Gadis Manis Milik Daddy Arga

Gadis Manis Milik Daddy Arga
Berubah! ada apa?


__ADS_3

"Sayang bangun, Sholat subuh." Arga membangunkan Shena dengan menepuk kecil pipi Shena.


"Sayang bangun, mandi yuk, habis itu Sholat." Arga kembali mencoba membangunkan Shena.


Shena mencoba membuka mata nya dengan susah payah.


"Apa Mas..."


"Bangun mandi Sholat." Arga membantu Shena duduk dan merapihkan rambut Shena yang menutupi wajah Shena.


"Haa....Sholat?" Raut wajah Shena menunjukkan wajah heran.


"Iya, ayo mandi." Arga membantu Shena berdiri lalu ia membereskan kasur agar di kembalikan di atas ranjang, Shena ingin membantu namun di tolak Arga, setelah rapih Arga mengambil handuk dan mengajak Shena mandi.


Shena menurut dan mengikuti Arga dari belakang, karena kamar mandi Nenek Rohima cukup luas, Arga meminta mereka mandi bersama namun Shena tetap mengenakan kain sebagai penutup.


Selesai mandi Arga dan Shena kembali menuju kamar, saat sampai di ruang tamu ternyata Bibi Helpi sudah bangun dan membereskan sisa-sisa acara semalam.


"Ehh, pengantin baru mandi subuh." Ucap Bibi Helpi saat melihat Arga dan Shena dengan rambut basah.


"Iya Bi, mau Sholat." Jawab Arga dengan sopan.


"Yasudah, cepat Sholat, Bibi mau lanjut bersih-bersih."


"Iya Bik." Ucap Arga dan Shena bersamaan.


Arga dan Shena masuk ke dalam kamar, Arga mengunci pintu, lalu mengambil sarung, koko lengan pendek dan peci dari dalam koper nya yang semalam di bawa.


Arga melihat Shena yang sedang mengelap rambut nya yang basah.


"Pakai mukena maskawin ya." Pinta Arga.


"Iya Mas."


Shena memakai mukena mas kawin dari Arga, lalu dengan khusyuk mereka melaksanakan kewajiban Sholat Subuh, selesai Sholat, Shena mencium punggung tangan Arga sebagai imam nya untuk pertama kali, tak lupa Arga mencium kening Istri nya.


"Mas...tumben ngajak Sholat."


"Aku memang rajin Sholat, kecuali semenjak ketemu kamu sebelum kita sah." Jelas Arga sembari bangkit untuk mencari tasbih nya di dalam tas selempang dada milik nya yang biasa ia bawa ke mana-mana.


"Kenapa?" Tanya Shena heran.


"Malu sama Allah, kadang aku berfikir, sholat ku di saat keadaan aku seperti ini aja belum tentu di terima, apa di saat pria sama wanita yang belum muhrim udah tidur bareng dan sentuhan fisik bakal di terima Sholat nya, udah nggak mungkin kan? jadi lebih baik aku tinggalin sholat ku dari pada Allah murka, manusia hina kok Sholat, perbuatan kita itu sama aja zina kan, kontak mata aja udah termasuk zina apa lagi tidur bareng walau nggak ngapa-ngapain, paham?"


"Iya Mas." Shena menunduk lesu, ternyata Arga seorang pria dengan agama yang kental, tapi apa lah daya, dia hanya manusia biasa yang terkadang masih salah jalan, masih belum terarah.

__ADS_1


"Aku zikir dulu ya sayang."


"Iya Mas." Shena duduk sembari memperhatikan Arga yang sedang berzikir, sungguh pemandangan idaman setiap wanita muslim.


'Sekarang aku tau kenapa kamu sangat penyabar Mas, ternyata kamu faham sekali sama Agama, aku yakin pria yang faham Agama pasti tau gimana cara dia memperlakukan istri nya, dan menuntun ke jalan yang lebih baik.'


Namun tiba-tiba Handphone Arga berdering, karena Arga sedang zikir jadi Shena mendekati Handphone Arga dan terlihat ada panggilan masuk, tertera nama Sarah di layar ponsel.


"Siapa Sarah?? angkat jangan." Shena melihat ke arah Arga, karena Shena tidak mengetahui siapa yang menelfon Shena memutuskan untuk menaruh kembali Handphone Arga, lalu Shena melepas mukena nya dan keluar untuk membantu Bibik beres-beres.


******


"Mana sih orang ini, di telfon nggak di angkat, nelfon Mamah judes banget, ngeselin." Sarah membuang Handphone nya ke sembarang arah.


