
Tepat pukul 06:30 Shena bangun, mandi, dan membuat sarapan untuk Arga, Shena tidak akan melupakan tugas nya.
Arga menatap meja makan.
"Sayang ini seafood yang aku bawa kemarin ya?"
"Iya."
"Ini makanan kemarin loh Shen."
"Sayang Mas di buang, kalo Mas Arga nggak mau biar aku aja yang makan."
Arga menggeleng."Nggak bagus, udah buang aja." Arga memutuskan mengambil menu lain untuk sarapan nya.
Sedangkan Shena menciduk Seafood yang sudah di hangat kan nya.
"Enak banget Mas." Puji Shena.
Arga kembali menggeleng.
"Nanti aku pesenin lagi, udah itu dikit aja makan nya, nanti sakit perut, emang nya kamu nggak pernah makan Seafood?"
"Mas Arga ngeledek, Lumayan sering kok, pas masih kerja jadi ART sering di beliin majikan Mas, kampung halaman aku juga kan pantai Mas, seinget aku dulu aku sama temen-temen sering bakar-bakar kerang di pinggir laut, temen aku yang nama nya Wira pinter banget ngolah kerang laut, sama gurita, padahal cuma di kasih micin sama garem abis itu di bakar, tapi rasanya enak banget."
"Oh ya, laki-laki?"
"Iya, aku nggak akan ngelupain Sahabat aku di sana Mas, Wira, Rasi, Sania, tapi apa mereka masih inget sama aku ya."
Arga mengelus kepala Shena.
"Pasti inget Sayang, kamu liat persahabatan aku, Farhan, Haris sama Yudha, sahabat sejati itu sampai mati pun akan saling ingat sayang, aku minta sama kamu jangan risih ya, kalo mereka sering dateng, mereka baik-baik, saat aku terpuruk pun, mereka selalu ada di deket aku sayang."
"Nggak mungkin lah aku risih Mas, malah aku seneng, temen-temen kamu itu humoris semua, menghibur, terus pengacara kemarin bukan Sahabat nya Mas Arga?"
"Itu temen sayang, kami kuliah satu kampus, beda fakultas."
Shena mengangguk.
"Boleh tanya nggak Mas."
"Silahkan " Arga menghadap Shena agar lebih jelas mendengar pertanyaan Shena.
"Mas Arga kuliah?"
"Yap."
"Jurusan apa?" Shena semakin antusias.
"Ekonomi management."
"S berapa Mas?"
"Es teh sayang." Arga mencubit pipi Shena gemas, karena baru kali ini Shena berbincang dengan leluasa tanpa malu-malu lagi dengan nya.
"Serius Mas."
"Nanti juga tau sendiri, ayo sarapan lagi."
Shena membuang nafas berat.
"Nanti aku pulang nya agak sore, jangan buka pintu kalo orang asing yang dateng, kita nggak ada sanak saudara di Jakarta, kecuali Abang sama Sahabat aku, Abang ku nggak mungkin juga kesini, kamu baik-baik ya, nanti mau di beliin apa?"
"Emm....nggak ada Mas."
"Kalo berubah fikiran Chat aja ya."
__ADS_1
"Iya Mas "
Mereka berdua melanjutkan sarapan dengan hikmad.
Pukul 7:20 Arga sudah siap menuju kantor, begitupun dengan Haris dan Han, disiplin adalah prinsip nomor 1 mereka.
Mereka mengendarai mobil milik masing-masing, sampai di kantor Natasya sekretaris Arga langsung membacakan jadwal hari ini, Arga mengangguk mengerti.
"Natasya, untuk minggu ini saya, Haris, dan Han hanya akan hadir pada hari ini dan besok, seterus nya kami akan mengambil cuti sampai akhir pekan, saya meyerahkan perusahaan sepenuh nya kepada kamu dan Vivi (sekretaris Han)."
"Baik Pak, kalo boleh tau mau kemana Pak?" Tanya Natasya.
"Traveling."
"Wah.... saya dan Vivi harus nya Bapak ajak, sebagai apresiasi kar......"
Natasya menelan saliva nya, Arga sudah menatap nya dengan tatapan sengit.
"Maaf Pak, permisi."
"Ckk... haus gratisan." Arga menatap Natasya yang cepat-cepat keluar dari ruangan nya
******
Shena duduk di atas ranjang sembari menikmati pemandangan Ibu Kota, ia baru saja selesai mencuci beberapa potong pakaian nya dan Arga.
(Anggep aja ada Shena duduk di atas ranjang gaes 😁)
"Selasa, Rabu." Shena membuang nafas nya kasar.
"Bantu aku ya Allah, kuatkan mental ku, semoga ini awal dari takdir baik, Aamiin."
Shena merebahkan tubuh nya, lalu membuka aplikasi YouTube, untuk mengasah hobi nya kembali, Shena memang pintar bernyanyi, Shena sangat bersyukur di balik kesedihan hidup nya masih ada bakat terselip dalam diri nya.
Shena kembali mengetikkan nama Arga di Instagram.
