
Gadis itu terus mengecangkan larinya, mengejar sesuatu yang entah mengapa tidak tampak sesuatu apapun. Padahal gadis itu yakin bahwa seharusnya pria pengantar sayuran itu tidaklah secepat ini, kehilangannya yang janggal membuat Chiharu terus merasakan firasat buruk.
Pada pertigaan Hutan Chiharu bertemu Fu dan Su yang mengalami nasib tidak jauh berbeda dengan Chiharu pada pencarian mereka, gadis itu sedikit terengah karena sudah mencari cukup lama siang itu.
"Sepertinya kita harus kembali, mustahil menemukan pria itu nona." nasehat Fu disetujui oleh dirinya dan Su, lalu pada siang hari itu Chiharu kembali dengan perasaan gelisah yang bergelayut tidak ingin pergi.
Ketika mereka pulang, sayuran itu masih nampak utuh disana. Tampak begitu segar dan berkamuflase baik-baik saja, namun jika diperhatikan lebih jelas pada ujung sayuran itu terdapat warna hijau yang mencolok. Seolah menyamar dan mencocokan dirinya diantara para sayuran, ketika mendekatkan penciuman diantara sayuran ini. Bau yang seperti pestisida ini sangat menyengat, sehingga kejanggalan ini memang cukup sulit dibedakan.
Chiharu merasa pening karena masalah tak henti-henti menghampirinya, "Perasaan buruk ini tak menghilang dari diriku." keluh Chiharu khawatir.
"Nona, bagaimana cara menghilangkan racun ini jika memang masuk ke tubuh manusia? Mungkin dengan membuat penawarnya dapat menetralkan perasaan buruk anda." mendapat nasehat dari Fu, gadis itu segera mengangguk mengiyakan.
Mengatakan bahwa ia akan membuat penawar racun ini, bagaimanapun kasus ini membuat Chiharu khawatir. Yang paling ia takuti hanyalah satu, sebuah kematian. Chiharu hanya ingin menghindari hal itu, tak peduli apapun yang terjadi.
Lama Chiharu berada disana, berkutat dengan tumpukan buku yang menggunung. Terkadang ia mencampurkan sesuatu pada ramuan yang tengah ia lakukan, atau menulis sesuatu. Gadis itu berada disana hingga penghujung hari, ketika matahari menyinarkan sinar keemasan ke sepenjuru kuil Chiharu melamun disana.
Memikirkan kemungkinan bahwa meski penawat ini ditemukan, para manusia tidaklah terbebas dari bahaya yang datang. Siluman jelas-jelas lebih kuat dari manusia, menghancurkan satu atau dua desa sepertinya bukanlah masalah besar. Semakin memikirkannya, semakin membuat Chiharu gelisah.
"Nona jika anda khawatir, mari mengunjungi beberapa desa malam ini juga." sahut Su dengan cemas melihat Chiharu yang terdiam beberapa saat.
Gadis itu menatap kedua pelayannya, "Ide yang bagus, aku akan pergi membawa Su. Fu tolong jaga kuil untuku."
Pada akhirnya Chiharu bangkit dari duduknya, memakai pakaian tambahan untuk menghindari udara dingin. Lalu menuju kuda putih yang berdiri dengan gagah, tentu siapa lagi jika bukan Tuan Zhi pemberi kuda itu.
__ADS_1
Gadis itu mengelus surai kuda putih itu perlahan, menimbulkan rasa nyaman dan percaya diantara Chiharu dengan kuda putih milik Tuan Zhi. Dengan satu hentakan, Chiharu dengan mudah menaiki hewan yang berasal dari langit tersebut. Menghentak tali kekangnya hingga sang kuda meringkik dan mulai memacu kecepatannya, Chiharu berharap dengan melakukan ini, perasaan buruk yang menerkam dirinya lenyap.
***
Malam itu Chiharu kembali ke kuil dengan perasaan kecewa yang mendalam, jiwanya terasa jauh disana seolah pergi dari tubuhnya. Pasalnya malam itu ketika Chiharu berkuda selama tiga jam, ia tidak menemukan kejanggalan apapun. Hingga rasanya terlalu normal, seolah memang seperti itu biasanya.
"Apa memang hanya perasaanku?" gumam Chiharu pelan, mungkin suaranya hanya dapat didengar oleh dirinya sendiri.
Teh hangat dihidangkan untuk meringankan beban pikiran Chiharu, merasa bahwa pengantar sayur tadi ialah titik pusat kegelisahannya. Gadis itu menghela napasnya letih, berharap ia menemukan sesuatu apapun itu. Ia mengambil cangkir teh yang telah dihidangkan oleh Fu, meniup dan menikmati aromanya sebelum cairan keemasan itu meresap kedalam rongga mulutnya.
Chiharu mencoba melepaskan beban dipundaknya, hanya beberapa saat ketika ketukan pintu mengintrupsi istirahatnya. Ketukan itu begitu terburu seolah dikejar sesuatu, gadis itu berlari mencapai pintu depan. Membuka dan melihat apapun yang berada dibalik pintu disana, dan betapa terkejutnya Chiharu ketika melihat pemandangan didepannya.
