Gadis Pilihanku

Gadis Pilihanku
BAB. 39 Jalan Jalan Sore


__ADS_3

Semua orang yang berada diruang keluarga melihat kearah Syaqilla dan menantikan jawaban dari gadis itu.


Syaqilla gugup, ia bingung untuk menjawab tapi tidak ada pilihan lain selain setuju dengan permintaan Arrash, lagi pula itu untuk kebaikannya juga.


"Baik mah, pah, mas aku setuju untuk tinggal dirumah ini" ucap Syaqilla.


Arrash lega mendengar keputusan Syaqilla yang setuju dengan usulannya.


"Kalau begitu mulai malam ini kamu langsung tinggal disini aja ya sayang" ucap mamah Novi.


"Tapi aku hanya bawa baju 2 stel mah" ucap Syaqilla.


"Kalau masalah baju kamu tidak usah khawatir, nanti biar mamah belikan lewat online" ucap mamah Novi.


"Tidak usah mah, baju-bajuku dirumah masih bagus kalau bisa aku minta tolong mas Arrash mengantarku pulang lebih dulu untuk menyiapkan pakaian selama aku tinggal disini" ucap Syaqilla.


"Begini Syaqilla ini kan sudah sore, dan kalau pulang kerumahmu lalu kembali lagi kemari nanti bisa kemalaman. Bagaimana kalau ambil bajunya besok saja selepas pulang ngajar. Untuk sekarang kamu mau ya mamah belikan baju diolshop" ucap mamah Novi.


Syaqilla berfikir sejenak, ia tidak enak juga menolak permintaan mamah Novi dan pada akhirnya gadis itu mengangguk.


"Iya mah tidak apa-apa" ucap Syaqilla.


"Nah begitu dong. Kamu harus terbiasa Syaqilla, nanti setelah menikah dengan Arrash kamu harus sering-sering shoping uang Arraah tidak akan pernah habis bila tidak kamu pakai belanja" ucap mamah Novi.


Syaqilla hanya tersenyum kikuk, iya tidak terbiasa dengan gaya hidup mewah para orang-orang kaya seperti calon ibu mertuanya.


"Karena Syaqilla sudah setuju kalau begitu papah kembali kekamar ya mah, Arrash" ucap papah Ridwan.


"Iya pah" "Iya mas" ucap Arrash dan mamah Novi bersamaan.


"Syaqilla kamu mau baju yang seperti apa?" tanya mamah Novi sembari mengeluarkan ponselnya.


"Terserah mamah saja" ucap Syaqilla.


"Jangan begitu dong, kamu mau baju dres, gamis, atau apa?" tanya mamah Novi.


"Kalau ada gamis saja mah" ucap Syaqilla.


"Oke mamah pesankan ya" ucap mamah Novi.


"Iya mah" ucap Syaqilla terdengar pasrah.


"Syaqilla mau jalan-jalan sore tidak?" tawar Arrash.


"Kemana mas?" tanya Syaqilla.


"Keliling komplek sini aja" jawab Arrash.


"Udah sana ikut saja" ucap mamah Novi.


Syaqilla menoleh sebentar pada mamah Novi kemudian mengangguk dan berucap.


"Boleh mas aku mau" ucap Syaqilla.


"Kalau begitu kita langsung berangkat saja" ucap Arrash.


"Iya mas" ucap Syaqilla.


Arrash dan Syaqilla bergegas berangkat mereka berjalan kaki menyusuri trotoar kompleks perumahan Arrash.

__ADS_1


Tak jarang juga mereka disapa oleh para tetangga tua, muda bahkan anak-anak yang sedang bersantai dan bermain menikmati sore hari.


"Diluar kompleks ada banyak yang jual makanan, mau kesana?" tanya Arrash.


"Boleh" ucap Syaqilla.


Mereka meneruskan perjalannannya sampai luar kompleks dan terlihat banyak pedagang kaki lima yang mangkal dipinggir jalan raya.


Disitu ada yang menjual martabak telur dan martabak manis, ada juga bakso dan mie ayam, ada aneka macam gorengan, ada jajanan anak-anak seperti telur gulung, sosis bakar dan lain-lain.


"Wah mas rame sekali yang jualan" ucap Syaqilla.


"Iya memang kalau sore disekitar sini rame dengan para pedagang kaki lima" ucap Arrash.


"Apa aku boleh membelinya?" tanya Syaqilla.


Arrash tersenyum dengan pertanyaan Syaqilla, tentu saja boleh membelinya.


"Tentu saja sayang, silahkan kamu pilih dan kamu beli sesuka mu" ucap Arrash.


