Gadis Kuil

Gadis Kuil
34. Mengingat


__ADS_3

"Karena aku," suaranya dipelankan dan diucapkan lamat-lamat, sangat pelan sehingga Chiharu merasa bulu kuduknya berdiri. "telah membunuh Dewa, sama sepertimu."


Wajah gadis itu terasa pucat, darah seolah terserap dari kulitnya sehingga terasa begitu putih. Bibirnya yang membiru karena udara dingin terlihat bergetar, bola matanya menatap Gin dengan pandangan ngeri dan seram. Bergetar ketakutan hingga gadis itu mundur beberapa langkah untuk menetralkan perasaanya, ia mencoba mencerna informasi apapun untuk membantah atau meredakan segala sesuatu yang kini berdentum.


"Rasanya menyebut Dewa mahluk abadi itu sebuah kesalahan, karena Dewa ataupun Dewi sekalipun masih dapat lenyap dan menghilang. Seperti Dewa Bumi sebelumnya, dan seperti Dewi Pemeliharaan." penjelasan Gin semakin membuat Chiharu tidak mengerti, menatap pria itu seolah mahluk paling berbahaya yang pernah ditemuinya.


Suaranya sama sekali tidak keluar meski banyak yang hendak gadis itu tanyakan, panas matahari semakin beranjak naik. Meskipun begitu rasa dingin yang menggigit tulang tetap enggan menjauh, kepalanya terasa kosong. Ia terus mencoba untuk mengeluarkan kata-katanya, "ba–bagaimana bisa?" suaranya terasa tercekik dan berat.


Gin terkekeh sejenak, merasa aneh ketika membicarakan masa lalu yang telah dikuburnya begitu dalam. "Tidak ada yang tau rahasia ini, bahkan para tetua sekalipun." kini masa lalu itu mencoba kembali ke permukaan untuk terungkap dihadapan gadis remaja yang bahkan umurnya masih sangat muda.


"Siapa yang tau bahwa ketika kau menyerap inti Dewa Bumi sampai lenyap, kau diberikan keabadian sama seperti para Dewa lainnya." tatapan Gin, nada suara, serta cara bicaranya mengingatkan Chiharu akan sikap buruk pria ini. Menyudutkan Chiharu, dan merasa terkejut ketika Gin mengetahui kisahnya bahkan ketika gadis itu tidak menceritakannya.


Gadis itu semakin pucat ketika Gin mampu menjelaskan kejadian masa lalunya dengan tepat, seolah ia adalah salah satu pemerannya. Merasakan bagaimana Chiharu menjalani penderitaanya, bagaimana gadis itu dibuang dan tidak di inginkan Gin seolah bisa merasakan itu semua. "Bagaiamana–"


"Bagaimana aku bisa tau?" potong pria itu cepat, tidak terelakan ketika pria itu kembali berjalan menuju kuil tempat mereka tinggal. "Karena aku bisa mencecap energi spritual seseorang, aku tau bagaimana ia hidup. Masa lalunya, semuanya.


"Chiharu, aku tahu segalanya tentangmu."


***


Pecahan mangkuk kembali terdengar siang itu, gadis itu lagi-lagi menjatuhkan mangkuk untuk makan siangnya. Hal ini sudah terjadi yang ketiga kalinya, ketika menatap bola mata segelap malam itu maka hanya kekosogan yang berada didalamnya karena Chiharu seolah memiliki tubuh dan jiwa yang berbeda tempat.

__ADS_1


Fu dan Su yang melihatnya pun merasa khawatir karena gadis itu terasa begitu kosong dan hampa, "Tuan Gin apa nona baik-baik saja?" Fu bertanya dengan nada khawatir dibaliknya, seruput teh terdengar santai dari pria yang dimaksud oleh Fu. Menikmati air berwarna kekuningan pekat itu, lalu menjawab seadanya.


