Gadis Kuil

Gadis Kuil
Bab 25 Rumor


__ADS_3

Gin kini tengah menatap cairan bening dalam genggamannya, para wanita—yang tentu saja bukan ras manusia—melendot padanya. Memamerkan tubuh yang elok dengan wajah cantik bukan main, kata-kata yang diucapkan pun terdengar selalu manis dan indah. Pipa-pipa panjang mengeluarkan asap, Pria itu mengetuk sedikit agar bubuk tembakau keluar.


Merasa aneh pada dirinya ketika rasa hampa menelusup tak diundang, aneh pada perubahan dirinya. Ia biasanya sangat menyukai suasana seperti ini, sudah lama tak merasakan ia pikir akan terasa menyenangkan. Namun, ini semua terasa membosankan.


Pria itu bangkit dengan wajah kurang memuaskan, membuat para wanita disana mendesah kecewa. "Apa kami telah melakukan kesalahan?" suaranya mendayu, dibuat selembut mungkin berharap menarik perhatian pria disana.


Gin membenarkan pakaian yang melorot, merapihkannya sebelum beranjak pergi. "Aku lelah, aku akan datang lagi." dan pria itu berjalan-jalan didunia bawah.


Seperti Dewa yang memiliki tempat kembali dilangit, para siluman pun kerap lebih suka menghabiskan tempat didunia bawah. Berinteraksi seperti biasa, tanpa perlu khawatir terhadap Dewa ataupun manusia. Sangat cocok untuk menikmati kehidupan yang damai bagi para siluman.


Gin—pria itu berjalan sembari melamunkan sesuatu, pandangannya tak fokus dan ia hanya ingin berjalana entah ke mana. Alhasil, tingkahnya itu menimbulkan masalah; menabrak sesosok siluman dengan tubuh besar beserta wajah yang buruk rupa. Berwarna hijau dan bertanduk besar. Tanpa meminta maaf, Gin kembali melanjutkan perjalanannya seolah ia tak melakukan apapun.


Tentu saja ia tidak dibiarkan pergi begitu saja, tangan hijau besar berkulit kasar itu menyentuh kulitnya. Menatapnya dengan tatapan tajam siap membunuh, "jika menabrak maka minta maaf." katanya, napas busuknya dapat Gin rasakan hingga ia mengibas-ngibaskan wajahnya—berharap bau itu segera menghilang.


Perasaan Gin sedang buruk, pas sekali ia butuh pelampiasan. Kuku-kuku panjang mencuat dari jemari panjangnya, dengan gerakan cepat tangan dari pundak Gin terlepas. Terlempar jauh dan mengucurkan darah berwarna hijau, mengusap pakaian bekas tangan itu seolah debu menempel disana. Bola mata keemasan itu mendongak ke atas, berkilat marah dan siap untuk diluapkan.


Satu serangan lagi dan mahluk besar dihadapannya akan musnah, namun belum sempat melancarkan serangannya sebuah suara mengintrupsi gerakan apapun yang akan dilakukan Gin. Lirikan itu berpindah terhadap suara itu, "Tuan Gin, engkaukah itu?" sahutnya ramah mengabaikan peristiwa pemotongan tangan itu, karena sesungguhnya kejadian pertengkaran seperti ini adalah hal biasa terjadi.


Dunia bawah atau tempat para tinggal siluman memang tidak terkenal ramah, mudah tersinggung dan terkadang terjadi pertumpahan darah yang sia-sia. Hal itu lumrah terjadi disana, "sudah lama tidak melihatmu. Mari minum arak sedikit bersamaku!" pria bertubuh pendek dengan tanduk kecil mencuat dari dahinya itu membujuk Gin.


Pada akhirnya Gin mengurungkan niat membunuh yang kentara, melewati pria itu tanpa menolak atau menyetujuinya. "Aku sudah tau." lagi-lagi pria itu berucap meski tampaknya Gin tidak terlalu menyukai sosok siluman lemah dihadapannya.

__ADS_1


Siluman ini sangatlah mudah untuk dibunuh, sehingga biasanya para siluman tipe ini akan hidup secara sembunyi-sembunyi dengan jangka hidup yang sebentar. Sekitar seratus tahun, bahkan manusia biasa pun dapat membunuh siluman tipe ini. Dan Gin enggan berurusan dengan lawan yang lemah, hanya saja mau tak mau kata-kata yang diucapkan pria itu mampu membuat Gin terhenti untuk sekedar mendengarkan.


"Ada rumor beredar bahwa kini legenda siluman rubah abadi telah ditaklukan oleh manusia, dan menjadi budak para Dewa." siluman itu mengeluarkan tembakau dari sakunya, membakar sumbunya lalu menghembuskan napas. Mengepulkan asapnya diudara.


Gin masih terdiam tak ingin menjawab, rasanya perasaanya semakin buruk setiap detik. "Tetapi aku tau kenyataanya, dan aku bisa membantumu." satu fakta lagi bahwa siluman ini selalu sibuk mencari informasi untuk bertahan hidup, tidak mengherankan meski lemah mereka memiliki pertahanan hidup yang kuat.


"Apa yang bisa siluman lemah lakukan untuk membantu diriku? Jangan membuat tertawa." akhirnya Gin menyahut, dinginnya suara mampu menyaingin suhu malam itu.


