
"Iya Fatimah, hanya kamu yang bisa membujuk Fikri. Kami sangat mengharapkan bantuan darimu dan juga Fikri" ucap mama Novi.
"Baiklah kita bujuk Fikri sekarang" ucap bu Fatimah.
"Terimakasih Fatimah kamu mau membujuk Fikri untuk bertemu ayahnya, Farhan pasti bahagia sekali" ucap oma Laras.
Bu Fatimah hanya diam, dia bingung dengan dirinya. Sebenarnya dia sangat merindukan laki-laki yang sangat iya cintai itu tapi disisi lain hatinya masih sakit dengan perlakuan Farhan padanya selama bu Fatimah menjadi istrinya.
"Kalau begitu kita datangi dulu Fikri dirumahnya" ucap bu Fatimah.
"Iya Fatimah lebih cepat lebih baik" ucap oma Laras.
Mereka bertiga kemudian masuk kedalam rumah Syaqilla. Bu Fatimah sedang membersihkan diri dan bersiap, mamah Novi dan oma Laras menunggu diruang tamu bersama Syaqilla dan Arrash.
"Mah ini Syaqilla tunangan Fikri dan mereka akan segera menikah" ucap mamah memperkenalkan Syaqilla.
Mendengar ucapan mamah Novi Arrash tentu saja tidak suka. Kalau boleh meminta dia ingin menjadi seseorang yang dipertemukan lebih dahulu dengan Syaqilla.
"Kamu cantik sekali nak" ucap oma Laras seraya menghampiri Syaqilla dan duduk disofa disebelah Syaqilla.
"Terimakasih oma atas pujiannya" ucap Syaqilla.
"Dimana orang tuamu nak, kenapa kamu tinggal dengan Fatimah?" tanya oma Laras.
"Kedua orang tua saya sudah meninggal oma" jawab Syaqilla.
"Maaf nak kalau pertanyaan oma mengingatkanmu dengan orang tuamu yang telah tiada" ucap oma Laras.
"Tidak apa-apa Oma" ucap Syaqilla.
"Arrash kamu kapan hendak menikah, Fikri saja kata Fatimah sudah pernah menikah dan memiliki satu anak bahkan sudah hendak menikah lagi" ucap oma Laras.
Arrash yang mendengar ucapan oma Laras menjadi semakin tidak suka pasalnya dia dibanding-bandingkan dengan sepupunya itu.
"Arrash masih belum ingin menikah oma" ucap Arrash.
"Apa kamu tidak memiliki kekasih atau orang yang kamu cintai?" tanya oma Laras.
"Tidak oma. Arrash memiliki seorang gadis yang aku cintai, tapi sayang gadis itu akan segera menikah" jawab Arrash sembari menatap Syaqilla.
Mendengar jawaban dari Arrash seketika Syaqilla dan mamah Novi menoleh pada Arrash. Mata Syaqilla bertemu dengan mata Arrash namun terlebih dahulu Syaqilla mengalihkan pandangan tersebut.
Ehem. Deheman mamah Novi menetralkan suasana diruang tamu itu.
Untung saja sebelum oma Laras kembali bertanya bu Fatimah terlebih dahulu datang.
__ADS_1
"Ayo kita segera berangkat" Ajak mamah Novi.
"Syaqilla ibu berangkat y nak, kamu tidak apa-apa kan ibu tinggal" tanya bu Fatimah.
"Tidak apa-apa bu, semoga saja mas Fikri mau dibujuk dan juga mau menemui ayahnya" ucap Syaqilla.
"Semoga saja" ucap bu Fatimah.
"Syaqilla tante, oma, Arrash, dan Fatimah pergi dulu ya kamu hati-hati dirumah" ucap tante Novi.
"Iya tante hati-hati dijalan" ucap Syaqilla yang diangguki oleh mamah Novi.
Mereka semua pergi dari rumah Syaqilla menuju rumah Fikri yang tak jauh dari rumah Syaqilla.
Arrash mengemudikan mobil dengan mamah Novi yang duduk dikursi penumpang disebelahnya, oma Laras dan bu Fatimah duduk dikursi tengah mobil.
Diperjalanan mereka berempat saling cakap.
"Apa ini anakmu Novi?" tanya bu Fatimah.
"Iya Fatimah dia anakku, namanya Arrash" jawab mamah Novi.
"Anakmu sangat tampan Novi" ucap bu Fatimah.
"Dia memang tampan, ketampanannya menurun dari papahnya mas Ridwan" ucap mamah Novi.
"Sesaat setelah melahirkan Arrash, aku mengalami pendarahan hebat yang mengakibatkan aku divonis tidak bisa memiliki anak lagi" ucap mamah Novi.
