
"Ibu sepertinya tidak kuat lagi Aileena ibu tidak ingin membuat mu sedih dan terus saja merepotkanmu, itu membuat ibu merasa menjadi bebanmu." Ucap sang ibu ia menyentuh pipi Aileena sentuhan yang sangat hangat dan membuat Aileena yang mendengarnya pun ikut menangis.
"Enggak! Ibu gak jadi beban aku! Justru jika ibu pergi maka aku tidak baik-baik saja!" Teriak Aileena yang tak ingin ibunya menyerah terhadap penyakitnya ia terus menggelengkan kepalanya.
"Ibu tidak bisa lagi Aileena. Kamu harus bisa membuat lahan tani itu bertumbuh seperti pemiliknya yang suka bertani. Jangan biarkan lahan itu diambil oleh seseorang Aileena karena itu adalah hadiah dari ibu yang terakhir kalinya kau mengerti." Ucap sang ibu lalu Aileena meneteskan air matanya sehingga sang ibu tersenyum dan meninggal dalam raut senyumannya itu.
"TIDAK! TIDAK IBU! TIDAK JANGAN TINGGALKAN AILEENA! AILEENA MASIH INGIN BERSAMA IBU!" Teriak Aileena ia terus menggenggam tangan sang ibu yang sudah tak bernyawa itu lagi, ia hanya bisa melihat raut wajahnya itu dan seketika ia melihat isi surat itu.
"Surat kepemilikan lahan tani atas nama 'Aileena' mengapa sempat-sempatnya ibu mengganti nama kepemilikan!" Ucap Aileena ia terus saja menatap surat itu.
Setelah kepergian ibu Aileena akhirnya Aileena harus menjalani kehidupannya sendiri karena ia tidak mempunyai saudara kandung dan ia dilahirkan setres sang ayah meninggal dunia dan sang ibu hanya bekerja sebagai buruh tani. Sang ibu bertekad untuk terus bekerja dan kembali lahan tani untuk anaknya.
Keesokan harinya Aileena pergi dari rumah tersebut ia mendapat sebuah pesan bahwa lahan tani itu berada di ibu kota dan sudah terdapat rumah kecil yang cukup ditinggal seorang diri disana. Lalu Aileena menjual rumahnya itu untuk dijadikan modal.
"Baiklah seperti apakah lahan tani disana, astaga aku berharap bahwa nanti disana terdapat banyak bunga-bunga indah lalu rumahnya sangat cukup dan nyaman serta tak ada pengganggu disana." Ucap Aileena dengan senyum riangnya ia tengah berdiri di stasiun menuju keibu kota.
"Aku baru pertama kali naik stasiun didunia lain, hem... Sepertinya dunia ini udah ada kemajuan tetapi masih banyak juga penggunaan transportasi kuda karena biaya kereta hanya kesatu tujuan saja yaitu ibu kota." Gumam Aileena ia menaiki kereta dan banyak sekali orang yang menggunakan nama pakaian yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
"1 tiket nona." Ucap salah satu pria yang bertugas untuk meminta uang tiket. "Memang 1 tiket berapa pak?" Tanya Aileena. "1 gold nona." Ucapnya dengan wajahnya yang tak semangat hidup.
"What!? 1 gold mahal banget!" Teriak Aileena padahal dari sebuah kampung yang tak jauh dari kota berbiaya 1 gold. "Ya, maaf nona anda tidak bisa menawar disini." Ucapnya dengan wajah malas.
__ADS_1
Sesampainya ia diibu kota, Aileena terpanah dengan keramaian disana ia tak menduga bahwa ditengah kota terdapat taman dan beberapa toko makanan serta beberapa pedagang disana. "Sangat indah dan ramai!" Guam Aileena ia terus berjalan sambil melihat sekitar.
"Oh iya jalan kearah mana ya tadi?" Gumam Aileena ia mengeluarkan sebuah peta menuju tempat lahan tani itu berada. "Berarti tinggal lurus saja lalu belok lewat desa kecil ya? Ko sepertinya ada yang aneh dengan gambar bangunan ini?" Gumam Aileena ia menatap gambar sebuah bangunan yang berada tepat disamping lahan taninya itu.
