
Pada pagi hari ini entah mengapa pakaian putih kebesaran Tuan Qi tidak ia kenakan, melainkan ia mengenakan pakaian manusia biasa dengan bahan biasa tanpa sinar istimewa yang biasa mengelilingi tubuh Tuan Qi. Ia merapihkan pakaiannya dan merasakan tatapan penasaran dari anak kecil disebrang sana, menelisik masuk dan diwajah kecilnya tak perlu menebak-nebak bahwa ia ingin bertanya.
Tuan Qi tanpa gadis kecil itu bertanya mencoba menjelaskan, "Aku akan pergi ke kota hari ini, membeli barang dan akan kembali pada malam hari. Tak perlu menungguku."
Dan kedua bola mata berwarna segelap eboni itu berbinat ketika mendengar nama kota, keinginan tahunya yang besar tak sanggup membuat Chiharu menahan diri untuk tidak ikut. Ia memeluk kaki-kaki Tuan Qi, menatap keatas dengan wajah penuh permohonan. "Tuan mengapa tidak mengajakku? Tuan marah padaku ya? Apa aku telah melakukan kesalahan Tuan?" celotehannya membuat Tuan Qi sedikit merasa tidak enak, karena tidak mengajaknya.
Hingga pada akhirnya pria itu tak berdaya ketika menatap kedua bola mata besar itu, menghela napas sejenak untuk mengatur nada bicaranya. "Baiklah, bergantilah pakaian aku akan menunggu. Jangan lupa memakai pakaian yang bagus." meski Tuan Qi sendiri tak yakin bahwa Chiharu memiliki pakaian bagus, mungkin ia akan membelinya ketika berada dikota nanti.
Chiharu melebarkan senyumnya, ia melepaskan pelukannya kemudian berlari dengan riang untuk meneruti perintah Tuan Qi. Perjalanan yang memakan waktu juga membuatnya harus berangkat pagi-pagi buta sekali, jika tak ingin pulang terlalu malam atau malah tidak pulang sama sekali.
Bagaimanapun hutan selalu menjadi tempat berbahaya pada malam hari, ketika siang hari bagian hutan dapat terlihat dengan jelas dan akan terasa mudah untuk melewati jalan setapak. Berbeda dengan malam hari, hutan pada malam hari layaknya sebuah lautan tanpa kedalaman yang jelas. Tidak tau menyembunyikan apa didalamnya, dan satu hal yang membuat khawatir adalah keberadaan Chiharu sendiri.
Ia mengkhawatirkan bahwa dirinya tak dapat melindungi kehidupan gadis kecil itu, dan Chiharu berhasil membangunkan Tuan Qi dari lamunan singkatnya. Memakai pakaian ketika ia pertama kali datang kemari, berwarna hijau lembut beserta kunciran dua rambutnya yang acak-acakan. Chiharu ingin tampil berbeda dengan menguncir rambutnya, meski dirinya tak yakin dengan hasilnya.
Tuan Qi tersenyum lembut, "kemarilah." titahnya dengan menghela Chiharu perlahan. Sebelah ikatan rambut Chiharu ditarik dengan lembut untuk melepaskan kunciran dua acak-acakan ini, menyisir dengan jemari-jemari panjang untuk merapihkan surai-surai hitam agar terhindar dari kusut.
Jemari itu begitu cekatan ketika berhasil menjalin kepangan indah dan membentuk sebuah bentuk rambut yang menggemaskan, dilakukannya pada keduanya sehingga Chiharu tampak begitu menggemaskan dengan pipi merahnya yang kini bertambah tembam. Mereka berdua bersiap dengan membawa barang seadanya, sebuah tas selempang dan tongkat untuk Tuan Qi. Dan tas mungil rajutan tangan Tuan Qi melengkapi penampilan Chiharu.
"Untuk apa tongkat itu Tuan Qi?" tanya Chiharu ingin tahu.
