Gadis Kuil

Gadis Kuil
Bab 9 Menjalankan Tugas


__ADS_3

(5 tahun kemudian)


Dunia langit adalah tempat tinggalnya para Dewa, tidak heran mengapa para Dewa tinggal disana. Tempat itu begitu indah, dengan gunung-gunung yang menjulang tinggi, lalu sungai-sungai mengalir dengan indah, jernih, dan begitu cemerlang tanpa harus merasa khawatir akan rusak oleh ulah manusia. Dari balik sungai itu, kerap muncul kerlipan-kerlipan karena kemuliaan batu-batu kualitas tinggi dari baliknya. Melingkupi kemuliaan batu manapun yang sebagus-bagusnya berada didunia inii.


Keanekaragaman hewani dan tumbuhan disini pun berkali-kali lipat banyaknya daripada di Bumi tempat para manusia, terkadang ada banyak hewan yang tak dapat Chiharu klasifikasikan dengan mudah karena tak pernah melihatnya. Namun, itu ketika ia berusia sepuluh tahun. Sejak saat Tuan Qi meninggalkannya lima tahun yang lalu, Chiharu kini tinggal dikediaman Dewa Kebijaksanaan.



Lalu selama lima tahun itu, gadis yang terus bertumbuh itu hanya fokus pada satu hal. Ia terus menuntut ilmu, mencari hal yang tidak ia ketahui. Mempelajari semuanya yang ia bisa, lalu tanpa mengenal lelah ia pun mengasah kekuatan pedangnya. Chiharu tersenyum kecil ketika mengingat Tuan Zhi ikut serta dalam mengajarkannya berpedangnya, dengan sabar dan telaten ia mengajarkan Chiharu cara melakukan pengendalian energi spritual.


"*Karena kau manusia, ada banyak kekurangan terhadap tubuhmu. Kau tidak akan bisa menyaingi kekuatan para Dewa, namun aku tahu cara agar kau bisa menutupi jurang besar itu." sahut Tuan Qi ketika Chiharu berumur sebelas tahun.


Chiharu mendengarkan dengan sungguh-sungguh tanpa menyela—kebiasaanya ketika Tuan Qi menjelaskan sesuatu padanya, ia mencatat setiap percakapannya dengan tuan Zhi tanpa terlewat.


"Mari ikut denganku bermeditasi terlebih dahulu, mempermudahkan dirimu mengenali energi spritual mu. Karena energi spritual dapat menjadikanmu teman atau musuhmu." ucapan terakhir itu masih tersisa oleh Chiharu bahkan ketika ia beranjak dewasa*.


Senyuman dan lamunannya hilang ketika Tuan Zhi memanggil dirinya, hobi nya yang lain yaitu mempelajari tumbuhan obat-obatan. Chiharu mengusap peluhnya dengan tangan yang penuh dengan tanah, alhasil noda itu kini berpindah ke wajahnya yang mulai tumbuh dan sepertinya akan terus bertumbuh. Kedua bola mata hitam yang cemerlang itu mengerjap, ketika Chiharu menatap Tuan Zhi kini mengelus jenggot putihnya. Sebuah kebiasaan ketika pemikiran rumit mampir didalam benak sang Dewa kebijaksanaan.


Tuan Zhi nampak berpikir begitu keras, tak lama hingga akhirnya kemudian ia menghela napas karena mencapai suatu kesimpulan dalam pemikirannya. "Ada sesuatu yang harus kubicarakan dengan mu, Chiharu." sahutnya memulai percakapan, tak dipedulikan penampilan gadis itu yang kotor akibat tanah. Tuan Zhi menyuruh Chiharu duduk untuk memulai pembicaraan serius.


"Bagi para Dewa lima tahun adalah waktu yang sangat singkat, dan aku sangat sedih ketika menyadari bahwa waktu lima tahun ini akan berakhir.


Kau tahu, aku sangat senang ketika merawatmu. Kau adalah anak yang baik, cepat belajar, dan cepat tanggap dalam menyerap ilmu yang kuberikan padamu. Hanya saja aku tidak tau, hal itu menjadi musibah atau keberuntungan kedepannya hanyalah kau yang dapat menentukannya.

__ADS_1


Dengan berat hati aku harus berkata, bahwa tugas mu sebagai Dewa Bumi harus segera dimulai."


Chiharu sedikit terlonjak dari duduknya, hanya sedikit dan mungkin hanya ia yang menyadarinya. Menghela napas pelan karena tahu bahwa hal ini cepat atau lambat memang akan menghampirinya, namun ketika berita itu sampai. Gadis itu tak dapat menahan diri dari keterkejutan yang datang menghampiri.


"Aku mengerti Tuan Zhi, aku sangat senang ketika melewat perpisahan Tuan Qi aku tidak sendirian. Aku menguasai pedangku berkat Tuan, aku juga mendapatkan ilmu yang banyak karena Tuan.


Tanpa Tuan Zhi, tidak mungkin menjadi aku yang sekarang. Aku bukanlah apa-apa tanpamu, hanya saja dapatkah aku kembali kesini untuk menyapamu. Sedih rasanya jika kita tak dapat bertemu kembali." dalam tatapan polos Chiharu, Tuan Zhi tersentuh mendengar ucapan anak itu.


Anak manusia yang terlibat oleh takdir yang kejam dan mengharuskannya memiliki pundak yang kuat, dalam batinya Sang Dewa Kebijaksanaan berdoa agar Chiharu mendapat kehidupan yang lebih baik dan tidak penuh penderitaan seperti ini. Namun Tuan Zhi sadar, bukan dirinyalah yang mengatur kehidupan ini.