Argani
Arga
Arga Davkara
Namun Hasil nya tetap nihil
"Apa ya nama medsos Mas Arga, apa nanti aku tanya aja."
Lalu Shena membuka aplikasi WhatsApp nya, memandangi foto profil Arga, Kulit putih, rambut hitam, hah... bagaimana Shena bisa menolak pesona laki-laki ini, di tambah lagi, keromantisan Arga, membuat Shena semakin jatuh cinta.
Shena kembali membuka aplikasi YouTube, mencari lagu favorit nya lalu mengirimkan link kepada Arga.
******
Di tempat lain Arga menyadari jika ada pesan WhatsApp masuk di Handphone nya, namun Arga mengabaikan karena ia sedang menghadiri rapat dadakan di kantor induk, rapat kali ini cukup menyita waktu, bahkan menghadirkan Ricko sebagai Direktur utama.
Sudah 4 jam lama nya sejak waktu malam siang berakhir rapat ini belum juga usai, Ricko menemukan kejanggalan pada laporan keluar masuk barang bulan lalu di perusahaan yang di naungi Arga.
"Kami akan mengusut secara tuntas secepatnya."
"Bagus, sekecil apapun kejanggalan itu harus cepat di tangani, jika anda membiarkan saja oknum akan leluasa dan berakibat fatal, dan saya harap urusan pribadi anda tidak mempengaruhi kinerja anda Pak Arga." Ucap Ricko tegas.
"Baik Pak."
"Rapat hari ini kita akhiri sampai di sini, selamat sore."
__ADS_1
Seluruh staf membubarkan diri, Arga, Han, dan Natasya meregangkan otot-otot mereka terlebih dahulu.
"Panas sekali bokong saya, aduh..." Natasya mengusap-usap pantat nya.
"Ngeluh?!!" Arga melengos keluar dari ruang rapat, di susul Han dan Natasya.
"Bapak akan kembali ke kantor terlebih dahulu atau langsung pulang Pak?"
"Gua mau nengok rumah dulu Han, takut di bawa semut, gua bawa mobil lo, lo sama Natasya naik taksi bawa mobil gua pulang ke Apartemen ya."
"Siap Pak." Sampai di lobi Han menyerahkan kontak mobil nya kepada Arga.
Arga melaju dengan kecepatan sedang, kurang lebih 20 menit Arga sampai di kediaman nya bersama Sarah, menyadari bos nya datang Mang Dirjo dengan cekatan membukakan gerbang.
Arga memarkirkan mobil nya lalu menghampiri Mang dirjo terlebih dahulu.
"Gimana Mang, aman rumah?"
"Aman atuh Den, selama Mamang yang berjaga." Jawab Mang Dirjo dengan logat Sunda nya yang melekat.
"Oke... ini buat beli cemilan Mang."
Arga menyerahkan dua lembar uang seratusan kepada Mang Dirjo.
"Terimakasih Aden, semoga di lancarkan selalu rezeki dan urusan nya."
"Aamiin, saya masuk dulu ya Mang."
"Siap Aden."
Arga memasuki rumah besar itu, rumah dengan nuansa modern, bercat Blue+white, sesuai permintaan Sarah.
"Assalamu'alaikum, Bik Sarti." Arga duduk di sofa ruang keluarga.
"Wa'alaikum salam Den." Bi Sarti datang dengan tergopoh-gopoh.
"Duduk Bik, minta Sari bikin teh." Pinta Arga.
"Iya Den." Bi Sarti kembali menuju dapur meminta Sari, membuat kan teh untuk Arga, lalu kembali menemui Arga.
"Den Arga, di mana Den Shaka?" Tanya Bik Sarti.
"Shaka di Bandung sama Mamah Bik, maaf ya Bik, bukan Arga nggak percaya Shaka di rawat sama Bibik, tapi Bibik udah tua, Arga takut Bibik kecapean." Ucap Arga jujur ke pada perempuan yang sudah cukup renta itu.
"Bibik ngerti Den, Non Sarah bagaimana Den."
"Bik..." Arga mengkode jika ia tak ingin membahas nya.
"Bik, saya sekarang tinggal di Apartemen Haris, saya titip rumah ini ya Bik, kalo sewaktu-waktu ada yang datang cari saya, Bibik jawab apa adanya, termasuk kalo Bang Ricko yang nyari."
"Enggih Den."
Sari datang dengan nampan berisi teh.
"Silahkan Tuan."
"Terimakasih, saya cuma mau bilang itu Bik."
"Enggih, Bibik permisi Den." Bik Sarti kembali menuju dapur, melanjutkan kegiatan nya.
Arga meneguk secangkir teh hangat itu, lalu membuka pesan WhatsApp dari Shena, Arga mendengarkan lagu itu sambil tersenyum.
"Shena... Shena." Gumam Arga.
Lalu Arga naik ke lantai 2 menuju kamar nya, dan mengemasi pakaian nya untuk di bawa menuju Apartemen, Arga membawa 1 koper pakaian formal, dan 1 koper lain nya pakaian non formal.
__ADS_1
Jangan lupa like, fav, hadiah dan vote nya...😉🙏🏽