
Pagi itu benar-benar cerah, langit biru membentang luas tak terdapat ujungnya. Bunga-bunga musim panas mulai kembali mekar, berwarna-warni menyebarkan semerbak bunganya. Angin kian menggoyangkan perlahan surai-surai hitam Chiharu, menerbangkannya seolah menyambut kegembiraan.
Hewan-hewan kecil berkicau-kicau membuat suasana pagi itu terasa menghangat, kuda putih Chiharu meringkik ketika elusan mendarat pada surainya. Dibelakangnya dengan wajah tertekuk seseorang yang baru-baru ini menjadi pelayannya berjalan dibelakang Chiharu, melipat kedua lengannya dengan angkuh. Siapa lagi jika bukan Gin, si siluman pemarah.
"Padahal tidak masalah jika kau ikut naik kuda bersamaku, Shiro tak masalah dengan satu bobot beban lagi." Chiharu membuka obrolan ringan pada pagi hari itu, mencairkan suasana yang sempat di isi oleh keheningan.
Gin membuang wajahnya kesal, kesombongan tercetak jelas dari balik surai putih yang melambai lembut. "Aku bisa dua puluh kali lebih cepat daripada kuda itu, jangan menyamakan kekutanku dengan kekuatan lemahmu."
Chiharu menghela napas, dapat menebak alur pembicaraan Gin yang selalu menyombongkan dirinya. "Padahal kau kan juga kalah olehku." terkekeh geli ketika dibalas cebikan tidak ramah ramah oleh mahluk itu.
Tatapan sinis dilemparkan oleh pria itu, jika tatapan mampu membunuh seseorang maka Gin lah yang paling hebat dalam melakukannya. Kelopak mata yang tajam mampu membuat siapapun bergidik ngeri dan mundur, tentu Chiharu tidak termasuk kedalam orang-orang itu.
Lama mereka berjalan, desa-desa sisa-sisa tragedi berdarah itu masih menimbulkan bekas. Penduduk-penduduk desa itu sibuk melakukan kegiatan masing-masing, terlihat begitu padat karena bekerja keras untuk memperbaiki desa. Chiharu melirik Gin, pria itu hanya berjalan lurus tanpa memandang sekelilingnya. Seolah kejadian itu bukanlah ia yang melakukan, menutup mata tak membahas topik itu ke permukaan.
Gadis itu menatap matahari yang menantang diujung sana, sepertinya perjalanan kali ini memang agak panjang ketika dibandingkan Chiharu mengunjungi desa-desa dan kota-kota yang dapat ditempuh oleh satu hari perjalanan. Kini gadis itu akan melakukan perjalanan menuju Ibu Kota, tempat dimana Kaisar tinggal tempat yang tak pernah Chiharu kunjungi sebelumnya.
Gadis itu memacu kudanya, mulai mengejar waktu karena dirinya pun tak tahu berapa lama perjalanan ini dibutuhkan.
***
Menurut Gin gadis itu adalah gadis paling tidak praktis yang pernah ia temui selama beribu-ribu tahun, hidup begitu lama tentu Gin telah melihat banyak hal. Termasuk para Dewa yang menyebalkan, memiliki kekuatan keagungan dan sangat kuat. Lupakan tentang ketidakpraktisan, bagaimana bisa seorang Dewa memberi berkat dengan menaiki kuda.
Hal yang paling menyebalkannya lagi, bisa-bisanya dirinya kalah oleh gadis itu pada malam dimana ia tengah mencari mangsa. "Hey! kau mendengarku tidak?!" sahut Chiharu menaikan beberapa nada suaranya.
__ADS_1
Siluman itu menoleh, menatap Chiharu dengan tatapan biasanya. Sinis dan tidak menyenangkan, "Kita akan sampai besok pagi jika bergegas, malam ini kita berhenti dahulu." gadis itu menuruni kuda besar berwarna putih disana.
Mereka berhenti hutan dekat sungai yang menghubungkan perbatasan gerbang Ibu Kota yang padat oleh penduduk, gadis itu berjalan ke arah sungai membuka ikatan yang mengucir rambutnya. Membasuh wajah agar lebih segar, lalu kelelahan terangkat dari dirinya. Sudah dua malam ia menaiki kuda, mengeluh karena bokongnya hampir patah. Sedangkan Gin, mahluk itu terlihat sama sekali tidak lelah. Mengikuti seekor kuda tanpa tertinggal, mungkin jika tak menunggu Chiharu pria itu pasti lebih dahulu sampai.
"Seorang Dewa yang lemah heh." ejek Gin menyandarkan tubuhnya pada salah satu pohon besar yang menaungi. Tersenyum menyebalkan, dan berhasil membuat Chiharu kesal.
Gadis itu menatap Gin dengan tatapan tak suka, "Apa katamu?!" pekik Chiharu tak terima jika dirinya dibilang lemah.
"Hidupku selama beribu-ribu tahun mencari kekuatan, terasa sia-sia ketika melihat dirimu. Bukankah kau seorang Dewa? Mengapa dimataku tidak terlihat seperti itu ya, eksistensimu lemah. Kekuatanmu lemah, dan kau tak seperti para Dewa yang abadi. Dirimu mudah sekali mati."
Sungguh kata-kata itu sangat menyesakkan, baik bagi Chiharu dan batinnya yang terluka. Tidak perlu mengatakan kelemahannya, Chiharu sendiri pun dengan sangat baik mengetahuinya. Namun, karena kelelahan yang mengoyak tubuhnya Chiharu memilih mundur dan tidak meladen siluman itu.
Jika memang kau begitu kuat, lepaskan saja segel Dewa. Cibir Chiharu dalam batinnya.
