
Shena mengetikkan pesan untuk Arga.
Shena.
'Mas Arga maaf ya, aku terlalu laper jadi nggak bilang ke Mas Arga kalo aku turun nyari makan.'
Arga.
'Nggak apa-apa Shen, kalo udah selesai makan langsung naik lagi'
Shena.
'Iya Mas, ini udah mau naik.'
Shena bergegas membayar pesanan dan naik menuju kamar, sampai kamar Shena membuka beberapa potong baju yang di beli nya, lalu mandi agar terasa lebih segar, kini waktu menunjukkan pukul 16:45.
Selesai mandi Shena kembali merebahkan diri nya di ranjang, meng-scroll layar Handphone nya untuk menghilangkan bosan, tak ada banyak teman untuk berbagi pesan, ini lah kehidupan yang Shena alami selama ini.
"Mas Arga, apa kamu beneran cinta sama aku, aku takut Mas kamu bohong, aku takut kecewa." Shena berbicara kepada diri nya sendiri, Tak lama Shena terlelap ke alam mimpi.
******
Kebetulan persiapan lamaran besok sudah beres. Mamah, Papah, Haris, Han, Ricko, Arga dan Salwa masih berkumpul di ruang keluarga membicarakan perkembagan perusahaan, kecuali Yudha, dia sudah berlayar ke pulau mimpi dan bukan bagian keluarga perusahaan.
Arga terus melirik jam tangan nya, waktu sudah menunjukkan pukul 22:00, bagaimana cara nya agar Arga bisa menuju hotel tempat Shena menginap, rasanya tidak tega jika meninggalkan Shena sendirian.
Beberapa kali Arga mengirim pesan namun Shena tidak membalas, apakah Shena marah? fikir Arga. Arga menjadi tidak fokus dengan perbincangan mereka.
"Gimana menurut kamu Ga?" Tanya Papah, namun Arga hanya diam sembari melihat ponsel nya.
"Arga!" Panggil Papah sembari menepuk pundak Anak nya.
"Ah iya Pah." Arga tersentak kaget, dan baru menyadari bahwa yang lain nya sudah melihat nya heran.
"Kamu cape banget ya Nak, yaudah kalo gitu kita istirahat dulu yuk, udah malem juga." Ucap Mamah.
"Hm... Boleh, ayo kita istirahat." Papah menjadi pendahulu yang berdiri, dan di susul oleh yang lain nya begitu juga Arga, Arga segera menjauh dan menelfon Shena, namun tidak ada jawaban.
"Apa Shena marah?"
Arga kembali mencoba menghubungi Shena, berdering namun tidak di angkat, rasanya Arga tidak ada pilihan lain, Arga melirik kondisi rumah yang telah sepi lalu mengendap-endap keluar gerbang, Arga menggeleng saat melihat satpam penjaga gerbang tidur dengan nyenyak.
Arga sengaja tidak membawa mobil agar tidak ada yang tau jika Arga pergi, karena jarak hotel dan rumah tidak terlalu jauh jadi Arga memutuskan berjalan kali.
Arga terus menghubungi Shena, namun hasil nya sama tidak di ada jawaban, setelah 15 menit Arga sampai di Hotel, buru-buru Arga menuju kamar yang di pesan nya untuk Shena.
Arga mengetuk pintu namun tidak ada jawaban, lalu Arga meminta resepsionis untuk membuka pintu dengan kunci cadangan, dengan sogokan sedikit resepsionis bersedia membukakan pintu untuk Arga.
Rasa lega menghampiri dada Arga saat melihat Shena tertidur pulas, lalu mendekati Shena dan menyelimuti nya, Arga langsung membuka kaos nya, badan nya terasa sangat gerah karena berlari tadi.
__ADS_1
Sejenak Arga duduk di atas sofa untuk menghilangkan rasa lelah, Arga terus memperhatikan Shena.
'Shena, gua juga nggak ngerti sama diri gua sendiri, kenapa bisa secepet ini gua cinta sama lo Shen, rasanya gua cuma pengen ngelindungin lo, bahagiain lo, pengen buat lo ketawa terus, amin-in ya Shen.'
Arga mendekati Shena, lalu duduk tepat di sebelah Shena, Arga mengecup dahi Shena dan turun ke pipi, dan merebahkan diri nya, lalu merentangkan otot-otot nya agar lebih rileks.
Arga tidur miring, kini wajah nya dan Shena sudah bertemu, deru nafas Shena yang teratur menandakan bahwa Shena tidur nyenyak, Arga membawa Shena dalam pelukan nya, tubuh mungil Shena tenggelam dalam dekapan Arga, Arga yang masih belum mengantuk memainkan Handphone nya.
Saat Arga membuka Instagram nya Arga melihat postingan Sarah sedang berpose dengan belahan dada nya yang jelas terlihat.
