Gadis Manis Milik Daddy Arga

Gadis Manis Milik Daddy Arga
Gadis manis milik Dady Arga.


__ADS_3

Arga menaiki anak tangga dengan menggandeng tangan Shena, sampai di depan kamar Shaka Arga langsung membuka pintu, ternyata Shaka sedang asik bercanda dengan salah satu ART.


"Mbak boleh istirahat, biar Shaka sama saya." Ucap Arga ramah.


"Iya Den Arga." ART itu dengan sigap turun dari ranjang Shaka melihat majikan nya datang.


"Dan kenalkan, ini Istri saya Shena."


"Salam kenal Non Shena." ART itu mengangguk ramah.


"Salam kenal Mbak." Ucap Shena tak kalah ramah.


"Kalau begitu saya permisi Den, Non."


Arga menjawab dengan anggukan, ART itu segera keluar, Arga melangkah mendekati ranjang lalu membawa Shaka dalam gendongan nya.


"Ayo ke kamar ku sayang." Ajak Arga pada Shena.


Mereka melangkah menuju kamar Arga, netra Shena menangkap dinding yang di hiasi foto-foto keluarga Rahardian.


Langkah Shena terhenti saat melihat foto 4 bayi dengan masing-masing nama di bawah foto besar tersebut.


Arga menyadari jika Shena berhenti melangkah ikut menghentikan langkah nanya, ia tersenyum tipis, ternyata Shena melihat foto bayi yang terpajang di dinding.


"Itu foto bayi kami sayang, itu ada keterangan nya." Tunjuk Arga pada tulisan kaligrafi di setiap foto.


Ricko Bagaskara Rahardian


Karawang, 11 juni 1991.


Argani Davkara Rahardian.


Bandung, 26 November 1993


Salwa Anjani Rahardian.


Bandung, 22 februari 1998.


Ada juga beberapa foto masa kecil Arga, Ricko dan Salwa, juga foto Arga, Han, Haris dan Yudha saat remaja.


"Lucu-lucu deh, gemes, hmm...ayo ke kamar Mas, di mana kamar nya?" Mereka kembali melangkah.


"Di sana." Tunjuk Arga pada salah satu pintu, Arga memutar Handle pintu, dan terlihat ruangan dengan nuansa modern, cat putih yang memberi kesan bersih.


Arga kembali merebahkan tubuh nya bersama dengan Shaka, Shena juga ikut naik ke atas ranjang lalu mengelus pipi gembul Shaka.


"Anak Dady, Anak Sholeh ini ya...." Arga mengajak Shaka berbicara.


"Yi...yi...yi..." Oceh Shaka.


"Masya Allah, Shaka ganteng, sini sama aku." Shena membawa Shaka ke pangkuan nya.


"Mamah yang." Protes Arga mendengar Shena menyebut diri nya aku kepada Shaka.


Shena tersenyum kecut.


"Maaf Mas hehe.....Ini Mamah, semoga Mamah bisa rawat Shaka dengan baik ya, semoga Allah Swt izinkan semoga kita sama-sama terus ya."


"Aamiin....." Arga mengamini doa Shena.


"Sayang, 1 jam lagi kita ke Jakarta, 15:30 nanti kita berangkat."


"Iya Mas, em...Mas kalo mampir ke tempat Mas Arga beli Seafood waktu itu kesorean nggak?"


"Kamu mau lagi sayang, kayak nya sih nggak, nanti kita mampir ya."


"Iya Mas, enak, mumpung ke Bandung."

__ADS_1


Arga mengecup pipi Shena dan Shaka bergantian.


"Oke siap, apa sih yang nggak buat kesayangan Dady." Arga mengedipkan sebelah mata nya.


"His...Dady ternyata genit ya Shaka." Shena menghadapkan Shaka kepada nya, terlihat Shaka malah tertawa kencang.