"Hari yang sangat damai." komentar sang surai putih ketika melihat Fu dan Su heboh karena Chiharu benar-benar seperti mayat hidup, bahkan ia tidak menjawa ketika kedua pelayannya menanyakan keadaan gadis itu.


Suapan pertama Chiharu berhasil meleset dan terjatuh seluruhnya diatas meja makan, dengan telaten Gin membersihkan sisa-sisa makanan yang bersarang di wajah Chiharu. Tanpa bertanya apa-apa dan hanya menunjukan perhatian itu, mungkin jika jiwa Chiharu berada disini gadis itu akan kembali memarahinya. Mengatakan dirinya aneh dan hal-hal lain sejenisnya.


Menatap wajah Chiharu yang pucat, jemari Gin terulur menyentuh kening gadis itu lalu merasakan suhu tubuh gadis itu ditelapak tangannya. Mengernyit ketika suhu tubuh Chiharu terasa begitu tinggi, meja makan yang menghalangi jarak mereka dihempaskan begitu saja oleh pria itu.


Gin mendekati wajah gadis itu, menempelkan keningnya dan wajahnya berubah ketika mengetahui bahwa gadis ini mengalami demam dengan suhu yang cukup tinggi. Dan perlakuan itu juga sukses membuat jiwa Chiharu terhantam kembali ke kenyataan, terkejut ketika sosok pria bernetra kuning itu begitu dekat dengan wajahnya. Rona merah menjulur panas, hingga sekujur tubuh Chiharu merona.


"Apa yang kau lakukan sih?!" suara gadis itu bergetar ketika Gin mulai menjauhkan dirinya dari Chiharu, tatapannya menyelidik. Memikirkan obat apa yang ampuh untuk demam seorang manusia. Karena pria itu tidak terlalu mahir dalam obat-obatan.


"Kau demam, aku sedang mengingat obat apa yang cocok untuk menurunkan demamu."


Kedua bola matanya terpejam, tubuhnya terasa tidak nyaman karena demam yang menganggu. Percakapan tentang Gin kembali terngiang, terpecah belah hingga membuat pusing semakin menerjang dirinya. Bagaimana jika ternyata Chiharu pun menjadi mahluk yang abadi? Lalu mengapa para tetua bisa tidak tahu ketika Gin membunuh seorang Dewi?


Sungguh mengapa banyak sekali hal-hal yang tidak Chiharu ketahui, mengapa demam menyerang dirinya ketika semua terasa begitu memusingkan. Lalu sejak kapan Gin mengetahui masa lalunya, t!idak adil rasanya ketika pria itu mengetahui semua tentang dirinya. Namun, Chiharu sama sekali tidak mengetahui apapun tentang pria itu. Apa pertemuan mereka pun adalah sebuah takdir atau hanya sebuah kebetulan? Chiharu tidak tahu.


Sepertinya pria itu pun tau bahwa ia telah melakukan sumpah darah terlarang, perlakuan aneh Gin yang tak dapat dipahami Chiharu pun menjadi salah satu pusat rasa sakitnya. Sesuatu yang dingin menyentuh dahinya, menghilangkan rasa sakitnya secara perlahan dan memberikan rasa nyaman. Dalam sela-sela kesadarannya ia masi mampu menatap surai putih keperakan, membuatnya teringat akan Tuan Qi yang dahulu selalu merawatnya.


"Kau selalu menyukai Tuan Qi itu ya." meski kesadaran Chiharu hampir menghilang, ia masih dapat mendengar suara itu. Suara yang terasa familiar ditelinganya, gadis itu tersenyum mendengar nama Tuan Qi.

__ADS_1


Ingatan-ingatan ketika bersama dengan Tuan Qi kembali memenuhi memorinya, "Aku selalu menyukai Tuan Qi."


"Mengapa?"


