
Pukul 9:30 kini mereka sudah naik pesawat transit menuju Pesisir Barat dari Bandar udara Raden Inten ll, Bandar Lampung, pesawat kali ini cukup kecil hanya mampu menampung 12 orang, penerbangan hanya di lakukan setiap hari Rabu dan Sabtu (Pulang-Pergi), Arga, Shena dan Bian sedang mengatur kemana mereka akan menginap yang kira-kira dekat dengan rumah Nenek Shena, orang yang pertama kali akan mereka hampiri.
"Pantai tanjung setia ya, kamu yakin kan Shen?" Tanya Bian untuk yang ke 3 kali nya.
"Yakin Mas, untuk nama daerah aku masih inget banget, aku cuma lupa patokan jalan kalo aku sebut lisan, Insya Allah kalo aku liat langsung tanjung setia nanti aku akan inget."
Arga mengusap punggung Shena.
"Kuat sayang, ada aku."
"Dan ada kami." Pekik Yudha dari kursi barisan belakang.
"Terimakasih." Shena terharu dengan dukungan Arga dan lain nya.
"Kita cukup liat dari jauh, biar Bian, Haris, sama Yudha yang pertama ke rumah Nenek kamu sayang, kita denger dari earphone aja ya." Jelas Arga pada Shena.
"Iya Mas."
"Kita usut dan tuntut manusia biadap itu!!"
"Percaya aja sama gua, lo terima beres Ga." Bagi Bian kasus nya kali ini sangat kecil, cukup menjentikkan jari maka semua nya akan berjalan mulus.
"Tapi Mas, kan kita nggak ada barang bukti." Ucap Shena khawatir.
"Sekarang ini kita nggak perlu barang bukti penampakan jelas kejadian itu Shen, hmm...pokok nya kalian terima beres, asal kalian percaya sama gua, semua nya beres."
"Iya Mas Bian, terimakasih banyak." Shena kini sedikit bisa bernafas lega walau masih ada kekhawatiran sedikit di hati nya.
******
Kurang lebih pukul 10:30 mereka sudah sampai di Bandara Muhammad Taufiq Kiemas Krui, Pesisir Barat, mereka langsung di jemput supir dan mobil sewaan selama mereka di Pesisir Barat, mereka akan langsung di antar ke penginapan, sebelum nya Arga meminta Natasya mengatur semua nya lewat aplikasi hotel dan Travelling.
Karena Ricko, Naira dan Salwa memutuskan ikut, Arga meminta Natasya menambah sewaan mobil menjadi 2 unit, selama perjalanan Shena mencoba menahan air mata nya yang kini sudah berada di ujung, sedikit lagi akan jatuh, sungguh perjalanan mengharukan kurang lebih 30 menit perjalanan dari Bandara di pekon(desa) serai menuju tanjung setia.
Sungguh kini Shena tidak percaya pada perjalanan hidup nya sendiri, 8 tahun sudah Shena tidak menginjakkan kaki di tanah kelahiran nya ini, Shena sudah tidak kuat menahan air mata nya, Shena menutup wajah nya dan menangis tersedu-sedu, kini ia telah sampai di tanah kelahiran nya, tanah kelahiran yang begitu indah, dan menyisahkan cerita kelam di ujung cerita terdahulu.
Arga membawa Shena dalam pelukan nya, Salwa yang memang 1 mobil dengan Arga dan Shena ikut mendekat dan memeluk calon Kakak ipar nya itu.
"Kuat Kak, Kakak pasti kuat, ada kami di sini." Salwa ikut menetes kan air mata nya, begitupun dengan Arga, sungguh berat pengorbanan Shena untuk hidup nya sendiri selama ini.
"Jangan nangis, kan ada aku, ayo hapus air mata nya, yang kuat." Arga mendongakkan wajah Shena lalu menghapus air mata wanita yang kini sangat di cintai nya itu.
Tak lama mobil mereka sudah sampai di penginapan (Resort), Shena mengusap dada nya sendiri untuk menguatkan diri nya sendiri.
Arga, Yudha, Ricko dan Haris sibuk mengeluarkan koper mereka, tidak dengan Bian, ia sibuk dengan gitar nya tanpa memikirkan pakaian salin untuk tubuh nya sendiri.
"Huahh...sampe juga." Pekik Yudha.
"Di sini panas." Pekik Haris.
"Ada AC kan di kamar?" Tanya Bian pada Arga.
"Ada, berisik."
Mereka memasuki kamar masing-masing, Salwa, Shena dan Naira tidur dalam 1 kamar yang memiliki 3 ranjang kecil, cukup untuk 1 orang per-ranjang.
__ADS_1
Yudha memilih 1 kamar dengan Haris, sedangkan Ricko memilih 1 kamar dengan Bian, dan Arga tersenyum smirk.
"Nanti gua tidur sama Shena, harus optimis hahaha."
"Jangan terlalu berharap hari ini." Ledek Yudha.
"Gua udah liat peta nya, tempat ini nggak luas, ketemu hari ini, yakin gua, Shena juga inget jalan nya, walau lupa nama desa nya." Ucap Arga yakin.
Mereka masuk ke kamar masing-masing, lalu membersihkan diri, untuk selanjut nya mereka akan makan siang sebelum memulai misi tujuan utama mereka kemari.
kurang lebih pukul 11.00 siang. Mereka sudah berkumpul di gazebo hotel, menunggu makanan datang untuk makan siang, penginapan yang Arga sewa kali ini mempunyai pemandangan langsung dengan pantai tanjung setia.
"Makasih Ris baju nya hehe, nanti gua beli kok." Ucap Bian pada haris yang sudah meminjamkan nya baju.
