Gadis Manis Milik Daddy Arga

Gadis Manis Milik Daddy Arga
Ongkos pulang nya mahal.


__ADS_3

Dengan hikmad acara Lamaran Ricko & Naira sedang berlangsung, dekorasi ruangan nuansa White-Pink membuat kesan Romantis semakin terasa.


Satu persatu Paman Ibnu mewakili keluarga, memperkenalkan anggota keluarga mereka karena memang ini pertemuan pertama kedua keluarga itu.


"Ini Papah dari Ricko, Bakrie Rahardi, Mamah dari Ricko Wirda Rahardi, Ananda Ricko ini anak tertua, Ricko Bagaskara Rahardi, di sebelah sana adik dari Ricko Argani Davkara Rahardi, dan Salwa Anisa Rahardi, yang ada di pangkuan nak Arga itu adalah Cucu pertama keluarga Rahardi anak dari Ananda Arga nama nya Shaka Sagara Rahardi."


******


Tangan Arga terus mengelus rambut Shaka yang tertidur pulas di pangkuan nya, beberapa kali Salwa menawarkan bergantian memangku Shaka namun Arga menolak.


Sesungguhnya hati nya saat ini sedang tidak baik-baik saja, melihat prosesi lamaran ini mengingatkan prosesi lamaran nya dengan Sarah, tentu saja Arga akan teringat, hampir 2 tahun Sarah menjadi teman nya setiap hari.


Jika Arga ingin memilih, tentu Arga tidak ingin rumah tangga nya hancur, soal bagaimana Sarah di masa lalu yang baru terungkap saat menikah, Arga sudah menerima nya dengan lapang dada.


Tapi mengapa kamu membuka kembali luka yang dalam itu Sarah?


Air mata Arga tertahan di sudut sana, sepertinya Arga akan kembali berbicara dari hati ke hati dengan Sarah, untuk meyakinkan hati nya sendiri.


"Kak, minum." Tawar Salwa, Salwa tau jika saat ini suasana hati Kakak nya sedang tidak baik-baik saja. Arga menggeleng kecil, tanda menolak.


Saat tiba prosesi pemotretan Arga menolak ikut berfoto, Ricko memutuskan menghampiri Adik nya.


"Ga." Ricko menepuk pundak Arga.


"Kenapa?"


"Enggak Bang, santai aja, sana balik lagi." Arga benar-benar memaksakan senyum nya.


"Maaf Ga, di saat kamu terpuruk Abang malah ngelamar Naira, maaf mungkin Abang udah buat perasaan kamu tersinggung."


Arga langsung mendongak, jika nada bicara Ricko sudah begini tanda nya Ricko sudah masuk dalam mode serius.


"Bang, bukan karena itu, Arga malah seneng Bang, justru Arga yang merasa bersalah dulu udah ngelewatin Abang."


Ricko memeluk Adik nya.


"Maaf Ga, mungkin kalo Abang lebih tegas, nggak akan gini jadi nya."


"Udah lah Bang, ini bukan salah siapa-siapa, Arga ikhlas udah-udah Sana balik, malah meluk-meluk gua, di liat Teh Naira entar di kira Gay lo."


Pletak...... Ricko menyentil dada Arga.


"Awas lo, sini ikut...." Ricko bangkit sembari menarik tangan Arga agar ikut pemotretan.


Saat sedang sibuk berfoto ria, Salwa mengeluh kan Handphone nya yang Lowbat.


"Padahal mau foto buat di posting." Keluh Salwa, tanpa fikir panjang Arga memberi salah satu HandPhone nya yang ia gunakan Khusus untuk menghubungi orang-orang terdekat di luar pekerjaan.


Salwa menggunakan HandPhone itu untuk berfoto ria, Arga memilih kembali duduk menikmati waktu nya bersama dengan Shaka, karena hari ini juga Arga akan kembali ke Ibu kota.


******


Tepat pukul 13:00, keluarga besar dari pihak Papah mau pun Mamah sudah kembali di kediaman Bakrie, sebelum keluarga nya kembali menuju kediaman masing-masing Mamah sudah menyiapkan buah tangan.


Buah tangan di bagikan untuk keluarga maupun tetangga, keluarga Papah Bakrie memang di kenal Dermawan dan bijaksana, begitupun dengan anak-anak nya.


Salwa aktif di bidang sosial, di usia nya yang menginjak 23 tahun Salwa menaungi 3 panti asuhan, dan juga kebun teh di bawah tangan nya.


Ricko, di usia nya yang ke 28 tahun sudah mampu memimpin Perusahaan induk keluarga Bakrie yang bergerak di bidang Property.


Arga di usia nya 27 tahun sudah mampu menaungi Perusahaan cabang dan beberapa usaha kecil-kecilan, seperti taman wisata, dan Restoran Seafood di beberapa cabang di Bandung yang cukup populer.

__ADS_1


Dengan pencapaian ini, bukan mudah bagi Papah Bakrie dan Mamah Wirda dalam mendidik ke-tiga anak mereka, kini mereka tinggal menikmati hasil nya saja.


*****


Han, Ricko, Haris dan Yudha berpamitan menuju Ibukota bersama, sedangkan Arga berpisah dengan mereka, dengan alasan akan mengunjungi Restoran Seafood nya terlebih dahulu.


