
19:00 WIB.
Resort Tanjung Setia.
Setelah rasa jengkel nya hilang karena di usili Shena, Arga kini sedang Vidio Call dengan Papah dan Mamah, Arga meminta restu kepada kedua orang tua nya.
"Arga deg-degan Mah, parah jantung Arga kayak mau copot, dulu nggak gini." Adu Arga pada Mamah.
"Karena ini pernikahan yang kamu mau, jangan lupa belajar terus ijab Qabul nya, jangan sampai salah ya, jangan lupa Bismillah."
"Iya Mah, Papah sama Mamah doain Arga ya, semoga ini jadi pernikahan terakhir Arga."
"Papah dan Mamah selalu doain kamu, selagi masih di jalan baik, titip salam juga untuk keluarga Shena, terutama Nenek nya Shena Ga."
"Iya Pah, nanti Arga sampein, Shaka doain Papah juga ya Nak." Ucap Arga pada Shaka yang tertidur pada gendongan Papah.
"Iya Papah." Mamah menjawab dengan membuat suara nya seperti anak kecil.
"Kak, ayo siap-siap!!." Pekik Salwa dari dalam kamar.
"Salwa manggil Mah, udah dulu ya Mah, Pah, Assalamu'alaikum."
"Iya, Wa'alaikumsalam."
Arga mematikan telfon lalu melangkah menuju kamar, terlihat mereka semua sudah bersiap, terkecuali dirinya yang masih mengenakan celana pendek dan kaos oblong.
Salwa berdiri dengan tangan di pinggang melihat Kakak nya malah melongo melihat mereka yang sedang bersiap bahkan sebagian sudah siap.
"Kakak ayo siap-siap, malah bengong!!" Protes Shena.
"Iya nanti malah gua nih yang ijab." Celetuk Yudha.
"Beh, sorry, sampe di titik ini penuh perjuangan bro, mana salin Kakak Wa."
"Di atas kasur tuh." Tunjuk Salwa ke arah ranjang.
Arga menyambar salin nya dan melangkah menuju kamar mandi, beberapa menit kemudian Arga sudah siap dengan celana formal berwarna hitam, kemeja putih, jas putih dan tak lupa dasi merah hati dan peci hitam.
Arga tersenyum ke arah kaca.
"Bismillahirrahmanirrahim semoga untuk yang terakhir." Lalu Arga melangkah keluar, terlihat Kakak, Adik serta para sahabat nya sudah siap dengan outfit masing-masing, Arga mencari sosok Ricko, mata Arga menyapu seluruh ruangan lalu menangkap Kakak nya sedang duduk di sofa dan sibuk dengan Handphone nya.
Arga menghampiri Ricko lalu duduk bersimpuh di depan Ricko.
"Maaf Bang, Arga langkahin Abang lagi, Arga harap Abang ikhlas, dan restui Arga, Arga minta doa, semoga pernikahan Arga kali ini untuk yang terakhir, sekali lagi Maaf Bang, Maaf Arga selalu ngerepotin Abang, dari kecil sampai besar Arga selalu bikin Abang susah, dan Arga selalu jadi Adik nakal, Arga Bandel, makasih Abang selalu nutupin nakal nya Arga dari Papah sama Mamah." Dengan menangis tersedu-sedu Arga mengungkapkan isi hati nya paling dalam pada sang Kakak.
__ADS_1
Seketika suasana menjadi haru, Salwa kini sudah tidak kuasa menahan air mata nya, Ricko meletakkan Handphone nya lalu memeluk Arga dengan erat.
"Abang ikhlas lahir batin, jadi suami dan Ayah yang baik, doa Abang selalu untuk kalian, Adik-adik Abang, Abang akan bahagia kalau kalian bahagia, kebahagiaan kalian prioritas utama Abang, Abang restui kamu, dan kamu inget sampai kapan pun, apapun yang Abang lakuin itu semua demi masa depan dan kebaikan kalian."
"Makasih Bang." Dua saudara laki-laki yang saling menyayangi meluapkan ungkapan hati masing-masing, Ricko kini terharu karena Adik nya meminta restu, tidak seperti pernikahan sebelum nya yang cuek seakan-akan tidak akan terjadi apa-apa.
Salwa mendekat lalu mencolek lengan kedua Kakak nya dengan bibir seakan bisa di ikat.
