
Ricko mengetuk pintu mobil, membuat Shena terlonjak kaget, cepat-cepat Shena turun menyadari Ricko yang mengetuk pintu.
"Ayo masuk." Ricko menolehkan kepala nya ke arah pintu utama istana Keluarga Rahardian.
"Iy...iya Kak." Jawab Shena ragu.
"Kamu orang pertama yang memanggil saya Kakak, saya risih, bisa di rubah?" Ucap Ricko sembari terus melangkah.
"Ma..maksud nya."
Namun Ricko tidak menjawab, mereka mulai menaiki Anak tangga, mata Shena bersinar melihat betapa megah nya Rumah Orang tua Arga, Rumah bergaya ala eropa itu memang dapat membius mata siapa saja yang melihat nya.
"Maaf jika Orang tua kami terlalu tegas, jawab pertanyaan mereka jujur dan dari hati mu." Ucap Arga lagi, Shena mendongak menatap punggung Ricko.
"Iy...iya."
Mereka kini sampai di ruang keluarga yang luas, Shena melirik dan dapat melihat pasangan paruh baya yang Shena yakini Orang tua Arga, serta 2 orang Wanita muda yang masih asing menurut Shena, jika Shena melihat lebih detail, mungkin Shena akan mengenali Salwa, karena pernah melihat foto Keluarga Arga di rumah kebun.
Shena juga dapat melihat Arga yang duduk dengan tatapan kosong ke arah lantai, melihat itu jantung Shena semakin berdetak tidak beraturan, Shena yakin ada sesuatu yang terjadi sebelum ia datang.
"Silahkan duduk, Nak." Suara bariton seorang Bakrie Rahardian terdengar menggelegar di seluruh ruangan.
"Baik Tuan." Shena duduk tepat di sebelah Arga yang masih diam, terdengar Arga menarik nafas dari hidung nya.
'Apa Mas Arga abis nangis' Batin Shena.
"Siapa Nama mu Nak?" Tanya Mamah.
Shena menarik nafas nya panjang lalu menghembuskan dengan perlahan agar suasana hati nya jauh lebih baik, dengan keberanian yang ia miliki saat ini Shena mendongak dan menjawab pertanyaan Mamah.
"Nama saya Afshena Fania Nyonya."
Mamah memberi Shena senyum kecil.
"Nak Shena ya?"
"Betul Nyonya."
"Boleh kami tanya sesuatu Nak?" Kini Papah yang memberi Shena pertanyaan.
"Sangat boleh Tuan, silahkan."
"Apa kamu mencintai Arga?"
Shena melirik Arga sekilas, lalu mengangguk. "Iya Tuan."
"Apa yang sudah Arga beri kepadamu?"
Arga langsung menatap Papah, tidak percaya dengan pertanyaan yang Papah beri untuk Shena. "Pah..." Arga mencoba protes namun satu tangan Papah terangkat, meminta Arga untuk diam.
"Ini dan ini Tuan." Shena menunjuk cincin dan pakaian yang di pakai nya saat ini.
"Berapa harga cincin itu."
Shena mengerutkan kening nya sembari menatap cincin pemberian Arga.
"Maaf, saya tidak tau Tuan."
"Perkiraan mu berapa?"
"Mungkin 3 juta Tuan."
Salwa menahan tawa nya.
"Mahal sekali, apa kamu meminta nya?"
"Tidak Tuan, saya tidak pernah meminta apapun pada Mas Arga." Jawab Shena yakin.
__ADS_1
Papah mengangguk.
"Apa kamu benar-benar mencintai Arga."
"Ya."
"Jika kamu mencintai nya, apa kamu mau melakukan apapun untuk cinta kalian, bagaimana jika kamu mengetahui suatu hal yang sangat menyakitkan?"
Kali ini Shena tidak menjawab.
"Bagaimana jika saya katakan bahwa Arga sudah memiliki Istri."
Duar....'Apa lagi ini Ya Allah' Shena menatap sendu Papah, lalu menatap Arga yang masih menunduk, terlihat Arga meneteskan air mata nya, mata Shena berkaca-kaca.
"Maka akan saya tinggalkan dia." Terdengar suara Shena serak menahan tangisan nya.
Arga menatap Shena sembari menggeleng.
"Tapi Arga mencintai kamu, dan memilih kamu, kenapa kamu tidak meminta Arga menceraikan Istri nya?"
"Saya tidak ingin menghancurkan rumah tangga mereka."
"Oh ya, sekarang kamu lihat Arga." Pinta Papah, lalu Shena menoleh ke arah Arga.
"Untuk pertama kali nya dia menangis karena Wanita, dan itu kamu, jika kalian saling mencintai baiklah, saya merestui kalian, bagaimana?"
Shena menggeleng.
"Tidak Tuan, dia Suami orang."
"Ricko jelaskan." Papah menatap Ricko.
"Arga memang Suami orang, tapi mereka tidak saling mencintai, Arga ingin bercerai dari Wanita itu, tapi Arga masih mengumpulkan bukti perselingkuhan Wanita itu, jelas."
"Iya."
"Apa kamu baru tau hal ini?" Tanya Papah.
"Iya Tuan."
