Gadis Manis Milik Daddy Arga

Gadis Manis Milik Daddy Arga
Akan menikahi mu


__ADS_3

Shena sedang menyapu halaman rumah yang lumayan banyak dedaunan yang jatuh dari perpohonan dekat rumah, sembari melihat-lihat sekeliling untuk pertama kali nya.


Sedangkan Arga dan lain nya baru saja selesai sarapan.


"Hah.... pertama kali bangun-bangun udah ada sarapan aja heheh." Ucap Haris sembari mengelap mulut nya dengan tisu.


"Iya mayan, eh ngomong-ngomong mana tu bini lu?" Yudha mengedarkan pandangan nya mencari sosok Shena.


"Ada di depan." Ucap Arga dengan nada cuek.


"Ngapa lu berdua, berantem, yaelah baru berapa hari aja udah gini, gimana kalo sampe kawin." Ceplos Yudha.


Arga menghentikan kegiatan nya lalu menyenderkan tubuh nya di kursi, sembari menyisir rambut nya dengan jari-jari tangan nya.


"Cepat-lambat juga si Shena bakal tau Ga, bayangin ini baru beberapa hari aja udah gini, gimana kalo 1 minggu, 1 bulan?"


Arga spontan menatap Han.


"Nguping lu." Tuduh Arga.


"Sapa yang nguping, lu berdua ribut di atas kepala gua, telinga gua denger lah."


Arga membuang nafas kasar lalu kembali menyenderkan tubuh nya.


"Gua harus gimana? gua bukan marah sama Shena, tapi gua takut Shena bakal tau semua nya, iya kalo Shena narima, kalo dia pergi."


"Rumit amat idup lu pren." Yudha menggelengkan kepala nya.


"Udah lah Ga, bawa happy aja, masa gara-gara cewek 1 lu jadi lesu gini, ayolah kita mancing heheh, mayan buat di bakar kalo dapet." Ajak Haris bersemangat.


"Wah gua nggak bisa ikut gays, sorry gua mau ke rumah Mama." Ucap Han sembari bangkit dan di susul Arga, Yudha dan Haris.


Mereka berjalan beriringan menuju teras depan, Arga melirik Shena yang sedang mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di halaman rumah, Arga kembali gundah dengan perasaan nya sendiri.


'Gua rasanya nggak rela lo pergi Shen, tapi gimana Sarah, dan Shaka, dia butuh ibunya, apa gua terlalu egois kalo pengen pertahanin Sarah dan dapetin lo.' Arga memandang Shena dengan tatapan kosong, dan tentu tak luput dari pengamatan para sahabat nya.


Han menepuk pundak Arga.


"Baru kali ini sahabat gua mikirin cewek sampe segini nya, gua balik ya."


Arga mengangguk.


"Hati-hati Han."


Han tersenyum lalu berlalu dengan kuda besi nya.


"Lu berdua aja yang mancing ya bro, gua ada urusan lain."


"Oke." Ucap Haris singkat lalu menyusul Yudha yang sedang bersiap-siap untuk memancing ikan di kolam dekat rumah, kurang lebih berjarak 100 meter.


Tak lama Yudha dan Haris sudah selesai bersiap dengan joran nya dan berlalu menuju kolam, kini hanya tersisa Shena dan Arga, yang masih saling diam karena kejadian tadi pagi.


Arga masuk mengambil laptop nya dan duduk di kursi teras, sambil sesekali melirik Shena yang nampak nya sibuk dengan kegiatan nya Arga juga mengerjakan sisa pekerjaan dan di kantor kemarin.


Shena yang sedikit merasa risih karena ada Arga di teras memutuskan menyudahi kegiatan nya lalu masuk ke dalam rumah untuk mencari pekerjaan lain, saat Shena lewat di dekat Arga, Arga menahan tangan Shena.

__ADS_1


"Duduk." Ucap Arga tanpa melihat wajah Shena.


"Maaf, pekerjaan saya masih banyak."


Shena mencoba menghindari Arga.


"Duduk Shen, memang nya siapa bos kamu." Kini Arga menatap Shena.


Terpaksa Shena duduk namun dengan pandangan menghindari Arga.


Kini mereka sama-sama diam, dengan jantung yang sama-sama berdegub, seperti anak muda yang bertemu pasangan nya untuk pertama kali.


Arga menurunkan ego nya, kini Arga memulai percakapan.


"Sebelum nya aku mau minta maaf Shen, kejadian tadi pagi, aku nggak sengaja bentak kamu."


"Aku yang lancang Mas Arga nggak perlu minta maaf, aku juga cuma pembantu tapi nggak tau diri."


Shena menunduk, suara nya sudah bergetar menahan tangis nya.


"Jangan ngomong gitu." Arga menatap gadis di depan nya, entah kenapa hati nya kembali teriris mendengar kata-kata gadis ini.


Dengan ragu Arga menarik tangan Shena sehingga Shena masuk dalam dekapan nya, namun Shena menolak bahkan sedikit menjauh dari Arga.


"Maaf Mas Arga, sebelum nya saya mau ucapin terimakasih banyak, Mas Arga udah mau nampung saya bahkan kasih pekerjaan, tapi saya rasa saya harus pamit, makasih tumpangan nya 3 hari ini, saya putusin saya undur diri, saya nggak bisa lanjutin kerja di sini."


