Gadis Manis Milik Daddy Arga

Gadis Manis Milik Daddy Arga
Main solo.


__ADS_3

"Mas...Mas...Mas Arga." Tangis Shena pecah tak terbendung, Shena mengangkat kepala Arga di pangkuan nya, sembari mengusap dada Arga Shena terus menangis.


"Mas Arga bangun, Mas Arga bercanda kan, jangan gini bercanda nya Mas, bangun Mas." Namun Arga tetap tidak memberi respon.


"Mas Arga tunggu sini ya, aku panggil Mas Haris, kita ke rumah sakit." Shena menghapus air mata nya, lalu perlahan meletakkan kepala Shena di lantai.


"Tunggu ya Mas." Shena melangkah menuju unit Haris.


Arga membuka sedikit mata nya untuk melihat keadaan, ternyata Shena sudah keluar, cepat-cepat Arga menghubungi Haris.


"Hallo Ris, Shena ke unit lo, ikutin dia, bilang kalo gua mati, atau pingsan atau apalah."


Di sebrang sana Haris mengerutkan kening nya, tidak mengerti maksud Arga apa.


"Maksud lo apaan sih Ga?"


"Liat aja nanti." Lalu Arga mematikan panggilan.


******


Di unit Haris.


"Apaan sih si Arga." Haris meletakkan Handphone nya.


"Kenapa?" Tanya Yudha.


"Tau tuh anak, nggak jelas."


Ting ..tong ..ting..tong...(Suara bel).


"Siapa tuh Ris." Tanya Yudha dengan tetap fokus ke game nya.


"Gua liat bentar." Haris bangkit, saat Haris membuka pintu ternyata benar saja, Shena yang datang dengan air mata yang mengalir deras.


"Mas Haris, tolong...." Ucap Shena dengan sesegukan.


"Kenapa Shen?" Tanya Haris bingung. Lalu Shena menceritakan kejadian barusan.


Kini Haris mengerti maksud Arga tadi.


"Kamu duluan aja, saya panggil Yudha sebentar."


"Iya Mas." Lalu Shena memberi kartu akses kepada Haris.


Haris masuk menemui Yudha, Yudha tersenyum devil.


"Nggak usah tanggung-tanggung Ris."


Haris dan Yudha tos untuk mengawali rencana usil mereka.


*****


Shena terus menangis, hingga beberapa tetes air mata mengenai wajah Arga, membuat Arga ingin terbang saja rasanya.


"Aku cinta sama Mas Arga, aku tadi cuma bohongan marah nya Mas." Suara Shena terdengar berat.

__ADS_1


Haris dan Yudha datang.


"Astaghfirullah Hal Adzim, Arga kenapa Shen, ayo Yud, angkat dulu ke atas." Haris dan Yudha mengawali sandiwara mereka, mereka membaringkan tubuh Arga di atas ranjang.


"Coba Gua liat dulu Shen." Yudha menempelkan jari nya di hidung Arga.


"Masih nafas Shen." Ucap Haris.


"Ayo kita bawa ke Rumah Sakit, Mas, ini Mas Arga kenapa."


Yudha membuang nafas kasar.


"Shen, Arga memang punya penyakit jantung, percuma kalo kita bawa ke Rumah sakit."


"Maksud nya apa Mas!" Shena meninggikan suara nya.


"Yang sabar Shen, kayak nya Arga....hiks ... hiks..." Haris berpura-pura duduk dan menangis.


"Kayak nya apa Mas Haris?"


"Mungkin kita bisa telfon keluarga Arga, gua rasa sebentar lagi Arga meninggal Shen, lo yang sabar ya." Yudha menepuk-nepuk pundak Shena. Sementara Arga mengumpat dalam hati nya.


"Nggak mungkin, tadi Mas Arga baik-baik aja Mas." Shena menggeleng.


"Mungkin kamu akan berat nerima, tapi itu kenyataan nya Shen hiks..hiks.."


Shena memegangi kepala nya, tiba-tiba dunia nya terasa berputar, dan Shena jatuh pingsan di atas tubuh Arga.


"Loh... pingsan." Yudha menepuk jidat nya, Arga langsung membuka mata nya.