"Harus nya di sana kan pagi, apa dia belum bangun?!!"


Kini Sarah sedang berada di lokasi pemotretan, waktu menunjukkan pukul 15:50 sore dan di indonesia pukul 05:40 pagi.


Sebenarnya Sarah sedang bingung dan setres, kekasih nya terus meminta Sarah menggugat cerai Arga, memang itu tujuan utama Sarah, namun Sarah tidak bisa membohongi hati nya sendiri, bahwa ia ingin Shaka tetap bersama nya, tapi bagaimana bisa Mark menerima Shaka?


Segala cara dan berbagai alasan sudah Sarah coba, namun Mark tetap menolak jika Shaka di rawat oleh Sarah, apakah Sarah harus merelakan putra nya?


******


Arga dan Om Yadi sedang duduk bersantai di teras rumah sembari menikmati secangkir kopi.


"Sudah Om, maaf ya Om, biasalah anak-anak muda, mungkin mereka belum bangun jam segini."


"Oh iya, tidak apa-apa." Om Yadi kembali menyeruput kopi nya.


Arga melihat Shena mendorong motor dari garasi samping rumah Nenek Rohima, spontan Arga berdiri dan menghampiri Shena.


"Mau ke mana?"


"Ke mini market." Jawab Shena dengan suara kecil nyaris tidak terdengar oleh Arga.


"Ngapain, aku anter ya, mau nyari apa?" Arga mendekati Shena yang sudah duduk bersiap memacu kuda besi itu.


"Nggak usah, aku sendiri aja."


"Emang tau tempat nya, ada uang nya nggak?"


"Ada Mas, yaudah aku jalan." Tanpa menunggu jawaban Arga Shena segera memacu kuda besi itu.


"Astaghfirullah anak itu." Arga berdecak lalu kembali duduk bersama Om Yadi.

__ADS_1


"Kira-kira kalian kapan pulang ?"


"Mungkin hari Sabtu Om, Insya Allah, pesawat nya ada hari Sabtu, perusahaan nggak bisa di tinggal lama-lama, terutama Bang Ricko, oh iya Om Arga titip Nenek Ya, dan Arga mau minta tolong sesuatu sama Om Yadi."


Om Yadi mengerutkan kening nya.


"Apa itu?"


"Begini Om..........." Arga menjelaskan maksud nya kepada Om Yadi.


"Baik....Insya Allah Om jalankan amanah dari Nak Arga."


"Terimakasih Om."


Terlihat Shena sudah pulang dengan bungkusan plastik putih di tangan nya, Shena buru-buru masuk rumah tanpa menyapa Arga membuat Arga semakin bingung dengan sikap istri nya pagi ini.


Setelah hampir pukul 09 pagi, Ricko dan yang lain nya baru datang, Nenek langsung meminta mereka untuk sarapan pagi, mereka sangat antusias karena lauk kali ini seafood segar hasil tangkapan nelayan pagi ini.


Namun sayang Bibik dan Paman harus kembali ke kediaman mereka karena harus memanen kelapa, hanya tersisa Nenek, Shiren, Shena dan Arga serta rombongan di kediaman Nenek Rohima.


"Enak banget, Best masakan Nenek." Salwa memberi jempol, kini mereka sudah selesai sarapan dan duduk di teras rumah Nenek Rohima yang terasa sejuk.


"Pada mau kemana kita?" Tanya Arga pada yang lain nya.


"Kita ke Pulau pisang Yuk, nyebrang, tempat nya bagus, gua udah tanya sama Mbah gua, Mbah google." Bian memberi masukan.


"Kita foto di sana aja ya Nai, gimana apa kita ke sana aja." Tanya Ricko pada lain nya, dan mereka setuju.


"Kita nggak usah ke sana ya Mas, lumayan jauh juga, aku capek pingin istirahat."


Arga langsung menatap Shena, ada apa dengan Istri nya pagi ini, kenapa sangat berbeda.


"Yah...kurang seru kalo Kakak nggak ikut." Cemberut Salwa.


Shena tersenyum lalu mendekati Salwa dan membisikkan sesuatu.


"Owh...iya Kak." Salwa mengangguk mengerti entah apa yang di katakan Shena pada Salwa.


"Kalo gitu Shiren ikut aja ya, dari pada di sini, mending jalan-jalan kan." Tawar Arga kepada Shiren.


"Iya ayo ikut." Sambung Yudha.


"Tapi...."


"Kami baik kok, nggak gigit, tenang aja."

__ADS_1


Salwa tertawa mendengar kata-kata Yudha.


"Yaudah ikut." Jawab Shiren.


__ADS_2