"Kan ketawa, Shaka setuju...setuju kalo Dady genit." Shena kembali mengajak Shaka bicara dengan candaan khas orang dewasa untuk bayi. Dan Shaka kembali tertawa.


"Hemm...bahagia nya anak Sholeh bercanda sama Mamah, mulai sekarang Shaka sama Mamah terus."


******


Ricko sedang dalam perjalanan mengantar Naira pulang, sedari tadi Naira hanya dan Ricko hanya membicarakan tentang rencana resepsi mereka.


"Nuansa nya putih semua Mas, impian Naira banget Mas, tapi aku pendem aja sebelum tau kalo kamu........" Naira memajukan bibir nya.


"Maaf Nai, itu semua demi kebaikan aku juga, kamu ngerti lah kenapa."


"Tau Mas, aku tau kamu anak paling tua, semua tanggung jawab keluarga kamu ada di tangan kamu."


"Itu dia, Oh ya Nai, kenapa kamu nggak mau gabung sama Shena, Salwa, Shiren juga waktu di Pesisir." Tanya Ricko kepada Naira, karena ia sangat memperhatikan jika Naira enggan jauh dari nya hanya sekedar gabung mengonrol dengan yang lain nya.


"Nggak apa-apa Mas, aku nggak maksud sama obrolan mereka." Jawab Naira singkat. Ricko menatap Naira bingung.


"Emang mereka ngobrolin apa Nai, sampe kamu nggak maksud."


"Ntah Mas, aku juga nggak tau, mereka juga ngucilin aku kok." Ucap Naira ketus.


"Ngucilin gimana sih." Ricko semakin bingung.


"Ya gitu lah, Shena mah pinter cari muka, aku mah nggak bisa pura-pura baik, pura-pura pinter ngomong, biar dapet muka, aku ya gini apa adanya, kamu sadar nggak sih Mas, Shena itu matre banget... selama kita ke pesisir, udah berapa uang yang Arga keluarin buat keluarga Shena, parah banget."


"Cari muka? aku rasa masih wajar Nai, nggak ada dia cari muka, kamu juga jangan seudzon Nai, kamu belum kenal banget, jangan teralu cepat nyimpulin, nggak baik, soal uang, Wallahualam uang segitu nggak ada apa-apa nya buat Arga Nai, Insya Allah juga semua yang Arga lakuin akan jadi amal jariyah buat dia."


"Hmm....."


"Nggak boleh gitu Nai, tetep jadi Naira ku yang rendah hati." Ricko mengusap punggung tangan Naira.


"Iya Mas..." Naira tersenyum tipis.


******


Shena mengusap punggung Shaka yang tidur dalam dekapan nya, Arga juga sudah terlelap di alam mimpi, Shena juga sebenarnya mengantuk, tapi entah kenapa Shaka akan meringik jika Shena menidurkan Shaka di atas ranjang.


Shena kembali mencoba menurunkan Shaka.


"ekh....." Shaka kembali meringik, Shena segera membawa Shaka kembali dalam dekapan nya.


"Sayang....ngak..ngak..sama Mamah aja ya, kita bobok nya gini aja, yang penting merem ya Nak.." Shena menaruh bantal untuk senderan nya, lalu mengusap kepala Shaka,


"Shaka kangen Mamy nya Shaka ya, sabar ya Nak, semoga nanti Mamy pulang dan nemuin Shaka." Tak lama Shena menyusul ke alam mimpi.


*******


Pukul 15:15 menit Ricko sudah sampai di rumah kembali, saat masuk ke dalam rumah ternyata suasana sangat hening.


"Di mana mereka?" Gumam Ricko, lalu ia melangkah menuju salah satu kamar tamu, dan benar saja, Bian, Han, Haris dan Yudha sedang terlelap.


Ricko mendekat lalu membangunkan mereka.


"Bian, Han, Haris, Yudha...." Ricko menepuk pelan lengan mereka.


Han mengerjap-ngerjap kan mata nya.


