Gadis Manis Milik Daddy Arga

Gadis Manis Milik Daddy Arga
Terlalu baik untuk dia yang munafik


__ADS_3

3 Bulan sudah Arga dan Shena menjalani rumah tangga mereka, Arga dan Sarah sudah resmi bercerai, waktu yang cukup singkat berkat campur tangan Bian.


Semenjak talak yang di jatuhkan Arga kepada Sarah, Sarah tidak pernah kembali menghubungi Arga hanya untuk sekedar bertanya keadaan Shaka, putra mereka.


Tapi Arga tak ambil pusing, justru ia bahagia karena Sarah menghilang bak di telan bumi.


Pagi ini Arga, Shena dan Shaka akan melakukan perjalanan menuju Bandung, karena lusa akan di adakan acara pernikahan Ricko dan Naira.


Usia Shaka sudah memasuki 9 bulan.




Bocah tampan itu semakin pintar dan aktif, bahkan Shaka sudah bisa mengucapkan sepatah dua patah kata, seperti Mamah, Dady, Ayah, Makan, tidak mau, dan lain nya.


Shaka memperhatikan Mamah nya yang sedang sibuk menyiapkan keperluan mereka, bocah itu merangkak mendekati Mamah nya.


"Mamah." Ucap Shaka dengan lancar dan jelas.


"Iya Sayang, ada apa?"


"Kaka mamam (Shaka Makan)"


"Ya Allah sayang, maafin Mamah ya, sampe lupa ngasih Shaka sarapan, Mas....Mas Arga, tolong suapin Shaka." pekik Shena.


Arga yang sedang menikmati kopi di balkon cepat datang mendengar ada panggilan tugas untuk nya.


"Makan pake apa yang?" Tanya Arga kepada Shena.


"Udah siap kamu tinggal suapin."


Arga kembali melangkah menuju meja makan, membawa kursi makan dan masuk ke dalam kamar.


"Shaka ayo sarapan." Panggil Arga, Shaka merangkak mendekati Arga.


Arga menyuapi Shaka dengan telaten.


"Harus nya Shaka belajar makan sendiri kan Mah?"


Shena menatap Arga malas.


"Aku tau Mas, tapi sekarang ini kita masih buru-buru, ini aja udah telat, kalo Shaka cemong gimana, harus nyalinin lagi."


Arga menggaruk kepala nya.


"Iya ya, hehe."


Shena menutup koper besar itu.


"Beres juga, ini baru ke Bandung Nak, belum ke tempat uyut di Lampung hm..."


"Rumah Nenek sekitar 2 mingguan lagi jadi yang, nanti kita kesana kalo ada waktunya." Ajak Arga.


"Iya Mas..insya Allah."


******

__ADS_1


Mereka sudah menempuh 2 jam perjalanan, Artinya tak lama lagi mereka sudah sampai di kediaman Bakrie Rahardian.


Shaka kini terlelap tidur di seat car.


"Mas, di rumah nggak ada kerjaan kan, kita mampir di Restoran yuk."


Arga tersenyum kepada Shena.


"Udah lama kita nggak ke sana ya Sayang, nanti mampir."


"Terakhir 3 bulan yang lalu, kalo ke Bandung dadakan terus sih, Shaka kan udah besar, udah bisa dia makan seafood Mas, asal jangan pedes."


"Iya, bisa di atur, oh iya yang, kata Inggit karyawan kita ada yang hamil, itu harus kita kasih cuti dulu, kasian."


"Hamil...hm..bahagia nya, aku kapan hamil ya Mas." Ucap Shena lirih.


Arga menggenggam tangan Shena.


"Sabar sayang, kita nikah baru 3 bulan lebih, masih banyak waktu."


"Iya Mas..."


"Semangat dong, jangan sedih-sedih, nanti di liat Shaka, dia pasti bilang, Mamah anis (Mamah nangis) hahaha...."


"Tapi aku bersyukur banget Mas, Shaka itu aktif, pinter ngomong, padahal baru 9 bulan, sekarang juga udah mulai berdiri-berdiri loh, semoga sebentar lagi jalan." Shena kembali ceria saat menceritakan perkembangan Shaka.


"Iya, Alhamdulillah.?"


"Tapi Shaka badan nya nggak mau gemuk ya Mas, ketolong sama pipi tembem nya aja."


"Iya Mas..." Obrolan mereka berlanjut, tidak terasa mereka sudah sampai di Restoran, Arga turun membawa Shaka yang sudah bangun dalam gendongan nya, satu tangan nya lagi menggandeng tangan Shena.


Netra Arga restoran milik nya yang sudah 5 tahun lamanya berdiri, syukurah restoran ini tidak pernah sepi, karena Arga mengutamakan kepuasan pelanggan dan harga yang pas di kantong.