Pria itu kembali menghisap tembakaunya, tatapannya lurus kedepan. Lorong-lorong dunia bawah tampak sepi, tanpa penghuni. "Aku bisa membunuh gadis itu untuk anda, Tuan Gin yang terhormat."


Pria bernetra emas itu tertawa, tawanya begitu ringan namun tak tertera keceriaan didalamnya. Dadanya tiba-tiba saja terasa bergemuruh, "Sebarkan rumor ini jika kau masih menginginkan nyawa kecilmu, aku—Gin siluman terhebat tak mungkin terjebak dengan manusia. Aku hanya sedang bersenang-senang dengan mangsaku sebelum membunuhnya, jika ada yang berani menyentuhnya,"


***


"Suara musik yang indah, nona." sahut pria itu disana, pakaiannya terlihat begitu mewah dan menawan. Hampir keseluruhan berwarna hitam namun Chiharu dapat menyadari bahwa pria ini seorang pria yang memiliki banyak uang.


Namun, tak menghiraukannya sama sekali Chiharu melenggang pergi. Mengucapkan terimakasih lalu segera meninggalkan tempat itu, merasa ia sudah menghabiskan waktu begitu lama dan sekarang waktunya untuk pulang. Hanya saja bukan hidup Chiharu namanya jika tidak menemukan sandungan batu kehidupan, pria itu mengikuti Chiharu. Mengintilinya seperti anak ayam.


Hingga Chiharu sampai didepan kudanya, pria itu tak jua kunjung pergi. Menatapnya dengan senyum tersungging seperti orang bodoh, "lalu apa yang sedang tuan lakukan?" tanya Chiharu menatap tuan muda dihadapannya.


Pria itu tersenyum semakin lebar ketika gadis itu berbicara padanya, "Siapa namamu?"

__ADS_1


Ditanya tiba-tiba seperti itu membuat Chiharu sangat tidak nyaman, tanpa menyembunyikannya ia memasang wajah dengan kerutan wajah. Melangkah mundur menghindari kedekatan dari pria itu, menunjukan terang-terangan ketidaknyamanannya. Namun, dijauhi seperti itu sama sekali tak membuat pria itu tersinggung.


Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya, giok hijau familiar berada dalam genggamannya. "Aku takut bahwa telah salah mengenali seseorang, ingat seorang bocah bernama Zhen nona?"


Kelebihan Chiharu adalah mengingat setiap detil kejadian yang berkaitan dengan Tuan Qi sekecil apapun itu, meresap dalam ingatan jangka panjang miliknya hingga ingatan itu kini berkelana jauh kemasa kecil Chiharu ketika gadis itu berumur tujuh tahun. Menangis karena tersesat dan ditemukan oleh bocah kecil dengan surai hitam. Tersenyum lebar seperti ini, dan rasa-rasanya tuan muda dihadapannya dengan bocah lelaki itu terasa mirip.


"Apa benar kau gadis kecil itu? Apa benar kau Chiharu?" pria itu kembali bertanya pada gadis dihadapannya. Merasa luar biasa ketika pria itu masih mengingat Chiharu, dimana mungkin gadis itu pun telah melakukannya.


Masih dilanda kebingungan, Chiharu pun mengangguk beberapa kali. Membenarkan bahwa dirinya memang Chiharu, anak yang tersesat itu ketika dirinya berumur tujuh tahun. Melihat Chiharu mengangguk pria itu semakin melebarkan senyumnya, gigi-gigi putih nan rapih melumuri pandangan Chiharu. Membuat gadis itu semakin kikuk.


"Lama sekali aku mencarimu, siapa yang menyangka bahwa kita malah bertemu di Ibu Kota. Bukankah ini namanya takdir." bola mata itu berwarna merah gelap, membuat Chiharu mengingat-ngingat apakah memang warnanya seperti itu. Karena ingatan yang ia miliki akan otomatis melupakan apapun terkecuali berkaitan tentang Tuan Qi, hingga gadis itu tak yakin.


Siapa yang menyangka bocah berandalan yang Chiharu temui, menjadi sosok pemuda tampan seperti ini. Berperawakan tinggi dan dibalik pakaian yang mahal tubuhnya tercetak dengan jelas, postur tubuh tegap dengan bahu lebar. Wajah tampan dengan surai hitam gelap lembut yang bergoyang seiring angin menghembuskannya, sepertinya hidupnya jauh lebih baik. "Mengapa mencariku?" sahut Chiharu setelah merasa puas menyisir penampilan pemuda itu.


Kembali menyungginkan senyum, pria itu mengibas-ngibaskan tangannya. "Sudahlah, tak penting. Karena kini aku menemukanmu, ayo kuantar pulang."


Tanpa menunggu persetujuan Chiharu, pria itu menaiki Shiro. Kuda itu terlihat terkejut, sedikit terlonjak dan kakinya terangkat ketika bobot tak dikenali menaiki tubuhnya. Pria itu mengelus surai kuda itu, menenangkannya agar merasa nyaman. Mengulurkan jemari panjang miliknya, menunggu Chiharu mengambil tangannya. Seperti seorang pangeran berkuda putih, sudahlah sepertinya Chiharu pun tak tau pangeran berkuda putih hingga ia mengambil uluran itu.


Memacu kuda putih itu, menuju tempat berpulang Chiharu.


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2