"Tidak Tuan, saya yakin Mas Arga melakukan itu ada alasan tersendiri, karena selama saya mengenal Mas Arga, saya tau Mas Arga adalah Orang yang bijak."
"Apa kamu mau menikah dengan Arga?"
"Selama kalian merestui, saya kan bersedia Tuan.".
"Apa Restu kami penting."
"Sangat penting Tuan."
"Ini yang terakhir, apa kamu siap mendengar nya?"
"Iya."
"Arga sudah memiliki seorang Putra, apa kamu mau menerima nya?"
Shena menoleh ke Arah Arga.
"Saya bersedia, jika memang Ibu Putra Mas Arga tidak keberatan."
Arga menoleh, menatap Shena tak percaya, segampang itu jawaban Shena tanpa ada drama menangis, meraung tidak terima.
"Apa kamu tidak keberatan merawat Anak yang bukan darah daging kamu Nak Shena?" Kali ini Mamah mengajukan pertanyaan.
"Tidak Nyonya, karena itu bonus, menyenangkan jika menikah langsung dapat Anak, saya ini begitu banyak kekurangan, dan Mas Arga menerima nya dengan lapang dada, sedangkan Mas Arga memiliki kelebihan seorang Putra bagaimana bisa saya menolak Rezeki."
Naira yang menyaksikan semua itu merasa tertampar dengan jawaban Shena, Naira teringat saat baru pertama masuk di Rumah ini, Ricko memperkenalkan Shaka sebagai Anak nya, dan Naira langsung tidak dapat menerima itu, tapi Shena, dengan lapang dada dia menerima Shaka.
Arga menggenggam tangan Shena.
'Terimakasih Sayang.' Bisik Arga.
__ADS_1
"Ehem.... Ya sudah silahkan menikah." Papah menyenderkan tubuh nya di sofa dengan santai, Arga yang tak kuasa menahan haru nya bangkit lalu memeluk Papah.
"Terimakasih Pah." Ucap Arga tulus.
Papah yang sudah sangat lama tidak menerima pelukan Arga merasa bergetar, Anak nya yang cuek dan dingin kali ini memeluk dirinya berkat Shena.
"Plakk..... "Papah memukul paha Arga.
"Tidak usah nangis, malu!!" Ucap Papah membuat mereka yang melihat nya tertawa kecil.
"Ish..Papah ini." Arga melepaskan pelukan nya dari Papah lalu duduk di dekat Shena kembali.
"Kalo mau tanya yang lain nanti ya Sayang." Ucap Arga lalu Shena mengangguk.
"Sekarang panggil saya Mamah, ini Papah, itu Abang nya Arga, Bang Ricko, dan itu Salwa, Adik dari Arga, nah yang di dekat Salwa, Teteh Naira, calon Istri Bang Ricko, kurang lebih 3 bulan lagi mereka menikah." Mamah menjelaskan dengan detail..
"Baik Nyo....eh Ma...mamah."
"Nai, kamu kesini sama siapa?" Tanya Ricko yang belum sempat di tanyakan nya tadi.
"Mamah yang minta Mamang Asep jemput Naira, kami nanti mau ketemu sama WO."
"Nggak ajak Ricko." Protes Ricko.
"Kamu terima beres aja, cari aja uang yang banyak buat modal."
"Mamah." Ricko memajukan bibir nya.
"Salwa mau ke kamar deh, drakor nya udah selesai." Salwa melangkah menuju kamar nya.
"Nggak sopan! ada calon Kakak Ipar nya malah mau ke kamar."
"Salwa sakit." Arga mewakili Salwa.
"Pusing dia, banyak mesin di pabrik tiba-tiba tidak berfungsi, Papah mau kesana lihat langsung, kalau gitu Papah pamit." Papah kini ikut beranjak.
"Nak Naira, Nak Shena, Papah tinggal dulu ya."
"Iya Pah." Jawab Naira dan Shena serentak.
"Hati-hati Pah." Ricko mengingatkan.
"Ya, Papah pergi dulu."
"Mungkin nanti kami langsung pulang lagi ke Jakarta Pah, karna besok Arga harus terbang ke Lampung." Ucap Arga.
"Memang nya harus besok, tidak bisa di tunda."
"Pesawat transit nya cuma ada besok Pah."
"Baiklah, hati-hati kalian."
"Pah, kalau Ricko ikut Arga apa Papah bisa gantikan Ricko di Perusahaan Induk?"
"Halah, tidak akan bangkrut jika di tinggal beberapa hari, Papah berangkat, malah kalian ajak ngobrol." Lalu Papah berlalu.
"Kamu mau ikut Arga Bang?" Tanya Mamah.
"Ya Mah, mewakili Papah."
"Sekalian liburan, di sana pantai wisata, kampung halaman Shena."
"Bagus itu, kalau gitu Naira ikut juga."
"Hah, kenapa jadi ikut aku Mas, nggak deh." Naira merasa tidak enak dengan Mamah.
"Ngak apa-apa Teh, ikut aja buat temen Shena." Arga meyakinkan.
"Mamah kalian tinggal?"
Ricko dan Arga menatap Mamah.
__ADS_1
"Mamah di rumah aja, jaga Shaka, nanti pulang dari Lampung kalo udah SAH, baru kami jemput Shaka."
"Hm...Baiklah."