Gadis Pilihanku

Gadis Pilihanku
BAB. 11 Pulang kerumah


__ADS_3

Tante Ghina hendak memeriksa pasien saat melihat Arrash datang kerumah sakit bersama Yogi dan dihampiri oleh Anita tapi tante Ghina tak mengindahkan mereka.


Tante Ghina memeriksa pasien yang berada di ruang VVIP no 6 dan melewati ruang rawat Syaqilla.


'Pasti Arrash datang kerumah sakit ini mau membesuk Syaqilla' batin tante Ghina.


Tante Ghina memeriksa pasien tersebut serta menjelaskan kondisinya saat ini hingga suara keributan dari ruang VVIP lainnya terdengar.


"Sepertinya ada keributan ya dok?" tanya pasien tersebut pada tante Ghina.


"Sepertinya iya" jawab tante Ghina singkat.


"Ini obatnya jangan telat lagi diminum y, harus rutin. Istirahat yang cukup, kondisi anda sudah baik-baik saja besok pagi sudah boleh pulang" sambung tante Ghina menjelaskan.


"Iya dok" ucap pasien itu.


"Kalau tidak ada yang dipertanyakan saya permisi" pamit tante Ghina.


"Iya dok silahkan" ucap pasien tersebut.


Tante Ghina keluar dan benar saja dugaannya, keributan itu terjadi diruang rawat Syaqilla.


Tante Ghina membuka pintu.


Terdengar suara dokter Anita sedang menjelaskan kondisi Syaqilla, namun tante Ghina tidak langsung menghampiri mereka dia masih berdiri diambang pintu.


"Tidak" ucap Arrash tegas.


"Kamu tidak bisa mengizinkan dia pulang, kaki dia belum sembuh" sambung Arrash lagi


"Arrash kondisi Syaqilla sudah baik-baik saja, dia ingin pulang. Kenyamanan pasien juga menunjang kesembuhannya, dengan itu aku mengizinkan dia pulang" ucap Anita menjelaskan.


"Tapi dia bel_" ucap Arrash terpotong karena suara dari tante Ghina.


"Dokter Anita betul Arrash, kenyamanan pasien akan menunjang kesembuhannya. Syaqilla akan baik-baik saja dirawat dirumah, kalau kamu ingin membesuk bisa datang kerumahnya" ucap tante Ghina.


"Tidak bisa" ucap Fikri tegas.


"Kamu hanya bertanggung jawab atas kesembuhannya dan ini sudah cukup. Saat Check Up dan pelepasan Gips nanti anda tidak perlu membiayai lagi" lanjut Fikri masih dengan ketegasannya.


'Ck menyebalkan. Kalau aku mau aku bisa saja menyingkirkanmu' batin Arrash sebal tidak ada yang memihaknya.


Melihat sahabatnya disudutkan Yogi menghampiri Arrash.


"Tenanglah Arrash, kalau kamu menginginkan gadis itu caranya pelan-pelan" bisik Yogi ditelinga Arrash.


"Baiklah aku setuju Syaqilla pulang hari ini tapi dengan syarat saat jadwal Chek up dan pelepasan Gipsnya aku yang akan menemani Syaqilla, hingga memastikan dia benar-benar sembuh" ucap Arrash.


"Tidak bi_" ucap Fikri keberatan, namun terhenti saat Syaqilla berbicara.


"Aku setuju! Mas Fikri sudah ya jangan berdebat lagi, aku hanya ingin pulang sekarang" ucap Syaqilla cepat.


Mendengar itu Arrash tersenyum, setidaknya Syaqilla menyetujui syarat yang diajukan itu.


"Baiklah, ayo aku bantu bersiap-siap" ucap Fikri dan diangguki Syaqilla.


Dokter Anita dan tante Ghina kembali melanjutkan pekerjaannya.


Arrash dan Yogi masih menunggu duduk dikursi tunggu.


15 menit kemudian Syaqila dan Fikri keluar dari ruang rawat.


Melihat Fikri dan Syaqilla keluar, Arrash dan Yogi menghampiri.


Melihat Syaqilla yang kesulitan berjalan menggunakan tongkat Arrash segera menawarkan bantuan


"Ayo aku bantu" ucap Arrash hendak membantu Syaqilla.

__ADS_1


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri" ucap Syaqilla.


"Baiklah" ucap Arrash.


Mereka berempat tiba di parkiran.


"Izinkan aku mengantar kalian" pinta Arrash.


"Tidak perlu kami akan naik taksi saja" ucap Fikri.


"Ayolah ini demi menebus rasa bersalahku pada Syaqilla" ucap Arrash.


Fikri menoleh pada Syaqilla dan ternyata gadis itu mengangguk tanda setuju.


Mereka berempat masuk kedalam mobil dengan Formasi Syaqila duduk dikursi penumpang depan, Arrash dibagian kemudi, Yogi dan Fikri duduk di kursi tengah.


Sejak tadi mereka tak sadar ada Anita yang memperhatikannya.


'Semakin jauh saja untuk menjangkaumu Arrash' batin Anita.


