
"MENYUDUTKAN!? TAPI ITU FAKTA KAN!?" Teriak Ciro seketika ruangan itu hening tak ada suara, semua pelayan diluar juga ikut mendengarnya karena mereka penasaran.
Grep!
"Aku tahu kau dekat dengan gadis itu!? Tetapi kau bukanya mendukungku padahal aku adalah KAKAKMU! Lebih baik aku pergi dari sini!" Teriak Arthur seketika ia keluar dengan dobrakan pintu yang kencang.
"Itu karena ayah tidak mau menyuruhnya bekerja menggantikan posisiku! Sekarang kita harus bagaimana!? Wilayah kita bisa-bisa hancur!?" Ucap Ciro ia meminta keputusan kepada sang ayah. Ia terdiam sejenak kini pikiranya dipenuhi banyak masalah.
"Tuan Arthur bagaimana dengan solusi ini tuan?" Tanya Bion yang datang keruanganya sedangkan Arthur sibuk memasukan barang kedalam kardus. "Me-mengaoa tuan mengemasi barang-barang anda!? Anda memang mau kemana!?" Tanya Bion yang memegang bahunya seketika Arthur menipisnya.
"Diam! Aku ingin pergi dari sini!" Ucapnya dengan nada ketakutan tercampur dengan amarah. "Maksud anda!? Anda lari dari masalah!?" Tanya Bion ia membulatkan matanya.
"Ya... Aku akan pergi dari sini. Sekarang kau tidak peduli apa yang terjadi dengan kekaisaran ini. Aku muak dengan semua orang di kekaisaran ini yang tidak menghargai kinerjaku! Ucapnya ke ketika Bion terdiam mematung.
Padahal diluar sana banyak masyarkat yang mulai mengeluh dan meminta jawaban kepada dirinya sebagai tangan kanan Arthur. " Kau tidak boleh pergi!" Teriak Bion ia menghalangi pintu keluar agar Arthur tak bisa keluar dari sana.
Seketika Arthur membulatkan matanya, malam disertai petir pun terus menghambar, sehingga membuat keadaan disana sangat menegangkan peti terlihat dari luar jendela terus membuat orang ketakutan.
Gluduk-gluduk...
"Tumben hujan badai seperti ini. Rasanya sangat dingin ya." Ucap Nova ia meminum coklat panas dengan roti buatan Aileena. Aileena hanya bisa menatap jendela dan melihat kediaman keluarga Edward yang terlihat sangat besar.
Aileena merasa ada sesuatu yang aneh terjadi disana tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa. "Aku merasa ada yang aneh dengan keluarga Edward malam ini." Ucap Aileena ia masih saja menatap nasional duke itu. "Memang apa yang aneh!? Toh itu hanya mansion biasa saja. Oh iya bagaimana kau sudah belajar membuat obat herbal itu?" Tanya Nova.
Aileena menganggukan kepalanya. Seketika petir menyambar membuat Aileena dan Nova tekejut disana. "Astaga petirnya galak!" Ucap Aileena lalu Nova tertawa. "Hei aku ingin mengerjakan vaksin dulu, apakah kau ingin tidur?" Tanya Nova, Aileena menggelengkan kepalanya.
"Tidak aku akan disini dulu sendirian, sekalian mengurus keuangan dulu, soalnya si Mery butuh uang buat beli keledai." Ucap Aileena tersenyum dan tertawa. "Baiklah aku pergi..." Ucap Nova.
"Informasi pengguna." Ucap Aileena seketika layar itu muncul dihadapannya.
(Informasi pengguna)
Nama: Aileena
Operator Dipegang Oleh : Dewi Lyra
Mendapatkan Sistem : PERTANIAN
Julukan: Gadis petani langka
Level: 56
Exp: 63.000
Poin: 52.990
__ADS_1
Skill:
[Kekuatan fisik level 70]
[Tangan pertumbuhan level 55]
[Penunggang kuda level 50]
[Kecepatan level 50]
[Ahli pedang level 35]
[Keahlian Peracik Obat level 10]
"Wah sudah ada skill baru! Keren!" Ucap Aileena lalu ia melihat tanda 'shop' ia pun menekannya.
