
Arga *******-***** setir nya, bayangan wajah Reni terus berterbangan di otak, rasanya penuh sekali di kepalanya, bukan nya belum melupakan wanita yang dulu cukup lama dia pacari itu, Arga hanya ingin tau, alasan Reni pergi?
Mobil yang ia kendarai sudah berbelok memasuki halaman rumah, Arga memarkirkan mobil dengan rapi di garasi, turun lalu melonggarkan dasi dan melepas jas dan sepatu nya, setelah di rasa lega baru kaki nya melangkah memasuki rumah utama.
Netra Arga menyisir sekitar.
"Sepi nya rumah ini, Shena sama Shaka pasti di atas." Gumam Arga singkat lalu melanjutkan langkah nya kembali.
Sampai di lantai 2 keadaan masih sangat sepi, Arga melangkah menuju kamar Shaka, ternyata Shaka sedang tidur bersama pengasuh nya, langkah nya berpindah menuju kamar nya dan Shena.
Ceklek....Arga memutar knop pintu, netra nya langsung menangkap Shena yang sedang memainkan handphone.
"Mas...udah pulang." Ujar Shena melirik sekejap ke arah Arga.
Arga menghampiri ranjang lalu menghempaskan tubuh nya yang lumayan terasa letih.
"Udah Sayang." Jawab Arga, dan kembali diam menatap langit-langit kamar, ia kini bimbang, akan bercerita kepada Shena tentang Reni atau cukup diam selesaikan sendiri.
"Mas, nanti Mamah sama Papah mau ke sini."
"Minep."
"Iya, aku bilang minep aja sesekali, pasti Shaka seneng."
"Iya." Jawab Arga singkat, Shena kembali mengerutkan kening nya, sepertinya ada yang tidak beres dengan suami nya.
"Mas, kamu kenapa, ada Maslaah ya di kantor?"
"Nggak kok, cuma capek aja."
"Yaudah mandi habis itu tidur, jangan ngelamun nggak baik."
"Iya."
...****************...
Pukul 16:49 suara deru mesin mobil memasuki halaman rumah Arga, benar saja ternyata Mamah dan Papah sudah sampai, dan Salwa juga pasti nya hadir.
Dengan senang hati Shena menyambut mereka, sudah cukup lama mereka tidak bertemu, dan berkumpul, Shena juga mengabari Ricko dan Naira jika orang tua mereka datang berkunjung.
Mereka kini berkumpul di ruang tamu sembari menunggu kedatangan Ricko dan Naira, Salwa dan Shena juga asik bercengkrama, jika mereka sudah bertemu rasanya topik obrolan sangat menumpuk dan ingin mereka ceritakan saat itu juga.
__ADS_1
Papah dan Mamah sangat gemas dengan tingkah Shaka yang aktif dan pintar, tak lama terdengar suara salam, semua orang langsung menengok ke sumber suara, ternyata Ricko dan Naira sudah datang dan langsung menyalami orang tua mereka, juga Salwa.
Salwa yang notabe nya teliti dan ceplas-ceplos sudah tak tahan mengungkapkan isi hati nya saat ini, saat bertemu kembali dengan Abang dan ipar nya setelah sekian lama tak bertemu.
"Kak Naira kok gendut ya." Celetuk Salwa.
Sontak saja Ricko tersenyum.
"Iya Wa, gemoy kan Kakak kamu." Ujar Ricko.
"Paan sih Mas, nggak lucu." Bisik Naira kesal kepada Ricko.
"Semoga kalo aku udah nikah terus hamil kayak Kak Shena, tetep kurus badan nya, bagus banget." Salwa menyenderkan kepala nya di bahu Shena, Shena merasa jika Salwa sengaja mengatakan hal itu di depan Naira.
"Nggak apa-apa yang penting sehat, iya kan Nai." Mamah mencoba menjadi penengah, ia tahu betul watak Salwa jika sudah kurang suka dengan seseorang.
"Iya Mah." Naira senyum sedikit terpaksa, mood nya sudah rusak karena ulah Salwa.
"Han nggak kesini ya Kak." Salwa berpindah duduk mendekati Kakak nomor 2 nya.
"Biasanya malem minggu ke sini, mereka bertiga, tunggu aja abis maghrib pasti dateng." Ujar Arga yakin, karena ke 3nsahabatnya memang selalu datang setiap hari libur.
"Iya." Salwa menundukkan kepala nya lesu, beberapa hari ini dia mendiamkan Farhan karena permintaan untuk di lamar belum juga di kabulkan Laki-laki berlesung pipi itu.
Haris dan Yudha menyalami orang tua sahabatnya yang sudah mereka anggap orang tua mereka juga, Mengetahui hanya Haris dan Yudha yang datang Salwa hati kembali menjadi layu.
