
"Tidak! Aku tidak boleh takut! Karena dewa Lennox yang sudah mengajarkanku berpedang! Hiya!!!" Teriak Aileena sontak para peserta lainya menoleh kearah Aileena dan membulatkan matanya.
Sring... Srak...
Nova dan Ciro akhirnya bernafas lega ia melihat seseorang menyelamatkan Aileena, padahal Aileena hampir saja mengayunkan pedangnya. "Seharusnya kau tidak ikut nona!" Ucapnya ia pun menatap Aileena seperti tak suka.
"Entahlah, seharusnya aku langsung menebasnya sebelum anda datang." Ucap Aileena. "Ha si gadis bodoh itu! Mengapa dia sok-soan untuk mewakili keluarga Edward!? Seharusnya dia tidak melakukan itu. Memang dirinya gadis gila." Ucap Arthur yang datang dari belakang Ciro, Nova dan Mery pun menoleh kebelakang.
"Kak!? Seharusnya kak yang menggantikan posisiku tadi! Kak kemana saja ha!?" Teriak Ciro dengan kesal. "Aku habis menjual semua obat hama itu, mumpung ini menghasilkan uang lebih cepat." Ucap Arthur dengan santainya, Nova yang mendengarnya pun terkejut.
"Maaf tuan Arthur. Apa tadi yang anda bilang!? Anda menjual obat hama!? Obat hama apa lagi sih? Apakah anda tidak bisa mengurungkan ide gila anda itu!" Teriak Nova tetapi Arthur tak mendengar ocehan Nova.
"Memang kau tahu apa soal bisnis!? Kau tidak tahu apa-apa." Ucap Arthur meremehkan. "Saya tahu bahwa beni buatan anda ada masalah! Sesuatu hal yang terjadi bisa tertimbul dari benih itu! Seharusnya anda tidak memasarkannya!" Teriak Nova lagi-lagi Arthur hanya bodo amat.
"Kau terus saja berbicara aneh dan bodoh! Aku tidak peduli apapun! Asalkan itu masih menghasilkan uang dengan cepat itu tidak masalah." Ucap Arthur, Nova yang darah tingginya sudah naik pitam pun langsung menghampirinya dan berniat untuk mencekik lehernya.
Tetapi Mery menahan perbuatan Nova itu. "Sabar Nova! Kau harus sabar!" Teriak Mery, tetapi Nova seperti hewan yang tengah menggonggong. "Argh! Lepaskan kau Mery aku ingin mencabiknya! Aku ingin memukulnya!" Teriak Mery.
"Sekarang bagaimana keadaan gadis tersebut!? Apakah dia akan menyerah atau terus melawan monster itu!?" Ucap suporter seketika Mery dan Nova fokus kearah pertandingan itu, lalu Arthur yang menontonnya pun tersenyum miring.
"Semoga gadis itu terluka, dan terutama ia mendapatkan malu atas perbuatan bodohnya itu! Haha..." Ucap Arthur, terlihat Aileena masoh menatap para peserta lainnya yang tengah melawan monster.
Ada beberapa diantaranya yang sudah terluka parah akibat monster itu terlalu kuat. "Argh! Aku tidak bisa menahanya lagi! Hei kau pergi dari sini!" Teriak salah satu peserta yang melindungi Aileena, ia tak sanggup lagi mengayunkan pedangnya.
"Ha!? Pergi? Lagian siapa suruh kau menahan monster itu kearahku?" Tanya Aileena dengan wajah polosnya sekerika ia pun tekejut. "Argh! Kata-katamu menyebalkan!" Ucapnya.
Sing!
Aileena mengeluarkan pedangnya ia mendekati salah satu monster itu dan monster itu menoleh kearah Aileena dan menatapnya, seketika monster itu mengaung-ngaung. Lalu beberapa monster itu mengincar Aileena dan memanggil susah monster yang ada yang belum terkena tebasan.
Drap-drap-drap...
Aileena berlari sangat cepat dari pohon kepohon, semua penonton bersorak ada juga yang ketakutan.
Sing... Srak...
Srak... Srak... Srak...
__ADS_1
Sektika para peserta lain yang sudah terbaring lemah disana terkejut melihat gerakan cepat Aileena menebas semua monster itu tepat dijantungnya. Ia terus menusuk dan menebas sehingga jantung mereka tak berdetak lagi.
(Pesan dari sistem obrolan)
Dewa Lennox: Ya kau pasti bisa Aileena!
Dewi Lyra: Kau pasti bisa mengalahkan semuanya!
