Gadis Petani Dengan Sistem Pertanian

Gadis Petani Dengan Sistem Pertanian
Bab 32 : Penjara


__ADS_3

Aileena serta Ciro dan rombongannya terkejut melihat sekeliling mereka banyak mayay yang sudah meninggal tergeletak disembarangan tempat. "Tempat ini seperti mayat zombe..." Ucap Aileena dalam hati yang mengingatkannya dalam film yang pernah ia tonton.


"Me-mengapa banyak orang yang bergeletak disini!?" Ucap Ciro ia terkejut melihat banyak sekali mayat disana. "Hiks-hiks-hiks... Se-semua orang sudah meninggal karena makan sayur hasil panen. Dan sebagian orang lagi berlindung di bukit sana larena ada monster besar yang mengejar mereka tuan." Ucap anak kita ia terus menangis dan ketakutan.


Aileena serta Ciro yang mendengarnya pun terkejut. Lalu Aileena memeluk anak tersebut. "Jangan takut, kami akan selamatkan mereka dan apakah kau sendiri?" Tanya Aileena, anak itu menggelengkan kepalanya.


"Semua anak-anak ada didalam rumah itu. Mereka berlindung disana. Tetapi ada sebagian anak-anak yang mengeluh sakit, hiks...aku tahu dia akan mati." Ucapnya ia menangis lagi, Aileena mendekati rumah itu lalu membukanya.


"Kalian pergilah selamatkan yang lain diatas bukit bawa vaksin ini sebagian!" Ucap Aileena, Ciro menganggukan kepalanya mereka segera naik kekurangan mereka dan bergerak cepat.


"Apakah kau bisa menunjukan dimana dapur!?" Tanya Aileena ia mengeluarkan daun yang ia bawa didalam tasnya dengan cepat laku merebusnya seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya.


Flashback On


"Aileena apakah kau bisa menyembuhkannya?" Tanya Ciro, lalu Aileena mengeluarkan buku miliknya, dan mencari resep itu dengan cepat lalu Aileena tersenyum melihatnya. "Ada! Tapi tolong carikan 9 lembar daun legundi, 3 lembar daun sembung, dan 3 lembar daun serawung!" Ucap Aileena lalu Ciro, serta kedua orang tua anak itu dengan cepat pergi mencarinya.


"Kau harus tenang ya! Tenang saja kak akan menyembuhkanmu." Ucap Aileena, setelah beberapa menit semua daun itu direbus oleh Aileena dan seteleh selesai airnya pun Aileena berikan kepada anak itu, dengan pelan-pelan sang ibu memberikannya air itu.


"Semoga ini berhasil." Ucap Aileena dalam hati, setelah melihat beberapa menit kemudian akhirnya ia tak muntah-muntah lagi. "Syukurlah dia tidak muntah lagi. Lalu saya ingin bertanya dengan paman dan bibi." Ucap Aileena ia menatap Ciro dan ia pun menganggukan kepalanya.


Flashback Off


"Segera minum ini, dan kalian semua juga. Tidak apa-apa ini tidak racun ko." Ucap Aileena anak-anak itu pun menganggukan kepalanya lalu mereka meneguk minuman itu, seketika anak-anak yang mengeluh kesakitan akhirnya keadaannya membaik.


"Semuanya tetap disini, jangan keluar! Lalu jika lapar makan kripik yang didalam kardus itu ya karena itu kripik kak bawa sendiri kak mau mengurus mayar-mayat dulu." Ucap Aileena ia menggunakan sarung tangan, masker kain serta kain yang bisa menutupi seluruh tubuhnya.


Krek... Brak...


Kotlak-kotlak-kotlak...

__ADS_1


"Sepertinya disini tempatnya, seharusnya disini juga monster itu. Tetapi dimana monster itu?" Tanya Ciro dalam hati, seketika seekor monster datang dari belakang.


Argh....


Saat itu Ciro turun dari kudanya beserta para pasukanya, mereka pun menyerang monster. Monster itu adalah daun bawang yang memiliki akar yang cukup panjang sehingga bisa menjalar kemana saja dan bisa merambat kemana saja.


Argh...


"Hati-hati jangan sampai tertangkap dengan akar-akarnya itu!" Teriak Ciro, semuanya menganggukan kepalanya mereka menebas dan menebas akar-akar itu. Saat itu Ciro mengakhirinya dengan melemparkan vaksin itu dengan tepat sasaran.


Argh! Argh!


Satu monster musnah dan teman monster lainya pun ikut datang. Rupanya monster itu lebih banyak dari yang Ciro kira sehingga mereka pun harus bertarung kembali. Monster-monster itu termasuk daun bawang, lobak, wortel, tomat, sawi, dan lain-lain.


Sing... Sarak...


Past... Sing... Past...


Argh! Argh!


Disisi lain disebuah bangunan yang cukup besar dan megah dengan keamanan yang sangat kuat. "Saya duke Edward ingin bertemu dengan anda yang mulia kaisar." Ucapnya dengan hormat saat itu baginda kaisar serta kedua pangeran itu duduk ditempat mereka.


