
"Mungkin Shena cuma main Ga, atau ke pusat perbelanjaan nyari kebutuhan dia." Tebak Haris.
Tiba-tiba pintu terbuka, Arga dan Haris sama-sama menengok, terlihat Shena menggandeng seorang gadis bersama nya, dada Arga menghangat, rasa lega kini menghampiri nya.
Arga segera berdiri menghampiri Shena.
"Dari mana aja sih Shen, kamu mau buat aku gila ya." Arga sedikit mengguncang bahu Shena, tanda jika dirinya benar-benar khawatir, lalu Arga memeluk Shena dengan erat tak perduli ada Haris dan Nisa.
"Mas malu." Bisik Shena.
"Terserah, salah siapa buat aku khawatir." Arga membalas dengan bisikan juga.
Lalu Shena mendorong tubuh Arga merasa tidak enak dengan Haris dan Nisa.
"Maaf ya Nisa, ayo duduk." Shena mempersilahkan Nisa duduk, mereka kini saling berhadapan dengan mulut terkunci.
"Dari mana." Arga membuka suara.
"Sebelum nya, kenalin Mas, ini Nisa, Nisa, ini Mas arga, dan ini Mas Haris."
Haris mengulurkan tangan nya lalu di susul oleh Arga.
"Haris."
"Arga."
"Nisa."
Mereka saling memperkenal kan diri.
"Dari mana?" Tanya Arga lagi, lalu Shena menceritakan kejadian sore ini kepada Arga.
Arga melirik Nisa.
"Terimakasih, lain kali silahkan berkunjung jika berkenan."
"Sama-sama, Insya Allah." Jawab Nisa ramah.
"Kalo main kesini, jangan lupa mampir di sebelah itu Apartemen aku." Haris mempromosikan diri.
"Insya Allah." Jawan Nisa sembari melirik Haris.
"Harga Handphone nya berapa sayang." Tanya Arga pada Shena.
"2 juta Mas." Jawab Shena lalu Arga bangkit melangkah menuju kamar, tak lama Arga keluar dengan uang cash di tangan nya.
"Ini uang 4 juta, sebagai ganti, dan rasa terimakasih karna anda perduli dengan Istri saya."
Arga menyodorkan uang itu kepada Nisa, membuat Nisa sedikit heran membuka mulut nya.
'Loh, malah kebalik aku yang dapet ganti rugi' Batin Nisa.
"Nggak usah, saya ikhlas dan itu memang salah saya."
"Saya kurang suka hutang budi." Sinis Arga.
"Apa-apaan sih Mas." Protes Shena.
"Rumah kamu di mana, biar di anter pulang sama Haris."
"Mas Arga!!" Shena tak habis fikir dengan sikap Arga kali ini.
Mendengar nya jiwa semangat Haris berkobar, namun....
__ADS_1
"Rumah saya di deket sini nggak perlu di anter. Shen, aku permisi pulang ya." Nisa bangkit lalu menyalami Shena dan melewati Arga tanpa mengambil uang pemberian Arga.
"Ayo saya anter, bahaya loh gadis malem-malem jalan sendiri." Haris ikut bangkit dan kembali menawarkan, namun Nisa hanya diam sembari terus melangkah.
Shena mengantar Nisa sampai pintu lalu melambaikan tangan kepada Nisa.
"Nanti main lagi ya Sa."
"Insya Allah Shena."
Lalu Shena kembali masuk dengan api yang berkobar di kepala nya, Shena menghampiri Arga lalu duduk di depan Arga.
"Apa maksud Mas Arga, kenapa sinis banget sama Nisa?!."
"Shena, dia itu cuma mau manfaatin kamu aja, biar kamu merasa hutang budi terus kita baik ke dia."
"Pemikiran kamu jelek banget Mas, kecewa aku sama kamu."
"Kita nggak tau loh sayang gimana isi hati orang, kita kan cuma jaga-jaga." Kekeh Arga.
"Liat-liat orang nya Mas, aku juga nggak bodoh-bodoh banget kok dalam nilai orang, sikap kamu tadi keterlaluan, terlalu berlebihan, kecewa banget aku sama kamu Mas."
Shena meninggalkan Arga lalu masuk ke dalam kamar, Shena mengunci pintu agar Arga tak bisa masuk.
Arga menggaruk kepala nya.
