Gadis Manis Milik Daddy Arga

Gadis Manis Milik Daddy Arga
Tantrum


__ADS_3

3 bulan sudah usia pernikahan Naira dan Ricko, dan 6 bulan usia pernikahan Arga dan Shena, 3 bulan yang lalu tepat beberapa hari setelah pernikahan Ricko dan Naira, Shena memberi kabar bahagia jika dirinya tengah mengandung, kini kandungan nya sudah memasuki usia 4 bulan kehamilan.


Begitupun dengan Naira ia turut memberi kabar bahagia, dirinya juga kini sedang mengandung usia kandungan nya telah memasuki 2 bulan, rumah impian Ricko dan Naira sudah jadi, mereka sudah menempati rumah baru mereka.


Arga juga memutuskan membeli 1 unit rumah megah di dekat rumah milik Ricko, kediaman mereka saling berhadapan dalam 1 komplek perumahan megah.


Salwa dan Shena berhubungan sangat baik, namun hubungan dengan Naira di antara Shena dan Salwa masih cukup renggang, entah apa yang merasuki Naira dirinya kini menjadi sombong dan egois hanya karena di persunting seorang Ricko Bagaskara Rahardian.


Namun Shena tetaplah Shena, Shena yang penyabar dan rendah hati, bagaimanapun sikap Naira Shena tetap diam dan sabar, cukup senyuman manis yang Shena berikan untuk Kakak ipar nya itu.


Tidak ada keluarga yang mengetahui sikap buruk Naira, karena Shena dan Salwa diam demi keutuhan keluarga Rahardian.


Haris dan Yudha sudah memberi lampu hijau untuk pasangan masa depan mereka, begitupun dengan Han dan Salwa.


Shena sempat tidak menyangka jika Haris akan meminang teman nya Anisa, dan Yudha akan meminang Kakak sepupu nya Shiren, Jika Bian....


Entahlah setelah keputusan cerai Arga turun Bian semakin susah untuk di temui dan jarang berkunjung.


Sarah....dia masih menghilang tanpa kabar, apakah dia tidak merindukan putra nya? Hanya dia dan Tuhan yang tau.


Shaka, di usia nya menginjak 10 bulan Shaka sudah bisa berjalan, bahkan yang kini usia nya hampir genap 1 tahun dalam beberapa hari lagi Shaka sudah bisa berbicara jauh lebih jelas dari sebelum nya.


Shaka Sagara Rahardian.





Dady Arga





Mamah Shena kesayangan nya Shaka and Dady





...****************...


Arga dan Shaka menopang dagu mereka, melihat Shena makan dengan porsi sangat banyak, ya...semenjak kehamilan Shena menginjak 2 bulan, Shena tidak bisa mengontrol porsi makan nya, menurut beberapa pendapat itu karena bawaan hamil.


"Dikit-dikit sayang itu sambel nya." Ujar Arga sembari menunjukkan expresi ngeri.


"Des Mamah (pedas Mamah)." Ujar Shaka melihat Mamah nya menikmati sambal merah dengan lahap.


Shena menghentikan ritual nya.


"Sutt ....." Lalu meletakkan telunjuk nya di depan bibir.


"Oke...silahkan makan yang banyak, aku juga nggak ngelarang, tapi janji, bulan depan timbangan nya harus naik lebih dari 1 kilo."


"Mamah nggak bisa janji kan...curang ih." Sungut Shena.


"Hehehehe.." Arga dan Shaka melakukan tos.


Ya... walau porsi makan Shena sangat banyak namun tubuh nya tetap kecil, bahkan Yudha mengatakan bahwa Shena seperti orang cacingan, dengan badan kurus dan perut yang sudah lumayan terlihat buncit nya.


"Dady, Teteh 'Baby Siter Shaka'."


"Iya Shaka, jalan sendiri atuh, teteh ada di kamar nya ya." Jawab Arga mengelus rambut Shaka, dengan lucu nya Shaka melangkah menuju kamar Baby Siter Shaka yang terletak di lantai dasar.


Kini hanya tersisa Arga dan Shena, Arga mendekati Shena dan membersihkan sedikit sambal yang tersisa di sudut Bibir Shena.


"Pelan-pelan sayang." Ucap Arga lembut.


Shena memberi senyum manis.


"Mas...3 hari lagi hari ulang tahun Shaka, kita rayain di mana?"


Arga sedikit berfikir.


"Terserah yang, aku ikut kamu aja, di gedung mana, tema apa?" Tanya Arga balik.