"Ah... Aku malas duduk disini." Ucap pangeran pertama. "Jadi untuk apa kau datang kesini tuan duke Edward? Seharusnya kau tidak datang kesini kan? Apa lagi dengan kesalahan putranu itu!?" Ucap kaisar seketika tuan Edward sendri merasa sangat malu.


"Maafkan kesalahannya yang mulia, saya tidak tahu jika itu akan berdampak seperti itu." Ucap tuan Edward. "Apakah kau bilang? Hanya seperti itu kau berbicara cukup enteng! Banyak sekali korban yang berjatuhan! Lalu banyak laporan sebagian rumah warga runtuh akibat monster-monster itu!" Teriak kaisar.


Seketika tuan Edward dicondongkan pednag tepat kearahnya, para keamanan kekaisaran pun ikut mencondongkan pedangnya itu. "Seharusnya baginda jangan melakukan hal itu!" Ucap Chole Cadel sebagai nada pelannya ia membulatkan mata ia takut tuan Edward terluka.


"Yang salah itu bukan tuan Edward yang mulia yang salah adalah tuan Arthur sendiri!" Ucap tegas Chole dengan wajah datarnya, seketika Helix yang mendengarnya pun tersenyum miring.

__ADS_1


"Apakah kau takut? Mengapa kau sepertinya sangat peduli dengan tuan Edward yang mulia putra mahkota?" Tanya Helix dengan senyuman temennya. "Lebih baik aku pergi dari sini." Ucap Chole dengan wajah tak peduli ia berdiri dan berjalan pergi.


Sedangkan kaisar membawa Edward kedalam penjara untuk menebus kesalahan Arthur sebelum Arthur ditangkap. "Yang mulia kaisar! Tolong! Bantu wilayah kami!" Ucap tuan Edward, kaisar menganggukan kepalanya.


"Aku akan membantu wilayah bagian dari kekaisaran ini. Tetapi kau harus di penjara tuan Edward." Ucap kaisar lalu tuan Edward menganggukan kepalanya ia akan lakukan apa pun untuk melakukan semuanya demi rakyat wilayahnya agar tidak menderita.


"Aku akan mengirimkan surat kepada Duchess bahwa aku dipenjara, aku ingin dia membuat Ciro menjadi penerusnya duke. Karena aku tak akan bisa lagi menjadi pemimpin." Ucapnya dalam hati ia segera menulis surat itu didalam penjara.


"Sepertinya sudah selesai semua, para mayat sudah dikubur dengan baik, smeoga kalian tenang disana. Rest in peace semua..." Ucap Aileena ia tersenyum tipis.


Seketika sebuah semak-semak menggoyang sendiri seperti ada sesuatu dibalik semak-semak itu, lalu Aileena pun mendekatinya dengan berlahan-lahan. "Siapa itu!? Keluar!" Ucap Aileena tanpa rasa takut ia mengeluarkan pedang miliknya.


"Kak Aileena ini aku... Maaf aku keluar rumah tanpa seizin kak." Ucap anak kecil laki-laki itu, Aileena tersenyum lalu memeluknya. "Mengapa kau keluar!? Seharusnya kau tidak keluar dari rumah kan?" Tanya Aileena anak kecil itu menundukan kepalanya. "Maafkan aku kk, karena kedua orang tuaku meninggal, dan mereka dikubur disana." Ucap anak kecil itu seketika Aileena yang mendengarnya membulatkan matanya lalu menoleh kearah kuburan itu.


"Hiks-hiks-hiks... Ibu dan ayah sudah meninggal." Ucap anak kecil itu, lalu Aileena menghaous ari mata anak itu. "Gak boleh nangis! Kan kamu anak kuat!" Ucap Aileena seketika anak itu terdiam ia menatap sesuatu yang berada dibelakang Aileena. "Kak, dibelakang kak ada..." Ucap anak itus eketika Aileena menoleh ke arah belakang.


Deg!


Argh! Argh!


"Dua monster brokoli dan juga cabai!" Teriak anak kecil itu serta Aileena secara bersamaan mereka memeluk satu sama lain.



Mungkin ini bab terakhir author update ya hahahaha. Author mau ngucapin terima kasih karena para pembaca masih setia buat baca karya receh ini ^^. Lalu bagaimana dengan kelanjutannya? Author meminta para pembaca untuk melanjutkannya dengan imajinasi para pembaca sendiri bagaimana keterusan cerita ini hehehe.


Author mungkin gak bakal muncul dalam waktu dekat ini. Tapi kalo misalnya pada kangen dengan author bisa cek ig diatas ya.. (kalo gak ya gak apa-apa 😂). Nanti author akan upload foto di ig tersbeut jadi jangan ngira author gak bakal post postingan loh^^


See you next time semua ^^ Novel ini resmi tamat ^^

__ADS_1


Kalo penasaran kenapa author namatin sekarang? itu karena kurangnya support sistem dari platform dan juga pembaca sekian terima gaji ^v^


__ADS_2