Gadis Manis Milik Daddy Arga

Gadis Manis Milik Daddy Arga
Pesisir Barat Part 2


__ADS_3

"Harus nya itu rumah nya Mas, kalo dulu masih sederhana." Tunjuk Shena pada rumah minimalis kuning, beberapa warga yang berada di luar rumah terlihat memperhatikan ke 2 mobil yang membawa rombongan Arga.


"Turun bro." Pinta Bian, Bian langsung turun dari mobil dan di susul Yudha dan Haris, terlihat mereka menghampiri warga sekitar dan terdengar menanyai rumah Nenek Rohima.


"Maaf sebelum nya jika mengganggu Bu, apa di sekitar sini ada yang bernama Nenek/Ibu Rohima." Terdengar Bian menanyai dengan sopan.


"Betul ada Mas, itu rumah nya." Tunjuk warga kepada rumah yang di yakini Shena rumah Nenek nya sebelum nya.


"Baik terimakasih."


"Sama-sama."


Mereka menghampiri rumah Nenek Rohima.


"Assalamualaikum selamat siang." Yudha mengucapkan salam.


"Wa'alaikum salam siapa ya." Terlihat seorang wanita muda keluar dari dalam rumah.


"Itu siapa sayang, kamu inget?" Tanya Arga pada Shena.


"Nggak Mas, siapa ya" Shena menggeleng.


"Apa benar ini rumah Nenek Rohima?"


"Ya betul, anda-anda ini siapa, ada perlu apa dengan Nenek saya." Tanya Wanita itu.


"Kami ada keperluan penting dengan Nenek Rohima, boleh panggilkan Nenek Rohima, dan kami akan menunggu di sini." Ucap Bian pada Wanita itu dan mereka duduk di kursi teras rumah.


"Tunggu sebentar." Wanita itu kembali masuk ke dalam rumah, tak lama wanita itu kembali dengan seorang Nenek yang wajah nya sudah di penuhi keriput, rambut putih, namun masih terlihat cukup bugar.


"Nenek, itu Nenek ku Mas." Tunjuk Shena pada Nenek Rohima.


"Alhamdulillah bener." Ucap Arga pada Bian lewat earphone.


"Selamat siang Nek, bagaimana kabar nya sehat?" Bian berdiri menyalami Nenek Rohima dan di susul Yudha dan Arga.


"Sehat, Adik-adik ini siapa." Tanya Nenek Rohima.


"Kami ingin ngobrol sebentar dengan Nenek, boleh Nek."


"Boleh, asal kalian bukan orang jahat" Jawab Nenek Rohima dan di balas tawa oleh Bian.


"Rika, buatkan kopi." Ucap Nenek Rohima pada wanita muda itu.


"Ya Nek."


"Perkenalkan Nek, saya Bian, dan ini Yudha, ini Haris, kami ini datang dari jauh Nek, tepat nya Jakarta."


"Jauh sekali, apa tujuan kalian kesini."


"Saya ini pengacara Nek, Yudha dan Haris ini kebetulan intel polisi, Sebelum nya saya mau bertanya, apa Nenek mempunyai cucu perempuan yang lama pergi?"


"Ya, punya, entah di mana dia sekarang."

__ADS_1


"Siapa Namanya Nenek."


"Shena, Afshena namanya."


"Tidak salah Nek?" Tanya Bian


"Tidak, namanya Afshena Fania, saya yang beri nama, mana mungkin saya lupa."


Bian bernafas lega.


"Panggilan kecil ku Mas." Ucap Shena pada Arga, dan Arga menyampaikan kepada Bian.


"Apa kalian tahu di mana Afshena, kenapa kalian tanya tentang dia."


"Iya Nek, kami tau."


Nenek Rohima membelalakkan mata nya.


"*Yang benar."


"Iya Nek*."


"Alhamdulillah...." Nenek Rohima bersujud di lantai mengetahui Shena masih hidup.


"Ya Allah, Alhamdulillah cucu ku masih hidup." Nenek bersujud sukur dan menangis, warga yang melihat nya langsung mendekat melihat apa yang sedang terjadi.


"Kenapa la Nek."


"Iya, ada apa menangis" Tanya tetangga Nenek.


Nenek menangis tersedu-sedu, Shena yang melihat nya ikut menangis juga, ternyata kasih sayang Nenek nya tidak berubah.


"Iya apa Mas, di mana Shena, sehat apa dia, Alhamdulillah." Tanya Warga yang sudah mulai berkerumun di rumah Nenek Rohima.


"Betul Bu, Shena ada, dia sehat." Jelas Haris.