Shena menghentikan kegiatan nya, bangkit untuk mencuci tangan di wastafel, lalu kembali duduk di hadapan Arga.


"Mas, lebih baik kita rayain di panti asuhan, uang yang akan kita keluarin untuk sewa gedung, dekor, belum yang lain-lain itu cukup banyak, gimana kalo kita santunin ke anak yatim piatu, kita bawa makanan dan perlengkapan sekolah, kebutuhan dapur dan lain-lain, itu akan lebih bermanfaat."


"Ke panti asuhan nya Salwa Sayang?"


"Panti asuhan nya Salwa kan udah di jamin sama Salwa, di Jakarta ada banyak panti asuhan yang kekurangan, kita cari di sini aja."


"Oke Mamah Sayang."

__ADS_1


"Kalo gitu aku mau kabarin Papah sama Mamah Mas." Shena hendak bangkit namun tangan nya di tahan oleh Arga, Shena terhuyung lalu jatuh duduk di pangkuan Arga.


"Kenapa Mas?" Tanya Shena heran.


Arga tersenyum devils lalu mendorong kepala Shena agar lebih dekat dengan wajah nya.


Cup...ciuman manis mendarat di bibir Shena.


"Ayo..." Bisik Arga.


"Ini dapur lo Mas, nggak usah aneh-aneh." Shena menarik telinga Arga lalu bangkit melangkah menuju kamar mereka di lantai 2, Arga mengekori Shena, sampai di dalam kamar Arga menutup rapat dan mengunci pintu.


Shena hanya menggeleng melihat tingkah suami nya, Lalu menyambar Handphone duduk di atas ranjang dan menghubungi Mamah.


"Hallo Assalamu'alaikum Mah, Mamah Sehat?"


"Alhamdulillah sehat Shena, kamu Sehat Nak."


"Sehat Mah, Mamah lagi apa, Shena ganggu nggak Mah?"


"Mamah sama Papah masih jalan-jalan nyari udara segar Shen, memang nya ada apa?"


Plak... Terdengar suara pukulan, Shena memukul bayi besar yang hampir saya menyusu.


"Suara apa itu Shen, apa Shaka jatuh." Tanya Mamah di sebrang telfon.


"Eh nggak Mah..itu bukan apa-apa Mah, emm...jadi gini Mah, lusa kan........." Shena menceritakan rencana nya pada Mamah dan Mamah sangat setuju dan memuji ide Shena.


Setelah berbincang beberapa saat akhir nya Shena mengakhiri obrolan mereka, dan langsung menatap tajam Arga.


"Apa sih sayang melotot gitu." Tanya Arga kepada Shena.


"Kamu genit banget deh Mas, kayak nggak ada waktu lagi." Shena membelakangi Arga malas.


Arga tersenyum dan memeluk Istri nya dari belakang satu tangan nya mengelus perut buncit Shena.


"Kamu semenjak hamil tambah dewasa aja yang, aku nggak suka, aku mau nya Istri manis ku yang manja kayak pertama kita kenal, yang suka ngambekan, rindu banget aku sama kamu yang dulu." Ujar Arga sembari memejamkan mata nya mengingat kenangan-kenangan nya bersama Shena saat pertama kali bertemu.


"Harus nya kamu tambah seneng kan Mas, aku tambah dewasa, malu atuh sama Shaka masa Mamah nya kayak anak-anak, nangisan, anak nya udah mau 2 masa ngambekan." Shena menyenderkan tubuh nya di tubuh kekar suami nya.


"Tapi aku seneng, lagi pula manja nya kan cuma sama aku yang, cuma di depan aku juga." Arga mengendus leher jenjang Shena, membuat Shena menggelinjang geli.


"Mass.....geli ih." Shena mendorong wajah Arga, namun Arga malah semakin liar, bukan ciuman, kali ini sebuah gigitan mendarat di bahu Shena, secepat kilat kini Shena sudah berada di bawah Kungkungan Arga, Arga melahap bibir merah Shena dengan rakus.


Untung saja kamar Arga dan Shena kedap suara, jadi sekencang apapun kegiatan di kamar mereka tidak akan ada yang mendengar.


Lalu mulai menyedot sesuatu yang menonjol, bagian paling di senangi Arga, Shena sudah tidak karu-karuan, des*han mulai lolos dari bibir merah nya, membuat Arga semakin bersemangat untuk melanjutkan kegiatan ke yang lebih inti dan n*kmat.