Tuan Qi kemudian menggandeng lengan kecil Chiharu agar tidak terlepas darinya, "untuk mengatakan hal tersirat bahwa aku tak bisa melihat, lalu aku harus mengganti warna rambutku agar tak terlalu mencolok."
__ADS_1
Dan setelah Tuan Qi berkata begitu, surai perak itu perlahan-lahan menggelap menjadi berwarna kecokelatan layaknya manusia biasa. Chiharu semakin takjub melihatnya, bertanya-tanya bagaimana Tuan Qi melakuknnya. Namun, Chiharu yakin Tuan Qi dapat melakukan apapun tak peduli sesulit apapun itu. Menyembuhkan dan menghidupakannya saja Tuan Qi mampu, apalagi hanya mengganti warna rambut.
Tak henti-hentinya Chiharu memuji Tuan Qi yang luar biasa dalam hatinya, berjalan setapak karena tak ada kendaraan kereta kuda yang memasuki sampai kawasan hutan sedalam ini. Mereka harus berjalan setidaknya dua jam untuk menemukan pemukiman terdekat dan mendapatkan kereta kuda untuk mencapai kota dalam waktu tiga jam.
Cukup jauh memang dari kuil yang kini mereka tinggali, satu kali perjalanan memakan waktu lima jam untuk mencapai kota terdekat. Namun, perjalanan itu tidaklah terasa melelahkan bagi Chiharu. Wajahnya berseri-seri, suaranya tak henti-henti berceloteh tanpa lelah, rasa penasaran dan rasa ingin tahu nya membuncah.
Karena ketika Chiharu berada didalam kediaman utama keluarga Wei sekalipun, ia tak dapat pergi kemanapun dan menghabiskan semua waktunya diatas tempat tidur. Merasa kesepian yang menggores jiwanya hingga merusak sampai ke dalam, pertengkaran orang tuanya yang telah lelah pun menjadi lagu tidur pada malam-malamnya, kesakitan yang tak kunjung henti menggerogoti nya dari dalam tanpa ampun.
Namun, saat ini Chiharu tak lagi ingin terlalu mengingat kesakitannya. Ia sudah memiliki Tuan Qi yang sangat baik hati padanya, tubuh sehat yang bahkan ia ajak berlari dan bergerak seharian pun tak akan merasa lelah. Lalu perjalanan lelah itu tergantikan ketika kereta kuda yang mereka tumpangi mulai memasuki gerbang kota yang ramai dan sangat penuh dengan manusia, berdesak-desakan bahkan ketika papan nama kota baru dilewati beberapa saat yang lalu.
Binaran Chiharu tak dapat ia tahan ketika mereka berdua turun dari kereta kuda, tatapannya menyisir dan menjelajah tanpa henti. Mengamati kegiatan-kegiatan ramai yang terasa asing dibola matanya, desak-desakan manusia sama sekali tak membuatnya sebal. Suara bising interaksi yang ramai sama sekali tak menganggunya, langkah kecilnya mengikuti Tuan Qi yang berjalan perlahan sembari tak melepas pegangan tangannya.
Tuan Qi melepas pegangan Chiharu ketika ia berhenti disalah satu kedai penjual sayuran, "tunggulah dan jangan pergi kemana-mana." titahnya pelan sembari melihat bahan makanan yang tersaji dihadapannya.
Lama ia berada pada gerombolan manusia yang menyeretnya, hingga pada akhirnya ia berhasil melepaskan diri dan berdiri didepan gang sempit dimana ketika menengok kebelakang gang itu akan terasa begitu gelap, sempit, dan sedikit lembap. Gadis berusia enam tahun itu tersesat, tak tahu harus kemana. Ia mencoba menyisir gerombolan manusia dihadapannya, mencari sesosok Tuan Qi dengan harap-harap cemas.
