
"Tidak Syaqilla aku tidak mau" ucap Alika kemudian berlari kekamar yang sudah Syaqilla berikan padanya selama tinggal dirumah itu.
Alika meninggalkan Syaqilla yang masih termenung diruang tamu.
Alika tidak keluar sama sekali dari kamarnya hingga waktu makan malam tiba.
Alika menyiapkan makan malam untuknya dan Syaqilla.
"Syaqilla ayo makan malam" ajak Alika didepan pintu kamar Syaqilla.
"Iya mba" jawab Syaqilla kemudian membuka pintu.
Mereka menuju meja makan bersamaan.
Diantara mereka tidak ada yang membahas pembicaraan tadi siang.
Syaqilla dan Alika mulai menyantap makanannya.
"Ini mba Alika yang masak?" tanya Syaqilla.
"Iya Syaqilla ini aku yang masak" jawab Alika.
"Sepertinya bahan makanan dikulkas hampir habis ya, besok setelah selesai mengajar aku akan belanja" ucap Syaqilla.
"Tidak perlu Syaqilla biar aku saja yang belanja. Besok aku akan mencari pekerjaan jadi pulangnya langsung belanja" ucap Alika.
"Mba Alika mau nyari pekerjaan?" tanya Syaqilla.
"Iya Syaqilla aku mau kerja, terserah dimana saja yang penting aku bisa bekerja dan dapat uang yang halal" jawab Alika.
Syaqilla terdiam ia terenyah dengan nasib Alika yang tadinya orang kaya dengan hidup bergelimang harta kini harus bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri akibat keegoisan kedua orang tuanya.
"Aku akan bantu mba Alika cari kerja" ucap Syaqilla.
"Memangnya kamu tahu dimana ada lowongan pekerjaan?" tanya Alika.
"Aku tidak tahu mba. Tapi dikampusku sedang kekurangan tenaga pengajar, coba saja mba Alika temui pak Rizki" ucap Syaqilla.
"Baiklah besok aku akan ikut bersamamu kekampus" ucap Alika.
"Iya mba" ucap Syaqilla.
Makan malam berakhir mereka kembali kekamar masing-masing setelah membersihkan peralatan dapur yang kotor bersama-sama.
Pagi tiba.
Syaqilla dan Alika tengah sarapan dengan lauk seadanya sisa bahan didalam kulkas.
"Mudahan saja aku diterima kerja ya Syaqilla" ucap Alika.
"Amin" ucap Syaqilla.
"Apa menurutmu aku mengunjungi Riana 2 hari sekali itu terlalu sering ya?" tanya Alika.
"Tidak juga mba, mba bahkan boleh berkunjung setiap hari nenemui Riana aku yakin mas Fikri tidak akan melarangnya" jawab Syaqilla.
Alika terdiam, memang benar Fikri tidak melarang Alika berkunjung tapi ia tidak enak dengan Syaqilla yang statusnya sebagai tunangan Fikri dan seolah-olah Alika tidak menghargai Syaqilla.
Tit dit.
Suara kelakson memecahkan lamunan Alika.
"Siapa Syaqilla?" tanya Alika.
"Sepertinya mas Arrash sudah datang" jawab Syaqilla.
Alika mengernyitkan keningnya tanda bingung.
__ADS_1
"Arrash?" tanya Alika.
Syaqilla menoleh pada Alika yang kebingungan.
"Iya mba mas Arrash yang ternyata adik sepupunya mas Fikri. Mas Arrash juga lah yang bertanggung jawab dengan cidera yang aku Alami" jawab Syaqilla.
"Lalu untuk apa dia datang kemari sepagi ini?" tanya Alika.
"Selama kakiku belum sembuh aku akan diantar kekampus oleh mas Arrash dan pulangnya barulah aku akan naik taksi" jawab Syaqilla.
Alika mengangguk tanda mengerti.
"Ayo mba habiskan sarapannya, kasihan mas Arrash menunggu kita terlalu lama" ucap Syaqilla.
"Iya Syaqilla" ucap Alika.
Mereka akhirnya selesai dengan sarapannya dan membersihkan peralatannya.
Syaqilla menghampiri Arrash yang sedang duduk menunggu dikursi teras rumah.
"Maaf mas terlalu lama nunggunya ya?" tanya Syaqilla.
"Tidak juga. Ayo sebaiknya kita berangkat sekarang" jawab Arrash.
"Tunggu mas sebentar ada yang mau ikut bareng kita kekampus" ucap Syaqilla.
Arrash mengernyit.
"Siapa?" tanya Arrash.
"Mba Alika mas" jawab Syaqilla.
