Gadis Petani Dengan Sistem Pertanian

Gadis Petani Dengan Sistem Pertanian
Bab 20 : Ukuran Tak Wajar


__ADS_3

"Si-siapa gadis ini!? Mengapa dia berlari mendekatiku!" Ucap pencuri itu dalam harinya, langkah kaki Aileena cukup cepet mengejar pencuri itu.


Pencuri yang telah melihat Aileena terus mengikutinya dan mempercepat gerakannya pun dengan sekuat tenaga pencuri itu terus berlari tanpa henti agar Aileena tak bisa menyeimbangkan jarak diantaranya.


Tap-tap-tap...


"Hei behenti!" Teriak Aileena ia terus mengikutinya sampai kegang-gang gelap dan sempit pun ia lalui.


Drap-drap-drap...


Brak...


"Kau tidak bisa mengalahkan kecepatanku dasar seorang gadis bodoh! Hahahah!" Teriak pencuri itu yang sombong ia mengira bahwa Aileena akan kelelahan dan capek, tetapi Aileena tetap mengejarnya tanpa ada rasa letih.


Sudah 15 menit pencuri itu dikejar terus oleh Aileena, tetapi tetap saja Aileena tak berhenti berlari sedangkan pencuri itu mulai kelelahan karena lakinya tak kuat berlari lagi. Dengan cepat Aileena mengambil kesempatan itu untuk lari dengan cepat.


Drap-drap-drap...


"Hahahaha, sepertinya gadis itu sudah tak mengejarku. Memang dia lemah." Ucanya ia menoleh kearah belakang memang benar tidak ada Aileena disana ia mulai memperlambat langkahnya.


"Hei halo? Apa kabar?" Tanya Aileena yang sudah mendahuluinya terlebih dahulu, dengan cepat pencuri itu ingin putar balik haluan, tetapi Aileena menangkap kerah bajunya dan ia tak bisa bergerak lagi.


"Argh! Lepaskan aku! Siapa kau! Mengapa kau masih kuat berlari padahal sudah lebih dari 15 menit berlari!" Teriak pencuri itu ia ketakutan, Aileena hanya tersenyum lalu menoleh kearah tas milik ibu-ibu tersebut.


"Balikan tas itu sekarang!" Ucap tegas Aileena tak mau bermain-main lagi. "Kalau bisa coba saja! Hiyak!" Teriaknya lalu biasanya mengambil sebuah cangkul yang tepat berada disampingnya dan ia berlari kearah Aileena.

__ADS_1


Seketika Aileena membulatkan matanya lalu ia segera menghindar, tetapi tak itu saja pencuri itu segera mengarahkan cangkul itu kearah Aileena lagi terus menerus Aileena terus menghindarinya.


"Mengapa gadis ini sangat cepat, ia seperti mempuyai insting cepat! Apakah dia bukan gadis perempuan biasa!? Kalau begini bisa gawat aku harus melempar cangkul ini agar mengenai salah satu bagian tubuhnya." Ucap pencuri itu dalam hati, dengan cepat ia melancarkan serangannya.


Cangkul itu seolah-olah melayang kearah Aileena yang melihat itu pun tak punya waktu untuk mengindar. "Terpaksa aku harus menangkapnya, kalau gagal aku terpaksa harus terluka." Ucap Aileena ia menutup matanya ia mendengar lemparan cangkul itu semakin mendekat kearahnya.


Hap!


Tanpa melihat dan Aileena bersikap tenang akhirnya ia memegang cangkul itu, pencuri itu terkejut melihatnya, ia kira cangkul itu akan mengenai Aileena tetapi tidak berhasil. "Siapa kau sebenarnya! Tidak ada orang yang bisa menangkap cangkul itu!" Teriak pencuri itu ia ketakutan karena keahlian Aileena.


"Mau tahu siapa aku? Tanya Aileena ia mendekati pencuri itu lalu berputar mengelilinginya seketika pencuri itu mati kutu. " Aku titisan dewi." Ucap Aileena dengan cepat ia langsung membuat pencuri itu pingsan dengan sekali pukulan tepat mengenai leher pencuri itu.


Bruk...


"Baiklah sepertinya tidak ada yang hilang dan kurang, aku harus segera pergi." Ucap Aileena ia meninggalkan pencuri itu sendirian dengan keadaan pingsan disana, seperti tak ada orang lain yang lewat karena itu adalah jalan kecil yang kosong.


