Gadis Kuil

Gadis Kuil
Bab 38. Obsesi Si Siluman Rubah


__ADS_3

"Tolong, jangan tinggalkan aku. Aku hanya berharap seperti ini padamu."


Apakah gadis itu tidak tahu bahwa dengan mengatakan kata-kata penggoda seperti ini mampu membuat hati siluman rubah yang sudah berumur ribuan tahun menjadi kacau seperti ini, begitu indah ketika didengar, dan Gin ia terus menginginkan lebih. Lupakanlah cara agar gadis itu nyaman, toh Chiharu sendiri yang telah mengizinkannya.


Melepaskan pelukan gadis itu, netra kekuningan itu menatap wajah Chiharu. Bola mata bulatnya yang segelap malam, kulit putih yang terasa halus, serta bibir semerah mawar tua itu. Pria bodoh mana yang tak dapat mengabaikannya, satu kecupan mendarat dengan mulus tanpa penolakan membuat pria itu semakin berani.


Kecupan-kecupan kecil itu mulai berubah menjadi tuntutan, semakin liar hingga Chiharu–gadis itu membutuhkan pasokan oksigen yang amat banyak. Gadis itu terengah, menumpu beban tubuhnya pada pria dihadapannya. Wajahnya memanas, mungkin berwarna merah muda. Dan seolah belum cukup pria itu terus mencumbu dirinya, menyesap seluruh tubuhnya. Dan bermain-main dengan surai gadis itu.


"Apa yang kau lakukan?" suara serak Chiharu menghentikan kegiatan Gin, mencoba menatap gadis itu.


Tersenyum senang karena wajah Chiharu memerah akibat perbuatannya, "Kau yang mengizinkannya." dan satu kecupan mendarat pada indra pengecap Chiharu. Merasakan kemanisan Chiharu dan terbuai didalamnya, seolah tak pernah cukup. Gin terus menyesap bibir itu.


Chiharu yang kewalahan mendorong tubuh pria itu, terlalu berbahaya jika mereka melakukan lebih dari ini. Gadis itu merasa, bahwa setelah mereka melakukan hal-hal diluar batas Chiharu tak akan bisa melepaskan diri. "Aku tidak mengizinkan apapun." kilah Chiharu, beranjak pergi dari sana untuk menghindari Gin.


Pria itu tiba-tiba saja berubah menjadi liar, agresif, dan tidak terkendali. Chiharu merasa terbebani, tidak nyaman, dan terancam. Setelah keluar dari sana, Chiharu mencoba menetralkan debaran dijantungnya. Ia tak pernah dekat dengan pria manapun apalagi dengan intensitas seperti barusan, terlalu dekat seolah pria itu meresap ke dalam jiwanya.


Tidak bisa, Chiharu tidak boleh membiarkan ini terlalu jauh. Mereka berdua memiliki hubungan yang cukup rumit, bertemu dengan pertemuan yang rumit, dan menjadi sekutu dengan ikatan yang rapuh. Hubungan seperti ini tidak boleh dibiarkan, mulai hari ini Chiharu harus benar-benar menghindarinya.


Sebuah suara mengejutkan gadis itu ketika berada didalam lingkaran pikirannya, Chiharu terkejut ketika menatap sebuah bocah kecil dihadapannya. Terlihat menggemaskan dengan telinga kelinci dari sela-sela rambut kebiruan miliknya, "Astaga! Siapa kau?!" suara kejut Chiharu mampu membuat Fu bertanya-tanya, tentu saja.


"Ini aku nona, Fu." perkenalan singkat itu mampu membuat wajah nonanya semakin terkejut, hanya sedetik ketika air mukanya kembali menjadi lebih gembira dan senang.


Ia menunduk, menyejajarkan tingginya dengan bocah dihadapannya. Menatap bola mata bulat nan merah itu, mendesah takjub ketika Chiharu menyentuh surai-surai putih milik Fu. "Aku tidak tau kalau Fu semenggemaskan ini."