"Mencurigakan aku harus segera sampai disana!" Ucap Aileena ia terus berlari hingga akhirnya ia sampai disebuah mansion duke Aileena membulatkan matanya. "Tunggu bukanlah ini mansion duke? Mengapa aku ketempat duke? Ko bukan kelahan taniku?" Ucap kejut Aileena lalu ia menatap ke arah sebelah kirinya.
"Lahan tani ini tepat berada di samping mansion yang artinya ini adalah lahan taniku!?" Teriak Aileena tak percaya bahwa lahan taninya berada tepat disamping mansion duke. "Tunggu siapa bocah laki-laki itu?" Ucap Aileena mengerutkan keningnya ia langsung menghampiri laki-laki itu yang tepat berdiri di depan lahan tani milik Aileena.
"Maaf tetapi siapa anda ya? Lalu mengapa anda berada disini?" Tanya Aileena lalu laki-laki itu menoleh kearahnya. "Aku adalah pemilik lahan tani ini nona, jadi untuk apa anda kesini?, lalu siapa anda?" Tanya laki-laki itu.
Saat itu Aileena mengerutkan keningnya. "Apa!? Maksud anda ini adalah lahan tani milik anda! Hei anda jangan mengaku-ngaku ya! Ini adalah lagan tani milik saya!" Teriak Aileena ia tahu maksud dari kata-kata laki-laki itu. "Hei kalau anda ngomong harus hormat! Kau tidak tahu kau berbicara dengan siapa!" Teriak laki-laki itu yang sepertinya seumuran dengan Aileena.
"Apa? Dia maksudnya dia adalah anak duke wilayah ini?" Ucap Aileena dalam hati.
(Pesan dari sistem obrolan)
Dewi Lyra: Aileena kau tidak perlu takut, hajar saja dia! Jika perlu pukul dia! (Kesal)
Aileena: Kau gampang sekali berkata. (Senyum paksa)
Dewi Lyra: Dia sangat sombong Aileena. Kau harus berjuang mempertahankan lahan itu! Semangat! (Ceria)
__ADS_1
Aileena: Minimal bantu aku dewi sistem! (Marah)
Dewi Lyra: Sorry kalo soal itu tidak bisa hehehe.
"Hei kau! Mengapa kau diam saja!" Teriak laki-laki itu. Aileena langsung memikirkan sebuah ide cemerlang ia langsung mengeluarkan kertas izin kepemilikan. "Lihat ini adalah surat izin kepemilikan lahan ini!" Teriak Aileena ia menujukannya kepada laki-laki itu.
"Disini terbukti bahwa saya lah pemilik lahan tani ini! Anda tidak bisa berbuat apa-apa lagi tuan Edward yang terhormat! Jadi tolong anda pergi dari sini! Anda menjadi hama bagi lahan tani saya!" Ucap Aileena dengan mata tajamnya. "Apa kau bilang! Hama!" Terik geram laki-laki itu.
Lalu ia pergi dengan keadaan marah dan dendam terhadap Aileena. Tetapi Aileena sama sekali tidak peduli dengan orang itu, akhirnya Aileena bisa memasuk kedalam lahan taninya itu ia merasakan sebuah kenyamanan dan kesejukan.
"Lahan tani ini sangat sejuk, tetapi sayangnya disamping mansion duke!" Gumam kesal Aileena ia melihat kearah kanan tepat berdiri sebuah bangunan besar yang sangat megah tetapi disini lain ada sebuah lahan tani yang tak begitu besar dengan rumah kecil.
Tap-tap-tap...
Brak...
"Ayah! Ayah aku ingin meminta sesuatu kepada ayah apakah aya bisa memberikannya?" Ucap laki-laki itu yang bernama Arthur Edward seorang anak sulung. "Ya boleh saja memang apa yang ingin kau minta?" Tanya tuan Edward sembari membaca beberapa laporan wilayah.
"Aku ingin ayah membuatkan lahan tani tepat disamping lahan tani gadis itu!" Ucap kesal Arthur seketika seorang anak laki-laki yang hampir seumuran dengannya pun mengerutkan keningnya beserta tuan Edward sendiri yang ikut terkejut.
"APA!? LAHAN TANI!?" Teriak mereka serentak yang merupakan sang ayah dan seorang adik dari Arthur bernama Ciro Edward. "Ya, aku ingin membuat gadis itu memberikan apa yang aku inginkan!" Gumam Arthur dengan senyum liciknya.
__ADS_1