Gadis Kuil

Gadis Kuil
Bab 20 Melakukan hal yang tidak dimengerti


__ADS_3

Setelah dua malam yang panjang pada akhirnya gadis itu berhasil mencapai tujuannya, Ibu kota yang luas, padat penduduk, dan pusat segala sesuatu terjadi. Gadis itu menaiki anak-anak tangga yang menjulang keatas, menuju tempat peristirahatannya untuk melepas lelah.


Kuil itu memang sengaja dibangun dan diberikan Tuan Zhi untuknya, namun gadis itu memang lebih memilih untuk tinggal dikediaman Tuan Qi. Begitu dekat dengan Ibu Kota yang ramai, namun tidak terlalu jauh dan memakan waktu. Benar-benar tempat yang bagus dengan strategi yang bagus pula, ramai namun tidak bising.


Gadis itu membuka pintu kuil, debu segera menyergap wajahnya. Membuat dirinya terbatuk, mengibas-ngibaskan jemarinya untuk menghilangkan debu. Tidak heran karena kuil ini rasa-rasanya sudah ditinggalkan berbulan-bulan,Chiharu berharap bahwa kuil ini sama sekali tidak mengalami kerusakan yang signifikan.


Hal pertama yang Chiharu lakukan tentu saja mengambil peralatan kebersihan untuk memulai pertempuran, dirinya akan tinggal cukup lama disana. Maka dari itu tempat yang ia tempati haruslah nyaman, aman, dan tentram. Lalu hari melelahkan itu dimulai, membersihkan lantai, menyapu halaman, lalu yang paling berat mencabuti rumput-rumput liar yang sudah mencapai mata kaki.


Terasa melelahkan dan Gin sama sekali tidak membantu Chiharu, hingga matahari mulai kembali ke peraduannya pun gadis itu masih tetap bekerja. "Padahal aku menunggumu untuk meminta bantuanku." Gin menatap punggung Chiharu yang terasa mungil, bergerak kesana kemari menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk.


Suara itu membuat Chiharu terhenti sejenak, hanya sejenak sebelum ia kembali melanjutkan. Tak peduli meski akan selesai esok pagi sekalipun, gadis itu tak akan bisa tidur nyenyak jika terlelap dengan lingkungan yang kotor. Sedikit mendelik ketika Gin menertawai dirinya yang kotor, ia tidak akan lagi berbicara dengan siluman itu. Selamanya.


Setelah Chiharu mengucapkan janjinya dalam hati, perutnya terasa berbunyi begitu keras. Mahluk manapun sepertinya dapat mendengar perutnya yang kelaparan, sudah dua hari Chiharu tidak memakan makanan berat. Mungkin karena ia dapat mengendalikan energi spritual hingga rasa lapar tidak menganggunya, namun bagaimanapun Chiharu tetap seorang manusia.


Ia segera mempercepat pekerjaanya, menyelesaikannya lalu memasuki kuil yang terasa hangat. Tubuhnya terasa begitu kotor dan lengket, namun fokusnya segera terganti ketika mencium wangi yang sangat memanjakan indra penciuman. Kaldu daging membuat fokus Chiharu terganti, kaldu itu sepertinya begitu kental, hangat, dan mampu membuat perut manapun berbunyi.


"Lapar heh?!" ejek Gin dengan wajah sombongnya, sebelah tangan kanannya memegang sendok sayur. Sepertinya digunakan untuk mengaduk kaldu.


Chiharu menatapnya tajam, "aku menyesal telah tergiur oleh masakan yang kau buat." ketus Chiharu, dengan kasar ia melewat Gin begitu saja. Membanting pintu ruangan itu, lalu bersembunyi dibaliknya.