__ADS_1


Fu semakin dibuat bertanya-tanya, "Apa nona dapat melihat energi spritual?"


Chiharu mengangguk mengiyakan, "benar aku bisa melihatnya, mengapa perwujudanmu sangat berbeda?" gadis itu tak tahan untuk tidak mengacak-acak surai Fu yang terasa begitu memanjakan kulit.


Dan Fu mau tak mau menerima perlakuan itu meski terasa tidak nyaman, "Wujud kelinci yang nona biasa lihat selama ini adalah wujud yang dapat dilihat oleh manusia biasa, ketika nona dapat melihat energi spritual bentuk Dewa-ku akan terlihat."


Percakapan itu terintrupsi ketika Su mengikuti arah percakapan itu, "Nona dapat melihat energi spritual?" sahutnya bertanya.


Bola mata Chiharu semakin berbinar ketika menatap Su dalam wujud Dewa-nya, tinggi Su sama dengan Fu hanya saja penampilannya sungguh berbeda. Rambutnya tidak berwarna putih kebiruan, melainkan berwarna hitam pekat dengan bola mata merah. Telinga kelinci yang mencuat pun mampu membuat siapa saja pasti akan terpesona akan mahluk langit ini, betapa sia-sia hidup Chiharu ketika tak dapat melihat energi spritual.


"Aku bisa melihatnya, namun tak bisa menyerapnya." keluh Chiharu membuka pintu belakang kuil, menikmati hembusan salju yang telah reda. Dan kini menumpuk tak berguna sejauh mata memandang.


Kedua pelayannya mengikuti, Chiharu tersenyum senang karena sama sekali tidak merasa kedinginan. Ia merasa hangat, bahkan gadis itu merasa bahwa suhunya tidak terlalu berbeda ketika diluar maupun didalam. Siapa yang menyangka bahwa energi spritual dapat begitu berguna seperti ini, mungkin ia bukan hanya menyalurkan berkat. Ia akan bisa menumbuhkan tanaman, dan membuat siapapun sejahtera.


Hanya membayangkan hal itu saja mampu membuatnya senang bukan main, ia merasa lebih kuat dan semakin mirip dengan Dewa Dewi yang agung. Pemikiran yang kekanak-kanakan memang, dan Chiharu tidak keberatan dengan pikirannya saat itu.


Ketika Fu pergi, Chiharu menatap kearah pelayannya bersurai hitam dan tengah asik membersihkan salju yang menumpuk. "Bagaimana caranya?" tanya gadis itu ke arah Su.


"Nona tinggal merasakannya saja, tarik cahaya itu mendekat maka sinar spritual itu akan menyatu dengan nona." penjelasan itu tentu tak mudah untuk dipahami karena Chiharu tidak mengetahui sistem bagaimana energi itu dapat masuk ataupun keluar.


"Hanya saja," fokus Chiharu kembali pada Su yang tiba-tiba saja menghentikan kegiatannya, "Jika nona menyerapnya terlalu banyak, tubuh nona akan hancur."


***

__ADS_1


Cukup rasakan saja. Begitulah kata-kata itu terngiang dalam benak Chiharu, terasa menyenangkan ketika malam begitu cerah dengan bintang-bintang bertebaran membuat gadis itu merasa bersemangat untuk beranjak dari peraduan dan berada diluar sana untuk menikmati lembutnya salju. Toh suhu nya tidak akan turun meski berada diluar sekalipun, mengingat hal itu Chiharu menyingkap selimutnya.


Dengan piyama tidurnya ia pun menyingkap pintu-pintu kayu kuil dan menghirup udara segar yang berada diluar sana, terasa begitu menyenangkan dan bebas. Bertambah bahagia ketika salju tidak turun malam itu hingga terasa semakin hangat, kaki-kaki telanjang Chiharu memulai langkah untuk menyentuh salju. Memekik senang ketika rasa dingin menyentuh jemari-jemari kakinya.


