Gadis Petani Dengan Sistem Pertanian

Gadis Petani Dengan Sistem Pertanian
Bab 7 : Gadis Hijau & Apoteker istimewa


__ADS_3

"Ah... Maafkan saya, saya kira rumah ini tidak dihuni. Tapi tiba-tiba saja ada suara aneh dari dalam." Ucap Aileena ia menyembunyikan pisaunya itu kedalam tasnya kembali.


"Siapa kau ini? Dan apa alasan untuk datang kesini? Apakah ini ada hubungannya dengan orang suruhan istana?" Ucapnya ita terus menguap berkali-kali. "Tidak saya datang dari ibu kota, perkenalkan nama saya Aileena seorang petani sederhana." Ucap Aileena memperkenalkan diri.


"Apa? Petani? Buahahaha! Kau petani? Apakah kau seorang bangsawan? Jika bangsawan tidak mungkin tidak akan melakukannya." Ucap apoteker itu ia tertawa kencang mengejek Aileena. "Justru karena saya bukan seorang bangsawan nona." Ucap Aileena tersenyum.


"Ah... Kau sedikit menyebalkan, lalu untuk apa kau kesini nona?" Tanyanya dengan wajah datar. "Aku ingin merekrut anda sebagai orang yang bisa membantu saya membuat vaksin hama tumbuhan!" Ucap semangat Aileena, seketika apoteker tersebut terdiam.


"Apa? Kau ingin merekrutku? Menjadi pekerjaanmu begitu? Hei aku adalah mantan apoteker kekaisaran, apakah kau bisa membayarku?" Tanyanya dengan santai, Aileena mengeluarkan sebuah kantong dari tasnya yang berisikan koin gold didalamnya.


"Jadi apakah anda mau?" Ucap Aileena terus melemparkan uang koin itu seketika mata apoteker itu terkejut. "Astaga sepertinya kau memaksa ya, aku tidak membutuhkan uang aku tetapi aku akan membantumu ok, jadi namaku Nova sampai kenal Aileena.


"Wah! Benarkah terima kasih." Ucap Aileena bahagia. "Tapi tolong bantu aku bawa barang-barang ya." Ucap Nova dengan senang hati Aileena membantu Nova.


"Nova mengapa tubuhmu terlihat lebih pendek?" Tanya Aileena, Nova mengerutkan keningnya. "Apa? Kenapa? Apakah kau tidak suka dengan tubuhku sepertinya anak kecil yang hanya bisa memakai pakaian yang berukuran kecil begitu?" Teriak Nova.


"Memang sebenarnya kau berumur berapa Nova?" Tanya Aileena Nove terdiam sejenak. "Aku berumur 20 tahun, aku sudah mengabdi kepada kekaisaran selama aku berumur 15 tahun, terkejut? Yah... Itu pencapaian yang luar biasa dalam hidupku tetapi sekarang mereka mengusirku." Ucap Nova Aileena terdiam dia cukup berprestasi dan sampai diakui oleh kekaisaran saat umurnya sangat muda.


"Tapi apakah kau bisa membuat obat vaksin untuk tumbuhan? Dan juga membantu untuk mengembangkan sebuah produk, aku ingin sekali membuat produk dan membangun pabrik sederhana." Ucap Aileena, Nova tersenyum laku tertawa. "Astaga kau ini rupanya impian gadis petani ini sungguh besar, ya biasa saja kau membantuku, tetapi pastikan saja ada sebuah ruangan khusus untukku." Ucap Nova tersenyum.


Sesampainya dirumah, Aileena dan Nova bekerja bersama-sama agar ruangan bawah tanah yang Aileena punya akhirnya sudah bersih. Banyak sekali barang-barang aneh milik Nova disana.


"Terima kasih telah memberikan aku tepat tinggal, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat vaksin, tetapi apakah kau mempuyai sebuah buku resep sepertinya itu? Agar aku bisa membuat vaksinnya?" Tanya Nova, Aileena memberikan buku yang dewi Alma berikan kepadanya.

__ADS_1


"Buku ini sebelumnya tidak pernah aku lihat, tetapi aku sangat penasaran nanti malam aku akan membacanya!" Ucap semangat Nova.


Ting! Ting!


(Pesan dari sistem obrolan)


Dewi Lyra: Sepertinya kau sudah menemukan seorang apoteker hebat ya Aileena.


Aileena: Iya, saya tidak menyangka bahwa saya bisa membujuknya. (Senang)


Dewi Lyra: Semangat untuk bertani ya Aileena. Meskipun sekarang jalannya masih mulus seperti ini, tak terhambatan kecuali anak duke itu. (Kesal)


Disisi lain Arthur tengah menulis sebuah surat yang membuatnya sangat penting sehingga tak bisa diganggu oleh siapa pun. "Akhirnya selesai, Hei kau kirim surat ini kepada pangeran kedua!" Teriak Arthur orang tersebut menganggukkan kepalanya.