Melihat sikap kasae Chiharu, mau tak mau siluman itu merasa tersinggung. Buku-buku jarinya meumutih menggengam sendok itu, suara derakan terdengar ketika kini benda itu sudah menjadi dua bagian—terbelah menyedihkan. Sudah saatnya Chiharu mengentikan permainan tanpa kata seperti ini, Gin merasa dirinya tidak melakukan kesalahan. Mengapa gadis itu terus bersikap berlebihan padanya.


Menghempas sendok itu kebawah, dengan perasaan murka pria itu menendang pintu Chiharu hingga terbuka seluruhnya. Kedua netra beda warna itu bertemu, lama mereka menatap hingga Chiharu lah yang pertama kali memutus kontak itu. Rona merah menjalar hingga sampai ke telinganya, dengan gerakan cepat ia berusaha menutupi tubuhnya yang terekspos.Benar, Gin—pria itu mendobrak pintu ketika Chiharu tengah berganti pakaian.

__ADS_1


"APA YANG KAU LAKUKAN, BODOH!" teriakan Chiharu pada malam yang sepi itu membahana, meramaikan kuil dan menghidupkan suasana yang terasa suram disana.


***


"Sudah kubilang aku tidak tahu bahwa kau sedang berganti pakaian." kilah Gin menuangkan kaldu untuk dirinya sendiri.


Chiharu yang hendak memakan makanannya mendelik marah, mengintrupsi apapun gerakan pria itu. "Sudah kubilang diamlah!" titah Chiharu penuh emosi dalam nada suaranya. Dan yang paling mendominasi yaitu, malu luar biasa yang menyergap pikiran Chiharu.


Siluman itu memakan makanannya dengan tenang, tanpa terganggu dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Seolah tubuh Chiharu sama sekali tak menarik minatnya, berbeda dengan Chiharu yang keseluruhan wajahnya hampir berwarna merah menahan malu. Kelengahannya lah yang membawa gadis itu pada situasi ini, "Lu-lupakan apapun yang baru saja kau lihat!"


Gin kembali menatap gadis dihadapannya, "mungkin ini terdengar kurang ajar, tapi biarkan aku jujur." pria itu menaruh mangkuk kaldu daging itu. Menatap Chiharu lekat-lekat, dan semakin membuatnya salah tingkah.


"Pertama tubuhmu sangat lah rata dan tidak memiliki payudara seperti wanita pada umumnya. Asal kau tau, aku sangat menyukai payudara wanita. Lalu yang kedua, tidak perlu menilai dirimu terlalu tinggi karena wajahmu biasa-biasa saja." sungguh perkataan Gin selalu bisa membuat Chiharu menggeram marah, namun karena lapar gadis itu tetap mamakan kaldu daging yang terasa hangat itu.


"Sekali lagi bicara, sendok ini akan bersarang diatas mulutmu." ancam Chiharu, meletakan peralatan makanannya lalu masuk keperaduan lainnya. Karena pintu ruangan yang Chiharu tempati sebelumnya sudah tidak memiliki pintu.


***


"Kemana tujuan hari ini?" sahut Gin menyembunyikan kuku, taring, serta telinga rubah yang mencuar dari rambutnya. Membuatnya terlihat seperti manusia biasa, jangan tanya siapa yang menyuruh Gin berpenampilan seperti itu.


"Pelosok kota yang penuh penyakit."


Pertanyaan tercetak jelas dibawah raut pria itu, tak mengerti mengapa Chiharu hendak menuju ketempat paling tidak menyenangkan yang berasa dikota. Sepertinya raut itu terbaca oleh Chiharu, "Kau akan tau tugasku ketika sampai nanti."

__ADS_1


Gadis itu melewati gang-gang perkotaan yang gelap, kotor, dan kumuh. Tempat paling buruk yang pernah ada, orang-orang pesakitan berkumpul disana. Menatap Chiharu dengan pandangan datar, tak pernah ingin tahu ataupun mencari tahu. Gadis itu mengeluarkan roti dari balik tas besar yang dirinya bawa, roti itu berwarna putih dengan bermacam-macam isi didalamnya.