Dan benar saja Alika keluar dari rumah Syaqilla dengan stelan kantor.
Arrash mengangguk.
"Kalau sudah siap semuanya ayo kita berangkat" ajak Arrash.
"Apa tujuan kalian sama akan kekampus Jaya Universitas?" tanya Arrash.
"Iya benar mas, saya dan mba Alika satu tujuan" jawab Syaqilla.
"Maaf Arrash kalau aku merepotkanmu dengan ikut mobilmu" ucap Alika.
"Tidak apa-apa sekalian aku mengantar Syaqilla" ucap Arrash.
Hening diperjalanan mereka tidak ada yang bicara hingga akhirnya tiba didepan gerbang kampus.
Arrash menghentikan mobilnya kemudian turun untuk membantu Syaqilla tapi lagi-lagi gadis itu menolak.
Alika memperhatikan interaksi kedua insan tersebut.
'Apa mungkin Arrash mencintai Syaqilla ya" batin Alika.
Hanya melihat dari gestur tubuh dan tatapan Arrash sudah jelas terlihat bahwa Arrash mencintai Syaqilla.
'Arrash mencintai Syaqilla, Syaqilla mencintai mas Fikri sebagai tunangannya, dan apa benar kalau cinta mas Fikri lebih besar kepadaku dibandingkan pada Syaqilla' batin Alika.
"Mamah" panggil Riana.
Lamunan Alika buyar sesaat terdengar seseorang memanggilnya mamah.
Alika menengok kearah sumber suara.
"Riana kenapa ada disini?" tanya Alika sembari memeluk Riana.
"Riana mau ikut papah mengajar mah?" jawab Riana.
__ADS_1
Alika menatap Fikri dan pria itu mengangguk.
"Kamu sendiri sedang apa disini Alika?" tanya Fikri.
"Aku pergi dari rumah orang tuaku mas, sekarang aku tinggal dirumah Syaqilla dan aku menganggur lalu Syaqilla juga mengajakku kemari katanya lagi dibutuhkan tenaga pengajar disini" ucap Alika.
Fikri mengangguk kemudian beralih menatap Syaqilla yang juga sedang menatapnya.
Fikri menghampiri Syaqilla.
"Bagaimana keadaan kakimu?" tanya Fikri.
"Sudah lebih baik mas" jawab Syaqilla.
Fikri mengangguk kemudian menatap Arrash yang berada di sebelah Syaqilla.
Suasana diantara mereka menjadi canggung.
"Arrash" panggil seseorang yang memecahkan kecanggungan diantara mereka.
Arrash yang mendengar namanya dipanggil kemudian menoleh kesumber suara.
"Om Rizki" ucap Arrash.
Melihat Rizki menghampiri mereka Syaqilla, Fikri, dan Alika menganggukan kepalanya tanda memberi hormat.
Rizki membalasnya dengan anggukan juga.
"Arrash sedang apa kamu disini?" tanya Rizki.
"Ini om aku mengantar Syaqilla" jawab Arrash.
Rizki mengangguk.
"Kebetulan kamu kemari Arrash, ada hal penting yang ingin om bicarakan" ucap Rizki.
"Hal penting apa ya om?" tanya Arrash.
"Lebih baik kamu ikut om masuk, kita bicarakan ini diruangan om" jawab Rizki.
"Iya om" ucap Arrash setuju.
Rizki berjalan lebih dulu.
Arrash berpamit pada Fikri, Syaqilla dan Alika kemudian mengikuti Rizki menuju ruangannya.
Setelah kepergian Arrash kini Fikri kembali membuka suara.
"Apa kamu serius akan bekerja disini Alika?" tanya Fikri memastikan.
"Iya mas aku serius" jawab Alika.
"Mas Fikri aku ingin bicara denganmu?" ucap Syaqilla.
Fikri mengangguk.
"Kalau begitu aku dan Riana akan menunggu kalian disana" ucap Alika sembari menunjuk taman kampus kemudian berlalu.
"Ada apa Syaqilla?" tanya Fikri.
"Apa mas Fikri masih mencintai mba Alika?" tanya Syaqilla.
Deg.
Fikri terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan dari mulut gadis yang berstatus tunangannya itu.
"Apa maksud pertanyaan kamu Syaqilla?" tanya Fikri balik.
__ADS_1
"Tidak ada maksud apa-apa mas. Aku hanya beranggapan bahwa mas Fikri masih mencintai mba Alika. Walau mas Fikri berkali-kali meyakinkan aku bahwa aku wanita satu-satunya yang mas Fikri cintai tapi aku tetap meragukan itu" ucap Syaqilla.
...****************...