"Aku mau makan mie ayam tapi disini, kamu juga mau ya mas" ucap Syaqilla.


Arrash mengangguk, sejujurnya ia jarang makan-makanan jalanan seperti itu tapi Arrash akan menyesuaikan diri semoga saja perutnya baik-baik saja batinnya.


"Ayo mas" ucap Syaqilla kemudian berjalan lebih dulu kepenjual mie ayam.


"Bang mie ayamnya 2 ya" ucap Syaqilla.


"Minumnya apa neng?" tanya penjual mie ayam.


"Minumnya es dawet aja 2" jawab Syaqilla.


"Mas Arrash sering kesini tidak?" tanya Syaqilla.


"Tidak pernah dan ini pertama kalinya aku datang kesini" jawab Arrash.


"Loh bukannya dekat dengan rumah mas Arrash ya, lalu kenapa tidak pernah kesini?" tanya Syaqilla.


"Tidak sempat saja" ucap Arrash.


Syaqilla mengangguk, ia teringat kalau Arrash itu sangat sibuk dan mana mungkin untuk bisa bersantau nongkrong diwarung pikirnya Syaqilla. Tak lama kemudian mie ayamnya jadi.


"Ini neng, mas, mie ayamnya sudah jadi silahkan dinikmati" ucap pedagang itu.


"Terimakasih bang" ucap Syaqilla.


Syaqilla memulai makannya, ia terlihat sangat lahap.


"Pelan-pelan saja makannya, aku tidak minta makananmu" ucap Arrash sembari bercanda.


"Hehe. Ini mie ayamnya enak mas, lain kali kita kesini lagi ya" pinta Syaqilla.


"Kamu mau kesini setiap hari juga tidak apa-apa, lagian dekat juga dari rumah" ucap Arrash.


"Kalau begitu aku mau setiap sore kesini" ucap Syaqilla.


Arrash tersenyum lagi dan hanya memperhatikan Syaqilla makan, ia hanya makan mie ayam itu 2 suap.


"Mie ayamnya kenapa tidak dimakan?" tanya Syaqilla.

__ADS_1


"Tidak apa-apa aku masih kenyang" ucap Arrash.


"Kalau begitu untuk aku saja mie ayamnya" ucap Syaqilla.


Arrash kemudian menyerahkan mie ayamnya pada Syaqilla dan langsung dilahap oleh gadis itu.


"Makan yang banyak" ucap Arrash.


"Iya mas" sahut Syaqilla.


10 menit kemudian Syaqilla telah selesai dengan makanannya.


"Mas ayo kita pulang" ajak Syaqilla.


Arrash mengangguk.


"Tapi aku mau beli martabak manis dulu untuk orang dirumah" ucap Syaqilla.


"Baiklah sekalian kita jalan pulang belinya" ucap Arrash.


Syaqilla memesan 3 porsi martabak manis dengan varian rasa yang berbeda, ada rasa coklat, keju, dan kacang.


"Kenapa belinya banyak sekali?" tanya Arrash.


"Ini untuk orang dirumah juga mas" jawab Syaqilla.


Arrash mengangguk, mereka akhirnya kembali kerumah Arrash.


"Kalian dari mana saja mau magrib begini baru pulang?" tanya papah Ridwan yang tidak tahu kalau Arrash dan Syaqilla pergi jalan-jalan sore.


"Kami habis jalan-jalan sore pah sampai keujung kompleks dan ini kami beli martabak manis" ucap Syaqilla sembari menganggkat kantong keresek berisi 3 kotak martabak manis.


"Wah sepertinya enak tuh" ucap papah Ridwan.


"Iya pah ini enak, sebentar aku taruh dipiring dulu" ucap Syaqilla kemudian berlalu menuju dapur untuk mengambil piring.


Papah Ridwan mengangguk kemudian menunggu diruang keluarga sembari menonton televisi.


"Aku langsung kekamar pah mau mandi dan bersih-bersih badan dulu" ucap Arrash.


"Iya Arrash" ucap papah Ridwan.


Tak lama kemudian marrabak yang disajikan oleh Syaqilla datang.


"Ini pah martabaknya" ucap Syaqilla sembari meletakan piring berisi martabak dimeja ruang keluarga.


"Iya terimakasih Syaqilla" ucap papah Ridwan.


"Kalau begitu aku pamit kekamar dulu pah" ucap Syaqilla.


"Iya" jawab papah Ridwan.


Syaqilla bergegas menuju kamarnya namu langkahnya terhenti saat terdengar bunyi bel rumah.


Ting Tong.


Ting Tong.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2