
Mata Arga terbelalak.
"Astaghfirullah Yang."
"Kamu kenapa, pucet banget wajah kamu."
Arga mengecek suhu tubuh Shena.
"Nggak panas, hey..kamu kenapa?" Arga menakupkan kedua tangan nya di wajah Shena.
"Aku datang bulan Mas, perut ku sakit banget."
"Kenapa nggak bilang sih yang."
"Malu." Jawab Shena pelan.
Lalu Arga membawa Shena dalam pelukan nya, namun tiba-tiba fikiran Arga berputar.
"Sayang! atau jangan-jangan karena semalem, ayo kita ke dokter yang." Arga yang panik langsung membantu Shena berdiri dan keluar dari kamar.
"Semalem apa Mas?" Tanya Shena heran.
"Pokok nya sekarang kita ke dokter." Arga menyambar kontak motor yang terletak di atas meja ruang tamu, ia kembali menuntun Shena, lalu menghidupkan motor yang terparkir di samping rumah.
"Naik sayang." Ucap Arga, Shena pasrah menuruti Arga karena memang perut nya sudah kelewat nyeri, setiap Shena datang bulan memang selalu nyeri, tapi entah kenapa kali ini nyeri itu semakin parah.
Arga melajukan kuda besi itu dengan kecepatan sedang, sudah agak lama mereka melajukan sepeda motor namun belum juga menemukan klinik, ataupun Puskesmas.
"Yang kok nggak ada Puskesmas, atau klinik gitu." Tanya Arga dengan tetap fokus mengendarai kuda besi.
Shena yang tidak banyak bicara karena nyeri perut sedikit tersenyum.
"Jarang Mas, namanya juga di kampung."
Mata Arga menangkap plang bertuliskan Bidan Fuji Utami.
"Nah itu ada Bidan yang, kita ke sana aja ya."
"Iya."
Arga memarkirkan kuda besi itu di halaman rumah Bidan, lalu Arga turun dan menuntun Shena melangkah.
"Permisi...." Panggil Arga namun tidak ada yang menjawab.
"Permisi." Arga lebih mengeraskan suara nya.
"Iya, ada yang bisa di bantu." Seorang wanita berhijab keluar dari dalam rumah.
"Mau periksa Buk, nyeri haid." Jawab Shena.
"Oh baik silahkan masuk." Bidan mempersilahkan Arga dan Shena masuk, setelah sampai di ruang pemeriksaan Shena di minta berbaring dan Bidan mulai memeriksa perut Shena.
"Kram ya Buk." Tanya Bidan pada Shena.
"Iya Buk, memang selalu kram kalo datang bulan tapi ini lebih kram lagi sampe lemes nggak tahan sakit nya." Jelas Shena.
"Ini faktor kelelahan Buk, mungkin akhir-akhir ini banyak naik kendaraan ya."
__ADS_1
"Iya betul Buk."
"Jangan khawatir, saya kasih obat pereda nyeri ya, semoga langsung reda habis ini." Ucap Bidan itu sembari membenarkan baju Shena kembali dan membantu Shena duduk.
Shena dan Ibu Bidan keluar dari ruangan periksa, Arga yang menunggu di luar langsung berdiri melihat Shena sudah selesai di periksa.
"Gimana keadaan Istri saya Buk?"
"Nggak berbahaya kok Pak, ini saya kasih obat nanti langsung di minum ya." Jawab Bu Bidan sembari menyiapkan obat untuk Shena.
"Emm...ada hubungan nya nggak Buk sama malem pertama." Ucap Arga pelan, mata Shena langsung terbelalak, spontan Shena mencubit pinggang Arga.
Bidan itu spontan tertawa mendengar kata-kata Arga.
"Oh jadi ceritanya pengantin baru ya, oke oke." Ucap Bidan itu sembari memberi Shena obat yang sudah di resepkan nya.
"Iya Buk, jadi semalem itu kan ada darah...humft...." Mulut Arga di bekap oleh Shena.
"Jadi berapa Buk?" Tanya Shena.
"50 ribu."
Shena mengeluarkan uang 50 ribu rupiah dari saku celana nya, lalu segera menarik Arga keluar menuju tempat motor mereka di parkir.
"Kenapa sih Mas, hal yang nggak perlu di ceritain kok di ceritain?!" Kesal Shena.
"Gini sayang, jangan-jangan kamu bukan datang bulan, tapi karena pendarahan semalem kan....."