Hanya butuh hitungan menit ketika Chiharu menjadi pusat kerumunan orang-orang dengan tampilan kumuh disana, mengambil roti dengan rakus lalu pergi tanpa sepatah kata pun. Hingga akhirnya roti-roti itu habis, Chiharu mendekati salah satu anak disana. Tersenyum lembut lalu mengusap surainya. "Boleh aku bertanya sesuatu?" sahut Chiharu memasang wajah malaikat tanpa dosa.


Bocah itu mengangguk lalu ikut menyunggingkan senyumnya, begitu lebar hingga rasanya tak cocok dengan kehidupan disini. Belum sempat Chiharu mengeluarkan pertanyaan, seorang anak menubruk dirinya dengan keras. Dan sebelum gadis itu lari, Chiharu menarik pergelangannya cukup keras hingga anak itu berteriak.


Ia memiliki pengalaman yang cukup ketika bersama Tuan Qi, hingga trik yang sama tak akan mampu membuatnya tertipu. "Maaf maafkan aku, aku tidak berniat melakukan kejahatan." kantung uang yang Chiharu bawa terlepas dari tangan bocah yang kesakitan itu.


"Untuk apa kau mencuri uang, nak?" tanya Chiharu belum melepaskan cengkramannya.


Bocah itu mulai menangis ketakutan, menendang-nendang kakinya untuk mencapai kebebesan. "Ibuku—ibuku sedang sakit, aku harus segera pulang membawakannya obat. Kumohon, lepaskan aku."


Chiharu berpikir sejenak, ia melepaskan bocah itu menarik pakaiannya agar tak dapat lari. "Aku akan menyembuhkan ibumu, bawa aku ke sana." sudah frustasi oleh keadaan, bocah lelaki itu mengangguk menunjukkan rumahnya pada dua orang asing yang sama sekali tidak ia kenali.


Gin menatap gadis itu dengan pandangan terkejut, tidak menyangka bahwa gadis itu—entah bagaimana—terlihat cukup keren dalam pandangannya. Mengikuti dalam diam langkah-langkah kecil Chiharu, sedikit penasaran akan hal yang terjadi berikutnya.


Lalu mereka bertiga sampai pada gang yang lebih menjorok kedalam, lebih gelap dan kumuh, lalu bau tak sedap menguar dari sana. Sudah bercampur dengan apapun hingga tidak layak tinggal, pun dengan tempat berlindung bocah itu yang terlihat menyedihkan. Kain-kain kotor bertumpuk, tak ada pintu disana hanya tertutupi kain-kain tipis yang sudah robek.


Suara batuk kering terdengar begitu memilukan, sehingga ketika Chiharu masuk untuk memeriksa keadaan ibu bocah itu. Ia sedikit terkejut karena tempat itu bukanlah tempat yang cocok untuk ditinggali mahluk manapun, gadis itu mendesah kasar memikirkan jalan keluar agar setidaknya bocah dan ibu itu dapat hidup dengan makmur.


"Gin!" pertama kali Chiharu mengucap namanya, siluman itu terasa berdebar. Suara gadis itu, sarat akan kekesalan entah mengapa. "Bawa kedua orang ini ke kuil, aku akan merawatnya." sahut Chiharu mantap.


Terpaksa ia harus menunda pertanyaanya dan lebih mementingkan untuk menyelamatkan ibu bocah lelaki itu, terlihat begitu sekarat dan sangat membutuhkan pertolongan. Gin tidak berkata apapun, dan menuruti keinginan Chiharu. Membopong wanita pesakitan itu, melesat lebih dahulu dari Chiharu untuk segera membawanya ke kuil.

__ADS_1


"Mari ikut aku!" sahut Chiharu dengan senyum lembut tersungging dibibirnya. Menggandeng tangan-tangan kecil bocah lelaki disana, dan mengajaknya ke tempat peristirahatan Chiharu.


To Be Continued...


__ADS_2