
Setelah pembicaraan malam itu dengan kedua orang tuanya Arrash jadi semakin tenang.
Dia sudah tidak terlalu memikirkan permintaan kedua orang tuanya untuk segera menikah.
Hari ini adalah akhir pekan dimana Arrash sudah memiliki janji kencan dengan Rahayu.
Arrash mengambil ponselnya dan melakukan panggilan dengan Yogi.
"Hallo Yog" sapa Arrash.
"Hallo Rash ada apa pagi-pagi telepon?" tanya Yogi dengan suara serak khas bangun tidur.
"Jangan bilang kamu masih tidur kalau aku tidak menelpon?" tanya Arrash.
"Iya, inikan hari minggu" jawab Yogi.
"Hari ini aku ada janji kencan dengan Rahayu" ucap Arrash.
"Ya sudah berangkat sana" ucap Yogi.
"Kamu yang gantikan" ucap Arrash seketika membuat Yogi terkejut.
"Mana bisa seperti itu Rash yang mengajak kencankan kamu" ucap Yogi.
"Aku tidak menginginkan kencan itu. Kamu saja yang pergi kencan dengan Rahayu" ucap Arrash memerintah kemudian mematikan sambungan teleponnya.
"Yang benar saja" ucap Yogi frustasi.
Arrash kemudian pergi keruang Gym, dia berolah raga disana.
"Kamu disini rupanya?" tanya papah Ridwan menghampiri putranya.
"Iya pah baru saja" jawab Arrash.
"Arrash papah berencana akan menjalankan wasiat dari papah Jaya kakekmu" ucap papah Ridwan.
"Maksud papah?" tanya Arrash.
"Papah akan mengangkat kamu sebagai pengganti kakekmu selain jadi CEO diperusahaan kamu juga harus bisa menghandle rumah sakit dan juga kampus" ucap papah Ridwan.
"Tapi Arrash rasa Arrash belum mampu untuk itu pah, posisi itu terlalu besar tanggung jawabnya pah" ucap Arrash.
"Papah yakin kamu sanggup memegang tanggung jawab itu Arrash" ucap papah meyakinkan sang putra.
"Tapi bagaiman dengan om Rizki dan tante Ghina pah? Aku takut nanti ada perselisihan diantara kita karena hal itu" ucap Arrash.
"Mereka pasti mengerti, itu juga tidak berlangsung selamanya nanti disaat Rizki dan Ghina memiliki anak mereka akan mendapatkan posisi itu atau setidaknya anak mereka" ucap papah Ridwan.
"Kita bicarakan saja dulu pah dengan om Rizki dan tante Ghina" ucap Arrash.
"Tapi kalau mereka setuju berarti kamu tidak berhak menolak" ucap papah Ridwan.
"Iya pah" setuju Arrash.
"Bagaimana perkembangan hubungan kamu dengan Syaqilla?" tanya papah Ridwan mencari topik lain untuk dibicarakan.
"Aku hanya mencintai dalam diam pah, aku tidak ingin merusak kebahagiaannya sepertinya mereka saling mencintai" ucap Arrash.
"Kasihan kamu nak cinta pertamamu bertepuk sebelah tangan" ucap papah Ridwan.
"Aku hanya bisa berdo'a pah cintaku itu akan terbalaskan, dan Syaqilla perlahan mencintaiku" ucap Arrash
"Tapi sepertinya itu akan sulit nak, tapi percayalah tidak ada yang tidak mungkin selagi kita hendak berusaha dan berdo'a" ucap papah Arrash.
__ADS_1
"Iya pah aku mengerti" ucap Arrash.
Ternyata sejak tadi pembicaraan Ayah dan anak itu didengarkan oleh mamah Novi yang hendak mengantarkan teh hangat dan cemilan keruangan itu.
...****************...
Pukul 9 tepat ada panggilan telepon diponsel Rahayu dari nomor tak dikenal.
Rahayupun segera mengangkatnya karena dikira Arrash sang CEO ditempat dia bekerja.
"Hallo" Rahayu menjawab panggilan telepon tersebut.
Namun dari sebrang tidak ada yang menjawab sapaannya.
"Hallo apa ini pak Arrash?" tanya Rahayu.
"Ini aku Yogi" jawab Yogi yang membuat Rahayu terkejut.
"Apa ada yang bisa saya bantu pak Yogi?" tanya Rahayu.
"Dimana rumahmu aku akan menjemputmu?" tanya Yogi bukannya menjawab pertanyaan Rahayu malah balik bertanya.
"Apa pak Arrash yang meminta anda menjemput saya pak?" ucap Rahayu sembari tersenyum membayangkan perhatian bosnya itu.
"Bukan, saya sendiri yang mau" jawab Yogi.