(Toko sistem)
Tersedia dua pilihan
[Peralatan pertanian / Alat bantu skill]
[Alat bantu skill]
-Pedang level 45 (50.000 poin)
-Tongkat level 20 (30.000 poin)
-Bujur Panah level 46 (35.000 poin)
-Pedang besi tidak ada level [15.000 poin]
-Tongkat sihir kecil tidak ada level [10.000 poin]
-Bujur panah tidak ada level [5.000 poin]
-Botol energi sihir 50% (30 poin)
-Obat pemilihan stamina (10 poin)
-Obat penyembuhan (10 poin)
(Nantikan skill lainnya)
[Peralatan Pertanian]
__ADS_1
-Pakaian gadis petani (10 poin)
-Alat produksi
-Peralatan pertanian (Tergantung keinginan)
(Nantikan alat-alat lainnya)
Aileena seketika terdiam ia melihat gambar pedang yang ingin ia miliki sejak lama, tetapi ia tak tahu apa ia bisa mengeluarkan kekuatan sihir atau tidak karena besok adalah hari terakhir ia berlatih dengan dewa Lennox.
"Entah aku bisa mengeluarkan kekuatan aura atau tidak, jika sampai besok aku tidak bisa mengeluarkan kekuatan aura maka aku tidak bisa mendapatkan julukan sword master karena tak bisa memiliki kekuatan aura." Ucap Aileena ia menatap pedang besiinya yang sering ia gunakan untuk berlatih.
Pednag itu kini sudah mulai lecet dan rusak, lalu sudah 4 bulan dewa Lennox mengajarinya mengayunkan pednag tetapi tak ada tanda-tanda kekuatan aura. Hanya saja aura didalam dirinya tak bisa keluar atau tak mau keluar.
Krek...
"Mengapa kau menghalangiku!? Kukira kau dapat dipercaya dan juga dapat diandalkan! Ternyata tidak!" Teriak Arthur ia mulai mengambil posisi untuk berkelahi dengan Bion.
Bion terdiam ia mengerutkan keinginannya ia tak mau menyelesaikan masalah ini sendiri. Seketika Arthur mencekik lebih Bion dan menjatuhkannya ke lantai saat itu Bion syok melihat Artur mencekiknya.
Argh!
"Tanganya sangat kuat mencengkram leherku sehingga membuatku tak bisa bernafas! Aku harus melepaskan diri dari cengkramannua sebelum aku mati menjadi mayat!" Ucap Bion ia berusaha menyingkirkan tanganya dari lehernya.
Tetapi itu sangat sulit, petir pun terus menyambar dan terlihat sehingga membuat ruangan itu mati lampu dibuatnya, Bion menendang perutnya tetapi Arthur tetap menahanya dengan posisi yang sama.
"Siapa saja tolong! Tolong aku! Siapa saja tolong aku! Aku tidak ingin mati!" Teriak Bion dalam hati, Arthur tersenyum miring seperti seorang iblis. "Apakah kau tidak mencoba berteriak!? Hahahaha apakah kau sangat kesakitan?" Ucap Arthur ia memancing Bion.
"Aku... Akh! Ingin memanggilnya akh! Tetapi tidak bisa! Argh!" Ucap Bion dengan nada serak, gemuru terus terdengar ditelinga Bion seketika Bion memejamkan matanya. "Apakah aku akan mati mengenaskan seperti ini? Dicekik oleh tuan yang sudah kuanggap baik. Dan juga ditambah dengan petir serta gemuru yang menungguku untuk mati?" Ucap Ciro dalam hari ia tak hisa berbuat apa-apa.
Oksigen telah habis, seketika ia tergeletsk begitu saja sebelum mata yang benar-benar tertutup ia menatap Arthur yang sudah keluar dari pintu itu dengan membawa barang-barangnya ia lalu matanya pun tertutup. Sebelum kesadaran menghilang ia mendengar suara teriakan namanya dipanggil.
Bion!
Bion!
Bion!
BION! Tolong bawa dia kerumah sakit....
Itulah kata-kata terkhir yang Bion dengan. "Aileena aku tahu kau pasti sangat sedih, aku benar-benar minta maaf tetapi pelatihan ini akan berakhir hari ini. Dan kau dinyatakan gagal." Ucap dewa Lennox, seketika Aileena menjatuhkan pedang miliknya ketanah ia menangis menunduk tak berdaya dengan tetesan air hujan meyiram dirinya.
"Tidak! TIDAK! AKU TIDAK TAHU KALAU AKU GAGAL! AKU MOHON BERIKAN AKU KESEMPATAN LAGI DEWA LENNOX! BERIKAN AKU KESEMPATAN LAGI!" Ucap Aileena ia memohon agar pelatihan tidak selesai. Tetapi tak ada respon dari dewa Lennox.
Apakah keadaan Bion baik-baik saja? Ikuti cerita ini... Para pembaca semua do'ain semoga author gak malas update sehingga karya ini menggantung ceritanya, soalnya author mau segera menamatkan cerita ini pas 40 bab dan pindah platform seteleh cerita ini selesai. Kalian jangan lupa follow akun IG author @lieearaa karena ada biar gak ketinggalan info karya terbaru author... Follow ya ^^
__ADS_1