
Deg! Deg! Deg!
Jantung berdegup dengan kencang tak kharuan, Aileena saat itu juga meneteskan air mata. "Mengapa semua sayuranku layu dan mati!?" Ucap Aileena ia memegang sayur-sayuran miliknya seperti ada seseorang yang melakukannya.
"Ergh! Pasti ini gara-gara orang itu! Siapa lagi yang tidak ingin lahan ini ada digenggaman tangannya!" Ucap kesal Aileena ia segera pergi kekediaman edward.
"Maaf nona, nona siapa ya? Maaf jika anda tidak mendapat undangan atau pun perintah dari tuan Edward anda tidak diizinkan masuk." Ucap salah satu penjaga yang menjaga pintu utama, Aileena mengerutkan keinginannya.
"Apa! Dia saja sudah merusak kebunku dan masuk tanpa izin, tetapi aku harus izin!?" Teriak Aileena matanya membulat sepertinya dia sudah sangat marah, tangannya tanpa ampun memukul kedua penjaga itu tepat diwajah mereka seketika itu juga mereka terpingsan.
Brak...
"Dimana tuan Arthur! Saya ingin meminta pertanggung jawaban dari anda tuan! Dimana anda! Jangan bersembunyi tuan Arthur! Anda pengecut!" Teriak Aileena seketika membuat penghuninya kediaman tersebut ikut melihat tindakan Aileena.
"Kak apa yang kak lakukan sehingga gadis itu datang kesini!?" Tanya Ciro ia mengerutkan keningnya yang khawatir. "Cik! Biarkan aku keluar." Ucap Arthur, sang ayah yang mendengarnya pun segera pergi keluar.
Krek...
"Ada apa kamu kesini Aileena?" Tanya tuan Edward kepada Aileena seketika terkejut mendengar suaranya. "Salam untuk tuan duke Edward, maaf saya mengganggu anda." Ucap Aileena ia menundukan tubunnya dan memberi hormat.
Lalu Arthur dan Ciro datang dari belakang serta sang ibu serta beberapa penjaga untuk menjaga situasi. "Tidak apa-apa, memangnya ada apa yang membawamu kesini nak?" Tanya tuan Edward.
"Hei kau! Mengapa kau datang kekeluarga bangsawan dengan sikap sepertinya itu! Kau sudah mengganggu kegiatan orang saja!" Teriak Arthur, sedangkan Aileena yang mendengarnya mengerutkan keningnya.
"Saya kesini untuk meminta pertanggung jawaban tuan Arthur kepada kebun saya! Semua tanaman saya layu dan mati karena ulah tuan Arthur!" Ucap Aileena ie menujukan kebun miliknya dan benar saja semua tanaman yang Aileena tanam mati semua.
"Apa!? Mengapa kau asal menuduhku!? Apakah kau mempuyai bukti bahwa aku melakukannya? Hah?" Ucap Arthur dengan santainya Ciro hanya bisa merasa bersalah. Saat itu juga gadis itu terdiam lalu ia menundukan wajahnya. " Hahaha itu artinya kau tidak punya buktikan? Mengapa kau ingin sekali memfitnahku?" Ucap Arthur dengan santainya.
__ADS_1
"Tapi tidak ada orang lain yang bersikeras untuk mendapatkan ladang milikku kan!?" Teriak Aileena tak Terima, tuan Edward pun mendekat kearah Aileena.
"Aileena, maafkan saya tetap Arthur tidak mendapat salah apa pun dan tidak ada bukti yang menujukan bahwa dia pelakunya. Lebih baik kau pulang Aileena." Ucap tuan Edward lalu ia pergi dari sana beserta sang istri dan Arthur.
Aileena meneteskan air matanya, sudah banyak kerugian jika kalau dihitung dari luas lahan dan berapa bibit yang susah ia susah payah tanam. "Hiks-hiks-hiks.... Mengapa aku mendapatkan panen saja dari usaha kelasku susah!?" Ucap Aileena ia hanya bisa menangis sambung berdiri disana.
"Aileena, maafkan perbuatan kakku, aku akan mengganti rugi semuanya." Ucap Ciro ia mendekat kearah Aileena dan memegang pundaknya saat itu Aileena mengangkat kepalanya.
"Mengapa jadi malah kau yang mengganti rugi?" Tanya Aileena kwpada Ciro. "Karena aku rabu bahwa kakku yang melakukannya, soalnya tadi malam dia merencanakan sesuatu sudah kuduga selanjutnya target permainannya adalah kau Aileena." Ucap Ciro ia mengerutkan keningnya sepertinya seseorang pemimpin.