"Salah ya." lalu Arga menyusul Shena, ternyata pintu nya di kunci.
"Shena, buka sayang, aku minta maaf."
"Telat!!." Pekik Shena dari dalam kamar.
"Nanti kalo ketemu Nisa aku minta maaf sama dia, buka pintu nya." Bujuk Arga namun Shena tidak menjawab.
******
Haris menggaruk kepala nya.
"Eh, parkiran di sana, aku ambil mobil dulu."
"Saya bisa jalan kaki, rumah saya deket, kamu mending pergi sana, saya bisa pulang sendiri!!"
"Maaf ya, Arga memang gitu, tapi asli nya dia baik."
Nisa menghentikan langkah nya, lalu berbalik.
"Pergi!!"
"Jangan galak-galak, kan aku cuma ngomong, heheh."
"Oh... mau ngerasain bogem ya." Nisa menggulung lengan baju nya, lalu mengepalkan tangan nya dan mengarahkan ke wajah Haris.
Haris perlahan mundur menjauh.
"Sabar... sabar..."
Nisa semakin mendekat lalu.
"Akh...." Nisa tersandung dan jatuh tepat di atas tubuh Haris, jarak wajah nya dan wajah Haris hanya beberapa centi saja.
Haris dan Nisa sama-sama diam mematung, detak jantung mereka sama-sama berdetak lebih kencang.
"Astaghfirullah...." Nisa sadar lalu cepat-cepat bangkit.
__ADS_1
"Tolong." Haris mengulurkan tangan nya.
Tapi bukan nya menolong Nisa malah lari menjauh dari Haris, Haris menyungging kan senyuman nya lalu duduk.
"Hmm.... see you next time."
Haris bangkit lalu kembali menuju Apartemen nya.
******
Arga melangkah menuju kamar tamu, lalu membuka salah satu laci, mencari kunci cadangan kamar utama.
"Ini dia hehe." Arga tersenyum, lalu melangkah menuju kamar utama, dengan perlahan Arga memutar kunci dan membuka pintu.
Terlihat Shena duduk di dekat jendela, menyenderkan kepala nya di dinding kaca besar itu.
Arga melangkah perlahan agar Shena tidak menyadari kehadiran nya, lalu ia memeluk Shena dari belakang.
"Maaf sayang."
Shena membulatkan mata nya.
'Loh, kok bisa masuk.' Batin Shena, namun Shena hanya diam seakan-akan dia tak perduli sama sekali.
Arga masih memeluk Shena.
"Nggak akan aku ulangin."
Namun Shena tetap diam, Arga pindah posisi, kini ia berada di depan Shena.
"Sayang...." Arga mengacak rambut Shena, Shena masih diam.
"Ke Mall yuk, kita belanja, sebagai permintaan maaf." Arga tersenyum secerah mungkin, namun Shena hanya menatap nya datar.
Tapi bukan nya marah atau hilang kesabaran Arga malah semakin menyukai sifat Shena yang manja, karena ini lah wanita yang di idam kan nya, Arga jadi lebih terasa di butuhkan.
Rumah tangga nya dengan Sarah terlalu kaku dan serius, tidak ada bercanda, tidak ada momen bujuk-bujukan, tidak Sarah mendiamkan nya, tidak ada Sarah meminta pertolongan nya.
Menurut sebagian orang mungkin seperti itu lah rumah tangga idaman, namun menurut Arga itu terlalu serius, bahkan Arga sering iri saat melihat suami yang sibuk membujuk istri nya yang ngambek, suami yang sibuk mencari kan ngidam istri nya.
Sungguh, Arga tidak merasakan itu.
"Sayang, yuk kita shoping."
Shena menggeleng.
"Nggak PENGEN."
Arga ikut menyenderkan kepala nya mengikuti Shena, menatap wajah Shena sambil tersenyum membuat Shena menahan tawa nya sekuat mungkin.
Tiba-tiba Arga memegangi dada nya.
"Akh ..."
"Kenapa Mas?"
"Sakit Shen, Akh...."
"Mas, yang bener Mas, jangan bercanda."
"Bener sakit." Dan Bruk Arga ambruk tak sadarkan diri.
"Mas... Mas jangan gini bercanda nya, nggak lucu loh Mas." Shena mengguncang tubuh Arga.
__ADS_1