
Shaka Sagara Rahardian (Shaka)
******
Hari ini adalah hari kepulangan Arga berserta rombongan, jujur Shena berat melepas berpisah dengan Nenek nya, Shena mencoba membujuk Nenek agar ikut bersama nya, begitupun dengan Arga, namun Nenek menolak, dan meyakinkan Shena jika ia akan baik-baik saja bersama Shiren.
Arga memutuskan membelikan sebuah Handphone untuk Nenek agar Shena lebih mudah menghubungi dan bisa melihat wajah Nenek lewat Vidio Call, saat ini waktu menunjukkan pukul 11:30 artinya 1 jam lagi mereka akan segera berangkat menuju Ibu Kota Jakarta.
Shena terus meneteskan air mata seraya memegang erat tangan Nenek nya.
"Kalo Allah mengizinkan, Insya Allah kami ke sini lagi Nek, Shena minta doa semoga urusan Mas Arga cepet selesai, nanti kami akan bawa anak kami ke sini, Nenek baik-baik ya, sama Kak Shiren, Om, Bibik, Shena titip Nenek."
"Iya Shena, Jangan khawatir, kami pasti jaga Nenek ya." Bibik mengusap punggung Shena yang terus bergetar karena tangisan nya.
"Nenek, Om, Bibik pokok nya kalo ada apa-apa hubungi Arga ya, jangan sungkan, karena Nenek adalah tanggung jawab Arga dan Shena sekarang.... Oh ya Om, Arga juga titip amanah Arga kemarin ya, pokok nya Om atur semua."
"Insya Allah Nak Arga terimakasih sudah percaya dengan Om."
"Sama-sama Om, kalau begitu kami pamit." Ucap Arga berpamitan.
"Terimakasih Nek, Om Bibik, Shiren, sudah menyambut kami dengan lapang dada, Saya sangat merasa di hargai, semoga kita di beri umur panjang dan bisa berjumpa lagi." Pamit Ricko.
"Iya Nak, sekarang kalian keluarga kami, kalian hati-hati ya, Kami juga titip Shena.."
Mereka saling bersalaman.
"Dah Shiren, pokok nya kapan-kapan ke Jakarta ya." Salwa memeluk Shiren yang memang mereka sudah sangat akrab.
"Iya Wa, hati-hati ya."
Yudha mendekati Shiren, menatap mata gadis itu dengan sayu.
'Jangan lupa bales chat aku' Bisik Yudha pada Shiren, dan di jawab anggukan kecil oleh Shiren.
Mereka segera berangkat menuju Bandara Taufiq Kiemas Krui, Pesisir Barat, kurang lebih perjalanan menuju Bandara Taufiq Kiemas sekitar 30 menit, sampai di Bandara Taufiq Kiemas, Krui. Mereka hanya menunggu 10 menit dan langsung terbang menuju Bandara Raden Inten ll Bandar Lampung, kurang lebih 50 menit mereka sudah sampai di Bandara Raden Inten ll dan lanjut transit menuju Bandara Husein Sastranegara, Bandung.
1 jam penerbangan mereka sudah sampai di Bandung, 2 buah mobil beserta supir pribadi keluarga Bakrie sudah menunggu kedatangan mereka, 20 menit kemudian mereka sudah sampai di kediaman Bakrie Rahardian tepat pukul 14:00, lewat pesan singkat Shena mengabarkan kepada keluarga di Pesisir Barat bahwa dirinya dan rombongan sudah sampai dengan selamat dan sehat wal'afiat.
Pertemuan antara Arga dan kedua orang tua nya kali ini sangat berbeda dari biasa nya, suasana haru menyelimuti pertemuan mereka kali ini, dengan berurai air mata Arga dan Shena bersimpuh meminta doa restu kembali untuk pernikahan mereka, dengan senang hati Papah, dan Mamah memberi restu untuk Anak dan menantu mereka.
"Yudha juga minta restu Om, Tante." Tiba-tiba Yudha nyelonong menyalami Papah dan Mamah.
Bibir Mamah dan Papah membentuk senyum indah mendengar kata-kata Yudha.
"Kamu mau Nikah Yud, Alhamdulillah." Ucap Papah.
__ADS_1
"Alhamdulillah kapan acara nya?" Tanya Mamah.
"Bukan Nikah Om, Tante, Yudha minta restu semoga lancar ngurusin perceraian Arga sama Sarah."
"Udah gua duga." Haris menggelengkan kepala nya.
"Hehe loh minta restu ini, gua yang bakal repot ke sana kemari sama si Bian." Yudha membela diri.
"Loh emang nya udah di daftarin?" Tanya Mamah.
"Beres Tan, Bian yang ngurus, semua nya beres, Kemarin pagi udah masuk gugatan nya." Jawab Bian.
