
Chiharu kembali melanjutkan perjalanan ketika pagi hari itu berpamitan dan nengucapkan terimakasih dengan sungguh-sungguh, bahkan ia dibekali oleh makanan dan koin-koin uang untuk diperjalanan. Benar-benar manusia yang berbudi baik, gadis itu memutuskan tidak akan melupakan dan pasti akan membantu desa itu jika kerap terjadi sesuatu.
Perasaannya pun bahagia pagi kala itu, tidak meninggalkan jejak kekesalan sama sekali akan malam itu. Gin yang berjalan santai disampingnya pun sepertinya tidak ingin mengungkit keluar dan hanya terdiam, mengherankan namun membuat suasana pada pagi hari dimusim gugur sangat damai. Dan sepertinya ini adalah perjalanan ketiga hari yang artinya mereka akan segera sampai.
Karena terdiam cukup lama Chiharu membuka obrolan ringan, "Kemana saja kau saat itu?!" merujuk pada waktu dini hari dimana Gin tidak kembali selama dua hari penuh.
Lirikan ia lontarkan pada Chiharu, tangan-tangannya terselip pada pakaian dewa yang diberikan oleh Chiharu. Besar dan putih–tentu saja tidak perlu ditanya itu milik siapa, "tentu saja melakukan apapun yang kusuka, dan kau tidak termasuk dalam hal itu." tancap pria itu pedas, menyebalkan sekali memang namun Chiharu tetap menyimpan rasa kesal yang mulai muncul.
Sungguh perusak suasana yang andal.
Beberapa jam berlalu mereka lewati, bangunan yang terasa berkilauan diujung sana mulai terlihat. Begitu indah sehingga Chiharu merasa bahwa ia tengah pulang ke rumah, ketika memasuki gerbang kuil Fu dan Su menyambut dengan gembira. Bersorak-sorak dan bersiap melayani Chiharu dengan penuh, meski sejujurnya mereka paham bahwa gadis itu selalu ingin menyelesaikan sesuatu sendiri.
"Apa nona berhasil menangkap para penjahat yang melakukan perdagangan manusia?" Fu menggebu-gebu, telinga mereka kerap bergoyang-goyang mengikuti arah tubuh. Dan itu terlihat lumayan menggemaskan.
Chiharu tersenyum, merasakan perasaan rindu yang menyelip meski ia hanya pergi sementara. "Aku berhasil membubarkan para pedagang manusia itu, aku juga berhasil menyelamatkan penduduk desa yang diculik." wajahnya semakin pedih ketika menceritakan hal pada malam itu.
Bersyukur Gin tidak ada disana waktu itu, atau mungkin ia malah tengah bersembunyi dan ikut mendengarkan seperti yang biasa ia lakukan? Entahlah, Chiharu tidak tau. "Meski aku benci mengakuinya, Gin banyak membantuku. Bersyukur aku mengajaknya, sekarang aku lapar."
Gadis itu kembali berkilah, bahkan ia memanggil siluman bersurai putih itu untuk mengajaknya makan bersama. Hidangan telah terhidang begitu berlebihan pada hari ini, mengepulkan panas yang menggugah selera. Chiharu tersenyum penuh kegirangan ketika ia hanya bisa memakan kaldu daging buatan Gin–meski tak heran bahwa rasa makanan itu pun enak.
"Jadi kau menyukai makanan seperti ini?" suara itu begitu pelan, mungkin hanya terdengar oleh Gin sendiri. Chiharu pun sepertinya tidak mendengar suara pria itu hingga dirinya sama sekali tidak terusik akan apapun, memakan makanannya dengan lahap dalam perasaan gembira.
***
Sebuah surat biru berlambangkan naga putih terhantar melalui burung dengan kilauan cahaya gemilang dari bulu-bulunya, ketika mengepak seolah burung itu meninggalkan debu-debu berkilau. Chiharu tengah menikmati pohon-pohon sakura ditaman belakang kuil, menikmati secangkir teh dan menyandarkan tubuhnya pada kayu-kayu kokoh.
__ADS_1
Mengernyit untuk memusatkan penglihatannya ketika kilauan kecil itu menghampiri dirinya, bertengger manis disamping dirinya. Bola mata hitam itu berhasil menghipnotis Chiharu, ia terpesona pada burung mungil itu.