"Crazy!!" Arga tersenyum miring, Arga membuka kamera nya lalu memotret diri nya yang sedang memeluk Shena, Shena hanya terlihat punggung nya saja namun jelas menampakkan wajah dan tangan Arga mendekap Shena.
Baru saja Arga akan mengirim potret itu kepada Sarah Shena terbangun dari tidur nya.
"Akh.... " Shena mendorong tubuh Arga, lalu duduk sembari melihat Arga yang tidak mengenakan baju.
"Mas Arga, Kamu ngapain aku Mas!?"
"Nggak ngapa-ngapain, aku cuma..."
"Kenapa nggak pake baju, kenapa tidur di deket aku Mas?"
"Terus aku tidur di mana, aku gerah Shen."
Shena menggeleng, lalu kembali merebahkan tubuh nya.
"Mas Arga, dari mana?" Dengan lesu Shena bertanya.
"Maaf, kamu nungguin ya."
Shena mengangguk, Arga menoleh ke arah Shena lalu mengelus pucuk kepala Shena.
"Ada suatu hal yang nggak bisa aku tinggal, kamu juga aku telfonin nggak di angkat."
Shena hanya diam, ia juga tidak tau di sudut mana Handphone nya berada.
"Sini, aku mau ngomong serius sama kamu." Arga merentangkan tangan nya, Shena adalah wanita dewasa, dan tidak bodoh, tentu saja ia tau maksud Arga dan menurut saja.
Kini Shena sudah kembali dalam pelukan Arga dan dada Arga menjadi bantal nya.
"Shena, kita udah sama-sama dewasa, kamu tau kan kalo sebenernya apa yang kita lakuin ini nggak pantes?" Shena menjawab dengan mengangguk.
"Apa kamu cinta sama aku?"
Shena melihat wajah Arga, lalu Shena bangkit dan duduk membelakangi Arga, Arga ikut duduk dan mengarahkan Shena agar berhadapan dengan nya.
"Aku tanya sekali lagi Shen, apa kamu cinta sama aku?"
Arga menggenggam kedua tangan Shena, Shena kembali mengangguk.
__ADS_1
"Shena, kalo kamu cinta sama aku apa kamu mau nikah sama aku Shen, kita nggak bisa gini terus, kita sama-sama udah dewasa, aku yakin kamu pasti udah tau kan apa yang bisa terjadi di antara kita."
"Apa keluarga kamu mau nerima aku Mas?"
"Maaf Shen, tapi aku harus nikahin kamu secara siri."
Shena langsung menarik tangan nya dari genggaman Arga.
"Maksud kamu apa Mas?"
"Ada suatu hal yang belum aku selesain Shen."
"Aku tau Mas, aku orang kampung, bodoh, tapi jangan gini banget lah kamu bodohin aku, aku tau apa maksud kamu, kamu cuma mau jadiin aku mainan kamu kan?"
Ucap Shena dengan bergetar menahan tangis.
"Bukan gitu Shen, aku mau nikahin kamu karena aku cinta sama kamu."
Shena bangkit lalu mencari Handphone nya.
"Memang nggak masuk akal, baru berapa hari kenal, tapi langsung cinta dan sekarang ngajak nikah, bodoh banget kamu Shen." Shena berbicara kepada diri nya sendiri.
Setelah menemukan handphone nya Shena memasukkan dalam tas dan melangkah menuju pintu untuk pergi.
"Kamu mau kemana?" Arga menahan tangan Shena.
"Lepas, aku mau pergi!!"
"Kemana?"
"Kemana aja, bukan urusan kamu!!"
Arga melirik kunci di tangan Shena lalu merebut nya.
"Kembaliin Mas!!"
"Nggak!" Arga mengangkat tangan nya tinggi agar Shena tidak bisa mengambil kunci itu.
"Mau kamu apa!" Shena memukul dada Arga.
"Kamu di sini, kita nikah besok."
"Gampang banget kamu ngomong, murah banget kamu nilai aku, kamu kira aku udah nggak ada harga diri, mau kamu jadiin istri siri? jangan keterlaluan kamu Mas!!." Shena menunjuk wajah Arga, namun Arga tetap diam.
"Ada alesan tersendiri Shen, bukan karena aku nggak cinta sama kamu, nanti suatu saat kamu pasti tau sendiri, yang pasti sekarang aku cinta sama kamu, aku nggak mau ngerusak kamu, sebelum kita nikah." Arga menjelaskan dengan hati-hati.
"Apa alesan nya! omongin aja apa susah nya!?"
"Nggak bisa Shen, cukup kamu suatu saat nanti tau sendiri, aku nggak bisa ngomong sekarang!"
__ADS_1
Dor...dor...dor... Pintu kamar Hotel di gedor seseorang dari luar, Arga dan Shena sama-sama melihat ke arah pintu.
Jangan lupa like ya, hadiah dan vote nya ya, tambah kan ke favorit juga karena kisah nya masih panjang.