
Untuk menghilangkan suntuk nya Shena memutuskan berjalan-jalan di area Apartemen, baru kali ini Shena menikmati area Ibu Kota yang ramai, tak jauh dari Apartemen ternyata ada taman kota.
Shena memutuskan untuk melihat-lihat taman, suasana yang ramai membuat Shena merasakan kebahagiaan tersendiri, ada beberapa macam penjual makanan kuliner.
Perhatian Shena teralihkan dengan poster kecil bertuliskan kerak telor, Shena mendekat dan memesan kerak telor 1 porsi, setelah pesanan nya jadi Shena mencari kursi kosong untuk duduk.
"Enak..." Ini adalah kali pertama Shena merasakan kerak telor.
Kurang lebih 30 menit Shena duduk sembari memainkan Handphone nya, saat Shena melihat jam ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 16:45 menit, namun tiba-tiba saja Handphone Shena mati.
"Aduh lowbet."
Shena bergegas kembali menuju Apartemen, saat Shena melangkah seseorang menabrak tubuh Shena, alhasil Handphone di tangan Shena jatuh membentur aspal.
"Astagfirullah, maaf Mbak." Wanita yang menabrak Shena menakupkan kedua tangan nya.
Shena hanya tersenyum kecil lalu memeriksa kondisi Handphone nya, ternyata layar Handphone nya retak cukup parah, maklum Handphone Shena hanya seharga 1,5 jutaan saja.
"Retak..." Gumam Shena sembari mengelus layar Handphone nya.
"Maaf ya Mbak, saya nggak sengaja." Ucap Wanita itu lagi.
"Iya nggak apa-apa." Shena pasrah.
"Saya ganti Handphone nya Mbak ya."
"Nggak usah, memang Handphone saya sudah jelek." Shena langsung menolak.
"Saya jadi merasa bersalah loh Mbak, ayo kita ke counter Handphone, saya ganti Handphone nya Mbak." Wanita itu menarik tangan Shena.
"Nggak apa-apa, salah saya juga jalan buru-buru tadi." Tolak Shena lagi.
Wanita berhijab itu berhenti lalu menatap Shena heran, masih ada orang di zaman sekarang menolak di beri ganti rugi? lalu wanita itu mengulurkan tangan nya kepada Shena.
"Nisa." Wanita itu memperkenalkan diri, dan di sambut baik oleh Shena.
"Shena."
"Nah Mbak Shena, tolong terima ya, saya akan ganti Handphone Mbak, itu tadi bener-bener salah saya, kalo Mbak nolak, nanti tidur saya nggak akan nyenyak."
"Tapi saya buru-buru mau pulang." Shena melihat jam tangan nya sudah menunjukkan hampir pukul 17:00.
"Counter nya deket, di sebrang sana, atau nanti kalo Mbak pulang saya anter deh, Mbak Shena tinggal nya di mana?"
"Panggil aja Shena, saya tinggal di sana." Shena menunjuk salah satu gedung yang menjulang tinggi.
"Oh Apartemen, gini aja, nanti kamu saya anter pulang, pasti kamu tinggal sama Orang tua kamu ya, nanti saya yang jelasin sama Orang tua kamu, biar kamu nggak di marah hehe."
Shena bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
"Em...Su...suami."
"Oh Sory, suami ya, nanti saya yang jelasin, yuk kita cari Handphone nya." Ajak Nisa lagi.
"Ayo." Kini Shena bersedia, Shena rasa jika dirinya menolak Nisa akan terus memaksa.
Mereka melangkah beriringan, menyebrang jalan karena counter terletak di sebrang jalan.
"Sorry banget, tadi saya buru-buru, keasyikan di taman tau nya udah sore aja, buru-buru pulang jadi nya."
"Iya nggak apa-apa, kamu tinggal di mana?" tanya Shena, ia yakin jika Nisa masih seumuran dengan nya.
"Di perumahan deket sini, nah ini dia counter nya." Mereka sampai di tempat tujuan.
Nisa menunjuk salah satu Handphone yang sama merk nya dengan Handphone Shena.
"Ini suka?" Tanya Nisa.