"Ada apa Bang." Tanya Han dengan suara khas bangun tidur.


"Sebentar lagi kita Otw, bangunin yang lain, siap-siap."

__ADS_1


"Ya Bang." Jawab Han lalu Ricko meninggalkan kamar tamu.


Ricko naik melangkah menuju lantai 2, ternyata di ruang keluarga tidak ada siapapun, samar-samar Ricko mendengar obrolan dari kamar Papah dan Mamah, Ricko memutuskan menuju kamar orang tua nya.


"Tok..tok..tok...Mah, Pah." Panggil Ricko.


"Masuk Bang." Terdengar sautan Mamah dari dalam kamar.


Ricko masuk, ternyata Papah, Mamah dan Salwa sedang mengobrol, Ricko duduk bergabung.


"Pah, Mah, sebentar lagi kami semua berangkat ke Jakarta, Ricko sama Arga bawa mobil Papah ya."


"Memang nya tidak lelah Ko, istirahat lah dulu." Ucap Papah.


"Iya Bang, istirahat dulu." Salwa kini sudah bergelayut kepada Ricko, Sejak kecil Salwa memang manja dengan Ricko, berbeda dengan Arga yang lebih banyak ribut karena Arga usil.


"Nggak Pah, Wa dari pesisir ke sini deket Pah, nggak nyetir juga, perusahaan udah di tinggal 3 hari Pah, lumayan banyak meeting yang ke lewat, Ricko harus pulang ke Jakarta." Jelas Ricko.


Mamah mengusap lengan Ricko.


"Jangan capek-capek Bang."


"Iya, jaga kesehatan mu Nak, sesekali istirahat lah, walau hanya untuk tidur, ingat Nak semua pencapaian mu tidak ada apa-apa nya untuk Papah dan Mamah jika kesehatan mu terganggu."


Ricko tersenyum.


"Iya Pah, makasih ya selalu nasihati Ricko."


******


Arga duduk lalu mengusap wajah nya, saat menengok ke samping ternyata Shena tertidur dengan Shaka tetap di dekapan nya.


"Kenapa kayak gini posisi tidur nya." Arga perlahan mengangkat Shaka.


"Mamah nya kasian Shaka, kamu gendut." Ucap Arga sembari merebahkan Shaka di atas ranjang, lalu menepuk pelan pipi Shena.


"Sayang, ayo bangun, kita ke Jakarta." Namun Shena tidak merespon.


"Yang ...." Arga mengecup bibir Shena dan sedikit melu*at dengan lembut, entah kenapa tiba-tiba h*srat Arga membuncah.


Bibir Arga turun lalu mengendus leher jenjang Shena.


"Emh...." Shena menggeliat.


"Bangun..." Bisik Arga, membuat tubuh Shena merasakan suatu getaran.


"Akh...." 1 Des*han lolos, membuat Arga semakin liar, Arga kembali me*umat bibir Shena, perlahan Shena membalas, tangan Arga mulai bergerilya, memainkan buah da*a Shena, dengan cekatan Arga meyikapkan pakaian Shena hingga terpampang sesuatu yang tak terlalu besar namun sangat menggoda.


Arga membuka br* Shena dan terpampang benda kenyal dengan pu*ing merah muda yang sangat menggoda, Arga mulai meny*sap bak bayi kehausan, Shena yang merasa ada yang aneh membuka mata nya.


Namun Shena tidak sanggup menghentikan Arga, karena ada kenikmatan tersendiri yang ia rasakan, baru pertama Shena merasakan hal baru ini.


"Akh....Mas...." Shena meremas rambut Arga.


Arga menyudahi kegiatan nya.


"Enak..." Bisik Arga.


Shena mengangguk malu.


"Nanti lanjutin di Apartemen, sekarang siap-siap kita ke Jakarta."


"Kan aku masih datang bulan Mas."


Arga menepuk jidat nya.


"Astaghfirullah lupa."

__ADS_1


******


__ADS_2