"Nona, ada surat dari Tuan Zhi." dan lamunan itu berubah menjadi keterkejutan karena mahluk kecil itu mampu berbicara.
Gin menghampiri keduanya, mengambil gulungan surat itu. Membiarkan burung itu pergi dan kembali ketempat dimana ia dikirim, pria itu melirik sedikit pada Chiharu yang terbengong-bengong menggumamkan seperti "hewan itu bisa berbicara." dan berada didalam pikirannya sendiri.
Tidak menghiraukan gadis itu, Gin membuka gulungan surat itu, membacanya dengan perlahan lalu menghela napas dengan berlebihan. "Sepertinya kau harus pergi, Chiharu." mendengar namanya disebut gadis itu tersadar dan mengambil surat dari tangan pria itu.
Membacanya sejenak, "Menghadiri pertemuan tahunan para Dewa?" sahutnya pelan mengulangi surat itu berkali-kali dalam kepalanya agar tidak salah menerima informasi.
Tatapannya sarat akan kebingungan karena sejujurnya ia belum lama menjadi Dewa dan tidak mengerti apa yang dilakukan oleh para Dewa, tentu saja dirinya yang terlahir sedari awal menjadi manusia mana mungkin terbiasa akan yang dilakukan para Dewa. Ia hanyalah pengganti sementara Tuan Qi sebelum Dewa Bumi yang baru lahir, namun ia mengerti bahwa tanggung jawab seperti ini haruslah ia lakukan tanpa bisa di hindari.
"Apa yang biasanya para Dewa lakukan dipertemuan ini?" tanya Chiharu entah pada siapa, karena pertanyaan seperti itu tidak cocok ditanyakan pada Gin yang memiliki identitas siluman sejati dengan kekejaman sejati pula.
"Pergi saja, dan disana kau kan akan tahu. Mungkin aku juga akan ikut kesana."
"Mengapa?" tanpa sadar Chiharu menanyakan pertanyaan paling besar dikepalanya, mengapa Gin ingin ikut dengannya? Mengapa ia tidak lagi ingin membunuhnya? Mengapa sepertinya akhir-akhir ini mahluk itu terlihat sedikit lebih manusiawi.
Kuku-kuku panjang itu terulur, namun tanpa ancaman didalamnya dan Chiharu hanya terdiam menyaksikan jemari panjang itu mendekati dirinya. Bersarang pada rambut hitam miliknya, terasa begitu lembut ketika jemari milik pria itu mengusap surai ebony Chiharu. Ia membuka mulutnya, terasa ingin mengucapkan sesuatu "Kau tidak lupa kan bahwa Raja Iblis sepertinya masi mengincarmu?" perkataannya berbeda dengan tingkah yang ia lakukan.
Namun begitu Chiharu masih tetap penasaran akan dibalik manusia misterius itu, "Raja Iblis sekalipun tak akan mampu menembus Dunia Langit."
"Dan Dunia Langit juga bukanlah tempat teraman, karena melindungimu sekarang adalah prioritasku." kecupan mendarat pada surai-surai halus Chiharu, membuat jantung gadis itu seolah mencuat keluar karena terkejut. Memikirkan sebuah alasan masuk akal mengapa pria ini melakukan hal yang tidak normal seperti ini padanya, yang tentu saja Chiharu tak mampu menemukan jawabannya.
Chiharu tak yakin namun mungkin saja ini adalah salah satu trik siluman tersebut untuk memperdayanya, munafik jika ia mengatakan bahwa tak percaya dengan Gin. Ia bahkan lebih memilih pria itu dibanding Zhen teman masa kecilnya terlepas bahwa pria itu seorang Raja Iblis atau bukan, Chiharu lebih percaya pada Gin. Namun, ia akan berusaha bahwa dirinya tidak terjerumus dan menimbulkan kematian bagi dirinya. Meski sebuah kesalahan besar sekalipun karena memberikan segel dewa asal-asalan pada mahluk berbahaya, Chiharu belum ingin tewas dengan mengenaskan.
__ADS_1
***
"Kau yakin ingin ikut denganku?" gerbang untuk menuju Dunia Langit sudah terbuka lebar hanya tinggal menunggu gadis itu masuk ke dalamnya, namun wajah khawatir enggan terlepas dari air muka Chiharu.