Gadis itu mencoba berpikir sejenak, mengapa? Mengapa ia menyukai Tuan Qi? Karena Tuan Qi memberikan kehidupan padanya, menyelamatkannya dari kematian, memberikan tempat dimana ia dapat kembali. Kedua bola mata biru yang terpancar hangat dari Tuan Qi memenuhi seluruh ruang lingkup hati Chiharu, membuat senyumnya semakin lebar. "Karena Tuan Qi adalah hidupku." lalu kegelapan membawa Chiharu pergi dari dunia nyata.


***


Gin menatap gadis dihadapannya, memperhatikan gadis dengan senyuman lebar disana. Melihat Chiharu saat ini entah mengapa membuat masa lalu yang terkubur didalam pria itu kembali mencuat keluar, pria itu merasa bahwa gadis ini begitu mirip dengan dirinya dimasa lalu. Mendapat kasih sayang seorang Dewi, dipelihara dengan baik hingga dimasa itu Gin pun sangat mengaggumi sosok seorang Dewa yang agung.


Apa mungkin pertemuan mereka berdua bukanlah sebuah kebetulan? Melainkan jalinan takdir yang berusaha mempertemukan keduanya, untuk mengungkap takbir masa lalu yang telah terkubur. Gin menyentuh surai-surai lembut milik gadis yang kini memejamkan kedua matanya dengan tenang, tidak terganggu meski demamnya kian tak kunjung turun.


Mungkin jika Chiharu mengetahui apa yang dilakukan pria itu, gadis itu tak akan cukup hanya dengan permintaan maaf. Namun, kepala Gin memang sedari awal sudah semakin gila jika menyangkut gadis itu. Matahari mulai menguning hendak terbit, siluet wajah Gin mampu membuat siapapun yang melihatnya terpesona. Pria itu tidak mirip dengan Iblis atau Siluman yang berwajah jelek, pria itu begitu rupawan hampir menyaingi para Dewa.


Begitu indah selayaknya berasal dari dunia langit, begitu bercahaya. Tatapannya terarah pada bibir merah muda Chiharu, mendekatkan wajahnya kesana untuk mencuri kecupan hangat dari gadis itu. Perlahan-lahan hanya untuk merasakan benda hangat itu menempel dibibir pria itu, ia sudah gila ketika mengambil keuntungan Chiharu yang tengah tidak berdaya seperti sekarang. Sama seperti gadis itu ketika mencuri ciuman darinya ketika rantai mengikat seorang Gin, benar ini bukanlah suatu hal yang besar.


Kecupan ini hanyalah pembalasan untuk gadis nakal yang berani mengikatnya dua kali, gadis ini memang harus dihukum. Bukanlah suatu hal yang besar, meski telah berkata begitu dalam hatinya. Tubuh serta hatinya telah mengkianati Gin karena bereaksi secara berlebihan, mengapa ia begitu menginginkan Chiharu. Gadis kecil itu tanpa ia sadari telah memasuki hidupnya, memporak-porandakan dirinya. Mungkin perasaan ini tumbuh dihari pertemuan pertama mereka, karena Gin tidak bisa melepaskan diri barang sejenak dari gadis itu.


Pria itu mengusap wajahnya frustasi ketika Chiharu tampak tidak terganggu dengan perlakuan yang ia terima berkat dirinya, menghela napas kasar untuk sekedar mengurangi reaksi berlebihan atas serangan yang ia berikan. "Kau selalu bertanya alasan mengapa aku melakukan itu?" tanya pria itu entah pada siapa.


Tersenyum lembut kemudian kembali menyentuh jalinan rambut diantara jemari Gin, terasa nyaman. "Inilah alasanku melakukan hal-hal aneh yang kau katakan."

__ADS_1


Dan untuk mengurangi rasa frustasinya, Gin beranjak pergi dari sana. Ia butuh menenangkan dirinya sejenak, menghirup udara segar dan meringankan pundaknya. Dirinya benar-benar sudah gila saat ini.


To Be Continued...


__ADS_2