Ternyata bukan alasan Arga benar-benar mengunjungi Restoran nya, seluruh karyawan yang melihat dan mengenali Arga sedikit membungkuk kan badan memberi hormat pada Arga, Arga memberi senyuman sekedar nya lalu melangkah menuju ruangan kerja milik nya.


Arga membuka Handphone nya lalu menghubungi Shena terlebih dahulu, tak menunggu lama Shena sudah menjawab panggilan telfon Arga.


"Mas Arga..."


"Iya, maaf kalo lama ya Shen, kamu suntuk ya di Hotel."


"Nggak kok Mas, Mas Arga masih lama ya?"


"Sebentar lagi aku jemput kamu ya, kalo kamu suntuk keluar jalan-jalan, tapi jangan jauh-jauh, Handphone nya di bawa terus."


"Aku nunggu Mas Arga aja, Bandung masih musim hujan dingin banget."


"Yaudah kalo gitu, tunggu aku ya."


"Iya Mas."


Arga mematikkan panggilan telfon.


Tok..tok..tok.. Seseorang mengetuk pintu.


"Masuk."


Ceklek...Pintu terbuka Inggit, manager Restoran Arga yang datang.


"Terimakasih, silahkan duduk."


Inggit duduk berhadapan dengan Arga, Arga fokus membolak-balik kan kertas yang cukup tebal itu.


"Ini akan saya bawa dan pelajari, apa ada yang ingin kamu sampai kan?"


"Begini Pak, dari penilaian pengunjung mereka sangat puas dengan kerja kita, mulai dari kecepatan penyajian, rasa, porsi, dan tempat yang kekinian, tapi mereka menyarankan menambahkan beberapa jenis minuman Pak."


Inggit menjelaskan dengan sangat fasih dan elegan tidak ingin terlihat buruk di depan Bos nya.


"Baiklah akan saya urus segera, menurut kamu apa saja jenis minuman yang akan kita tambahkan?"


"Dari sekian banyak yang Request rata-rata mereka meminta minuman kekinian, seperti Boba Pak, dan Request lain, asalkan minuman dingin, segar, dan enak Pak."


"Kalau tidak enak, tidak akan saya jual Ngit."


Inggit menggaruk tengkuk nya.


"Iya ya Pak, semua nya sudah saya rangkum di situ Pak." Inggit menunjuk dengan sopan dokumen di tangan Arga.


Arga tersenyum ramah, tanda ia puas dengan kerja Inggit.


"Baik kalau begitu, bungkus kan saya 1 porsi jumbo Seafood ." Ucap Arga sembari berdiri dan di susul oleh Inggit.


Arga duduk menunggu pesanan nya sembari memainkan benda pipih yang tidak pernah tertinggal oleh sebagian besar manusia di zaman sekarang.


Seorang wanita mengenakan seragam Restoran milik Arga menghampiri Arga, menghidangkan segelas Jus jeruk untuk Arga.


"Silahkan Pak." Ucap Wanita itu Ramah, namun hanya di jawab anggukan oleh Arga, karena Arga sibuk bertukar pesan dengan Shena.

__ADS_1


Tak lama Wanita itu kembali dengan kantong di tangan nya.


"Ini Pak pesanan nya."


"Terimakasih." Arga berdiri hendak pergi, namun Wanita itu mencegah Arga.


"Bapak sudah bayar belum?" Wanita itu bertanya dengan polos nya.


"Ngutang." Ucap Arga kesal lalu kembali melangkah pergi, wanita itu terus mengejar dan menghadang Arga.


"Bapak nyuri ya." Tuding wanita itu, hingga kini semua pasang mata melihat ke arah mereka dan mulai berbisik-bisik.


Arga memasukkan Handphone nya dalam kantong celana lalu menatap Wanita itu dengan tatapan tajam.


"Kamu pernah mendengar nama Argani Rahardi?"


Wanita itu menggeleng, tak lama Inggit datang.


"Ada apa Pak?"


"Dapat Karyawan dari mana kamu, Karyawan yang tidak mengenal Bos nya sendiri." Ucap Arga penuh penekanan.


Wanita itu membelalakkan mata nya.


"Dia Karyawan baru Pak, baru beberapa hari bekerja di Restoran Bapak."


"Maaf Pak, saya tidak tau....."


"Siapa nama kamu, dan asal kamu." Arga memotong ucapan Wanita itu.


"Nama saya Sania Pak, asal saya dari Lampung, saya jangan di pecat ya Pak, ongkos pulang nya mahal."


"Bukan urusan saya, nama kamu saya masukkan dalam daftar hitam, 1 kali lagi kamu melakukan kesalahan, saya pecat kamu."


"Maaf Pak." Sania semakin menunduk.


Arga menggeleng lalu pergi, Sania menatap Inggit.


"Jangan pecat saya ya Buk."


"Iya, saya juga salah, tadi lupa ngasih tau kamu kalo itu Pak Arga pemilik Restoran ini."


"Iya Buk, terimakasih."


"Udah sekarang kembali kerja."


Sania berjalan lemas menuju dapur.


"Sial banget baru berapa hari kerja ada aja masalah."


"Kenapa San." Tanya Wira salah seorang juru masak, yang juga memberi lowongan untuk Sania.


"Nggak Wir, yuk kerja lagi."


"Bener." Wira kembali meyakinkan.


"Iya..."


******


Jangan lupa like ya.... Cerita masih banyak kekurangan, mohon koreksi 🙏🏽🙏🏽

__ADS_1


__ADS_2