"Mamah!!!" Dor..dor..dor.."Dady, Mamah." Pekik Shaka dari balik pintu.


"Akh...... Shaka!!!" Arga menjambak rambut nya kesal.


Shena cepat-cepat merapihkan rambut dan baju nya lalu membuka pintu, terlihat Shaka berdiri sembari memancarkan senyum karena pintu sudah di buka.


Shena berjongkok agar bisa melihat wajah Shaka lebih dekat.


"Ada apa sayang?"


"Ayah, Buna(Bunda)." Shaka menunjuk ke arah bawah.


"Ayah dan Bunda?." Shena sedikit berfikir lalu mengendong Shaka dan turun menuju lantai dasar, ternyata benar ada Ricko dan Naira duduk di ruang TV.


"Bang, Teh." Panggil Shena.


Ricko dan Naira menengok ke sumber suara.


"Shen, Shaka Abang bawa ya, mau ke Bandung." Ujar Ricko kepada Shena.


Shena tersenyum lalu menatap Ricko dan Naira.


"Emang nya nggak ngerepotin Bang, Teh."


"Kayak baru pertama kami bawa aja sih Shen." Ujar Naira sedikit menunjukkan rasa kecewa.


Shena menjadi tidak enak.


"Bukan nya gitu Teh, yaudah nggak apa-apa Teh, Shaka mau ikut Ayah sama Bunda." Tanya Shena kepada Shaka yang berada di pangkuan nya.


"Itut...Ayah Buna."


Shena tersenyum kecut mendengar jawaban Shaka, lagi dan lagi ia harus merelakan Shaka jauh dari nya.


"Yuk sini Shaka, biar Mamah siapin keperluan mu." Naira berdiri hendak mengambil alih Shaka, namun tiba-tiba terdengar suara Arga.


"Mah, kamu lupa ya, besok kan Shaka mau periksa kesehatan rutin." Suara bariton Arga membuat semua orang menoleh ke arah nya.


"Haa..." Shena sedikit bingung dengan pernyataan Arga barusan.


Arga mendekat dan merangkul Shena.


"Baru tadi Dokter Helwa nelfon udah masa udah lupa sayang." Arga sedikit mengeratkan pelukan nya, akhir nya Shena mengerti maksud Arga.

__ADS_1


"Oh, iya ya Mas, ak..aku lupa hehe."


"Yah...nggak ikut Shaka nya." Ujar Naira lesu.


"Nggak apa-apa, lain kali ya Nak, kalo gitu Abang sama Naira berangkat ya Ga, Shena, And Bye jagoan." Ricko bangkit lalu dadah kepada Shaka, Shaka yang sadar akan di tinggal menangis dengan kencang.


"Ayah....itut....itut....Ayah...." Tangisan Shaka terdengar nyaring di rumah besar itu.


"Bawa ke atas sayang." Bisik Arga kepada Shena, lalu Arga mengantar Ricko dan Shaka hingga teras.


Shena membawa Shaka yang terus menangis.


"Cup cup sayang, kan ada Dady sama Mamah, sayang...." Shena terus menenangkan Shaka.


Namun Shaka tidak menggubris dan terus menangis, membuat hati Shena seakan teriris. Arga buru-buru menghampiri Shena dan Shaka di kamar mendengar tangisan Shaka semakin kencang.


"Sini sama Dady." Arga mengambil alih Shaka, karena terlihat Shena sudah bingung. Arga meletakkan Shaka di atas ranjang.


"Ayo nangis sampai puas Nak, keluarkan amarah mu." Ujar Arga kepada Shaka.


Sontak saja Shaka semakin menjadi-jadi bahkan menarik-narik baju nya sendiri, melihat itu Shena ingin mengendong Shaka namun di cegah oleh Arga.


"Jangan Sayang, biar dia nangis sampai puas."


"Tapi Mas, kasian Shaka!!" Shena mulai berkaca-kaca.


"Percaya sama aku yang, Shaka ini Tantrum." Pinta Arga dan akhir nya Shena keluar karena tidak tega melihat Shaka menangis, Shena menjauh menuju taman belakang agar tidak mendengar tangisan Shaka, di pinggir kolam renang Shena duduk dan merenung.


Shena notabe nya sangat pemikir, apapun terjadi kepada dirinya selalu ia fikirkan sampai jangka waktu lama, seakan-akan itu adalah masalah besar, selain pemikir ia juga memendam nya sendiri tanpa Arga tahu.


