
"Kayak nya mobil satu cukup bro, Arga nyetir, Shena di depan sama Shaka, kita yang lain di belakang, nggak usah mobil 2 lah, gabut amat." Ucap Bian.
"Oke, ide bagus, tapi kita mampir ke Restoran seafood gua dulu ya." Ucap Arga kepada yang lain nya.
"Siap komandan, ayo kita berangkat biar nggak kemaleman, kasian Shaka." Yudha mendekati Papah, Mamah dan Salwa untuk berpamitan, yang lain pun menyusul Yudha.
"Kalian hati-hati ya, Arga kalo ngantuk gantian nyetir nya, Shena kalo pegel gendong Shaka gantian sama yang lain ya." Nasihat Mamah.
"Ya Mah, kami berangkat ya.".
"Iya, susu, dot, perlengkapan nya Shaka nggak ada yang tinggal kan?" Tanya Mamah pada Arga.
"Toko banyak Mah." Jawab Arga singkat.
"Kak Arga, di pikir enteng banget." Ucap Salwa.
"Hati-hati ya Mas Farhan, semangat kerja nya, pake earphone kalo bos kamu masih bawel ya." Tambah Salwa kepada Han.
"Iya Wa, kamu juga hati-hati kerja nya." Han memberi punggung, tangan nya untuk di cium Salwa.
Setelah berpamitan mereka langsung naik ke mobil dan Arga yang berada di kemudi segera melaju dengan kecepatan sedang.
Arga melirik Kakak dan teman-teman nya, mereka sudah memainkan Handphone masing-masing.
"Ga, jangan sampe bocor sampe sidang selesai." Ucap Yudha memecahkan keheningan, Arga mendongak merasa Yudha berbicara kepada nya.
"Bocor juga kenapa?" Tanya Arga dengan santai.
"Gila lo, Mau segeger apa Bandung sama Jakarta, bahkan indonesia kalo berita ini tersebar, gua tau lo nggak salah, kita bisa nunjukin bukti-bukti perselingkuhan Sarah, tapi nggak langsung kan, ada waktu di mana berita itu tersebar dengan sendiri nya, netizen beranggapan bahwa lo yang salah, ini masalah mental, netizen +62 serem bro!!!"
Arga menahan tawa mendengar ocehan sahabat nya, jika dalam menasihati seseorang Yudha memang tidak ada tandingan nya.
"Thanks bro." Arga memberi jempol kepada Yudha, beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di Restoran seafood milik Arga, mereka turun terkecuali Shena. Ricko mengambil alih gendongan Shaka.
"Duluan aja, aku buatin Shaka susu dulu ya Mas."
"Ya sayang." Arga menutup pintu dan menyusul yang lain.
Arga dan rombongan masuk ke dalam Restoran, semua mata pengunjung tertuju kepada mereka, bagaimana tidak, ketampanan mereka sungguh mempesona mata wanita yang melihat, pelayan yang melihat bos nya datang segera mendekat.
"Selamat sore Pak, ada yang bisa kami bantu?" Tanya pelayan itu sopan.
"Tolong meja untuk 7 orang, 1 kursi duduk bayi, dan menu terbaik + minuman baru kita."
"Siap Pak, segera kami hidangkan." Pelayan itu segera menyiapkan semua yang di minta Arga, dalam beberapa detik meja mereka sudah siap dan di persilahkan duduk.
Pelayan itu menghampiri 1 dari 2 juru masak / Chef.
"Wira, tolong menu terbaik untuk 7 orang, Sania nanti tolong antar dengan sopan, jangan ulangi kesalahan kamu, itu pesanan Pak Arga dan keluarga nya, lakukan yang terbaik dan cepat."
"Iya Mbak..." Jawab Sania agak gugup.
Setelah rekan nya pergi Sania menatap Wira malas.
__ADS_1
"Itu yang waktu itu Bang, Bos kita." Jelas Sania kepada Wira.
"Lakuin yang terbaik aja San, semangat geh." Ucap Wira sembari dengan gesit memasak pesanan Arga.
*******
Shena datang dengan botol susu di tangan nya, Arga mempersilahkan Shena duduk di antara dirinya dan Ricko dengan Shaka di tengah-tengah mereka.
"Mas, apa ada menu untuk Shaka di sini." Tanya Shena.
"Nggak ada yang, Shaka kasih buah aja, di dapur pasti ada buah yang, untuk buat jus." Jelas Arga.
"Di mana dapur nya Mas, biar aku pilih yang fresh."
"Mbak...tolong antar istri saya ke tempat stok buah kita." Pinta Arga kepada pelayan yang mengantar minuman.