Arga menatap Shena dengan tajam, apa lagi ini, bukan nya membaik kenapa malah menjadi semakin rumit, Arga menyenderkan tubuh nya di kursi, sembari menatap Shena yang terus menunduk.


"Apa lagi sih Shen?"


"Saya berenti kerja."


"Nggak, lebih dari cukup."


"Terus kurang apa?!."


Brak...!


Arga yang memang cepat tersulut emosi menggebrak meja lalu berdiri membelakangi Shena, Shena dengan berusaha menahan tangis nya berdiri dan berlari menuju kamar mengambil tas nya dan segera turun untuk pamit dengan Arga.


Shena melihat Arga masih berdiri dengan bertegak pinggang sesekali memijit kepala nya, dengan mengumpulkan keberanian yang tersisa Shena menghampiri Arga dan pamit dengan Arga.


"Aku permisi Mas Arga." Namun Arga hanya diam memejamkan mata nya.


Shena sedikit berlari menuju gerbang, sembari melirik Arga yang masih terpejam Shena membuka gerbang lalu berlari sekuat tenaga, kini air mata nya sudah tumpah, tangis nya sudah pecah, Shena memegangi dada nya yang terasa sesak.


Sedangkan Arga yang melihat Shena benar-benar pergi langsung berlari mengejar Shena, Arga melihat Shena yang berlari semakin menjauh.


"Shena !!" Panggil Arga.


Namun Shena terus berlari walau mendengar Arga memanggilnya.


"Stop Shen."


"Aku bilang Stop !!"

__ADS_1


Shena tak memperdulikan nya, namun dada nya semakin sesak, tenaga nya pun rasanya sudah habis, Shena berlari pelan untuk menyedot inhaler nya, melihat Shena yang berlari semakin pelan Arga mempercepat lari nya dan berhasil menggapai tangan Shena.


"Kamu nggak denger Shen aku bilang Stop, kamu mau kemana hah! kamu sendiri di kota ini."


"Udah lah Mas, aku udah biasa sama kehidupan ku yang sendiri, biarin aku pergi!!" Shena kini berteriak menumpahkan emosi nya.


"Kamu mau kemana?!" Suara Arga tak kalah keras membuat air mata Shena semakin deras.


"Bukan urusan kamu!"


"Ayo pulang!" Arga menarik tangan Shena.


"Nggak!" Shena menahan langkah nya walau Arga menarik tangan nya.


"Pulang aku bilang!!" Arga berteriak di depan wajah Shena, rasa nya Shena sudah tidak tahan lagi dengan situasi ini.


"Kenapa?! Kenapa kamu maksa aku, kenapa kamu nolongin aku di cafe, kenapa kamu bawa aku kesini, kenapa kamu perlakuin aku manis mas, kenapa?! biar aku jatuh cinta sama kamu, aku tau aku pembantu, aku punya akal sehat, aku tau batesan aku, lebih baik aku pergi, dari pada aku deket sama kamu, aku jatuh cinta sama kamu!!"


"Terus kalo kamu jatuh cinta sama aku kenapa? salah nya di mana?" Arga mencoba menurun kan volume nya, ingat akan trauma yang di alami Shena.


"Karena aku pembantu, aku nggak pantes dan nggak ada hak untuk jatuh cinta sama kamu!"


"Kata siapa? kalo aku cinta juga sama kamu gimana?"


"Nggak, nggak bisa." Shena berusaha melepas tangan nya yang terus di genggam Arga.


"Kenapa nggak bisa?"


"Karena aku perempuan miskin, perempuan bodoh!!"


Shena kembali histeris lalu menarik tangan nya dari genggaman Arga dan berhasil terlepas kali ini, Shena kembali berlari, Arga langsung mengejar dan berhasil menggapai tangan Shena lalu memeluk Shena dengan erat.


"Lepas !!" Shena kembali memberontak.


"Stop Shen, tenang, aku sayang sama kamu."


Shena menggeleng.


"Nggak bisa." Shena terus menangis.


Arga mengelus kepala Shena agar Shena bisa lebih tenang.


Shena menggeleng lalu terduduk lemas, rasanya tenaga nya habis, Arga ikut duduk dengan Shena tanpa melepas pelukan nya, Arga menyingkirkan rambut-rambut Shena yang menutupi wajah nya.


"Aku udah bilang kan, ada aku di sini, jangan pergi kemana-mana Shen."


"Tapi...."


Cup......


Arga mengecup bibir Shena.


"Sut.... Jangan ngomong lagi."


Arga semakin mengeratkan pelukan nya, Arga menatap wajah Shena yang terus menatap kosong, dengan lembut Arga mengarahkan pandangan Shena ke arah wajah nya.

__ADS_1


"Jangan pergi kemana pun, cukup di sini sama aku, kamu akan bahagia Sayang, kamu percaya kan, aku akan nikahin kamu secepat nya."


Shena mengangguk, dalam beberapa menit tatapan mereka bertemu, mata Arga begitu teduh untuk di tatap, membuat Shena semakin jatuh cinta pada laki-laki ini.


__ADS_2