"Maaf, saya nggak bisa nerima karena memang Handphone saya udah jelek, saya cari tempat tarik tunai dulu ya, nanti saya bayar sendiri Handphone nya." Shena meyakinkan.
"Nggak, Mbak bungkus yang ini ya." Nisa langsung meminta pegawai counter membungkus dan Nisa membayar secara kes.
"Udah ayo pergi." Nisa menarik tangan Shena kembali.
"Ini Handphone nya." Tak lupa Nisa memberi Handphone itu kepada Shena, Shena menerima nya dengan rasa tidak enak.
"Gimana kalo saya traktir Mbak Nisa makan, sebagai rasa terimakasih saya." Shena menawarkan.
"Emang usia kamu berapa?"
"21 tahun, kalo kamu?"
"22 tahun, beda setahun kita ya." Shena dan Nisa mulai akrab, mereka berjalan kaki mencari warung pinggir jalan, netra Nisa menangkap warung Bakso.
"Kita makan di sana aja." Tunjuk Nisa pada warung Bakso cukup ramai.
"Oke." Shena setuju.
Seperti nya Shena melupakan Arga, sangking senang nya dapat teman baru.
*****
Di tempat lain rasanya kepala Arga mau meledak, mengetahui pujaan hati nya tidak ada di Apartemen, ternyata tak lama Shena menuju taman, Arga sudah kembali dari kantor.
Arga fikir Shena pasti pergi ke supermarket membeli sesuatu, jadi Arga membiarkan saja dan memutuskan untuk mandi, selesai mandi Arga kembali berkutat dengan Laptop nya.
Arga kembali meyadari jika Shena belum kembali, Arga melihat jam menunjukkan pukul 17:01, rasa cemas mulai menyeruak di dada Arga.
"Ke mana kamu selama ini Shen." Arga mencoba menghubungi Shena namun panggilan Shena sedang di alihkan.
__ADS_1
Arga mulai cemas dan mencari di sekitar Apartemen, namun hasil nya Nihil, Arga duduk dengan lemas di kursi pinggir jalan.
"Apa Shena kabur karna takut gua bawa ke kampung nya?"
"Apa gua terlalu maksa?"
Arga meremas kasar rambut nya.
"Maaf sayang, kalo tau gini jadi nya nggak akan aku maksa kamu, aku bakal pergi sendiri."
"Ke mana kamu Shen."
Arga kembali mencoba menghubungi Shena namun hasil nya tetap nihil, lalu Arga menghubungi Haris.
"Ris, Shena pergi."
"Hah... pergi, minggat maksud lo, minggat kemana?"
"Gua juga nggak tau, tapi dia nggak ada di Apartemen hampir 1 jam sejak gua pulang kantor, nomor nya nggak aktif."
"Coba periksa lemari, kalo baju-baju nya udah nggak ada berarti Shena minggat beneran, kalo baju nya masih ada mungkin dia cuma Healing."
"Mana gua sempet meriksa lemari, konyol lo."
"Lo di mana, gua kesana."
"Di bawah, di pinggir jalan."
"Oke"
Arga kembali menghubungi Shena namun tetap tidak aktif, tak lama Haris datang menghampiri Arga.
"Main kali si Shena."
"Kemana, di Jakarta dia nggak punya siapa-siapa, cafe tempat dia kerja sebelum nya jauh dari sini."
"Firasat gua sih nanti juga pulang." Ucap Haris santai.
"Bukan nya ngasih solusi malah nambahin beban di kepala gua lo Ris." Arga menatap Haris dengan frustasi.
"Cinta banget apa?"
Arga kini menatap tak percaya dengan pertanyaan sahabat nya.
"Gila lo Ris, buat apa gua pusing-pusing sampe titik ini kalo gua nggak ada rasa sama Shena, sarap lo."
"Hehe Sory Ga, udah mau Magrib, kita naik dulu, nanti gua bantu cari."
Arga mengangguk lalu mereka naik menuju unit, sampai di unit Arga langsung memeriksa kamar dan lemari, semua nya utuh tak ada tanda-tanda Shena pergi, lalu Arga duduk di ruang tamu bersama Haris.
__ADS_1
"Utuh semua." Ujar Arga.