Ricko melepaskan pelukan nya pada Arga lalu Ricko dan Arga memeluk Adik bungsu mereka, Ricko dan Arga mengecup dahi Adik nya bergantian, momen itu diam-diam di abadikan Haris.
"Bentar lagi Abang sama Kakak nikah, Salwa kapan hiks..hiks..hiks.."
"Yaelah, ngasih kode." Sindir Yudha.
Sementara Han menggaruk kepala nya.
"Udah udah udah...ayo berangkat, terlambat entar!!" Pekik Haris membuat Bian yang sedang serius memperhatikan keharmonisan Kakak beradik itu terlonjak kaget, sementara Naira hanya diam.
******
Rumah Nenek Rohima Pukul 20:15.
"Saya terima Nikah dan Kawin nya Afshena Fania Binti Muhamad Sayid dengan maskawin seperangkat alat Sholat dan uang tunai tersebut di bayar tunai...."
"Bagaimana saksi?"
Ustadz membaca doa, lalu Arga di persilahkan memakaikan cincin pernikahan, begitu juga dengan Shena, selanjut nya Arga di minta mencium kening Istri tercinta.
Dengan dada berdebar Arga mencium kening wanita yang kini sudah Sah menjadi Istri nya, padahal ini bukan ciuman pertama, namun entah kenapa rasanya Arga sangat gugup, apalagi Shena sangat cantik dengan taburan make up yang membuat Shena semakin cantik.
Bahkan saat pertama melihat Shena Arga sangat pangling dan melongo melihat calon Istri nya yang berubah bak bidadari dengan kebaya putih yang indah.
Shena kini mencium tangan suami nya, lalu mereka sungkem kepada Nenek Rohima dan menyalami tamu-tamu yang hadir.
"Selamat Ga, Shena, doa terbaik dari Abang." Doa Ricko untuk Shena dan Arga.
"Pelan-pelan aja nanti malem." Bisik Yudha dan Haris pada Arga, ingin sekali rasanya Arga menghantam kedua sahabat nya itu.
"Selamat ya Kakak, Kak Shena, Kakak ipar ku sekarang." Salwa memeluk Shena dengan wajah berseri-seri.
"Selamat ya, semoga samawa." Doa Naira saat Shena menyalami Naira.
"Selamat Bro, Shena, semoga sakinah mawadah warahmah." Doa Han.
__ADS_1
"Selamat, doa in gua cepet nyusul huhuhu." Ucap Bian pura-pura sedih.
Pukul 21:00 tamu sudah mulai sepi, Ricko memutuskan kembali menuju penginapan bersama yang lain nya, kini hanya tersisa beberapa orang di rumah Nenek Rohima, Om Yadi mempersilahkan Arga dan Shena untuk beristirahat.
Arga dan Shena masuk ke dalam kamar pengantin yang sudah di hias sedemikian rupa, Arga membiarkan Shena masuk terlebih dahulu, Arga menyusul di belakang Shena, lalu ia mengunci pintu kamar.
Arga ikut melepas jas dan dasi, lalu menggulung kemeja nya sebatas siku.
"Kenapa WA aku kamu blokir?" Ucap Arga, membuat wajah Shena merah ia baru teringat dengan keusilan nya.
"Siapa yang blokir." Elak Shena.
"Kamu."
"Nggak kok,emm... aku mau ke kamar mandi sebentar Mas." Shena hendak melangkah menuju pintu keluar, karena kamar mandi hanya satu terletak di dekat dapur, namun Arga berdiri lalu menahan tangan Shena dan menarik nya, hingga tubuh Shena bertubrukan dengan tubuh Arga.
Dalam beberapa detik mata Arga dan Shena bertemu.
"Panggil Suamiku."
"Hah...?" Shena bingung.
"Panggil."
"Su...suamiku."
Arga tersenyum lalu mengecup bibir Shena, Cup....
"Istriku....."
Arga dan Shena sama-sama tersenyum.
"Kamu bahagia?"
Shena mengangguk.
"Bahagia banget."
"Jadi Istri yang baik ya, Istri yang penurut, dan aku akan buat kamu jadi Ratu."
"Janji." Shena memberi kelingking nya pada Arga.
"Janji." Arga dan Shena menyatukan kelingking mereka, Arga tersenyum lalu kembali memeluk Shena.
'Aku minta hak ku boleh?' Bisik Arga di teinga Shena.
__ADS_1
Blush....Pipi Shena langsung memerah, dengan perlahan Shena mengangguk.