Gadis Manis Milik Daddy Arga

Gadis Manis Milik Daddy Arga
Bule Sunda


__ADS_3

Setelah mereka berangkat menuju pulau pisang dengan di pandu supir dan Shiren, Nenek Rohima juga ikut berpamitan untuk mengunjungi Ibu angkat Shena yang tak lain anak bungsu Nenek Rohima, setelah kejadian penangkapan kemarin anak nya tidak lagi datang mengunjungi nya.


Arga menawarkan untuk mengantar dengan sepeda motor namun Nenek menolak, Karena akan meminta di antar tukang ojek.


Setelah Nenek berangkat Shena juga meminta izin Arga untuk beristirahat.


"Aku masuk ya Mas, pengen tiduran."


Shena langsung masuk ke dalam kamar, dan merebahkan tubuh nya, Arga yang sudah sangat ingin menanyakan kepada Shena ada apa ikut mengikuti Shena menuju kamar.


Arga melihat Shena merebahkan diri nya dengan menutup separuh tubuh nya dengan selimut, Arga mendekat lalu duduk di dekat Shena, Arga mengusap kepala Shena yang sudah memejamkan mata nya.


"Ada apa?" Tanya Arga lembut, namun hanya di jawab gelengan oleh Shena.


"Kamu marah, apa ada yang salah, aku salah sama kamu?"


"Nggak Mas."


"Terus kenapa? pagi ini kamu berubah loh, apa kamu marah karena aku bangunin subuh-subuh."


"Bukan...."


"Terus kenapa, kalo ada apa-apa ngomong yang, aku suami kamu, tolong lah hargain keberadaan aku!!"


Shena membuka matanya mendengar Arga sedikit mengeraskan suara nya.


"Aku cuma capek Mas, kenapa jadi Mas yang marah, kalo Mas Arga mau jalan-jalan nggak apa-apa, aku di sini aja."


Arga membuang nafas kasar.


"Maaf....gini Shen, kita udah nikah, jadi aku minta tolong sama kamu jangan ada yang di tutup-tutupin lagi di antara kita, apapun itu, walau hal sepele pun, aku kurang suka dengan sikap kamu pagi ini, perasaan aku jadi bimbang, di kepala ku jadi penuh pertanyaan, apa salah ku, kenapa kamu jadi gini, Shena, aku trauma, Kamu tau sendiri pernikahan aku sebelum nya hancur, dan aku nggak mau itu terulang lagi, kalo memang aku ada salah, atau ada sesuatu yang buat kamu nggak nyaman, ngomong, aku akan selalu denger dan akan terus berupaya buat kamu nyaman."


Mendengar kata-kata yang di lontarkan Arga membuat Shena merasa bersalah, tapi baru saja Shena akan menjelaskan sesuatu Arga sudah bangkit dan meninggalkan kamar.


"Mas mau kemana?!." Pekik Shena, namun Arga tidak menjawab, Shena mencoba bangkit menyusul Arga namun Shena meringis merasakan perut nya yang terasa nyeri.


******


Arga melangkah tak tentu arah menjauh dari rumah Nenek Rohima, Arga menghapus peluh nya yang mulai menetes deras.


"Panas, di mana lagi ini." Arga melihat keadaan sekitar, beberapa orang yang berlalu lalang memperhatikan Arga.


Arga berdiri di jembatan yang kemarin di tunjuk Shena saat dalam perjalanan menuju rumah Nenek Rohima pertama kali.


"Ada apa sama kamu Shen?" Gumam Arga.


Tak lama ada 4 orang remaja wanita sekitar berumur 12-14 tahun mendekati Arga.


"Bule, boleh foto nggak?" Tanya mereka.


Arga menunjuk diri nya sendiri.


"Saya."


"Wah bisa bahasa indonesia, kirain orang China." Ucap mereka heboh.

__ADS_1


"Saya orang Sunda asli, bukan bule, kalian ini liat saya dari sisi mana, bisa-bisa nya bilangin saya bule."


"Hahahaha...Bule Sunda." Para ABG itu malah tertawa.


"Kulit nya putih, mata nya sipit, badan tinggi, kayak orang China. Jadi boleh foto nggak?" Tanya mereka lagi.


"Boleh." Jawab Arga singkat.


"Yeess..." Mereka segera mengambil posisi dan Selfi bersama Arga dengan berbagai gaya.


"Udah kan, saya mau jalan lagi."


"Emang nya orang mana Kak, kok kayak nya kami baru pertama liat Kakak."


"Jakarta, kalian tau nggak di mana yang jual minuman dingin?"


"Tu di sana." Tunjuk mereka pada warung kecil dengan tenda biru di pinggir jalan.


"Oke makasih." Arga melangkah kembali meninggalkan para remaja yang masih sibuk dengan hasil jepretan mereka.


Arga duduk di warung kecil yang menjual minuman dingin Pop Ice, terlihat sang penjual dan beberapa Ibu-ibu sedang asik mengobrol.