"Memang jika kamu dan Papa mu sudah tidak di ragukan lagi." Puji Papah pada Bian.
"Sekarang juga Arga telfon Sarah untuk talak dia Pah, karena surat gugatan nanti di kirim ke alamat rumah kami di indonesia, jadi Arga harus talak lewat panggilan."
Papah mengangguk.
"Silahkan Ga, berhubung kita berkumpul."
Arga segera melakukan panggilan kepada Sarah, namun tidak di gubris.
"Nggak di angkat." Gumam Arga.
"Coba lagi." Ucap Ricko.
Yudha, Haris, Bian dan Han serta yang lain nya hanya diam, mereka ikut senam jantung, padahal Arga yang akan menalak Sarah, begitupun dengan Shena, entah kenapa rasanya jantung nya berdegup lebih kencang, rasa cemas tiba-tiba melanda dirinya.
"Sarah aku mau ngomong penting."
"Ngomong apa, minta aku pulang, nggak bisa Mas."
"Bukan."
"Terus apa?" Terlihat Sarah memandang Arga malas.
"Sarah Amanda Binti Jordi Susilo, saya Argani Davkara Rahardin Bin Bakrie Rahardian menjatuhkan Talak 1 kepada kamu atas penghianatan yang kamu lakukan, sekarang surat gugatan sudah masuk ke pengadilan dengan berbagai bukti yang saya punya."
Bagai di sambar petir Sarah mendengar kata demi kata yang di lontarkan Yudha, apa ini Talak? Penghianatan? Bagaimana Arga tau, tau dari mana?
"Apa maksud kamu Mas." Sarah masih pura-pura tidak tahu.
"Terimakasih sudah melahirkan Shaka untuk ku, terimakasih sudah mengkhianati ku, terimakasih untuk semua nya, sekarang aku Talak 2 kamu atas rasa sakit yang akan di derita Shaka di hari esok."
"Maksud kamu apa Mas, dasar gila kamu, kamu mabok!!"
"Sekarang kamu aku Talak 3 atas kata-kata kasar yang kamu lontarkan terimakasih, sampai jumpa di pengadilan, siap kan kata-kata untuk membela diri mu, walau kamu tidak akan menang."
"Aku akan ambil Shaka Mas, apapun cara nya aku akan ambil Shaka!!"
__ADS_1
"Silahkan, sekarang kamu persiapkan cara kamu untuk ambil Shaka, silahkan...." Arga menyunggingkan senyum nya.
Lalu Arga mematikan panggilan vidio itu, Arga meletakkan Handphone nya lalu terjengkit melihat orang-orang sudah menatap nya serius.
"Kenapa?" Tanya Arga bingung.
"Udah Ga, gitu aja?" Tanya Haris.
"Ya iya lah, memang nya mau gimana?" Tanya Arga balik.
"Atuh langsung Talak Tilu." Haris bertepuk tangan.
"Hm...."
"Ayo sayang kita naik ke kamar Shaka, istirahat dulu." Arga bangkit.
"Iya Mas, Pah, Mah, Bang Ricko, Kak Naira, Salwa, semua nya kami istirahat dulu ya." Pamit Shena pada semua orang.
Dan di persilahkan oleh mereka.
"Sopan ya Pah Shena." Puji Mamah di depan semua orang.
"Iya Mah."
"Iya Mah, asik lagi, penyabar, asik lah pokok nya." Salwa tak kalah antusias memuji Kakak ipar nya.
"Pinter nyanyi lagi Tan." Tambah Bian.
"Ya masuk lah kriteria menantu idaman, masakan nya, emh...ngeunah Tan." Yudha memberi jempol.
"Makan aja yang di nilai." Han menggeleng.
"Seasik itu Kah, syukurlah kalo gitu."
Lagi lagi tanpa mereka sadari seseorang mulai mengukir lukisan tidak suka di hati nya.
"Kalo gitu Ricko mau nganter Naira dulu ya Mah, Pah."
"Iya Bang, hati-hati."
"Nganter beneran, jangan belok." Ledek Yudha kepada Ricko.
"Lebih baik kalian istirahat dulu, baru lanjut ke Jakarta, atau kalian menginap saja dulu di sini." Sarah Papah.
"Bukan nya nggak mau Om, tapi kerjaan di kantor udah numpuk, besok harus tidur seharian biar strong Om." Jawab Haris di selingi canda.
"Hahaha, baik lah, apa Arga dan Shena langsung ke Jakarta juga ya Mah." Tanya Papah pada Mamah.
"Mungkin Pah, Papah kan tau sendiri Arga sibuk."
__ADS_1
Papah mengangguk mengerti.