Shaka memang sangat dekat kepada Ricko dan Naira, mereka juga sering membawa Shaka, untuk jalan-jalan dan lain-lain, membuat Shena yang sudah menyayangi Shaka tulus seperti anak kandung menjadi tidak betah dan berat berpisah dengan Shaka, karena rasa tidak enak Shena terpaksa mengizinkan Shaka ikut dengan Ricko dan Naira yang di panggil Shaka dengan sebutan Ayah dan Bunda.


Arga menyadari itu, karena itulah baru saja Arga membuat alasan agar Shaka tidak di bawa dan tetap bersama Shena, Arga menyimpulkan bahwa Shaka sudah mulai memasuki tahap tantrum, dan membiarkan Shaka menangis agar hati putra nya menjadi lebih tenang.


20 menit kemudian.....


Shaka baru saja tertidur, Arga memindahkan Shaka menuju kamar nya dan meminta Baby Siter menjaga Shaka, lalu Arga mencari Shena. Arga melihat Shena menangis di pinggir kolam renang, sembari sesekali mengusap air mata nya.


"Sayang, dingin kaki nya nanti, ayo ke gazebo." Arga membantu Shena berdiri dan menuntun Shena duduk.


"Abang sama Teh Nai udah berangkat." Tanya Shena sembari tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa kepada diri nya.


"Udah, tadi langsung berangkat." Jawab Arga yang kini netra nya fokus kepada benda pipih di tangan nya.


"Oh, Shaka kemana?"


"Tidur yang."


"Oh." Jawab Shena singkat.


Beberapa detik berlalu, Arga yang sebenarnya menunggu Shena bercerita hanya mendapati Shen diam dengan pandangan kosong.


"Kamu kenapa?" Akhir nya Arga bertanya terlebih dahulu.


"Nggak apa-apa."


"Kenapa." Arga mengarahkan pandangan Shena ke arah dirinya.


Shena menepis tangan Arga.


"Nggak apa-apa!!"


"Cerita." Ujar Arga tidak ingin menyerah.


"Apaan sih Mas." Kesal Shena.


"Kenapa, cerita lah, jangan apa-apa kamu pendem sendiri, kebiasaan!!."


Hati Shena sedikit berdenyut mendengar kata-kata Arga yang tidak seperti biasa nya.


"Maaf." Ujar Shena lalu bangkit dan melangkah menuju kamar, Shena sedikit melompat naik ke atas ranjang, dan ikut mengekori Shena.


"Astaghfirullah Mah, inget yang di dalem perut!!" Arga kembali lepas mengontrol suara nya.


Hati Shena kembali berdenyut, air mata nya sudah tumpah.


"Pergi!!" Pekik Shena.


"Maaf sayang." Arga mencoba naik ke atas ranjang namun Shena mendorong Arga.


Arga harus extra sabar menghadapi Shena jika emosi nya sedang tidak stabil, Arga kembali teringat kata-kata pesikolog yang menangani Shena.


'Pak Arga luka masa lalu yang terjadi kepada Istri anda membuat mental nya sedikit mengalami gangguan, saya harap anda ataupun orang di sekitar beliau harus sabar dan hati-hati jika berbicara, karena sedikit saja Istri anda merasa tertekan Istri anda bisa melukai dirinya sendiri bahkan anda tanpa beliau sadari, seperti saat pertama anda membawa beliau kepada saya, peran anda sangat penting pak, agar perlahan kita bisa menghentikan obat yang terus di minum Istri anda,'


"Sayang, liat aku, ayo cerita sayang, ada apa, nanti kita cari jalan keluar nya ya." Arga menarik selimut yang menutupi tubuh Shena, lalu Shena berhambur ke pelukan Arga.


"Ak....aku....cuma nggak kuat jauh dari Shaka....aku...mau Shaka di sini aja, tapi siapa aku yang berhak nga....ngatur Shaka, aku cuma Ibu sambung, tapi aku sayang Shaka Mas...sayang...." Dengan sesegukan Shena menceritakan isi hati nya.


"Iya Sayang Mas tau, karena itu tadi Mas buat alesan kan, udah jangan nangis dan jangan di fikirin besok-besok Mas buat Shaka nggak akan di ajak-ajak lagi ya, Mas janji." Ujar Arga lebih lembut.


"Iy...iya...tapi sakit rasanya, Teh Naira sinis terus ke aku Mas."

__ADS_1


"Biarlah sayang, kita harus sabar ya, Istri Argani kan kuat."


Shena mengangguk lalu menghapus air mata nya.


__ADS_2