"Benarkah, pasti itu hal yang berat untukmu ya" ucap bu Fatimah prihatin, dan mamah Novi mengangguk.
Hening sesaat kemudian terdengar suara oma Laras membuka suara.
"Fatimah mamah tahu kamu masih sakit hati oleh perlakuan Farhan dulu. Farhanzah yang seorang casanova bahkan dia tidak menghargai adanya kamu dan juga Fikri. Tapi mamah mohon untuk kamu mau menerima Farhan lagi, percayalah setelah kepergian kalian Farhan sudah berubah dia tidak pernah main perempuan lagi. Kini kondisinya sedang kritis, entah dia bisa mealui semua itu atau tidak, tapi yang mamah khawatirkan disaat Farhan tiada kamu dan Fikri belum memaafkannya" ucap oma Laras.
"Mamah tidak boleh bicara seperti itu, InsyaAllah mas Farhan kuat dan bisa melalui masa kritisnya dengan mudah. Aku juga akan meyakinkan Fikri agar dia mau memaafkan dan juga mau mengakui ayahnya" ucap bu Fatimah.
"Iya nak" oma Laras memeluk bu Fatimah.
Arrash yang sejak tadi menyimak percakapan ketiga wanita itu tetap fokus mengemudi.
20 menit mereka tiba dirumah Fikri, dimana rumah itu penuh kenangan saat Fikri bersama dengan ibunya dan Alika yang saat itu menjadi istrinya.
Tok tok tok
"Assalamualaikum nak" ucap bu Fatimah.
__ADS_1
Ketukan pintu dan ucapan salam dari bu Fatimah tidak ada yang mengindahkan.
Tok tok tok
"Assalamualaikum nak ini ibu" ucap bu Fatimah mengulangi ketukan pintu.
Terdengar dari dalam rumah seseorang berjalan kearah pintu.
"Waalaikumsalam" ucap Fikri kemudian membuka pintu rumah.
Dan alangkah terkejutnya Fikri saat membuka pintu sudah ada banyak orang disana.
Fikri hendak menutup pintu kembali namun secepat mungkin ditahan oleh Arrash.
"Kita harus bicara Fikri, ini penting mengingat ada nyawa seseorang yang dipertaruhkan disini" ucap Arrash.
"Iya nak, Arrash benar kita harus bicara" ucap bu Fatimah.
"Baiklah silahkan masuk" ucap Fikri.
Arrash, mamah Novi, oma Laras, dan bu Fatimah masuk kedalam rumah.
"Silahkan duduk" ucap Fikri.
Mereka semua duduk disofa ruang tamu.
"Nak ibu mohon maafkanlah ayahmu, ibu juga sudah memaafkannya. Saat ini ayahmu sedang membutuhkanmu nak. Ayahmu sedang kritis karena baru saja mengalami kecelakaan. Ayahmu membutuhkan tambahan darah darimu nak" ucap bu Fatimah membujuk.
"Sudah aku duga kedatangan kalian kesini pasti ada maunya. Bila darahku tidak dibutuhkan pasti kalian tak akan menemuiku" ucap Fikri sinis.
"Tidak Fikri, kami semua selama ini mencari kalian, hanya saja belum dipertemukan oleh Allah. Kami bahkan selama 2 tahun menyewa detektif untuk mencari keberadaan kalian, terutama ayahmu Fikri. Dia sudah berubah semenjak kepergian kalian. Jadi oma mohon maafkanlah ayahmu" ucap oma Laras.
"Nak saat ini ayahmu benar-benar membutuhkanmu nak. Jangan sampai nanti kamu menyesal saat tahu ayahmu meninggal karena kamu tak mau membantunya" bujuk bu Fatimah.
Fikri tidak menjawab, dia hanya diam hati dan fikirannya berlawanan.
"Fikri" panggil bu Fatimah namun Fikri masih diam dengan pikirannya.
Mengetahui tidak ada tanggapan lagi dari Fikri semua orang menjadi takut.
"Baiklah nak kalau itu mau kamu. Tapi ingatlah ayahmu sangat menyayangi kamu, ibu yang pergi dari ayahmu bukan ayahmu yang menelantarkan kita, jangan karena masalah ibu dan ayahmu dulu membuat kamu membencinya" ucap bu Fatimah yang masih tidak ditanggapi oleh Fikri.
"Kalau begitu ibu pamit mau membesuk ayahmu" ucap bu Fatimah kemudian bangkit.
"Ayo mah, Novi, Arrash kita segera pergi dari sini aku ingin melihat kondisi mas Farhan" ucap bu Fatimah.
__ADS_1
...****************...