"Oke." Haris memberi jempol.
(Gambar asli Resort Tanjung setia)
Saat makan siang datang mereka langsung menyantap makan siang dengan lahap, tadi pagi mereka belum sempat sarapan karena bangun terlalu siang, entah jam berapa semalam mereka selesai berbincang sebelum akhirnya tidur.
"Akh...kenyang, eh ada yang jual degan, panas-panas gini seger." Yudha turun dari gazebo dan menghampiri tukang jual degan kelapa di pinggir pantai.
"Kak Yudha, Salwa mau juga." Pekik Salwa lalu menyusul Yudha.
"Seger tuh, ayo kita kesana juga." Ajak Bian pada Haris dan Han.
"Lah pergi semua mereka, kamu mau sayang, ayo kita ke sana." Arga turun dari gazebo dan membantu Shena turun lalu ikut menyusul yang lain nya.
Tersisa Ricko dan Naira di gazebo.
"Nanti aja Mas, Mas apa kita nanti ikut Arga cari keluarga Shena?"
"Iya Nai."
"Kan kita kesini mau foto prewedding Mas." Naira protes dengan halus.
"Aku tau Nai, tapi tujuan utama aku kan dampingin Arga, soal prewed, masih ada waktu 2 hari kedepan, yang penting urusan Adik ku selesai dulu."
"Iya." Naira tersenyum kecut.
"Ayo kita kesana, pada minum degan tu."
"Ayo." Lalu mereka menyusul yang lainnya, yang sudah menikmati degan.
"Sebelum nya kita berdoa dulu yuk gaes semoga urusan kita, tujuan kita kesini lancar dan cepet selesai." Ucap Bian saat mereka sudah duduk dengan degan masing-masing.
"Amin...." Jawab yang lain nya bersamaan.
"Kamu inget tempat ini sayang?" Tanya Arga pada Shena.
"Nggak Mas, udah banyak yang berubah."
"Kita gercep yuk, selesai sholat Zuhur kita otw, kita udah sampe sini, lebih cepat lebih baik." Ucap Bian.
__ADS_1
"Lebih cepat lebih baik, lebih cepat juga lo gajian." Sindir Yudha.
"Hehehe, tau aja lo, canda serius gua!!"
"Iya deh Pak pengacara." Arga menepuk-nepuk bahu Bian.
******
Kini mereka sudah berada di jalan raya tanjung setia, 1 mobil berisikan Supir, Bian, Arga, Shena, dan Salwa, 1 mobil lagi supir, Yudha, Haris, Han, Ricko dan Naira, walau berbeda mobil namun mereka tersambung dalam 1 panggilan dan dapat saling mendengar dan mengobrol, Supir yang membawa rombongan Arga menepikan mobil dan menanyakan kepada Shena apakah Shena mengingat jalan yang mereka lalui kali ini, Shena melihat-lihat keadaan sekitar.
"Ada apa berenti?" Tanya Haris di sebrang panggilan.
"Nginget jalan." Jawab Salwa.
"Ini pasar kan Pak, kalo nggak salah." Tanya Shena.
"Iya betul." Jawab Pak supir.
"Dari sini kemana Shen?" Tanya Bian pada Shena.
"Kayak nya lurus Mas Bian, ngelewatin pasar ada gang sebelah kanan masuk sana."
"Oke, terus Pak."
Mereka melewati pasar dan benar ada gang masuk sebelah kanan, mereka mulai memasuki gang yang cukup luas itu, Shena melihat-lihat keadaan sekitar, sungguh banyak yang berbeda.
"Dari sini jauh nggak Mbak?" Tanya supir.
"Harus nya nggak Pak, mungkin kira-kira 15 menitan."
"Udah banyak yang berubah Mas, jalan, rumah, semua nya beda, udah banyak yang di renovasi rumah nya." Jelas Shena pada Arga.
"Pasti sayang, 8 tahun itu bukan waktu singkat."
"Emang dulu gimana Kak." Tanya Salwa penasaran.
"Jalan nya masih batu, rumah nya kebanyakan masih papan Wa, tapi masih ada beberapa yang belum di renovasi, cuma beda dikit." Jelas Shena, Salwa mengangguk mengerti.
Setelah 10 menit mereka melewati jembatan dan sungai, ingatan Shena terkunci di jembatan ini.
"Stop Pak, berenti dulu." Pinta Shena, Shena melihat keadaan sekitar.
"Aku inget sungai ini Mas, dulu kalo ke rumah Nenek, aku sering mandi di sini, gang kecil di depan itu Mas, masuk sana." Shena menunjuk gang kecil di sebelah kiri.
"Bagus, terus Pak." Pinta Bian, mereka mulai memasuki gang, Shena melihat keadaan sekitar, sungguh banyak yang berubah, Shena mengingat-ingat rumah Nenek nya, setelah 5 menitan mereka menyusuri gang itu.
"Stop Pak." Pinta Shena.
Shena melihat-lihat lagi, fokus Shena tertuju pada pohon mangga besar di depan rumah minimalis bercat hijau telor asin, dari mobil mungkin berjarak 50 meter.
"Pohon mangga itu Mas, aku inget, kayak nya itu rumah Nenek."
"Siapa Shen nama Nenek kamu?" Tanya Bian.
"Nenek Rohima Mas."
__ADS_1
"Oke bagus Shen, Yudha, Haris, kita siap-siap." Ucap Bian kepada Yudha dan Haris melalui earphone.
Terimakasih yang sudah mampir, jangan lupa like, +Fav, vote dan hadiah nya, kritik dan saran di persilahkan , salam sayang dari Author ,🥰🥰