Gadis Manis Milik Daddy Arga

Gadis Manis Milik Daddy Arga
Shaka


__ADS_3

"Shen ayo kita pulang." Ucap Arga kepada Shena yang duduk manis di kursi tunggu.


"Iya Mas." Shena segera bangkit, Arga kembali menggenggam tangan Shena, jujur saja Shena merasa nyaman dengan perlakuan Arga, jadi Shena membiarkan saja.


Kini Arga dan Shena sedang di perjalanan pulang, ponsel Arga berdering tanda panggilan masuk, Arga melihat ponsel nya ternyata Sarah yang menelfon, Arga mengklik tanda silang merah, namun Ponsel nya kembali berdering, Arga menggunakan earphone lalu membalik ponsel nya agar tidak di lihat Shena.


"Hallo..."


".................."


"Masih di jalan."


"........."


"Nggak, belum bisa minggu ini, mungkin minggu depan Sar."


"............."


"Ya nggak gitu, aku kangen sama Shaka, tapi aku baru sehari balik ke Jakarta, tiap hari juga aku vidio call."


"........"


"Jangan ngajak debat Sar, lebih tega aku apa kamu."


"..........."


Arga memilih mematikan ponsel nya.


'Nyata nya kamu yang ninggalin aku sama Shaka Sar.' Arga hanya bisa marah dalam hati nya, sedangkan Shena cukup diam, dia tidak ingin terlalu banyak bertanya, walau sebenarnya penasaran siapa yang menelfon Arga, hingga membuat Arga marah.


Memasuki gerbang rumah Arga terbelalak melihat mobil milik sahabat nya sudah terparkir di halaman.


'Astaga Yudha, Haris, kacau-kacau.' Arga memijit dahi nya, bukan nya tidak senang sahabat nya datang, tapi kenapa waktu nya tidak tepat sekali.


"Mas itu mobil siapa?"


"Itu sahabat ku Shen, Shena kamu dengerin aku ya, nanti kamu langsung masuk kamar, jangan keluar sebelum aku panggil oke."


"Memang kenapa Mas, kalo temen Mas butuh sesuatu gimana, misal nya minum."


"Mereka bisa cari sendiri, pokok nya kamu harus nurut ya."


"Iya Mas."


Arga dan Shena keluar, dengan tetap menggandeng tangan Shena mereka memasuki rumah, Arga melihat Yudha, Haris dan.... Han, rasanya Arga ingin memberi bogem Han sekarang juga.


'Mulut lo kayak ember bocor Han, dasar kampret'


"Ehm...." Arga berdehem membuat 3 pentol korek itu langsung menoleh, dengan cepat juga Arga meminta Shena segera naik ke atas.


"Eh Mbak tunggu, namanya siapa?" pekik Yudha.


"Wah wah.... Arga, nemu di mana lu, buat gue boleh?"


"Mata mu, lu Han, mulut lu bener-bener ya."


Arga menunjuk Han yang pura-pura sibuk dengan ponsel nya.


"Ga, buat gue ya."


"Ga... emang hebat lu Ga, sahabat terbaik dah, makasih banyak loh Ga."


Yuda dan Haris terus mengoceh tanpa melihat Arga yang sudah mengibarkan bendera perang pada Han.


"Stop..... !! Dia bukan mainan, kalo lu pada mau, cari sono cewek pinggir jalan banyak."


Yudha dan Haris melongo, biasanya jika ada wanita di rumah ini berarti wanita itu hiburan untuk mereka, kenapa kali ini berbeda.

__ADS_1


"Maksud lu, bercanda kan lu Ga?" Yudha masih belum percaya dengan kata-kata Arga barusan.


"Telinga kita yang kurang di korek kali ya?" Haris mengusap-usap telinga nya, Han juga sebenarnya kaget mendengar nya, namun Han masih tetap dengan kepura-puraan nya.


"Gue serius." Jawab Arga singkat lalu duduk di sofa, Yuda dan Haris pun ikut duduk.


"Lu serius Ga, jadi mau lu nikahin tu cewek, emang lu nemu di mana?"


"Privasi Yud, nggak usah tanya-tanya."


"Tunggu-tunggu, jadi lu beneran serius ma tu cewek, bakal cerai dong lu, jadi duda."


"Ya nggak segampang itu Yud."