Buliran keringat turun dari wajah Chiharu yang terasa panik, dengan sedikit keberanian yang tersisa Chiharu mencoba untuk menengok kebelakang. Gang gelap yang mencoba memanggilnya membuat tubuh kecilnya bergidik ngeri, gadis itu kini benar-benar bingung apa yang harus dilakukan.
Dan lamunan singkat itu terhenti ketika seseorang menepuk bahunya, Chiharu menoleh dan wajah bocah kecil mampir dalam penglihatannya. Tersenyum lebar menatap Chiharu yang lebih muda dan lebih pendek darinya, "tersesat ya, bocah?!"
***
__ADS_1
Tuan Qi kembali sekali lagi menyusuri gerombolan manusia yang terasa begitu ramai, seharusnya ia tak melepas genggaman Chiharu dan tetap mengenggamnya. Ia panik bukan kepalang ketika Chiharu sudah tak berada disana, digantikan dengan gerombolan manusia yang sepertinya menyeret gadis kecil itu menjauh.
Entah sudah berapa lama pria itu berkeliling, peluh keringat tak ia hiraukan asal menemukan bocah cilik itu. Perasaan buruk menghantuinya, takut bahwa kini Chiharu sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Hanya saja pencariannya terhenti ketika beberapa orang anak menghadangnya, terlihat dari umurnya sepertinya mereka tidak semuda Chiharu. Tuan Qi dapat mendengar mereka tertawa-tawa, mendengar mereka mencemooh menghina dirinya.
Sebuah lemparan batu tiba-tiba mengenai dirinya—Tuan Qi menjadi sangat tak fokus, ia menahan diri untuk tidak melawan. Membiarkan dirinya menjadi bahan pelampiasan mereka, salah satu anak mendekat meraba-raba tubuhnya untuk mendapatkan uang. Dan mendecih kesal ketika tak mendapatkan apapun, selama masa itu Tuan Qi hanya terdiam tanpa melakukan apapun.
Darah segar mengalir dari dahinya, ia ingin cepat selesai supaya bisa kembali lanjut mencari Chiharu. Ia akan menjauh dari sini untuk mencari kawasan sepi, menggunakan sedikit kekuatannya untuk menemukan gadis kecil itu.
Lalu setelah puas melakukan hal-hal kejam itu pada Tuan Qi, mereka semua akhirnya pergi. Sengaja memyenggol keras tubuhnya sembari menatap sinis, manusia itu memang kejam. Meski ada lautan manusia dihadapannya, sekian ratus jiwa tak ada yang sedikitpun membantunya.
'Tak penting memikirkan itu sekarang.'
Tuan Qi berjalan menjauh dari kerumunan itu, berjalan menuju tempat sepi dimana tidak ada yang melihat Tuan Qi menunjukan kekuatannya. Ketika tempat yang ia lalui sudah cukup sepi, surai cokelat pria itu lama-lama menjadi kembali putih. Ia membuka ikatan kedua matanya, memakai kekuatan yang sudah lama tak ia gunakan.
Bola mata sejernih lautan itu berkilauan tertimpa matahari, TuanQi sedikit berkosentrasi sehingga netra itu bersinar. Sinarnya mampu mencari apapun yang ingin dicapainya, Tuan Qi menjelajah dengan cepat melalui kekuatan kedewaanya. Tidak lama ketika ia berhasil melihat gadis kecil yang tengah ia cari, Chiharu nampak tengah berjalan-jalan bersama seorang bocah cilik.
Entah siapapun itu, Tuan Qi bersyukur bahwa anak itu baik-baik saja tanpa kekurangan apapun. Penutup mata kembali ia gunakan, surai keperakan itu kembali berwarna cokelat agar tak mengundang perhatian. Tuan Qi tersenyum lemah, sudah berapa kali Tuan Qi melanggar janji dirinya untuk Chiharu. Pikirnya pedih, namun ia akan melakukan apapun untuk gadis kecil itu.
Tuan Qi mulai berjalan kembali untuk mencari Chiharu.
__ADS_1
To Be Continued
Enjoy Reading..