"Bawa dia kesini Dik, saya ingin peluk dia, saya ingin tanya, kenapa dia pergi, ada apa?" Ucap Nenek Rohima lagi pada Bian.


Prang.... Wanita yang diminta Nenek Rohima membuat kopi menjatuhkan nampan berisi kopi panas.


"Shena!! di mana Shena Nek." Ucap wanita itu.


"Dia ada, tapi sebelum nya saya mau tanya, apa kalian tahu kenapa 8 tahun lalu dia pergi?"


"Tidak, kami tidak tau, kenapa adik saya pergi, kemana dia Pak." Tanya wanita muda itu.


"Kamu punya Kakak sayang?" Tanya Arga pada Shena karena mendengar dari earphone wanita itu menyebut Shena Adik nya.


"Nggak Mas, siapa ya dia?" Tanya Shena heran.


"Kata Bibi dia, yang mengurus dia(Ibu angkat Shena) Shena pergi tiba-tiba, kalau Paman dia (Bapak tiri Shena) dia pergi karena di pergoki keluar malam-malam."


Shena memegangi dada nya mendengar mereka membicarakan Ayah tiri Shena.

__ADS_1


"Boleh saya tau di mana Paman Shena itu?"


"Dia ada di rumah nya."


"Begini ya Nek, sesuai pengakuan Shena bahwa dia pergi karena Paman nya ini hampir melakukan pelecehan terhadap dia, jadi tujuan utama kami adalah menangkap pria itu."


Nenek Rohimah, wanita muda, dan para Warga sangat kaget.


"Jangan asal menuduh, benar apa itu."


"Kami punya bukti, sekarang Nenek beri kami alamat dan kami akan menangani dia."


Wanita muda itu cepat-cepat memberitahu alamat Ibu angkat Shena, dan warga mulai kasak kusuk berbisik tak menyangka atas perilaku Paman Shena.


"Saya akan panggil polisi terlebih dahulu." Terlihat Bian menjauh dan menelfon kepolisian sekitar yang memang sudah Bian hubungi sebelum mereka menuju Pesisir Barat, karena inilah Bian optimis lancar dalam kasus nya kali ini.


"Kalau memang bersalah menantu saya itu, silahkan adili dia, saya juga kurang percaya kalau Shena pergi hanya karena di pergoki keluar malam, hukum dia." Nenek Rohima terus menangis.


"Di mana Shena sekarang, apa dia ada di sini."


"Ada Nek, tapi saya belum tau, apa Shena siap bertemu kalian atau tidak."


"Sampaikan ke Shena, Nenek kangen, temui Nenek." Ucap Nenek Rohima.


"Kamu mau turun sayang." Tanya Arga pada Shena."


Shena yang sudah berurai air mata mengangguk perlahan.


"Ayo kita semua turun." Ucap Arga lewat earphone.


Arga turun membukakan pintu untuk Shena, begitupun dengan Salwa, Han, Ricko dan Naira, namun para Warga tidak menyadari kedatangan mereka karena fokus pada Bian, Shena sedikit menyembunyikan tubuh nya di belakang Arga, di dampingi Salwa, Tangan Shena menggenggam erat tangan Arga.


Haris melihat kedatangan mereka.


"Nenek, itu Shena." Ucap Haris pada Nenek Rohima, para Warga langsung mengikuti arah tunjuk Haris.


Nenek Rohima bangkit dan menghampiri mereka.


"Afshena....." Panggil Nenek pada Shena, Shena menghapus air mata nya dan menghampiri Nenek.


"Iy...iya ...ini Shena Nek."


Nenek Rohimah memeluk Shena.


"Cucu ku, di mana aja kamu, Nenek nyariin, kemana-mana kamu nggak ada, nggak ketemu."


"Shena baik-baik aja Nek."


"Cucuku...." Nenek mengusap-ngusap rambut Shena, para warga pun ikut menghampiri dan memeluk Shena satu persatu, walau Shena ingat-ingat lupa namun Shena tetap menyapa ramah, tak lama 1 mobil polisi datang, Bian langsung menghampiri.


"Ini Pak, alamat nya, saya harap secepatnya tertangkap, adili sesuai hukum yang berlaku."


"Baik Bapak Arbian, kami akan berusaha, dan satu kebanggaan tersendiri bisa bertemu dengan anda."

__ADS_1


"Iya Pak, terimakasih saya sangat tersanjung." Polisi itu segera berlalu menyambangi alamat yang tertera, ya mereka mengenal Bian, siapa yang tidak mengenal Arbian Cakna Hartono, anak dari pengacara kondang Aji Hartono, pengacara yang selalu mencari keadilan dalam kasus nya dan kini menjadi pengacara senior terpandang.


__ADS_2