"Kau bukanya Aileena kan? Orang yang membuat produk kripik itu?" Tanya ibu itu, Aileena tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya, semua warga yang melihatnya pun terkejut. "Wow... Kau masih sangat muda nak, tetapi kau bisa membuat produk sendiri." Ucap ibu itu yang memujinya.


"Terima kasih bu, ini juga berkat orang-orang terdekat dan para konsumen, serta berkat pak mentri kesehatan jika tidak dia mungkin tidak akan mengizinkan saya mengedarkannya." Ucap Aileena.


"Oh iya perkenalkan saya Mutya Van Dalen, saya dari bangsawan Baron. Salam kenal Aileena." Ucapnya, Aileena yang baru tahu bahwa orang itu adalah bangsawan pun membulatkan matanya lalu menunduk hormat.


"Maafkan saya nyonya saya tidak tahu kalau anda orang bangsawan. Karena pakaian Anda terlihat tertutup." Ucap Aileena ia melihat penampilan Mutya dari bawah hingga keatas terlihat sekilas seperti orang biasa.


"Iya saya memakai pakaian tertutup agar tidak ada orang yang mengenal saya." Ucapnya Aileena menganggukan kepalanya lalubia melihat orang yang berada disampingnya. "Apakah mereka pelayan dan pengawal anda nyonya?" Tanya Aileena ia melihat wajah mereka terlihat serius menatapnya.

__ADS_1


"Iya merah juga, maaf ya tatapan mereka seperti itu. Kalian juga ngapain tatapan mata kalian seperti itu!" Ucap Mutya dengan nada kesal, lalu mereka pun menunduk maaf dan bersikap biasa terhadap Aileena, Aileena hanya tertawa kecil lalu menatap salah satu toko yang membuatnya tertuju.


Toko itu adalah toko sayur, tetapi entah kenapa mata Aileena sangat tertarik dengan toko itu, ia terus menatapnya dan ia melihat hasil sayur mayur yang terletak didepan toko itu. Saat itu Aileena menghentikan bola matanya bergerak ia melihat sebuah tomat yang ukurannya tidak wajar.


"Ukuran tomat itu seperti bukan tomat, ia tu hilang ukuran semestinya bukan!? Dapat dari mana tomat-tomat itu?" Tanya Aileena dalam hati ia terus menatap tomat itu. "Aileena!? Ada apa? Mengapa kau menatap tomat itu terus?" Tanya Mutya yang penasaran dengan perubahan raut wajah Aileena.


"Tidak ada nyonya, saya permisi dulu." Ucap Aileena dengan cepat ia langsung pergi begitu saja karena pikirannya terus memikirkan tomat itu. "Tu-tunggu..." Ucap Mutya yang merasa sangat sedih karena Aileena seketika langsung pergi begitu saja.


"Sebaikannya nyonya langsung pergi kekediaman nyonya, karena ini sudah mau menjelang sore." Ucap salah satu pengawalnya, Mutya pun menganggukan kepalanya saja.


Drap-drap-drap...


"Permisi pak!? Saya boleh bertanya tidak?" Tanya Aileena dengan wajah serius pak tua itu pun menganggukan kepalanya. "Menanyakan kenapa nak?" Tanyanya.


"Anda mendapatkan semua panen-panen ini dari mana? Seperti tomat, timun dan juga wortel?" Tanya Aileena ia melihat banyak juga sayur-sayuran yang ukurannya tak wajar. "Saya mendapatkannya dari petani dibelakang. Sayang sudah berlangganan disana, tetapi kali ini hasinya cukup memuaskan." Ucapnya.


"Kenapa cukup memuaskan?" Tanya Aileena heran. " Karena tak ada sayur-sayuran yang sebesar dan sesegar ini sebelumnya, saya cukup senang banyak sekali orang yang membelinya." Ucapnya ia tersenyum.


Deg!


"Pak apakah saya bisa membeli 1 buah tomat?" Tanya Aileena ia merasa curiga dengan ukurannya itu. "Baiklah ini, ini gratis tidak perlu bayar." Ucapnya dengan senyum ramah, lalu Aileena tersenyum dan segera pergi dari sana.


Drap-drap-drap...


"Ayo kuda, kita harus pergi sekarang!" Ucap Aileena ia dengan cepat menungangi kudanya itu.

__ADS_1


Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Aileena bisa memecahkan masalah ini? Baca bab selanjutnya...


__ADS_2