
"Ada apa Arrash kenapa Fikri buru-buru pergi?" tanya opa Ferdi.
Opa Ferdi sebenarnya ingin berbincang banyak dengan cucunya itu namun Fikri langsung pergi.
"Ada urusan keluarga opa, sepertinya dengan mantan istri dan mertuanya" ucap Arrash.
"Apa! Mantan istri?" tanya opa Ferdi terkejut.
"Iya opa, tadi saat ketoilet Arrash bertemu dengan mantan istri Fikri dan kedua orang tuanya mereka sedang berdebat hingga menarik perhatian orang-orang disana juga ada oma Laras dan bu Fatimah" ucap Arrash.
"Dimana mereka sekarang?" tanya opa Ferdi.
"Dilorong ruang rawat Melati opa" jawab Arrash.
"Kalau begitu tolong kamu jaga Farhan bersama dengan orang tuamu, bila terjadi sesuatu dengan Farhan segera hubungi opa. Opa hendak kesana menyusul Fikri" ucap Opa Ferdi.
"Iya opa" ucap Arrash.
Opa Ferdi kemudian pergi mengikuti Fikri.
"Apa terjadi masalah Arrash?" tanya mamah Novi.
"Sepertinya iya mah, Arrash tidak tahu masalah apa yang terjadi diantara Fikri dan keluarga mantan istrinya. Yang Arrash tanggap sepertinya anak Fikri sedang sakit" ucap Arrash.
"Mamah jadi penasaran. Arrash kamu disini saja dengan papahmu ya, mamah mau melihat Fikri" ucap mamah Novi.
"Mamah ini pengen tahu saja urusan orang" sindir papah Ridwan.
Namun mamah Novi tidak menanggapinya.
Disisi lain Fikri tiba ditempat dimana Alikabmasih memohon pada orang tuanya. Fikri juga melihat oma dan ibunya yang sedang mengamati Alika.
Fikri berjalan melewati oma dan bu Fatimah.
"Eeh, Fikri" ucap bu Fatimah.
Namun Fikri tidak mengindahkan ucapan bu Fatimah, Fikri terus berjalan menghampiri Alika.
"Alika hentikan!" ucap Fikri tegas.
"M-mas Fikri" ucap Alika.
Fikri membantu Alika berdiri.
"Mau apa kamu kesini!" ucap Rudi sinis.
"Tentu saja mau menemui anak saya!" ucap Fikri.
"Ck, kamu tidak ada hak untuk menemuinya!" ucap Rudi.
"Saya lebih berhak atas anak saya dibandingkan anda kakek neneknya!" ucap Fikri nyalang.
"Kurang ajar kamu! berani sekali berbicara seperti itu pada saya!" ucap Rudi.
Rudi hendak menampar Fikri namun secepat mungkin ditahan oleh Fikri.
"Saya akan mengajukan gugatan pengalihan hak asuh Riana kepada saya!" ucap Fikri.
"Mimpi kamu! Sewa pengacara saja tidak mampu tapi sok-sokan mau mengalihkan hak asuh Riana" ucap Rudi meremehkan.
"Jaga ucapan kamu Rudi!" ucap opa Ferdi.
__ADS_1
Mendengar kalimat tersebut Rudi segera menoleh dan terkejut dengan orang yang mengatakan kalimat itu.
"Ma'af pak Ferdi ini urusan keluarga saya" ucap Rudi sopan.
"Iya tentu saja urusan keluarga, apapun urusan yang menyangkut Fikri maka itu menjadi urusan saya!" ucap opa Ferdi tegas.
"Sekali lagi Maaf pak Ferdi ini tidak ada sangkut pautnya dengan anda" ucap Rudi.
"Tentu saja ada sangkut pautnya, karena Fikri cucu kandung saya!" ucap opa Ferdi.
Jeder.
Rudi terkejut, mengetahui fakta itu.
Bahkan orang-orang yang melihat perseteruan itu juga terkejut dengan yang diucapkan oleh opa Ferdi.
"Ma-mana mungkin orang miskin seperti dia itu cucu kandung anda pak Ferdi" ucap Rudi tidak terima.
"Terserah kamu bila tidak percaya. Mulai hari ini hubungan kerja sama antara perusahaan kita diputus dan saya akan memperjuangkan hak asuh Riana agar jatuh pada Fikri" ucap opa Ferdi.
Mendengar itu Fikri tampak senang begitupun dengan Alika. Namun berbeda dengan kedua orang tua Alika mereka tampak tidak terima.
"Baiklah kalau seperti itu, mari kita bertarung dimeja hijau untuk memperebutkan hak asuh Riana" ucap Rudi angkuh.