Dewi Alma: Semangat Aileena!!
Aileena: Baiklah, sepertinya ini sangat menyenangkan! Seperti menghilangkan stress dari membunuh monster! Hebat! (Semangat)
Srak... Srak... Srak...
"Waktu tinggal 2 menit lagi! Dan terpisah 3 monster lagi! Apakah ia bisa memenangkannya!?" Teriak suporter, Aileena pun langsung mengerahkan sedikit kekuatannya dan langsung melempar pernah itu tepat ke arah jantungnya.
Seketika semua monster itu terjatuh tak berdaya semuanya terbunuh dengan tepat sasaran, lalu Aileena menangkap pernah miliknya yang jatuh tepat sebelum menancap ketanah.
"Dapat! Fuh.. Banyak sekali darah dipedang ini dipakaianku ini?" Ucap Aileena ia baru sadar bahwa dirinya dilumuri darah tanpa ada luka segores pun.
Kotlak-kotlak-kotlak...
"Akhirnya pemenang sesungguhnya adalah Aileena! Berikan tepuk tangan yang meriah!" Teriak suporter, lalu Mery, Nova dan Ciro segera pergi menghampiri Aileena yang sudah turun dari kuda miliknya.
"Aileena! Apakah kau tidak apa-apa? Apakah kau terluka?" Teriak Nova ia langsung memeriksa tangan dan wajahnya. "Hahaha tidak aku tidak terluka, ini hanya bekas darah monster saja." Ucap Aileena lalu Mery memberikan Aileena 1 ember air dan handuk.
"Bersihkan dulu bekas darahnya, itu sangat bau tau." Ucap Mery lalu Aileena menganggukan kepalanya. "Terima kasih Aileena. Dan sekali lagi aku minta maaf!" Ucap Ciro, Aileena menggelengkan kepalanya.
"Aku juga ingin berlatih diarena, karena aku belum menemukan tempat latihan yang cocok jadi dengan mengikuti festival ini aku bisa meregangkan semua kemampuan yang aku miliki." Ucap Aileena, Ciro mengerti maksud Aileena.
(Pemberitahuan Sistem)
(Sistem Misi)
[Memberantas monster [hadiah: 1.000 exp, 1.000 poin dan juga kenaikan level pedang]
[Memenangkan festival rodeo [hadiah: Obat penmulih, Obat penyembuhan, 100 exp dan 100 poin]
__ADS_1
[Berhasil anda kerjakan, hadiah akan dimasukan kedalam akun anda]
+500 exp
+500 exp
+500 poin
+500 poin
+50 exp
+50 exp
+50 poin
+50 poin
Disisi lain seorang petani tengah menanam benih produk buatan Arthur, ia sangat bersemangat agar hasil panen yang cepat tumbuh. Dan tak lupa ia memasukan hasil panen yang kedalam lumbung.
Kretek-kretek...
"Akhirnya tomat-tomat ini sangat matang dan juga besar!" Ucap petani tersebut. Seketika sebuah peti yang berisi tomat itu pun temukan entah kenapa disaat itu petani tersebut menoleh dan melihat peti itu.
Deg!
"Mengapa peti ini bisa hancur!? Padahal ini kan isinya cuman tomat saja?" Ucap petani itu dalam hati lalu ia melihat tomat itu yang semakin lama-semakin membesar, petani itu tekejut ia merinding ketakutan melihat buah tomat itu.
Krek...
"Ha! Ha! Ha! Ja-jangan! Jangan dekati aku!" Teriak petani itu seketika tomat itu mempuyai mulut yang sangat besar dan sepertinya ingin menelan siapa saja yang berada dihadapannya.
Disisi lainnya seorang ibu memasak makan siang untuk anak-anaknya. "Bagaimana masakan ibu enak bukan?" Tanya sang ibu yang selalu bertanya seperti itu jika ia memasak. "Sangat enak ibu! Ini sangat enak!" Teriaknya.
Setelah beberapa menit setelah makan sayur buatan sang ibu anak itu merasa pusing, mual-mual dan demam. "Ibu... Aku tidak kuat. Perutku seperti berkelahi didalam." Ucap sang anak yang terus merengek, sang ibu pun hanya bisa menangis dan berusaha semaksimal mungkin.
"Dewi Alma aku mohon! Lindungi anakku! Aku mohon semoga suamiku bisa mendaptkan obatnya penawarnya!" Ucap doa sang ibu memohon kepada dewi Alma.
__ADS_1
Apa yang terjadi? Penasaran? Ikuti kelanjutan cerita ini...