"1 ya Buk." Pinta Arga.


"Rasa apa Mas?" Tanya Ibu penjual.


"Apa aja Bu."


"Di tunggu sebentar ya Mas."


"Iya."


'Sekarang masih heboh kampung kita, anak nya Almarhum Sayid yang katanya kabur itu pulang, denger-denger dulu kabur gara-gara suami nya si Wati itu mau gauli anak nya si Sayid..'


'Astaghfirullah, manusia bejat, terus sekarang gimana, di mana suami nya si Wati itu?'


'Di penjara, anak nya Sayid kan pulang bawa suami, suami nya itu orang tajir melintir,saya denger dari Bu Herman, tetangga samping rumah nya Bu Rohima setelah suami nya Wati di tangkap Wati dateng ngamuk, minta anak nya Sayid ganti rugi biaya selama Wati rawat anak itu, suami anak nya Sayid langsung ganti 500 juta.'


'Waww .....' Ibu-ibu itu teriak histeris.


'Yang betul ah.'


'Betul, Bu Herman nyaksiin pake mata kepala dia sendiri, hebat lah pinter cari suami anak nya Sayid.'


'Bagus lah Bu, kasian anak itu, Bapak nya meninggal, Kakak laki-laki nya meninggal, Ibu nya pergi.'


Arga mengerutkan kening nya, apa kah Ibu-ibu ini membicarakan Shena, fikir Arga.


"Ini Mas." Ibu pendagang memberikan pesanan Arga.


"Terimakasih Bu."


"Maaf Bu, yang Ibu-ibu ini bicarakan apa Cucu nya Nenek Rohima yang rumah nya di dekat aliran sungai ya?" Tanya Arga.


"Iya betul Mas, kok Mas ini tau?"

__ADS_1


"Iya Buk, kalo boleh tau Bapak Sayid meninggal karena apa Bu?"


Ibu-ibu itu terlihat saling menatap.


"Saya suami nya Shena Bu, anak nya Almarhum Pak Sayid."


"Oh jadi Mas ini orang nya, tampan ya."


"Terimakasih Bu."


"21 tahun lalu Pak Sayid meninggal karena kecelakaan perahu, perahu Pak Sayid di terjang badai, Ibu mertua mu itu Istri durhaka, namanya pasang surut rumah tangga terutama keuangan pasti ada, Bapak mertua mu di paksa jala ikan, padahal hari itu cuaca tidak bersahabat, langit gelap walau masih pagi, tapi karena Bapak mertua mu orang nya pendiam dan penurut dia menurut aja di suruh nyari ikan waalu cuaca jelek, mana lagi, anak pertama mereka, si Iqbal, di suruh ikut Bapak nya, ya itu akhir nya hujan badai lebat, perahu Sayid tenggelam, tapi jasad mereka tidak ketemu sampai sekarang, entah lah kemana hanya tuhan yang tau, belum lagi setelah anak dan suami nya hilang Ibu mertua mu kabur kawin lagi ninggalin anak perempuan nya Sayid."


"Innalilahi wainnailaihi roji'un." Arga yakin Shena tidak mengetahui cerita ini, karena jika Shena tau pasti Shena sudah menceritakan pada Arga.


"Di pantai ini Bu."


"Iya Mas, memang nya Mas tidak tau cerita ini."


"Belum Bu."


"Memang lah Bu Rohima tidak mau anak nya Sayid yang perempuan tau." Ucap salah satu Ibu-ibu.


Arga mengingat Shena pernah berkata jika Shena tidak pernah mengunjungi makam Ayah nya, jadi ini alasan Nenek dan keluarga Shena, sungguh malang nasip Istri nya itu, tiba-tiba Arga teringat Shena di rumah.


"Berapa Bu?"


"5 ribu Mas."


Arga mengeluarkan uang lembaran 50 ribu.


"Sisa nya untuk Ibu."


"Terimakasih Mas, oh iya Mas, menurut saya Istri sampean ya berhak tau, kan dia sudah dewasa dan menikah."


Arga tersenyum kecil.


"Ya Bu."


Lalu Arga bergegas melangkah menuju rumah Nenek Rohima dengan kembali berjalan kaki, 10 menit kemudian Arga sudah sampai di rumah Nenek Rohima.


"Assalamu'alaikum Nek." Arga memberi salam saat ia memasuki rumah.


Arga melihat keadaan sekitar.


"Nenek belum pulang." Lalu Arga melangkah menuju kamar Shena.


Terlihat Shena masih tidur dengan kipas angin yang tetap menyala, Arga menghampiri Shena dan naik ke atas ranjang.


"Sayang...." Panggil Arga pada Shena yang memunggungi nya.


"Iya." Jawab Shena lemah, lalu mencoba duduk menghadap Arga.


Mata Arga terbelalak.


"Astaghfirullah Yang...."

__ADS_1


__ADS_2