"Tentu saja, kembalilah kapanpun kau mau," sang Dewa Kebijasanaan mengangsurkan giok berwarna biru tua dengan kecemerlangan yang tak pernah Chiharu lihat. "Ini adalah kunci penghubung antara dunia langit dan bumi, bermeditasilah ketika kau ingin kembali, nak. Maka pintu langit akan terbuka untukmu, karena bagaimanapun kau adalah seorang Dewa."


Aku sudah menyiapkan tempat untukmu, kuil mu tak jauh dari perkotaan sehingga akan banyak orang meminta bantuanmu. Lalu pilihlah pelayan yang kau sukai yang akan membantumu dalam mengurus pekerjaan Dewa Bumi."


Dewa Kebijaksanaan itu mengangguk memahami, "tinggalah dimana kau mau, nak. Dan sekarang kau memiliki aku, kau boleh memanggilku dengan sebutan guru. Bukankah itu akan membuat kita menjadi lebih dekat?" bujuk Tuan Zhi, disambut anggukan antusias dan mengusir sedih yang sempat hinggap.


***


Didepan gerbang langit Chiharu kembali memeriksa barang bawaanya, tidak banyak yang ia bawa. Hanya beberapa tanaman obat yang tak dapat ditemukan dibumi, dua pelayan Tuan Zhi yang bernama Fu dan Su, beserta pakaian-pakaian yang Tuan Zhi siapkan untuknya. Gadis itu tersenyum ketika Tuan Zhi datang untuk mengantarnya, menunggu gerbang langit terbuka dan membawanya menuju Bumi. Tempat dimana semuanya bermula.


"Terimakasih Guru, aku akan sering datang." kata-kata terakhir Chiharu bergema, ketika seluruh tubuhnya hilang dan lenyap tertelan didalam pintu itu. Tubuh gadis itu terasa melayang beberapa saat, merasakan pergerakan yang cukup cepat layaknya meteor yang jatuh. Hingga kemudian tubuhnya terasa ringan beberapa detik, sebelum kakinya mencapai tanah.


Kini Chiharu berdiri disana, ditengah-tengah bangunan yang telah lama ditinggalkan. Dinding-dindingnya berdebu, atapnya lapuk dimakan usia, lalu dedaunan kering mulai memenuhi tempat itu. Menyeruak berusaha masuk kedalam, tempat itu masih sama sebelum Chiharu meninggalkannya. Hanya sedikit tua dan lapuk dimakan usia, perasaan sesak masuk kedalam dadanya, mendobrak dirinya untuk merasakan kenangan-kenangan itu diotaknya.

__ADS_1


Berputar didalam benaknya, menari-nari dan menghukumnya tanpa kasihan. Mengetuk pintu hatinya dan tetes-tetes air mata mulai berjatuhan dari pelupuk matanya, bibir berwarna buah delima yang tengah segar-segarnya itu bergetar menahan isak. Dalam gumamannya dapat terdengar kata, "Tuan Qi, aku pulang."


Lama ia menangis, sampai kedua mata itu sembab dan tak lagi tersisa air mata disana Chiharu mulai bangkit. Melirik kedua pelayan milik Tuan Zhi yang bingung tak tahu harus melakukan apa, keduanya hanya terdiam menunduk seolah ikut merasakan kesedihan karena Tuan baru mereka.


Chiharu mengusap matanya, sedikit malu karena menangis begitu lama dan kencang. Ia pikir ia sudah sedikit dewasa, dan menangis seperti itu adalah hal yang memalukan untuk gadis dewaaa sepertinya. Satu sentuhan kembali membuat Chiharu menoleh, salah satu pelayan Tuan Zhi yang berbentuk Musang itu yang melakukannya.


"Maaf menyela Nona Chi, kami belum membuat kontrak pelayan dengan anda setelah Tuan Zhi melepas kami. Anda harus memberikan segel yang baru atau kami bisa bertindak diluar perintah anda." sahut salah satu diantara keduanya.


Chiharu tidak mengerti apa yang ia lakukan, dan ditelan kebingugannya sendiri. "Bagaimana caranya menorehkan segel pada kalian berdua?" tanyanya tanpa mengurangi rasa hormat.


Salah satu musang bernama Su maju, ia kemudian menjelaskan "Berikan berkatmu, tempelkan bibirmu pada wajah kami. Maka secara otomatis kami akan menjadi hambamu."


Sedikit tidak percaya Chiharu mengangkat bahunya, tidak menyangka bahwa caranya akan sangat begitu mudah. Ia memberi kecupan pada dua pelayan Tuan Zhi yang berbentuk hewani ini, lalu sinar muncul dari tubuh dua pelayan itu. Menyelimuti tubuh keduanya dan ikatan kuning terjalin diantara jemari Chiharu dan jemari Fu dan Su.


Tiba-tiba mereka berdua bersujud dibawah kaki Chiharu, "Wahai Tuan kami yang baru, kami akan melayani sampai dirimu tak lagi membutuhkan kami." sahut Su dengan khidmat.


Lalu Fu ikut berucap penuh keagungan terhadap Chiharu, "Baik antara hidup dan mati kami akan selalu dipihakmu, maka perintahkanlah kami wahai pemilik kami yang baru."


Chiharu kembali bingung, ia menyentuh pundak keduanya dan membimbing mereka untuk berdiri. "Ey sudahlah, jangan terlalu bersujud begitu aku tidak enak. Aku ingin kita menjadi teman yang saling membantu saja, tidak perlu bersujud padaku." keluh Chiharu merasa tidak nyaman.


Keduanya mengangguk menyetujui tanpa membantah, "Jika memang itu kehendak Pemilik kami, maka menurutinya adalah jalan kemakmuran kami. Nona Chiharu, kelak kami akan setia padamu."


To Be Continued...

__ADS_1


__ADS_2