"Shena, sayang." Arga menepuk-nepuk pelan pipi Shena, lalu menatap kedua sahabat nya sembari berkacak pinggang.


"Parah lo berdua, pingsan bini gua go*lok."


"Oh itu bagus Ga, artinya Shena bener-bener cinta sama lo, dia cuma kaget nanti juga bangun, selamat ya." Yudha mengulurkan tangan nya.


"Diem lo!!"


"Yuk Yud, VS kita udah nunggu." Haris menarik lengan Yudha lalu mereka keluar dari kamar Arga.


"Shena bangun."


Arga kembali mencoba membangun kan Shena, namun Shena tidak merespon.


Arga mengambil Handphone nya lalu menghubungi Mamah.


"Hallo Mah, cara nyadarin orang pingsan gimana?"


"Siapa yang pingsan Ga?"


"Nanti dulu nanya nya Mah, gimana cara nya."


"Kalo ada minyak kayu putih kamu deketin ke hidung nya biar di hirup Ga, biasa nya di p3k ada minyak nya."


"Makasih Mah, Arga cari dulu."

__ADS_1


"Tunggu Ga, siapa yang ping....."


Arga mematikan telfon lalu mencari minyak kayu putih.


"Mana p3k nya." Arga mencari di laci namun tidak ada.


"Di dapur." Arga berlari menuju dapur, setelah menemukan nya Arga kembali menuju kamar dan mendekatkan minyak kayu putih di hidung Shena.


"Bangun sayang..." Arga mengusap-ngusap kepala Shena, benar saja kurang dari 1 menit Shena memberi respon.


"Sayang, maafin aku." Arga meletakkan minyak kayu putih lalu naik ke atas ranjang dan membantu Shena duduk.


"Maaf sayang." Ucap Arga lagi, dengan lemas Shena menyentuh wajah Arga.


"Mas Arga nggak apa-apa." Shena kembali meneteskan air mata nya.


"Jangan nangis, aku nggak apa-apa sayang."


"Ja...jangan tinggalin aku Mas, aku sama siapa kalo Mas Arga pergi, aku nanti sendiri lagi, jangan pergi." Ucap Shena terbata-bata, Shena menakupkan kedua tangan nya, air mata nya mengalir semakin deras.


"Iya sayang, aku di sini, nggak akan kemana-mana, jangan nangis." Arga menghapus air mata Shena, mata Arga pun sudah berkaca-kaca, tak menyangka akan seperti ini respon Shena.


Arga membawa Shena dalam pelukan nya, Arga memeluk Shena sangat erat, rasa nya Arga tak ingin melepas pelukan ini, Arga mengecup kepala Shena, rasanya hidup nya semakin berwarna karena ke usilan nya dan sahabat nya sendiri.


Arga melepas pelukan nya, lalu menghapus air mata Shena, Arga kembali menghujani Shena dengan kecupan bertubi-tubi, namun tiba-tiba Shena memukul dada Arga.


"Mas Arga jahat..jahat..jahat..."


"Haris sama Yudha sayang, mereka terlalu usil, aku nggak nyuruh mereka sampe segitu nya ngerjain kamu."


"Hah... jadi kalian kerja sama?!"


Arga menggaruk kepala nya.


"Heheh...i..iya sayang."


"Ngeselin..." Shena membelakangi Arga.


"Kok ngambek lagi." Arga mendekati Shena.


Cup.... kecupan Arga mendarat di bibir Shena cukup lama, kecupan itu perlahan berubah menjadi lum*t*an, dengan lembut dan hati-hati Arga mengajari Shena yang masih terasa kaku untuk melakukan aktifitas ini.


Arga memberi jeda untuk Shena mengatur nafas, lalu Arga kembali me*l*mat bibir Shena, perlahan-lahan Arga merebahkan tubuh Shena, lum*t*an itu semakin liar, tangan Arga mulai menyentuh sesuatu yang menonjol di dada Shena.


Namun dengan cepat Arga menghentikan kegiatan mereka.


"Maaf Sayang."


Arga bangkit lalu berlari menuju kamar mandi.


"Sial, main solo jadi nya." Umpat Arga.


Di atas ranjang Shena melongo melihat Arga, kenapa Arga lari fikir nya.


"Kebelet pipis?"

__ADS_1


__ADS_2