Chiharu mulai berjalan perlahan, menatap langit serta bulan yang berpendar terang. Lalu kembali melangkah kecil dan menikmati udara malam, ketika ia kecil hal seperti ini terasa begitu mustahil. Bahkan ketika musim panas sekalipun, Chiharu hanya berbaring dibalik tempat tidurnya–serta ruangan dengan bau penyakit, atau obat-obatan yang terasa memuakkan.


Bagaimana kabar kedua orang tuanya, ya? Apa mereka bahagia? Apakah anak yang berada dalam kandungan Ibunya ketika ia dibuang dapat tumbuh dengan sehat?


Pedih kembali mengeggerogoti hatinya, ia merasa begitu bodoh ketika kembali mengingatnya. Menggeleng pelan untuk menghapus pertanyaan-pertanyaan itu dari benaknya, berlari-lari kecil mengelilingi kuil jauh lebih baik daripada memikirkal hal-hal yang mampu menguak luka hati.


Merasa lelah Chiharu mencoba berbaring, helaan napasnya terdengar teratur. Punggungnya yang terasa dingin pun terasa begitu nyaman, surai hitamnya tergerai indah diatas hamparan salju. Begitu kontras akan putihnya saljut dengan hitamnya surai gadis itu, jemarinya terulur untuk menangkap bintang-bintang tak tergapai. Bahkan dalam kesendiriannya seperti ini pun, ia masih dapat mengingat Tuan Qi.


Merasuk ke dalam hatinya, menimbulkan memori indah serta menyakitkan dalam waktu bersamaan. "Apa Tuan merasa senang disana? Bagaimana kabar Tuan setelah menghilang?" gumam Chiharu, menghembuskan napas kasar ketika bola matanya sedikit terfokus ia dapat melihat sinar-sinar biru melayang diatas wajahnya.


Menari-nari disekelilingnya, gadis itu memejamkan matanya. Kembali memutar kata-kata Su saat itu, benar cukup rasakan saja. Ketika kedua bola mata itu terbuka, Chiharu mencoba membayangkan bahwa sinar-sinar biru itu masuk kedalam tubuhnya. Memenuhi rongga dirinya hingga ia merasa penuh, menyinari seluruh hatinya yang kosong dengan kekuatan agar setidaknya ia mampu berdiri dan bertahan dengan baik.


Rasa hangat menjalar dari seluruh tubuhnya, terkejut Chiharu bangkit dari posisi berbaringnya. Mendesah kagum ketika sinar biru menyelimuti seluruh tubuhnya, gadis itu mengenggam kalung kristal pemberian Gin. Mengehela napas sejenak sebelum melepaskannya, lalu kembali memfokuskan dirinya. Membayangkan sinar-sinar itu memasuki dirinya dan tersenyum senang ketika sinar itu benar-benar menyelimuti tubuhnya, meresap dari balik kulitnya dan Chiharu merasa begitu penuh.


Ia berhasil menyerap energi spritual, sungguh ia benar-benar melakukannya. Bahkan tanpa bantuan kalung kristal, jika semudah ini mengapa Gin tidak mengatakannya. Padahal menyerap energi spritual bukanla hal yang sul–


"Uhuk."


Tubuh gadis itu tumbang, darah keluar dari mulutnya. Menggenang dengan ngeri diatas hamparan salju, kontras dengan warna merah yang terasa hampa. Menimbulkan noda disana, meski begitu batuk itu tak kunjung mereda. Suara batuknya bahkan semakin keras seiring darah ikut keluar dari mulut gadis itu, sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya?

__ADS_1


Dan dari sela-sela kesadarannya, ia mampu melihat pijakan kaki terburu-buru itu. Mendekat padanya, menrengkuh dirinya lalu gelap mulai menguasai seluruh tubuhnya. Ia melupakan salah satu nasihat Su padanya, bodoh sekali dirinya.


To Be Continued...


__ADS_2