"Fiks ... Dulu pas sekolah suka tidur, ayo pulang." Shena memotong ucapan Arga.
Arga menggaruk kepala nya, sampai di tengah perjalanan Arga salah fokus dengan pemandangan pantai yang terlihat dari pinggir jalan.
"Boleh Mas, ayo, kasian juga Mas Arga nggak ikut jalan-jalan karena aku."
Arga melirik Shena yang di bonceng nya.
"Kamu kalo gini aku jadi pengen nerkam kamu yang."
"Lewat sini Mas, parkir di sana." Shena menunjuk beberapa pohon kelapa, terlihat juga ada cukup ramai orang yang sedang bermain di pantai, terlebih anak-anak, ada beberapa pendagang kuliner juga.
Arga memarkirkan motor, lalu mereka melangkah mendekati pedagang jajanan.
"Duduk yang, aku beli minum dulu."
"Iya Mas." Shena duduk di kursi plastik milik pedagang, sambil memperhatikan Arga yang sedang berinteraksi dengan pedagang, tak lama Arga kembali dengan botol air mineral di tangan nya, Arga duduk di dekat Shena.
"Mana obat nya biar aku bukain."
Shena menyerahkan kantong plastik berisi obat kepada Shena, Arga menerima dan langsung membuka pil obat yang berjumlah 3 macam, lalu menyerahkan pada Shena, Shena langsung meminum obat itu.
"Semoga sembuh ya, kalo masih belum reda nanti kita cari Dokter."
"Iya Mas, ayo kita ke pantai."
"Ayo sayang." Arga bangkit dan menggandeng tangan Shena.
"Wahh...nggak kalah indah sama pantai di kota, foto yuk yang buat kenang-kenangan."
__ADS_1
Arga dan Shena foto dengan berbagai gaya, di potret terakhir Arga mencium pipi Shena.
"Mas di liatin orang." Keluh Shena.
"Suka-suka hehe, ayo kita jalan-jalan."
Arga menarik tangan Shena, sedikit berlari mereka menjauhi keramaian, Arga tidak melepas genggaman nya seakan-akan mengumumkan kepada semua orang bahwa Shena adalah milik nya.
"Mas..." Panggil Shena pada Arga.
"Hemm...."
"Makasih."
"Buat apa?"
"Semua nya, makasih udah nerima aku dan 1000 kekurangan ku." Suara Shena bergetar, air mata nya mulai menetes.
Arga menghentikan langkah nya.
"Kenapa jadi baper gini."
"Ak...aku...masih butuh banyak bimbingan kamu, kalo aku salah di tegur ya Mas, ja..jangan di biarin aja, aku rasa kurang pantes buat kamu...." Suara Shena terdengar serak karena tangisan nya.
Arga menarik Shena ke dalam pelukan nya.
"Kenapa ngomong gitu."
"Sikap aku terlalu kanak-kanak."
Arga membuang nafas perlahan, lalu menuntun Shena duduk di atas pohon kelapa yang sudah tumbang di dekat bibir pantai.
Arga menggenggam tangan Shena.
"Kamu tau, kenapa aku jatuh cinta sama kamu?"
"Karena kamu manja, polos, perhatian, aku suka...." Jelas Arga sembari menghapus air mata Shena.
"Kalo kamu suka sama aku kenapa?" Sambung Arga lagi.
"Mas Arga baik, penyayang, perhatian juga, penyabar, romantis."
Arga memberi senyuman tipis.
"Terimakasih sayang....Maaf ya tadi pagi aku pergi, habis nya cemberut terus."
"Oh iya tadi pagi Mas Arga kemana?"
"Jalan-jalan aja, sampe di jembatan aku di samperin ABG di kira bule, minta foto mereka." Ucap Arga di selingi tawa.
"Seneng? genit banget." Shena mengalihkan pandangan nya.
"Ngambek, dengerin ya sayang, Afshena Fania, Istri ku tercinta, kamu dan Shaka adalah prioritas ku sekarang, apapun yang aku lakuin, yang aku kerjain siang malem, itu buat kalian, aku nggak minta imbalan aneh-aneh, aku cuma minta kamu setia dan sayang sama aku dan Shaka, cukup itu aja."
"Aku sayang kamu dan Shaka lebih dari apa yang ada di angan-angan kamu."
Arga membawa Shena dalam pelukan nya.
__ADS_1
"Makasih sayang."