang Chiharu.


***


Dewi Waktu Zepin menghampiri Chiharu dengan terburu-buru, wanita itu panik ketika melihat lebam yang cukup parah diwajah Chiharu. "Apa yang terjadi?" tanyanya penuh kekhawatiran.


Gadis itu tersenyum lemah, "aku hanya terjatuh. Aku tidak apa-apa."


Sang Dewi Waktu memarahi Chiharu habis-habisan, ia mengatakan bahwa Chiharu harusnya lebih berhati-hati, tidak ceroboh, tidak melakukan hal-hal yang berbahaya, dan melakukan sesuatu seperti menjadi gadis baik. Entahlah Chiharu tidak terlalu mendengarnya, Dewa Waktu selalu berlebihan ketika menyangkut dirinya.


Setelah ceramahan Zepin, perkumpulan itu dimulai. Banyak Dewa Dewi yang tak pernah Chiharu lihat, bentuknya pun berbeda-beda seolah mereka diciptakan untuk mewakili pekerjaanya masing-masing. Namun tetap tidak mengurangi keindahan mereka sedikitpun, berbeda dengan para siluman. Kebanyakan dari mereka berbentuk menyeramkan, dengan napsu membunuh yang kuat.

__ADS_1


"Senang rasanya bahwa Dewa Bumi telah kembali, melihat kebelakang telah beratus-ratus tahun lamanya tugas itu ditinggalkan." para tetua pemimpin rapat disana mengintrupsi lamunan Chiharu, nada suaranya pun terdengar tidak enak ditelinga.


Chiharu bangkit dari duduknya, menghormat dengan khidmat "Aku mewakili Dewa Bumi sebelumnya untuk meminta maaf, dan aku berjanji bahwa tugas Dewa Bumi tidak akan terlantar kembali. Meski sejujurnya diriku sedikit tidak percaya diri jika dibandingkan dengan Dewa Dewi yang ada disini." sahut Chiharu penuh hormat dengan kepala membungkuk, mengatakan sesuatu yang begitu enak didengar.


Lalu perkumpulan itu berakhir, tidak ada sesuatu yang istimewa selain menyindir bahwa dirinya seorang manusia biasa. Memangnya kenapa jika Chiharu hanya manusia? Ia akan bertambah kuat dan menghajar wajah Lukos si Dewa Perang. Saat mengingat sosoknya Chiharu kembali kesal, sejujurnya ia pun sudah menyadari kenyataan pahit itu. Tidak perlu disadarkan kembali.


"Sial!" gerutu Chiharu dalam perjalanannya untuk kembali ke bumi, tidak lupa meminta seekor kuda untuk melakukan perjalanan. Setelah ini, ia akan mempelajari cara untuk terbang dengan menggunakan energi spritual.


***


Hari-hari berat sebelumnya pada akhirnya dapat Chiharu lewati, gadis itu mulai kembali tersenyum. Ceria seperti biasanya, dan mencoba untuk bangkit dari kenangan menyakitkan itu, meski rasanya sulit untuk melupakan dan Chiharu pun enggan melakukannya. Tuan Qi tidak boleh dilupakan, namun tidak juga dikenang sampai membawa kesakitan.


"Nona ada tamu lagi yang datang." sahut Fu memanggil Chiharu yang tengah menyapu halaman belakang.


Dua minggu telah berlalu setelah perkumpulan rapat didunia langit, dan ketika kembali Chiharu tidak menyangka bahwa kuilnya semakin lama terasa semakin ramai dan sering dikunjungi. Ada beberapa orang yang datang untuk meminta berkat, atau ada beberapa orang yang datang untuk berdoa.


Seorang lelaki muda datang sendirian kekuil Chiharu, membawa sekeranjang sayuran penuh. Ketika melihat Chiharu, ia tersenyum lebar dan menyerahkan sayuran itu pada gadis itu. "Nona kuil, aku memberikan sayur-sayuran untukmu. Semoga kau menyukainya."


Begitu saja, lalu pria itu menghilang ditelan oleh hutan yang gelap. Berbeda dari kebanyakan orang yang datang diman mereka meminta sebuah permohonan, atau meminta Chiharu memberkati barang-barang mereka. Pria ini tidak meminta apapun dan malahan memberikan sayuran.


"Pria yang aneh." sahut Su sembari mengambil sayuran dari tangan Chiharu.


Hanya saja sebelum sayuran itu terenggut, Chiharu menyadari suatu kejanggalan karena ia begitu memahami tumbuhan. "Tunggu!" hentinya sembari menarik sayuran itu.


Chiharu menatapnya dengan intens dan lama, mengendus aromanya lalu menyadari apa yang salah. "Ini beracun!" keluh Chiharu tak percaya.


"Kejar pria itu, takutnya ia membagikan sayuran itu pada orang lain. Cepat!" perintah Chiharu layaknya sebuah ultimatum, meninggalkan jenis pekerjaan apapun dan segera mengejar pria yang harusnya tidak begitu jauh.

__ADS_1


To Be Continued..


__ADS_2