Arrash melajukan mobilnya dengan kecepatan standart, didalam mobil mereka berempat hanya diam.


Satu jam kemudian mereka tiba dirumah Syaqilla. Rumah dengan satu lantai ber cat hijau muda dengan banyak bunga dan tanaman hias dihalaman rumah.


Mereka berempat turun, dan Seyaqilla mempersilahkan masuk.


Ketiga pria itu duduk diruang tamu.


"Biar aku saja Syaqilla" ucap Fikri saat melihat Syaqillaq hendak membuatkan minum.


"Kamu duduk dan istirahat " ucap Fikri lagi.


Syaqilla menurut, dia duduk disalah satu sofa yang ada diruang tamu untuk menemani Arrash dan Yogi.


"Apa kamu tinggal sendiri dirumah ini" tanya Arrash pada Syaqilla.


"Kemana orang tuamu?" tanya Arrash lagi.


"Mereka sudah meninggal" ucap Syaqilla sedih.


"Ma-maaf karena pertanyaanku kamu jadi sedih" ucap Arrash menyesal.


"Tidak apa-apa" ucap Syaqilla.


Pembicaraan mereka terpotong saat Fikri datang dengan membawa 4 cangkir teh hangat dan beberapa cemilan.


"Apa mas Fikri tidak kekampus?" Tanya Syaqilla.


"Tidak, khusus hari ini aku izin" ucap Fikri.


"Rash sepertinya kita harus pergi. Ada tante Novi keperusahaan, barusan kirim pesan pada ku " ucap Yogi.


"Syaqilla Fikri kami pamit, saat nanti Check up aku akan datang menemani Syaqilla" ucap Arrash.


"Iya" jawab Syaqilla singkat.


Arrash dan Yogi menuju kantor.


...****************...


Dikantor.


Arrash dan yogi tiba pukul 12 siang.


Melihat Arrash datang mamah Novi lansung mengomel.


"Kalian dari mana saja? Mamah jam 10 sudah disini" ucap mamah Novi kesal pada Arrash dan Yogi.

__ADS_1


"Maaf tante tadi kami ada meeting" bohong Yogi.


"Oke dimaafkan. Arrash nanti malam kamu ikut mamah dan papah ya keacara ulang tahun pernikahan tante Rissa dan Om Edwin" pinta mamah Novi.


"Akan Arrash usahakan mah" ucap Arrash


"No. Pokoknya harus berangkat" tegas mamah Novi.


Arrash mengangguk.


"Ini makan lah, mamah bawakan makanan" ucap mamah novi dan menyerahkan paperbag yang dia bawa.


Arrash menerima paperbag itu.


Arrash dan Yogi mulai menyantap makan siangnya?


"Mamah tidak makan juga?" tanya Arrash.


"Tidak. Mamah mau pulang saja" ucap mamah Novi.


"Iyaa mah, tapi Arrash tidak bisa mengantar mamah" ucap Arrash.


"Iya tidak papa, mamah bisa pulang sendiri" ucap mamah Novi.


"Terimakasih tante makan siangnya" ucap Yogi.


"Oke sama-sama" ucap mamah Novi dan berlalu pergi.


...****************...


Dirumah Syaqilla.


Setelah Arrash dan Yogi pergi, tak lama kemudian datanglah Fatimah ibu kandung Fikri.


Tok tok tok


"Assalamualaikum" ucap bu Fatimah.


Meski pintu rumah dibuka tapi bu Fatimah tidak masuk sebelum dipersilahkan.


"Masuk bu" ucap Fikri yang menghampiri ibunya kemudian menyalimi.


"Ibu bawakan makan siang untukmu dan Syaqilla nak" ucap bu Fatimah.


"Langsung kemeja makan saja kalau begitu bu, biar Fikri yang panggilkan Syaqilla" ucap Fikri.


"Iya panggilkan nak" ucap bu Fatimah.


Fikri memanggil Syaqilla dikamarnya, 5 menit kemudian Syaqilla datang.


"Ayo nak makan siang dulu" ucap bu Fatimah.


"Iya bu" ucap Syaqilla seraya menyalimi calon ibu mertuanya.


20 menit makan siang berlangsung dengan hening, karena memang sudah kebiasaan mereka makan seperti itu.


"Syaqilla, Fikri sudah bicara dengan ibu kalau untuk sementara ibu akan tinggal disini untuk merawatmu, dan Fikri tinggal dirumahnya sendiri" ucap bu Fatimah.


"Tapi kondisi ibu juga kan terkadang kurang sehat, bagaimana kalau nanti sering sakit karena merawatku" ucap Syaqilla.


"Ibu sudah sehat nak, ini buktinya bisa masak banyak untukmu dan Fikri" ucap bu Fatimah.


"Iyaa Syaqilla aku khawatir meninggalkan kamu sendirian, jadi bolehkan ibuku menemanimu dirumah" ucap Fikri.


"Iya mas boleh" ucap Syaqilla.


"Alhamdulillah" ucap Fikri dan bu Fatimah bersamaan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2