"Gua kira lu ngomong nggak suka sama Sarah lu cuma gengsi ngakuin aja." Timbrung Haris.


"Kalo gua boleh jujur ya gua sebenernya udah mulai buka hati buat Sarah, tapi...."


"Karena dia minggat?" Tebak Haris


Arga mengangguk, Han yang semakin kepo akhirnya mendekati ke 3 sahabat nya itu.


"Tu cewek tau kalo lu udah punya buntut?"


Arga menggeleng.


"Jadi gimana rencana lu kedepan nya?" Tanya Haris


"Gua ikutin aja dulu alurnya, gua nggak bisa nyerein si Sarah gitu aja."


"Gua setuju sama Arga." Ucap Han.


"Banyak yang harus gua fikirin mateng-mateng, kayak hak asuh anak gua, kalo penyebab perceraian gua yang salah, bisa-bisa hak asuh sepenuh nya di tangan Sarah, harta gono-gini, bisa-bisa setengah harta gua jatuh ke tangan Sarah, oke kalo buat Shaka, kalo dia hambur-hamburin, lu pada tau sendiri siapa Sarah."


Yudha, Han dan Haris manggut-manggut setuju dengan ucapan Arga.


"Shena namanya, ya, Shena baru kemarin malem gua bawa kesini."


"What, kemaren malem, cepet banget lu cari bini lagi hehehe" Yuda terkekeh.


"Namanya hati nggak bisa di bohongin kan, gimana lagi."


"Emang tu cewek suka sama lu?" Tanya Han.


"Lah cewek mana yang mampu nolak pesona Argai, udah ganteng banyak duit, pinter, paket lengkap gua mah."


"Beh pede banget." Ucap Yudha sembari bangkit lalu memposisikan diri di depan televisi yang sedang menayangkan film Action.


Haris dan Han ikut bangkit menyusul Yudha, sementara Arga yang terfikir akan Shena memutuskan melihat Shena terlebih dahulu sebelum ikut bergabung dengan sahabat nya.


Arga menaiki anak tangga, di lihat nya pintu kamar Shena tertutup rapat.


"Shena." Panggil Arga namun tak ada jawaban.


"Shen." Arga memutar knop pintu, ternyata tidak di kunci.


Arga tersenyum melihat Shena tidur pulas sembari memeluk guling, Arga mendekati ranjang Shena lalu melepas topi dan masker nya dan di taruh di atas nakas, kemudian Arga melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh wajah nya.


Arga kembali keluar, mendekati ranjang Shena, di lihat nya dengan teliti setiap inci wajah Shena.


"Kamu bener-bener cantik Shen, tidur yang nyenyak, mimpi yang indah."


Cup....


Arga mengecup dahi Shena, entah kenapa pandangan Arga turun di bibir merah Shena, Arga mendekat kan bibir nya di bibir Shena, bibir Arga ******* bibir Shena dengan hati-hati dan lembut.


"Akh... Crazy." Arga menghentikan kegilaan nya lalu cepat turun bergabung dengan sahabat nya.

__ADS_1


Mereka fokus menonton film Action, tak terasa waktu menunjukkan pukul 02:30 dini hari, ini lah kebiasaan mereka dari masa putih abu-abu, bahkan Arga mempersembahkan rumah dan lahan luas ini untuk para sahabat tercinta nya, keluarga nya tidak ada yang mengetahui jika Arga mempunyai tempat ini, dengan keusilan mereka juga setiap wanita yang mereka bawa akan di tutup mata agar tempat ini tidak bocor, mungkin jika Ricko mengetahui jika 4 cecunguk ini punya tempat tersembunyi untuk bersenang-senang berkedok kebun buah mereka akan habis di tangan Ricko yang notabe nya adalah anak sholeh kebanggaan orang tua.


"Jadi gimana rencana lo kedepan nya, nikah?" Tanya Haris memecahkan keheningan.


"Gua terlalu jahat nggak sama Sarah, gimana Sarah nanti."


"Yaudah lu bini 2 aja." Ucap Yudha dan langsung di tonyor oleh Haris.


"Tapi menurut gua Haris bener Ga, lu sama Shena sama-sama udah dewasa, gua nggak yakin kalo lu berdua nggak akan ngapa-ngapain." Ucap Han.