Di meja makan pun Naira masih melihat sesuatu yang membuat nya muak, sesekali Arga mengelap mulut Shena dengan tisu karena Shena makan dengan sambal dan lalapan membuat makan nya sedikit belepotan.
"Udah yang kalo nggak kuat." Ujar Arga kembali mengelap mulut Shena.
"Pedes aja nggak Mas." Arga menggeleng sembari terus memperhatikan wajah Shena, sesekali menyibakkan rambut panjang Shena yang basah karena keringat di wajah Shena.
Iri? itu lah yang Naira rasakan, Ricko memang tampan dan kaya, namun Ricko tidak seromantis dan seperduli Arga kepada Shena, Naira melirik Ricko yang tetap hikmad dengan makan malam nya.
Selesai makan malam Salwa menghampiri Arga, Ricko, Haris dan Yudha yang berada di ruang khusus Ps, Salwa yang tahu jika Haris dan Farhan tinggal dalam 1 Apartemen menanyakan di mana keberadaan Farhan.
"Han di mana Mas Haris??"
"Han ada di Apartemen, mungkin dia capek Wa, di kantor masih sibuk-sibuk nya, Bang Ricko ada proyek baru." Jelas Haris.
"Bang Ricko, Kak Arga, aku ke sana ya." Wajah Salwa sangat tidak bersahabat.
__ADS_1
"Ajak keluar, jangan berduaan di Apartemen, ada setan nanti." Jawab Ricko singkat, pertanda jika Ricko mengizinkan nya.
Tak tunggu lama Salwa segera membelah jalanan ibu kota, jarak rumah dan Apartemen memakan waktu sekitar 20 menit.
"Kamu kenapa sih Han, apa kamu.....Hiks..hiks..." Tangis Salwa pecah, tidak bisa membayangkan jika memang Han menduakan nya, berulang kali Salwa meminta di lamar, bahkan Papah pun sudah bicara langsung dengan Farhan namun Farhan menghindar dengan berbagai alasan.
Han adalah laki-laki mapan, tampan, bijak, rasanya semua kesempurnaan ada pada laki-laki itu, hingga membuat seorang Salwa memendam perasaan hingga bertahun-tahun kepada Han dan baru berani mengungkapkan sekitar 1 tahun lebih yang lalu.
...****************...
Kediaman Ricko dan Naira, Naira mengajak Ricko pulang dengan alasan mengantuk, Naira tidak tahan ia merasa jika mertua serta adik ipar nya selalu memuji Shena, padahal Naira melihat tidak ada kelebihan apapun di diri Shena.
"Kurang ajar adek kamu itu Mas!!"
"Ajarin sopan santun bisa kan, kalo ngomong di jaga!!"
Ricko menggeleng.
"Salwa cuma bercanda Nai, Masa gitu aja kamu marah."
Naira menatap Ricko tajam.
"Belain aja terus adek kesayangan kamu itu, heran aku, kamu punya adek 2 nggak ada yang lurus hidup nya."
"Maksud kamu apa Nai, kamu udah dewasa loh, harus nya kamu yang omongannya di jaga, baru di bercandain gitu aja udah tersinggung, Shena di ledekin kurus sama Yudha, Haris, biasa aja dia nggak ada marah-marah kayak kamu, lagi pula kalo mau marah ya marah aja, jangan bawa-bawa adik-adik ku!!"
Naira tersenyum sinis.
"Bela terus."
"Kamu kira aku ini apa, aku ini bukan apa-apa tanpa mereka!!" Kesal Ricko.
Naira mengerutkan kening nya.
"Apa maksud nya, harus nya adik-adik kamu itu yang bukan apa-apa, kalo mau ngikutin adat harus nya mereka nggak dapet bagian......." Naira menghentikan ucapannya.
'Bisa-bisa Ricko marah besar.'
"Kenapa kamu sekarang? matre kamu Nai, cuma harta aja yang kamu bahas, mana Naira yang dulu lugu, baik, penyayang?"
"Aku nggak matre, cuma adik kamu itu jahat sama aku Mas, sesekali bela dong aku di depan keluarga kamu, nggak pernah juga kamu perduli sama aku kalo masih kumpul-kumpul, Arga aja......akh...!! entahlah." Naira menghentakkan kaki nya kesal lalu melangkah menuju balkon.
__ADS_1
"Arga ya Arga, aku ya aku Nai, masa aku mau pura-pura jadi orang lain demi kesenangan kamu, mungkin karena hormon kehamilan kamu jadi gini, sekarang tidur, jangan di balkon angin malem nggak baik untuk kamu."
Naira mendengus kesal.