
Shena sedang sibuk berkirim pesan dengan beberapa teman perantauan nya di beberapa kota, walau hanya sekedar bertanya kabar Shena tak akan melupakan mereka.
Shena juga berkirim pesan dengan teman-teman nya di Cafe terakhir Shena bekerja, saat hari pertama Shena di pecat mereka sangat khawatir mengetahui Shena tidak ada di mess, Shena menjelaskan bahwa ia baik-baik saja dan berada di tempat yang nyaman.
Tok..tok..tok.. Saat pintu di ketuk senyum Shena langsung merekah, ia buru-buru membuka pintu menyambut pujaan hati nya datang, sebelum benar-benar membuka pintu Shena mengusap dada nya yang berdebar.
Ceklek....Arga di sambut dengan senyum manis Shena, namun Arga memilih langsung merebahkan diri karena tubuh nya cukup lelah untuk hari ini. Shena menutup pintu lalu menyusul Arga dan duduk di tepi ranjang.
"Capek ya Mas." Tanya Shena.
"Iya Shen, kita ke Jakarta 1 jam lagi ya, aku tidur sebentar aja ngilangin ngantuk dulu."
"Iya Mas, em.. kalo nggak keberatan aku pijitin ya." Shena menawarkan diri.
"Kalo kamu nggak capek boleh aja." Arga tengkurap memposisikan diri.
"Oke."
Shena mulai mulai memijit, mendahului kaki Arga, ia memperhatikan Arga yang mengenakan Batik.
"Mas Arga dari kondangan?" Tanya Shena penasaran.
"Iya, oh iya aku lupa, itu aku beliin makanan buat kamu, kamu makan aja dulu ya, mijitin nya nanti aja."
"Mijitin Mas aja dulu."
"Yaudah, makasih Sayang."
Arga menikmati pijitan Shena, tiba-tiba ia teringat Sarah, jika Arga meminta di pijit justru Sarah akan menyerang Arga dengan omelan yang seakan tidak akan berhenti, Arga menggeleng kan kepala nya, membuat Shena menghentikan pijitan nya.
"Kenapa Mas, nggak enak ya?"
"Enak kok."
"Kok geleng-geleng." Tanya Shena heran.
"Em... aku ngantuk Shen."
"Tidur aja Mas kalo ngantuk."
Arga berbalik lalu memindahkan kepala nya di pangkuan Shena, meminta Shena membelai rambut nya, ya... jika Shena haus kasih sayang, begitu juga dengan Arga
Arga hanya manusia biasa yang ingin menikmati hidup dan percintaan seperti orang-orang pada umum nya.Sarah terlalu cuek untuk Arga yang Romantis dan penyayang.
Dengan senang hati Shena membelai rambut Arga, jika ada manusia yang bisa mendengar suara hati, pasti manusia itu akan tutup telinga, karena hati Shena saat ini sedang berbunga-bunga dan bersorak ria karena menemukan pasangan yang kontras dengan nya.
"Mau nggak Mas aku nyanyiin, tapi suara ku jelek."
"Nggak akan pecah kan gendang telinga aku sayang." Ucap Arga dengan tetap memejamkan mata nya, karena saat ini ia benar-benar mengantuk.
"ish... nggak lah."
"Hehe bercanda sayang, aku dengerin nih, kalo cocok setiap hari nyanyiin ya."
"Aku mulai ya." Di jawab anggukan oleh Arga.
Cinta memang tak selama nya bisa indah
Cinta juga bisa berubah menjadi sakit
Arga langsung membuka mata nya.
"Kok sedih lagu nya?" Protes Arga.
"Kan cuma lagu Mas, justru lagu yang gini, nanti tambah cepet tidur nya."
"Gitu ya, yaudah lanjutin, bagus suara kamu."
"Makasih Mas." Shena kembali melanjutkan lagu nya.
Cinta memang tak selama nya bisa indah
Cinta juga bisa berubah menjadi sakit
Begitu yang kurasakan kini
Perih hatiku tinggal kehancuran
__ADS_1
Tak pernah terbayangkan
Dan tak pernah terpikirkan
Cintamu dan cintaku akan berpisah
Namun harus kurelakan itu
Untuk hidupmu agar lebih baik
Maafkan aku
Setulus hatimu
Kepergian diriku itu bukan keinginanku
Terima saja dengan pilihan yang lain dari orang tuamu
Jangan bersedih dengan keadaan ini
Jika kamu menangis
Aku juga ikut menangis
Terima saja semua ini kulakukan
Untukmu
Maafkan aku
Setulus hatimu
Kepergian diriku itu bukan keinginanku
Terima saja dengan pilihan yang lain dari orang tuamu
Shena merasakan nafas Arga yang sudah teratur, menandakan Arga sudah terlelap, Shena tetap memangku kepala Arga dan mengelus dengan cinta.
"Aku cinta kamu Mas." Shena menyenderkan kepala nya lalu ikut menjelajah alam mimpi.
******
"Tanggung, habis magrib aja sekalian."