"Cobalah menyerap energi spritual dalam bentuk banyak." sahut Gin diujung sana, memperhatikan setiap gerak-gerik Chiharu dan tidak membiarkan gadis itu tenang.
Chiharu mencebik tak suka, memberi tatapan urus saja dirimu sendiri lalu kembali berlatih sesuka hatinya. "Apa kau tidak bisa melakukannya ya? Wajar saja sih kau kan hanya manusia biasa, tak mungkin sehebat Dewa lainnya. Apalagi aku."
Sungguh, Chiharu ingin menyumpal apapun pada mulut itu. Rambut putih milik pria itu sangatlah sia-sia, karena tingkah lakunya yang menyebalkan. Chiharu menghela napas kasar, ia memejamkan kelopak matanya. Berkosentrasi penuh dan menyerap energi spritual, menuruti keinginan pria itu agar mulut menyebalkan itu terdiam.
"Terus serap, sampai aku bilang berhentu!" titah Gin tak ingin dibantah.
Hingga malam itu, tubuh Chiharu terasa penuh. Tidak tidak bukan kekuatan yang ia dapat, setelah cukup lama menyerap energi spritual tubuhnya limbung dan tumbang. Ia terbatuk dengan keras sampai cairan terasa besi keluar dari rongga mulutnya, mengotori rumput disana. Batuk nya tak kunjung reda selama beberapa saat, lalu menyesali dirinya sendiri karena telah menuruti siluman sialan itu.
__ADS_1
Gin mendekati Chiharu yang terkapar, mengamatinya beberapa saat lalu wajah bingung tercetak jelas. "Sepertinya jiwa dalam dirimu itu, bukan milikmu ya." ungkap Gin menunjukan hasil kesimpulannya. Sebelum Chiharu sempat menjawab, siluman itu melanjutkan penjelasannya. "Seharusnya ketika kau menyerap begitu banyak energi— tubuhmu akan meledak karena menolak, namun dalam kasusmu bukan tubuhmu yang menolak melainkan energi dalam dirimu."
"Sialan kau!" sahut Chiharu menunjukan rasa kemarahannya, bodoh sekali dirinya percaya terhadap mahluk jadi-jadian yang sangat menginginkan kematiannya. Bagaimana tadi jika tubuhnya sungguh-sungguh meledak, bagaimana jika Chiharu benar-benar mengalami kematian.
Mahluk itu terkekeh pelan, menunjukan taring-taring tajam miliknya. "Kau ini seperti boneka yang di isi oleh sesuatu." Chiharu terdiam tak lagi berkata apapun.
Tak membalas ejekan siluman itu dan bergerak menjauhi Gin, duduk dekat dengan Shiro—kuda putih dari langit itu. Terlelap tanpa melirik lagi, dalam hatinya sungguh sangat sakit. Dan kesakitan itu semakin besar ketika apa yang dikatakan Gin benar adanya, pernahkah kau merasa ketika seseorang mengatakan fakta menyakitkan tentangmu lalu perkataan itu begitu menyakitkan karena benar adanya.
***
Pagi-pagi buta hari berikutnya Chiharu mengunci mulutnya rapat-rapat, tak ingin bersuara barang sedikit pun. Tatapannya lurus seolah badai menerjang pun, tatapan itu tak akan bisa dibelokkan. Gin yang merasa diabaikan selama seharian tadi sedikit merasa gelisah dan rasa tidak nyaman menelusup relung kalbunya, perasaan yang tak pernah mampir dalam kehidupan pria itu. Membuatnya bingung dan terasa kikuk.
Sepertinya gadis itu lebih terluka dari bayangannya, "Apa kau tidak makan sesuatu? Bukankah manusia membutuhkan nutrisi yang banyak?" jangankan membalas ucapan Gin, suasana pada pagi hari itu luar biasa dingin bukan main. Bukan hanya udara pagi, Chiharu pun ikut serta mendinginkan udara pada pagi hari itu.
Hingga keheningan menyesakkan itu mereka bawa sampai gerbang ibu kota, Chiharu menunjukkan platnya pada penjaga disana. Tak perlu melalui peraturan yang ketar dan memakan waktu lama ketika dirinya dibiarkan masuk, berbeda dengan Gin. Pria itu pun diminta keterangan masuk untuk menghindarkan dari serangan orang luar dan orang-orang mencurigakan, "Aku bersama gadis itu, tuan." sahut Gin menunjuk-nunjuk Chiharu yang sudah berjalan jauh dengan kuda putihnya.
Para penjaga itu mengernyit, lalu salah satu diantara mereka menghampir Chiharu. "Nona apa benar pria itu adalah kenalanmu?" tanya pria itu begitu sopan.
Gadis itu menyeringai jahil, menatap Gin yang menatap awas dirinya. Mengatakan dengan pandangan tersirat, bahwa Chiharu sebaiknya tidak lagi menjahilinya. Namun angan hanyalah sebatas angan ketika gadis itu mengatakan, "Aku tidak mengenal pria itu, sebaiknya kalian berhati-hati." dan Gin menggeram marah ketika Chiharu kembali berjalan.
"Ah benar juga, aku melupakannya. Pria itu memang kenalanku, lebih tepatnya dia pelayanku. Maaf aku melupakan sesuatu yang begitu penting," seringai Chiharu semakin lebar ketika menyeringai. "Pria itu adalah PE-LA-YAN-KU."
Dan saat itu Gin benar-benar ingin menancapkan kuku serta taring miliknya pada leher Chiharu, mengoyaknya tanpa ampun dan membuat gadis itu berteriak kesakitan memohon ampun disela kematiannya. Percobaan pembunuhan memang harus direncanakan, tak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa. Nantikan saja, manusia. Pikir Gin dengan pikiran liar tak sabar untuk segera mencabik Chiharu.
__ADS_1
To Be Continued...