Namun tidak diindahkan oleh opa Ferdi.
Opa Ferdi mengajak Fikri masuk kedalam ruang rawat Riana.
"Ayo Fikri kita temui Riana" ucap opa Ferdi dan diangguki oleh Fikri.
Melihat Opa Ferdi dan Fikri masuk kedalam ruangan Riana, Alika pun menyusul dan kemudian diikuti oleh oma Laras, bu Fatimah dan mamah Novi.
Rudi dan Cheline yang tidak suka melihat pemandangan itu segera pulang kerumahnya.
Saat ini waktu menunjukan pukul 7 malam.
"Pah Arrash pulang dulu ya mau ganti baju dan ambilkan baju ganti untuk mamah dan papah" ucap Arrash.
"Ya sudah kamu hati-hati nak" ucap papah Ridwan.
Arrash mengangguk kemudian berlalu.
Diperjalanan Arrash berhenti direstoran untuk membeli makan malam.
Arrash teringat Syaqilla yang dirumah sendiri dalam keadaan sulit berjalan dan tangan yang belum sembuh akan sulit untuk memasak.
Arrash membeli ayam goreng satu box dengan aneka sambal dan spagheti 2 porsi.
Arrash melajukan mobilnya menuju rumah Syaqilla.
Pukul 7 lewat 45 menit Arrash tiba dirumah Syaqilla.
Tok tok tok
"Iya sebentar" seru Syaqilla dari dalam rumah.
Ceklek.
Pintu rumah dibuka oleh Syaqilla.
"Mas Arrash!" ucap Syaqilla terkejut dengan kedatangan Arrash.
__ADS_1
"Hai! Belum makan malam kan, ini aku bawa makanan. Ayo kita makan" ucap Arrash sembari mengangkat box makanan yang ia bawa.
"Ma'af mas, tapi ini sudah malam aku tidak bisa mengizinkan seseorang yang bukan muhrim masuk kedalam rumah" ucap Syaqilla menjelaskan.
"Kalau begitu kita makannya diteras saja" ucap Arrash kemudian berjalan menuju kursi diteras rumah dan duduk disana.
Syaqilla masih terdiam ditempat.
"Syaqilla cepat duduklah, ayo kita makan" ucap Arrash.
Syaqilla pasrah dia tidak bisa menolak, dan akhirnya Syaqilla duduk berhadapan dengan Arrash dikursi teras rumah.
Arrash membuka makanannya.
"Ayo dimakan" ucap Arrash sembari menyodorkan makanan yang sudah dibuka pada Syaqilla.
"Kamu tidak makan?" tanya Syaqilla pada Arrash.
"Ini aku juga mau makan" ucap Arrash sembari mengangkat mangkuk instan Spaghetinya.
Arrash dan Syaqilla makan malam bersama.
Selama makan mereka tidak ada yang bicara.
"Apa kamu menyukai makanannya?" tanya Arrash setelah selesai makan.
"Iya aku suka makanannya" jawab Syaqilla.
"Kapan-kapan kita makan bersama lagi ya" ajak Arrash pada Syaqilla.
"Aku tidak bisa janji" ucap Syaqilla.
"Ah iya kamu tidak bisa janji pasalnya ada hati yang harus kamu jaga" ucap Arrash.
"Itu kamu sudah tahu" ucap Syaqilla.
"Bagaimana mengajarmu selama kamu sakit?" tanya Arrash.
"Selama satu minggu ini yang menggantikan aku mengajar mas Fikri" ucap Syaqilla.
"Apa kamu tahu Fikri adalah seorang duda beranak satu?" tanya Arrash.
"Iya aku tahu, mas Fikri sudah menceritakan semuanya padaku" ucap Syaqilla.
Hening sesaat diantara mereka tidak ada pembicaraan.
Arrash melihat pada jam tangannya dan waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam.
"Kalau begitu aku pulang dulu" pamit Arrash pada Syaqilla.
"Iya mas Arrash, hati-hati dijalan" ucap Syaqilla.
Arrash kemudian bergegas pergi menuju rumahnya.
Sesampai dirumah ternyata sudah ada mamah Novi dan papah Ridwan.
"Mamah dan papah sudah pulang? apa kita tidak perlu menginap dirumah sakit?" tanya Arrash pada kedua orang tuanya.
"Sudah sejak setengah jam yang lalu, kami diminta opa kamu untuk pulang. Kamu kemana saja baru sampai rumah?" ucap mamah Novi sembari memicingkan matanya curiga.
Bukannya menjawab Arrash justru tersenyum kemudian berlalu pergi menuju kamarnya.
__ADS_1
...****************...