Mendengar jawaban Yogi membuat senyum Rahayu perlahan pudar.
"Hallo, kamu dengar kan aku sedang bicara?" tanya Yogi pasalnya Rahayu diam saja.
"I-iya pak" jawab Rahayu terbata.
"Kirim alamat rumahmu aku akan menjemputmu" titah Yogi.
Huhh..
"Kenapa aku harus berurusan dengan Bos kulkas itu" gumam Rahayu sendirian.
Rahayu pun segera mengirim alamat rumahnya pada nomor baru itu dan ia beri nama 'Bos Kulkas'.
Setengah jam kemudian Yogi menjemput Rahayu kerumahnya, namun dia tidak turun dari mobil dan hanya menunggu diluar pagar.
Yogi segera menghubungi Rahayu.
"Cepat keluar aku sudah menunggu didepan" perintah Yogi pada Rahayu.
Tut tut tut
Panggilan telepon diakhiri sebelum Rahayu sempat menjawab.
"Seenaknya saja memerintah" gumam Rahayu namun dia menurut.
Rahayu keluar dari dalam kamar dengan penampilan rapihnya dan saat dilantai satu dia bertemu dengan Reni ibu kandung Rahayu.
"Mau kemana kamu sudah rapih begini Yu" tanya mamah Reni.
"Ayu mau jalan-jalan mah ini sudah ditunggu teman didepan" jawab Rahayu.
"Kenapa temannya tidak diajak masuk dulu?" tanya mamah Reni.
"Kalau dia masuk dulu nanti kelamaan mah berangkatnya" jawab Rahayu.
"Iya sudah sana berangkat, nanti diajak mampir pulangnya" ucap Reni
__ADS_1
"Iya mah, kalau begitu Ayu berangkat" ucap Rahayu.
"Iya sayang hati-hati" ucap mamah Reni yang diangguki Rahayu.
Rahayu segera keluar dari rumah dan menghampiri mobil Yogi disana.
"Maaf kalau bapak nunggunya kelamaan" ucap Rahayu.
"Masuk lah" ucap Yogi tidak melihat pada Rahayu.
Rahayu segera masuk mobil Yogi dan duduk dibagian penumpang sebelah kemudi.
"Kita mau kemana pak?" tanya Rahayu pada Yogi sesaat mobil melaju meninggalkan kompleks rumah Rahayu.
"Aku tidak punya tujuan, kamu saja yang menentukan hendak kemana kencan pertama kita" jawab Yogi ketus tanpa melihat Rahayu.
Meskipun sikap Yogi yang dingin dan nada bicaranya ketus, tapi mampu membuat jantung Rahayu berdetak lebih cepat.
'Kencan pertama' batin Rahayu mengulangi ucapan Yogi dan tersenyum.
"Kamu dengar tidak?" tanya Yogi kembali.
"I-iya pak dengar, kalau begitu kita ke mall saja temani saya belanja" jawab Rahayu.
Tapi tidak ada tanggapan dari Yogi. Meski Yogi tidak menanggapi tapi dia melajukan mobilnya kearah Mall terbesar dikota itu.
...****************...
Syaqilla menjalani hari-hari seperti biasanya, terhitung sudah 6 hari kakinya patah dan sulit beraktifitas namun tidak mengurungkan niatnya.
Sudah 3 hari dia dirumah bersama calon ibu mertuanya hubungan mereka sudah seperti ibu dan anak kandung.
Saat Syaqilla sedang membersihkan halaman terlihat ada mobil putih berhenti didepan pagar rumahnya.
Dari dalam mobil tersebut keluarlah seorang wanita paruh baya.
Wanita itu sangat mempesona, cantik dan elegan khas wanita kaya.
Melihat seseorang menghampirinya, Syaqilla spontan mengajukan pertanyaan.
"Ada yang bisa saya bantu bu?" tanya Syaqilla.
"Kamu pasti Syaqilla ya, perkenalkan saya ibunya Arrash" ucap mamah Novi.
"Iya betul saya Syaqilla bu" ucap Syaqilla.
"Ternyata kamu cantik ya" ucap mamah Novi.
"Mari bu silahkan masuk" ucap Syaqilla mempersilahkan.
"Ayo saya bantu kamu berjalan" ucap mama Novi dan membantu Syaqilla berjalan.
Mamah Novi dan Syaqilla masuk bersama kedalam rumah.
"Terimakasih bu, mari silahkan duduk" ucap Syaqilla mempersilahkan lagi.
"Iya terimakasih" ucap mamah Novi.
"Sebentar bu saya buatkan minum dulu" ucap Syaqilla.
"Tidak perlu Syaqilla, saya hanya ingin bicara denganmu" ucap mamah Novi.
"Ada apa ya bu?"
__ADS_1
...****************...