"He'eh, nanti lu indehoy sama Shena terus punya anak di luar nikah gimana coba, beh bahaya itu, ribet ntar kalo tu anak udah gede." Ucap Yudha yang bicara nya selalu ceplos-ceplos namun selalu benar.


Arga langsung menatap Yudha.


"Bener banget lu Yud, gua udah mulai buka hati buat Sarah tapi dia malah pergi, dan lu semua tau kan siapa Sarah, gimana kehidupan nya sebelum sama gua, kalo nggak demi nyokap sebenernya gua nggak mau nikah sama dia."


"Cih... jangan kan kita, Ricko aja tau, tapi lu sama Ricko terlalu naif." Yudha bergidik ngeri.


"Eliminates virginity to a man who is not her husband, and I think she does it not only to 1 man." Ucap Haris sembari menggeleng.


Suasana kembali hening, tak terasa kini 4 sekawan itu sudah berlayar di pulau mimpi dengan televisi yang tetap menyala, walau hanya tidur di atas sofa namun mereka sangat nyenyak.


******


Matahari pagi yang terang dan hangat menembus jendela kamar Shena, Shena mengusap mata nya karena terkena pantulan sinar matahari yang menyilaukan.


"Udah pagi." Shena duduk lalu mengangkat tangan nya tinggi-tinggi untuk meregang kan otot-otot nya yang terasa kaku.


Seperti biasa Shena melaksanakan ritual pagi nya lalu turun untuk membuat sarapan, saat menuruni tangga Shena melihat 4 anak manusia yang tidur bertumpukan.


"Owh... Temen-temen nya Mas Arga minep."


Shena mematikan televisi yang menyala lalu melanjutkan langkah nya yang terhenti, sampai di dapur Shena membuka kulkas lalu melihat apa saja yang bisa ia sajikan untuk Arga dan Sahabat nya.


Setelah kurang lebih 1 jam lama nya memasak akhir nya masakan Shena siap di sajikan, Shena tersenyum puas melihat semua nya sudah tertata rapi.


Shena kembali melangkah menuju ruang depan 'Belum bangun' Shena melihat jam dinding menunjukkan pukul 7:59.


Shena memutuskan untuk mandi lalu berberes rumah dan menyapu halaman depan, baru saja Shena akan melangkah menaiki tangga Shena mendengar dering ponsel, Shena memperhatikan ponsel yang terletak di atas nakas.


"Kayak nya punya Mas Arga." Shena mendekati ponsel itu, dengan jelas nama pemanggil adalah Mamy Shaka, setelah telfon itu berakhir karena tidak di jawab layar ponsel Arga menampilkan beberapa pesan WhatsApp, Shena menyipitkan mata nya membaca pesan yang berbaris panjang tanpa menyentuh ponsel itu.


Haris 'Arga lo dimana, kita bertiga di markas nih'


Mamah 'Ga, ini Shaka mulai Mamah kasih MPASI ya, kan udah 6 bulan lebih.'


Mamah 'Shaka suka lo Ga MPASI nya.'


Mamy Shaka 'Aku pengen VC Shaka tapi nggak di angkat Mamah.'


Mamy Shaka 'Angkat.....'


Belum selesai Shena membaca nya ponsel itu sudah di ambil pemilik nya, Shena langsung menjauh dari Arga yang sudah berdiri di dekat nakas.


"Jangan sembarangan! ini Privasi." Ucap Arga penuh penekanan, bukan karena Arga marah pada Shena, tapi Arga takut Shena akan mengetahui semua tentang nya, Shena belum bisa mengetahui sekarang karena belum saat nya, Arga juga belum mengetahui perasaan Shena sesungguh nya.


"Maaf." Ucap Shena lalu menunduk.


"Jangan ulangin!!"


Shena mengangguk kecil lalu memilih undur diri menuju kamar nya lalu mandi.


Jangan lupa like ya.... Cerita masih banyak kekurangan, mohon koreksi πŸ™πŸ½πŸ™πŸ½.


Nggak susah kok kasih jempol nya, tinggal klik aja tanpa mengurangi uang andaπŸ˜ŽπŸ€”πŸ˜


Kalo iklas di tambah vote, hadiah dan klik +❀️ ya 😁😁 Terimakasih bye bye..

__ADS_1


__ADS_2