Arga memperhatikan wajah Shena yang sedang terlelap.
"Shena..." Arga mencoba membangunkan Shena.
"Magrib sayang bangun..."
Perlahan Shena membuka mata nya, Arga membantu Shena duduk.
"Ayo cuci muka, sehabis magrib kita berangkat ya."
"Iya Mas." Shena menjawab dengan lemas ternyata rasa kantuk nya belum hilang.
"Ayo cuci muka." Ajak Arga lagi karena Shena masih saja duduk.
Arga menggeleng karena Shena tidak bergerak.
'Kamu ini bener-bener apa adanya Shen, nggak ada yang di buat-buat, kayak perempuan lain, selalu sok imut kalo deket sama aku.' Batin Arga.
Arga melangkah menuju kamar mandi, membasuh wajah nya dan membasahkan handuk kecil, untuk membasuh wajah Shena yang masih betah duduk dengan mata terpejam, Shena kaget saat benda dingin tiba-tiba mengenai wajah nya.
"Dingin Mas." Keluh Shena.
"Habis nya di suruh cuci muka malah diem aja, ayo siap-siap kita berangkat." Arga membantu Shena berdiri.
******
Tepat pukul 8:30 mereka tiba di Jakarta, namun Arga menghentikan mobil nya, mencoba menghubungi sahabat nya untuk menanyakan posisi mereka, Arga menelfon menggunakan earphone lalu kembali melanjutkan perjalanan.
"Hallo, di mana Ris?"
".............."
"Abang gua pulang ke mana, aman kan?"
__ADS_1
"................."
"Thanks Bro, bonus meluncur, gua ke sana sekarang."
Shena memandangi Arga.
"Abang nya Mas Arga tinggal di Jakarta juga."
Arga melirik Shena.
"Kepo..." Ledek Arga.
"ish....hm.. kita mau ke mana Mas, kayak bukan arah biasanya." Shena memperhatikan jalan.
"Ke Apartemen, ngapain tinggal di hutan terus."
Shena menatap Arga tak percaya
"Haa...pindah lagi, terus baju sama barang ku gimana?"
"Udah pindah semua ke Apartemen."
"Siapa yang mindahin?"
Arga menggeleng, ternyata Shena bawel juga.
"Terbang, pindah sendiri."
"Aku serius Mas, itukan baru semua baju nya, Mas Arga yang beliin semua, sayang kan kalo di tinggal lagi."
"Tenang aja sih sayang, kamu tinggal terima beres." Arga mencubit pipi Shena gemas.
"Oke..."
Dalam beberapa menit mereka sudah sampai di Apartemen, Arga memarkirkan mobil nya lalu menggandeng tangan Shena untuk menaiki lift, Arga menekan tombol 14.
Pintu lift terbuka lalu mereka kembali melangkah menuju salah satu pintu dan masuk menggunakan kartu akses.
"Selamat datang, ini tempat tinggal baru kita."
Shena mengabsen setiap sudut ruangan, jauh lebih mewah dari pada rumah sebelum nya.
"Mas ini berlebihan." Shena menahan tangan Arga.
"Apa nya sayang, Apartemen ini untuk kamu."
"Tapi Mas...."
"Sini...." Arga menarik tangan Shena, meminta Shena duduk di sofa, sementara Arga berjongkok di depan Shena.
"Dengerin aku ya, semua ini aku lakuin biar kamu lebih nyaman, ini tanda cinta aku sayang, kamu cukup nurut dan terima, kalo kita udah nikah nanti, aku akan lebih tenang ninggalin kamu di sini, di rumah sana terlalu sepi." Jelas Arga kepada Shena.
"Gimana cara ku berterimakasih sama kamu Mas, aku merasa beruntung banget, di perlakuan gini sama kamu." Shena tak kuasa menahan tangis nya.
"Cintai, setia, sayang, tulus, cukup itu imbalan yang aku minta." Arga menghapus air mata Shena.
"Aku janji, semua itu akan aku kasih cuma untuk kamu Mas."
Arga tersenyum lalu memeluk Shena dengan erat.
'Akan aku buat kamu lupa, jika kamu pernah menderita Sayang, bibir mu hanya bisa tersenyum bahagia, setelah ini, dan jika kamu menangis, itu adalah tangisan bahagia' Arga berjanji dalam hati nya.
Ting .. tong.. ting.. tong ..
"Hahh... kenapa sih mereka dateng selalu di saat yang enggak tepat!" Arga mendengus kesal.
"Sekarang kamu mandi ya, kamar kita di sana" Arga menunjuk salah satu pintu.
"Iya Mas, itu siapa yang dateng."
"Haris sama Yudha Sayang."
"Kalian kayak kembar ya Mas, ke mana-mana bareng."
Arga menggaruk kepala nya.
"Ya gitulah sayang, udah sana mandi."
__ADS_1
Shena mengangguk.
Jangan lupa like ya.... Cerita masih banyak kekurangan, mohon koreksi 🙏🏽🙏🏽