"Mari Buk." Ucap pelayan itu, lalu Shena bangkit mengikuti pelayan itu, pelayan itu tidak ada yang heran dengan kehadiran Shena, karena mereka tidak tahu seperti apa wajah Istri dari sang Bos, Arga maupun Sarah tidak pernah untuk sekedar meng-upload foto seperti pasangan pada umum nya, ataupun mengajak Sarah untuk keuar jalan-jalan bersama, hidup mereka sungguh privasi, dan kaku.
"Di sini Buk." Tunjuk pelayan itu dengan ramah.
"Oke terimakasih Mbak." Shena membuka lemari pendingin lalu memilih buah semangka, mangga dan buah naga untuk Shaka, Shena ingin segera mengupas buah untuk Shaka tidak menemukan pisau.
Tanpa Shena sadari saat sibuk memilih buah Sania melewati nya membawa pesanan.
Shena mencuci buah itu lalu meletakkan di piring, Shena kembali melihat sekeliling, netra nya menangkap juru masak yang sibuk menyiapkan pesanan.
"Pasti ada pisau di sana." Gumam Shena lalu melangkah mendekati Nanda.
"Permisi, boleh pinjem pisau a, saya mau buka buah untuk anak saya." Pinta Shena ramah.
"Iya betul." Jawab Shena, dan dapat di dengar oleh Wira, Wira melirik sekilas.
Deg.... "Shena." Gumam Wira, namun Shena tidak mendengar, Shena kembali mendekati buah untuk Shaka dan membuka nya.
Sania kembali melewati Shena.
"1 lagi kan...." Belum selesai Sania bicara Wira sudah menarik tangan nya.
"San...kamu inget Shena kan."
Sania menyipitkan mata nya.
"Mana mungkin aku lupa, entah di mana dia sekarang, semoga baik-baik aja, udah cepetan siapin, Pak Bos nunggu tuh, malah tiba-tiba bahas Shena."
"Itu San....itu Shena kan atau cuma mirip." Tunjuk Wira pada Shena.
Mata Sania mengikuti tunjukan Wira, terlihat Shena sedang mencuci pisau lalu membawa buah yang sudah siap di makan untuk Shaka.
"Istri nya Pak Arga? Shena." Sania menatap Wira.
"Anter 1 lagi, kamu liat baik-baik wajah nya." Wira menyerahkan 1 porsi Seafood kepada Sania, Sania mengangguk lalu mulai melangkah.
Sania melangkah mendekati meja, terlihat seorang wanita sedang menyuapi anak laki-laki yang tampan.
__ADS_1
"Ayo makan sayang?"
"Nanti aja Mas, aku suapin Shaka dulu."
Arga membawa wajah Shena menghadap nya lalu menyuapi Shena, dan di situ wajah Shena terlihat sangat jelas.
Deg...
'Ini kah sahabatku yang 8 tahun lalu aku bantu pergi dari hidup nya yang kelam, sahabatku yang selalu aku fikirkan bagaimana nasib nya sekarang??' Beberapa pertanyaan muncul di hati Sania.
"Permisi mbak, itu untuk kami kan?!" Haris sedikit meninggikan suara nya.
Lamunan Sania buyar.
"Ma...maaf, iya Pak..." Sania segera meletakkan pesanan.
Arga dan Shena spontan melihat ke arah Sania, namun Shena tidak dapat mengenali Sania karena wajah Sania memang cukup jauh berbeda dengan wajah nya saat remaja.
"Kamu lagi, yang bener kerja nya, masih banyak yang ngantri kerja di restoran saya."
Sania tersenyum kecut.
"Maaf Pak..permisi."
Shena mencubit perut Arga.
"Nggak boleh gitu Mas."
"Memang unik dia yang, ada aja masalah kalo aku dateng, ya dia yang ngelakuin."
"Tetep aja nggak boleh gitu."
Arga mengacak rambut Shena.
"Iya iya sayang ku.."
"Ehm...apes amat jadi nyamuk." Sindir Yudha.
"Ini masih anget Shen, biar Arga suapin Shaka, ngalah hehehe." Ucap Haris.
"Ini aja Mas, sama aja kok." Ucap Shena.
Sania kembali melangkah menuju dapur, Wira menghampiri Shena yang kini wajah nya sudah kusut.
"Itu bener Shena San?"
Sania mengangguk.
"Terus apa kata Shena, kamu nyapa dia kan?" Tanya Wira antusias.
"Nggak Bang, Shena udah jadi Istri nya orang kaya, mana mungkin mau ngakuin kita, udah lah biarin aja." Jawab Sania lesu.
"Shena nggak akan lupa sama kita, ayo kita temuin dia." Wira menarik tangan Sania, namun Sania sama sekali tidak bergerak.
__ADS_1
"Jangan, suami nya Shena sombong, nanti kita malah kena masalah."
"Terserah kamu aja kalo gitu." Wira kembali melanjutkan kegiatan nya.