"Target?" Tanya Aileena. "Iya jadi kak ku sering melakukan hal itu kepada yang lainya, sepertinya kau harus melihat hati-hati Aileena, dia bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan." Ucap Ciro kepada Aileena ia membelai rambutnya tanpa ia sadari.
Setelah itu saat hari siang tiba Ciro datang dan membayar ganti rugi yang telah dilakukan orang sang kak, disisi lain para dewa dan dewi kesal dan marah kepada Arthur.
(Pesan dari sistem obrolan)
Aileena: Saya tidak apa-apa sungguh, saya rasa saya bisa membuat tanaman baru dan saya sudah mempuyai beberapa rancangan.
Dewi Alma: Syukurlah, oh iya! Bagaimana pembuatan vaksinnya?
Aileena: Saya akan mencari seorang peneliti diibu kota nanti. Saya akan bekerja sama dengannya.
Dewi Alma: Bagus!
"Akhirnya semua sudah selesai ditanam kembali untungnya Ciro menawarkan diri tadi, tapi dia rela kotor dan berkeringat. Tidak seperti bangsawan pada umumnya... Apakah dia seorang dewa?" Gumam Aileena ia mempersiapkan tas untuk mencari seorang apoteker diibu kota.
Tap-tap-tap...
__ADS_1
"Selamat datang nona ditoko apotek kami, adakah yang bisa kami bantu untuk anda?" Tanya salah satu pemilik apotek tersebut, Aileena berjalan mendekatinya. "Apakah anda memiliki taman atau saudara yang sama-sama berlulusan seorang apotek?" Tanya Aileena.
"Memang apoteker untuk apa nona?" Tanya apoteker itu penasaran. "Saya ingin merekrutnya bekerja, oh kalau bisa dia sama-sama permpuan dan juga memiliki bakat untuk membuat vaksin." Ucap Aileena lalu apoteker itu mengerutkan keningnya.
"Apa maksudnya nona? Membuat vaksin? Saya baru pertama kali mendengarnya?" Tanya apoteker itu yang semakin mencurigai Aileena. "Vaksin itu adalah sebuah ramuan jenisnya sedikit lebih beda, dia menggunakan suntikan. Jadi apakah anda membuat rekomendasi seseorang?" Tanya Aileena dengan wajah paniknya.
"Saya punya teman dia pengangguran sih. Dia dulu seorang apoteker dari kerajaan tetapi seperti dia dituduh melakukan kejahatan dikekaisaran. Makanya sekarang dia tinggal dihutan dan meneliti beberapa obat tanpa sihir." Ucap apoteker tersebut. "Apakah saya boleh tahu alamat rumahnya dimana? Agar saya bisa pergi kerumah beliau langsung dan menjadi pekerja saya?" Tanya Aileena tak sabar, apoteker itu segera memberikan secarik kertas yang berisi alamat rumah apoteker itu.
"Hutan mogali? Ini kan hutan ibu kota inikan?" Ucap Aileena ia melihat sebuah tanda masuk selamat datang kehutan mongali. Aileena masuk kedalam tanpa rasa takut.
Krak... Krak...
Kuk-kuk-kuk...
"Hem... Ini sepertinya rumahnya ya? Sangat sederhana dan terbuat dari kayu, tapi sepertinya pepohonan disini juga membuat rumahnya ini sejuk, hanya saja banyak sekali daun dan ranting berguguran." Ucap Aileena melihat sekeliling rumah itu, rumah itu tanpak tak terawat terlihat dari depan rumahnya saja.
"Aku ketuk tidak ya? Astaga sangat sepi sekali apakah dia tidak tinggal disini apalagi ini hutan bagian dalam kan?" Gumam Aileena ia pun memutuskan untuk memberanikan dirinya karena ia sudah berjaga-jaga jika terjadi sesuatu ia langsung mengeluarkan pisau bilah dari dalam tasnya.
Tok-tok-tok...
"Permisi apakah ada orang disini? Halo apoteker!?" Teriak Aileena default kesal, seketika suara aneh dari dalam pun terdengar.
Brak...
Krak...
Deg!
__ADS_1
"Siapa kau ha!" Teriak seseorang bertubuh pendek dengan memakai jas putih serta matanya yang berkantong. Disaat itu juga Aileena respect mengeluarkan pisau belah dan mengarahkannya tepat diwajahnya. "Mengapa kau mengarahkan pisau itu kepadaku ha!" Teriaknya.