Bocah laki-laki itu yang telah mengetuk pintu Chiharu, keadaanya begitu parah hingga gadis itu seolah ikut merasakan kesakitannya. Pakaiannya robek dengan luka bakar yang parah, wajahnya kotor, namun ia tetap berlari kesini. Tangisnya pecah ketika melihat Chiharu, menunjuk-nunjuk ke tempat dimana ia datang. Meminta tolong secara tersirat.
Hentakan cepat Chiharu lakukan untuk mengejar waktu, begitu cepat hingga rasanya hanya butuh beberapa menit untuk sampai didesa terdekat. Lalu wajah terkejut terpasang pada wajah Chiharu, gadis itu kembali memacu kudanya lebih cepat untuk segera sampai disana.
Malam itu berwarna merah terang, asap-asap menutupi langit malam yang gelap. Kobaran api dari berbagai penjuru membuat suasana begitu ramai, teriakan panik dan kesakitan bercampur menjadi satu. Ketika kuda tak bisa lagi mendekat karena suhu panas dari desa yang terbakar, Chiharu turun dan mencoba melihat sekeliling yang begitu mengerikan
Tubuh-tubuh tampak terkapar disana, beberapa terbakar dilalap kobaran api dan beberapa berdaraj akibat cabikan hewan liar.
Hewan liar?
Sepertinya memang ulah sesuatu yang jahat, Chiharu terus berjalan-jalan diantara kobaran api yang panas. Hingga telinganya yang tajam menangkap sesuatu, sebuah teriakan anak kecil di ujung desa ini. Teriakan itu melengking penuh pertolongan, Chiharu semakin mempercepat kaki-kakinya.
__ADS_1
Namun, ketika sampai disana. Kesimpulan muncul dibenaknya, bahwa gadis itu terlambat...
***
Seringai mengerikan terlihat disebrang sana, sebelah tangannya yang berdarah memegang tubuh gadis kecil tak bernyawa. Lalu bola mata itu bergulir menatap Chiharu, seolah gadis itu lebih menarik dari apapun termasuk kekacauan yang tengah dibuatnya.
Tubuh siluman itu melesat dengan cepat, menghantam tubuh Chiharu yang ikut terpental menahan tubuh sang siluman yang besar. Siluman itu berbulu, dengan telinga mencuat besar dikepalanya. Beberapa kukunya berhasil melukai Chiharu, menancap dengan kencang disana.
Meringis kesakitan Chiharu mencoba menarik pedang yang tersampir dipinggangnya, ketika berhasil ia dapatkan tebasan pertama berhasil membuat siluman itu mundur. Sedikit terkejut ketika mahluk itu tertawa begitu bahagia, ia menyeringai semakin lebar dan menjilat jemari-jemarinya. Sisa darah Chiharu.
"Manusia lemah, menyerahlah! Biarkan aku memakanmu dan urusan kita selesai." suaranya seperti geraman binatang buas, menggema membentuk teriakan dan membuat siapapun pasti gemetar.
Lagi-lagi mahluk itu menyerang Chiharu dengan ganas, kuku-kuku tajam itu siap mencabik kulit Chiharu sedikit saja jika gadis itu lengah. Namun, kondisinya yang terluka membuat Chiharu mundur dan tetap terpojok. Tarikan napas yang Chiharu lakukan terasa berat, mungkin kuku mahluk ini beracun. Entahlah Chiharu tidak mampu menebak bagaimana kondisi dirinya sekarang.
Ia mencoba memfokuskan terhadap energi spritual miliknya, menyelimuti pedangnya lalu mulai mengarahkan pada siluman itu. Tentu saja mahluk itu menghindar dengan cukup mudah, ketika Chiharu berhenti menyerang lagi-lagi mahluk berbentuk mirip serigala itu mendekati Chiharu. Mencoba kembali memangsanya dan ketika merasa kemenangan dipihak dirinya siluman itu tersenyum menyeringai.
"Sudah kubilang menyerahlah!" kuku tajam mahluk itu berhasil menembus perut Chiharu, merobeknya dan menembus hingga keluar dari punggungnya.
Sinar biru menyelimuti keduanya ketika Chiharu menyalurkan energi spritual miliknya pada jemari-jemari yang bebas, sinar bitu itu semakin besar dan menelan keduanya, teriakan menggema kembali terdengar. Namun bukan milik Chiharu, melainkan milik lawannya. "Yang menyerah adalah dirimu." gadis itu terduduk, namun ia masih bertahan dengan sisa-sisa kesadarannya. Menatap lawannya yang tumbang membuat Chiharu tersenyum tipis.
Dirinya menang.
Lengannya berdarah cukup parah, hingga menggerakannya sedikit pun terasa sulit dan mati rasa. Mahluk itu terkapar disamping tubuh Chiharu, Chiharu dapat mendengar suara Su yang memanggilnya khawatir. Sepertinya racun mulai menyebar didalam tubuh Chiharu, dan gadis itu pun ikut pingsan ditempat. Disamping tubuh mahluk itu, merasakan secara perlahan kegelapan mulai menjemputnya.
__ADS_1
To Be Continued...