"CUKUP CIRO! SEHARUSNYA KAU BERSYUKUR KAU TERUS MENJADI TANGAN KANAN AYAH!" Ucap tuan Edward sehingga suara teriakannya bergema diruangan itu. "TETAP KAK TIDAK PERNAH MEMENUHI KEWAJIBANNYA SEBAGAI PENERUS! AKU JUGA SELALU BERLATIH PEDANG DAN MENGIKUTI ACARA RESMI KEKAISARAN!" Teriak Ciro, seketika sang ayah menampar pipi Ciro.


Plak...


"LEBIH BAIK KAU PERGI DARI RUANGAN INI!" Teriak sang ayah, Ciro pun keluar dari ruangan itu dengan perasaan kesal bercampur marah, ia sudah selalu sabar kepada sang kak yang terus bermain-main seperti anak kecil.


"Edward! Kendalikan dirimu, seharusnya kau berikan kesempatan untuk Ciro juga, mengapa kau mengharapkan Arthur saja yang terus menjadi penerus keluarga?" Ucap nyonya Edwar, sang suami duduk dikursi kerjanya dan memijat-mijat keningnya.


"Aku tidak tahu, aku harus memilih Arthur yaitu anak sulung yang menjadi penerus atau Ciro." Ucap tuan Edward sabg istri duduk menemani suaminya itu.

__ADS_1


Keesokan hari ya Arthur dan para pekerjanya datang ke perkebunan mereka, karena hari ini adalah hari panen mereka, Arthur sengaja membayar seorang alkemis terkenal dikota dan membuat sebuah ramuan agar tanamannya semua cepat tumbuh.


"Wah tanaman yang kita tanam sangat bagus dan juga sehat tuan muda." Ucap salah satu pekerjanya, Arthur tersenyum miring sembari melirik kearah Aileena, disisi lain Aileena memutar bola matanya seolah-olah memang tak peduli.


"Astaga mengapa wajahmu seperti itu? Apakah kau iri dengan semua hasil panen yang aku dapatkan ini? Ha?" Ucapnya yang mulai bersikap sombong lagi. "Hah... Untuk apa aku iri melihat semua hasil panenmu menggunakan ramuan aneh dari alkemis." Ucap Aileena yang mulai mengejek Arthur.


"Apa kau bilang! Berani-beraninya kau berkata seperti itu!" Teriak Arthur sikapnya seperti bocah lagi. "Astaga aku sangat malas bertengkar dengan anda tuan muda. Lebih baik anda kutip semua hasil panen anda." Ucap Aileena ia terus menyemprotkan semua tanamannya itu.


"Astaga lihatlah, tanamanmu sepertinya akan tumbuh cukup lama ya? Buahahaha sedangkan panenku sudah tumbuh terlebih dahulu." Ucap Arthur, Aileena mengerutkan keningnya ia sangat kesal mendengar ucapan orang yang menjengkelkan ini.


"Hem... Biarkan aku memberikan dia sedikit pelajaran!" Ucap Aileena dalam hati. "Hei tuan muda! Lihat ini!" Teriak Aileena sehingga semua para pekerja Arthur beserta dirinya ikut menoleh kearah Aileena.


Aileena mengambil sebuah tumbuhan yang sudah layu lalu mengangkatnya tepat didepan mereka. "Ha... Apa yang akan kau lakukan dengan bunga yang sudah mau layu itu? Apakah kau ingin memberikannya nanyian?" Tanyanya lalu ia tertawa bersama para pekerjanya.


Cling... Cling...


Sebuah sinar aneh bersinar saat itu juga semua menatap kearahnya dan melihat bunga kecil itu tumbuh segar kembali. "Apa yang kau lakukan dengan tumbukan kecil itu?" Tanya Arthur dalam hati ia menatap kearah Aileena tersenyum seperti seorang yang dewi tani.


"Nona itu mempuyai tangan petani! Dia diberkati oleh dewa!" Teriak seluruh pekerja Arthur tak percaya apa yang mereka lihat, tangannya sungguh ajaib. "Nona itu adalah orang yang diberkati oleh dewa!" Teriak mereka semua, Ciro yang melihatnya dengan bersembunyi pun tekejut ia bisa melihatnya secara langsung.


"Bagaimana? Apakah tanaman milikku tidak akan tumbuh cepat seperti anda tuan Arthur Edward?" Tanya Aileena ia tersenyum miring, Arthur mengertakan giginya. "Semoga pangeran bisa membalas surat itu!" Ucap Arthur dalam hati.


Halo author peringatkan bahwa dibab awal sampai bab yang akan datang itu adalah bab perkembangan tokoh, jadi tokohnya tidak langsung over power karena mendapatkan sistem dan langsung dimudahkan begitu saja... Semua dimulai dari bawah, sama seperti alur cerita ini mungkin agak lambat tetapi semoga menghibur

__ADS_1


__ADS_2