Kali ini Arga memilih privasi room, karyawan yang melihat kedatangan Arga dengan sigap menyusul bos nya.


"Selamat pagi Pak Arga, ada yang bisa kami bantu?" Sapa Karyawan itu ramah.


"Tolong panggilkan Inggit, dan karyawan yang sedang hamil , siap kan menu seperti biasa untuk Istri saya, dan untuk anak saya."


"Baik Pak, mohon tunggu sebentar."


Arga menarik kursi dan mempersilahkan Shena duduk.


"Makasih Mas."


"Iya Sayang." Lalu Arga dan Shena menyusul duduk.


"Shaka capek ya Nak." Tanya Shena sembari menyibakkan poni Shaka yang sudah di penuhi keringat.


"He'eh capek Mamah" Shaka mengangguk.


Sontak saja Arga dan Shena tertawa mendengar jawaban Shaka.


Tak lama Inggit datang bersama Sania.


Pertemuan yang ke 2 kali nya, Shena masih belum mengenali Sania, Sania hanya melirik sendu Shena yang sesekali tertawa lepas dengan Shaka.

__ADS_1


Urusan Arga dan Sania selesai, Arga juga memberi kompensasi yang cukup besar untuk Sania, membuat Sania terharu ternyata Arga sebenarnya baik.


Shena juga sudah selesai menikmati hidangan, selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan menuju kediaman Bakrie Rahardian, perjalanan memakan waktu sekitar 20 menit.


Kedatangan mereka di sambut meriah oleh sanak saudara, yang memang sudah mengetahui perceraian dan pernikahan Arga dan Shena.


Sepupu-sepupu Arga sangat ingin mengendong dan mengajak Shaka bermain, namun Shaka sudah besar dan lengket dengan Shena, Shaka menolak di ajak siapapun kecuali Dady, Mamah dan Ayah nya (Ricko) karena Ricko memang sering mampir ke apartemen untuk sekedar bermain dengan Shaka.


Mereka kini berkumpul di ruang tamu mengerumuni Shaka.


"Shaka nggak mau sama Nenek." Tanya Mamah kepada Shaka.


"A mau (nggak mau), Mamah aja." Shaka sedikit menyembunyikan wajah nya di dada Shena.


"Sayang nggak boleh gitu." Shena sedikit tidak enak karena Shaka menolak di ajak siapapun.


"Biar Nak, anak-anak itu tau, mana hati yang tulus, mungkin karena kamu tulus dan ikhlas menyayangi Shaka jadi dia sedekat itu dengan kamu." Ujar Mamah.


"Iya sayang, wajar itu." Sambung Arga.


"Iya Mah, Mas."


*******


Hari ini adalah hari pernikahan Ricko dan Naira yang di adakan cukup mewah dan meriah walau hanya di kediaman, tenda besar dan luas, dengan dekor mewah.


Pagi ini Salwa terus menangis seperti kurang rela Kakak yang selalu memanjakan nya akan menjadi milik orang lain.


Papah, Mamah, Arga, Shena dan yang lain nya terus menenangkan Salwa.


"Saat kamu nikah nanti Abang 1000 kali lebih sedih Wa." Ricko mengusap punggung Adik nya yang bergetar karena tangisan.


Arga mendekat dan ikut menenangkan Salwa.


"Ya, Abang bener, kami akan lebih berat ngelepas kamu."


Salwa diam membisu, air mata nya terus mengalir seakan tidak bisa berhenti.


"Apa yang membuat kamu seperti ini, sekarang kamu cuci wajah, dan perbaiki riasan mu." Papah membantu Salwa berdiri dari pelukan Ricko dan Arga.


"Tentu lah Pa, dia anak perempuan yang selalu di manja Kakak-kakak nya terutama Ricko, pasti dia berat melepas Abang nya." Ujar Mamah


Salwa masih diam, lalu melangkah menuju kamar mandi, Shena ikut menyusul Salwa.


Salwa menengok merasakan ada tangan yang menyentuh nya.


"Kakak tau apa yang kamu fikirin, kita doain yang terbaik aja ya Wa."


Salwa memeluk Shena erat.


"Abang Ricko terlalu baik, untuk aku tentang pernikahan mereka, dan Naira terlalu munafik untuk Abang ku yang baik Kak, selama ini dia selalu sibuk untuk keluarga, dia nggak pernah senang-senang kayak pria lajang umum nya, itu semua demi kami, orang tua dan adik-adik nya."


"Salwa, bagaimana sikap pasangan kita itu adalah cerminan dari kita sendiri, kita doakan semoga Naira nanti berubah, mungkin dia begitu karena belum terlalu kenal kita, Positif thinking aja ya Wa."


"Iya Kak."


Shena melepas pelukan nya dan mengusap tangan Salwa.

__ADS_1


__ADS_2