Gin hanya menatap datar, dengan luwes ia melewati Chiharu. Memasuki gerbang itu, meninggalkan gadis disana yang kini berdecak kesal. Padahal Chiharu sudah repot-repot mengkhawatirkan pria itu namun balasannya sungguh membuat dirinya jengkel, bagaimanapun ia seorang siluman. Dan seorang Dewa dan Siluman bukanlah kesatuan yang bagus, terlebih bagaimana jika Gin bertemu Dewa Lukos, si Dewa Perang. Akankah pertengkaran tidak akan terjadi pada mereka berdua?
Chiharu merasa tidak yakin, meski begitu ia tetap mengikuti Gin kedalam portal langit itu. Seperti biasa Fu dan Su tetap disana untuk menjaga kuil karena mereka menyerap energi spritual Chiharu untuk bertahan hidup, untuk membuat kuil terlihat cemerlang dan bersih. Hal itu dibutuhkan energi spritual Chiharu untuk melakukannya, sepertinya gadis itu pun terus melatih energi spritual dalam dirinya.
Kediam tuan Zhi terlihat begitu berkilauan ditimpah cahaya menenangkan, terlihat begitu damai dan tenteram. Indah dan memanjakan mata, kata-kata yang bagus pun tak akan cukup untuk mengagumi dan memuji kediaman Tuan Zhi. Para pelayan Tuan Zhi pun seolah sudah mengenal Chiharu dan menghela gadis itu untuk memasuki kediaman sang Dewa Kebijaksanaan.
Pria tua dengan janggut putih itu menunggu Chiharu dengan senyuman lebar, ketika Chiharu sampai ia segera memeluk gadis itu. "Aku punya kabar bagus untukmu, maka dari itu aku memanggilmu." sahut Tuan Zhi tanpa melunturkan senyumannya.
Ia melirik kebelakang gadis itu, hanya sedetik setelah kemudian Dewa Kebijaksanaan lebih memilih mengabaikan eksistensi Gin–sang siluman rubah yang berbahaya. Berumur ribuan tahun yang bahkan namanya pun sudah menjadi legenda, tidak heran mengapa para Dewa dan termasuk Tuan Zhi tidak akan menyukainya.
Chiharu pun seolah ikut tertular kebahagiaan gurunya, ia ikut tersenyum lebar "Kabar bagus apakah itu, guru?!" gasis itu antusias karena tidak biasanya Tuan Zhi begitu bahagia saat ini.
Pria itu pun sepertinya masih hendak menyembunyikan fakta yang katanya akan membuat Chiharu bahagia, "Kau akan tau ketika rapat Dewa hari ini, lalu rapat ini akan diadakan setiap tahun. Karena Dewa Bumi sebelumnya menghilang kau harus ikut rapat rutinan ini."
Chiharu mendecak sebal, "Ayolah guru beritahu aku, sedikit saja. Beri tahu aku! Beri tahu aku!" rengek gadis itu, bibirnya ikut maju ketika berusaha mendapatkan keinginannya.
Tawa pun lepas dari Tuan Zhi menanggapi gadis kecil itu, ia menyesap tehnya perlahan sebelum mulai berbicara, "Baiklah baiklah, kakek tua ini akan memberitahumu." sahutnya sembari memancarkan kebahagiaan.
Chiharu menunggu dan Gin pun berada diantara mereka, dibalik sekat pintu yang menghubungkan ruangan diantara keduanya. Mendengar percakapan dibalik sana dengan jelas, bukan berniat menguping tetapi Gin memang hanya ingin mendengar secara keseluruhan.
"Para petinggi Dunia Langit berhasil menemukan cara melepaskan segel Dewa yang berada di siluman rubah itu.
__ADS_1
Kabar bahagia itu sepertinya memang dikhususkan untuk Tuan Zhi saja, tidak untuk Chiharu ataupun Gin. Karena gadis itu tahu kenyataan kejam bahwa ketika segel itu terlepas, Gin akan hidup dan menderita sampai ia mati didalam jeruji tahanan Langit. Tidak dibiarkan bebas, hidup menjadi penjahat didalam ingatan semua orang.
To Be Continued...